Banjir bandang akhir November 2025 lalu meluluhlantakkan sekolah-sekolah di Aceh. Selama sembilan bulan sejak banjir bandang, para siswa terpaksa belajar di ruang kelas darurat (RKD), sementara pemulihan berjalan lambat.
Dua lubang memanjang bekas alur baru sungai menjadi jejak pahit banjir bandang di kompleks SD Islam Terpadu (IT) Annur, Pidie Jaya. Kedua lubang itu masing-masing memiliki panjang sekitar lima meter dan 20 meter.
Selama berbulan-bulan, aliran air dari Krueng Meureudu melintasi kompleks sekolah yang terletak di antara dua jalur sungai tersebut. Air keluar dari alur utama di sebelah timur melalui tebing yang jebol, lalu memotong daratan di sekitar kompleks dan mengikis permukaan tanah yang lebih rendah sebelum kembali ke jalur sungai di sebelah barat.
Alur-alur baru itu terbentuk setelah Krueng Meureudu tersumbat endapan lumpur dan tumpukan kayu gelondongan sepanjang hampir satu kilometer. Sumbatan berada di sekitar Jembatan Pante Geulima–Dayah Usen, atau Jembatan Mancang, sekitar 370 meter di sebelah utara kompleks SD IT Annur. Air yang tidak dapat mengalir menuju muara dan laut akhirnya mencari jalur baru melalui permukiman warga.
Tanggul Krueng Meureudu di sebelah timur sekolah baru selesai ditutup kembali pada Juni 2026. Namun, penutupan itu dilakukan dengan menumpuk tanah hasil pengerukan lumpur banjir bandang.
Ketika Project M mendatangi lokasi pada Rabu, 19 Agustus 2026, kondisi kompleks sekolah masih jauh dari pulih. Lumpur yang mengeras di ruang-ruang kelas lantai satu telah ditumbuhi rumput liar. Puing-puing bangunan berserakan di sejumlah sudut sekolah.
Padahal, kompleks SD IT Annur termasuk salah satu lokasi bencana di Pidie Jaya yang paling sering dikunjungi pejabat pemerintah pusat. Mereka antara lain Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, serta Wakil Panglima TNI Tandyo Budi Revita. Namun, rangkaian kunjungan itu tidak membuat pemulihan segera tuntas.
Bagi Aida Zuhra, 43 tahun, Kepala SD IT Annur, puing-puing tersebut menjadi potongan ingatan tentang bencana. Ia masih mengingat hujan pada Selasa, 25 November 2025, yang bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Hujan hari itu merupakan yang paling lebat dalam sepekan terakhir.

Dua Hari Dua Malam Terjebak Banjir
Hujan lebat itu membuat Aida mengira takkan ada satu siswa SD pun yang akan hadir ke sekolah hari itu. “Tapi sewaktu saya melihat di depan rumah, semua murid SD dan guru hadir. Kami memang berencana membuat acara hari guru di sekolah,” kata Aida, Rabu, 19 Agustus 2026.
SD IT Annur memiliki 270 siswa dalam 12 rombongan belajar. Rumah Aida berada di kompleks sekolah itu di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Di kompleks seluas tiga hektare tersebut juga berdiri PAUD, SMP, SMK, asrama siswa, rumah guru, tempat ibadah, dan lapangan olahraga. Semuanya bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Teungku Chik di Pante Geulima.
Hingga menjelang magrib, hujan tak kunjung reda. Para guru akhirnya pulang dengan menerobos hujan. Beberapa jam kemudian, Krueng Meureudu yang membentang di sekitar kompleks sekolah meluap.
Aida Zuhra segera mengevakuasi sembilan siswi SMP dan dua guru asrama perempuan ke rumahnya yang berlantai dua dan memiliki fondasi lebih tinggi. Sementara itu, 12 siswa laki-laki bersama tiga guru bertahan di lantai dua asrama.
Di dalam rumah itu, suami Aida, Makmur Hasan Sufi, 51 tahun, sudah mengangkat dan memindahkan barang-barang di dalam rumah ke tempat yang lebih tinggi, termasuk ke atas meja makan.
Banjir bukanlah hal baru bagi mereka. Hampir setiap tahun, Krueng Meureudu meluap dan menggenangi komplek sekolah ini. Tapi banjir yang sudah-sudah tak pernah mencapai tiga meter, tidak pernah membawa kayu gelondongan dan lumpur tebal.
Sekitar pukul 10 malam, listrik padam, dan sinyal handphone juga hilang. “Jadi, kami tidak terhubung dengan siapapun. Banyak orang di luar kompleks mengira kami ini sudah meninggal semua,” kata Aida.
Di dalam rumah Aida, ketinggian air selutut orang dewasa.
Keesokan harinya, air semakin tinggi dan arusnya semakin deras. Aida melongok keluar melalui jendela. “Rumah saya sudah seperti kapal di tengah laut…asrama putri juga hanya kelihatan atapnya saja,” ujarnya.
Berton-ton kayu gelondongan yang hanyut bersama arus deras banjir bandang juga semakin banyak. Hantaman kayu gelondongan ke dinding-dinding rumah juga lebih keras daripada kemarin.
“Seperti gempa,” kata Aida.
Sebuah kayu menghantam kaca jendela rumah hingga pecah. Air melaju kencang ke dalam rumah. Aida dan keluarganya lantas menyelamatkan diri ke loteng.
“Jadi, kami menaruh meja makan dan beberapa kursi di atasnya sehingga kami bisa naik ke atas loteng,” kata Aida.
Mereka, termasuk dua anak Aida, meringkuk di atas loteng tatkala ketinggian air di dalam rumah sudah mencapai dua meter.
Sementara itu persediaan makanan di rumah Aida hanya cukup untuk satu hari. “Setiap kali anak-anak bilang haus, saya berkata pada mereka, ‘Ayo sama-sama kita mengumpulkan dan menelan air liur,’” kata Aida pahit. “Dua hari dua malam kami tidak makan dan minum.”
Pada Jumat pagi, 28 November 2025, beberapa warga gampong setempat masuk ke dalam pekarangan kompleks sekolah untuk mencari anggota keluarga mereka.
Aida berteriak minta tolong. “Jadi dari atas, kami ditolong warga dengan tali dan digotong satu-satu,” sebut Aida.
Saat itu, air belum sepenuhnya surut, tapi lajunya tak lagi deras.
Begitu berhasil keluar rumah, Aida merasa kampung itu bukanlah kampungnya lagi; dia juga tak mengenali sekolah tempatnya mengajar sejak 2015 lalu.
“Saya seperti masuk ke kampung baru yang penuh dengan kayu. Kami berjalan keluar dari kampung dengan menginjak kayu-kayu. Rasanya jauh sekali kami sudah berjalan saat itu,” kata Aida.

Kepala Sekolah SMP IT Annur, Riswandi, yang ikut terjebak selama tiga malam di lantai dua asrama siswa SMP laki-laki, mengatakan banjir bandang akhir November 2025 lalu membuat halaman dan lapangan olahraga—juga digunakan sebagai lapangan upacara—menjadi badan sungai Krueng Meureudu.
“Selain itu, ruang belajar, kantin, dapur umum, MCK dan musala siswa perempuan sudah luluh-lantak dan sudah doyong diterjang banjir bandang. Lumpur menimbun seluruh fasilitas belajar mengajar di dalam kelas, seperti papan tulis, kursi, laptop, dan meja. Tingginya mencapai dua meter,” kata Riswandi, Rabu, 19 Agustus 2026.
Rumah-rumah guru tidak hanya tertimbun lumpur, tapi juga tertimbun kayu-kayu gelondongan. Ketinggiannya juga mencapai dua hingga tiga meter. Seekor bangkai gajah teronggok bersama tumpukan kayu.
Kondisi itu bikin Makmur yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Teungku Chik di Pante Geulima, seperti hilang asa. Selain trauma yang dialami anak-anak, menurutnya, ancaman banjir tetap ada selama sungai belum dinormalisasi dan tebingnya belum dilengkapi dinding penahan.
“Tidak ada jaminan kerusakan banjir susulan tak lebih mengerikan daripada banjir bandang tahun lalu. Nah, itu (sungai) yang wajib segera ditangani sebenarnya,” ujarnya.

Belajar di Tenda, Peralatan Sekolah Dicuri
Selama satu bulan pada Desember 2025, PAUD, SD, SMP IT Annur, dan SMK Teungku Chiek Pante Geulima tidak melangsungkan kegiatan belajar-mengajar.
“Pada Desember 2025, saya mendatangi Dinas Pendidikan Pidie Jaya dan menyampaikan bahwa kami tidak bisa melaksanakan ujian sumatif tengah semester atau STS. Sekolah baru aktif pada Januari 2026,” kata Aida.
Makmur mengatakan saat ini 61 siswa dan tujuh guru PAUD IT Annur melangsungkan kegiatan belajar-mengajar di Gampong Geuleudah, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. “Kami menyewa gedung milik desa setempat,” kata Makmur.
Sementara itu, sejak Januari 2026, siswa SD IT Annur belajar di tiga ruko dua lantai yang telah disekat dengan triplek menjadi 10 ruang kelas. Ruko itu berada di tepi Jalan Banda Aceh-Medan di Gampong Bunot, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.
270 siswa SD IT Annur ini juga secara bergilir menggunakan tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berukuran 6×12 meter.

Sekitar 200 meter dari tempat itu, 31 siswa SMP IT Annur dan 10 guru melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di sebuah ruko yang pembangunannya belum rampung. Ruko tersebut berada di belakang bangunan sebuah doorsmer yang sudah tak lagi beroperasi sejak Februari 2026.
Dinding bata merah di lantai dua ruko ini belum diplester.
“Pintu-pintu ruko baru kami pasang bulan lalu,” kata Kepala SMP IT Annur, Riswandi. “Ada tiga ruang kelas, dan satu ruang kantor yang kamu sekat. Kami tidak menggunakan bangunan lantai dua.”
Keterbatasan ruang belajar itu diperparah oleh pencurian. Menurut Riswandi, sekolahnya kehilangan 36 kursi belajar, satu dispenser, dan sejumlah meja bekas yang sudah tidak layak digunakan pada Juli 2026.
Belajar di tenda pun tidak lagi menjadi pilihan. Tenda BNPB di SMP tersebut tidak digunakan karena kerap tergenang air dan menjadi becek pada musim hujan. “Tenda itu pun sudah patah karena diterpa angin,” kata Riswandi, Senin, 14 September 2026.
Kondisi serupa dialami siswa SMK Teungku Chiek Pante Geulima. Sebanyak 15 siswa sekolah itu kini melangsungkan kegiatan belajar-mengajar di SMK Pembangunan Pertanian (PP) Negeri Saree di Lembah Seulawah, Aceh Besar. Lokasinya berjarak sekitar 65 kilometer dari Meureudu, Pidie Jaya.
“Terkait dengan pembangunan RKB (ruang kelas baru), kami sedang persiapkan untuk diusulkan ke kementerian terkait,” kata Kepala SMK Teungku Chiek Pante Geulima, Hamdan Hasballah, Sabtu, 12 September 2026.
Pesantren Berhenti Beroperasi, Sekolah Negeri Hancur
Kerusakan akibat banjir tidak hanya mengganggu kegiatan sekolah formal. Dayah atau Pondok Pesantren Ribathul Muta’alimin Al-Aziziyah akhirnya berhenti beroperasi setelah berulang kali dihantam banjir susulan. Kondisi itu terjadi ketika pemerintah belum memindahkan kayu-kayu gelondongan dan membuka kembali badan Krueng Meureudu.
Sebelum banjir, dayah tipe C di Gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, tersebut memiliki lima ruang kelas, gedung kantor, masjid, dan 12 bilik santri di atas lahan seluas satu hektare. Jumlah santrinya lebih dari 200 orang, termasuk 60 santri yang tinggal dan mondok di sana.
Pimpinan dayah, Teungku Yusri Muhammad Gade, 51 tahun, mengatakan mereka sempat membersihkan kompleks pondok pesantren, termasuk bilik para santri, agar kegiatan belajar-mengajar dapat dimulai kembali.
“Namun, banjir susulan, yang datang enam hingga tujuh kali, membuat santri tak betah lagi bertahan di sini,” katanya.
Akibatnya, para santri meninggalkan pesantren tersebut. “Mereka telah pulang ke kampung masing-masing,” ujar Yusri.
Yusri telah mengusulkan lahan baru di Gampong Buangan kepada Dinas Pendidikan Dayah Pidie Jaya. “Sebab, menurut pemerintah, dayah yang akan dibangun baru tak boleh berada di dekat sungai,” kata Yusri. “Tapi, sampai sekarang belum ada tindak lanjut.”

Kerusakan Dayah Ribathul Muta’alimin Al-Aziziyah bukanlah kasus tunggal. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Pidie Jaya, Teuku Samsul Bakri, mengatakan terdapat 36 dayah di Pidie Jaya yang mengalami kerusakan akibat terjangan banjir bandang pada akhir November 2025: 15 dayah rusak berat, 16 rusak sedang, dan lima rusak ringan.
“16 dayah sedang dalam proses pembangunan. Sejak awal Agustus 2026, sudah mulai dibangun dayah-dayah yang ada di Jangka Buya, Ulim dan Bandar Baru. Pada bulan September mulai kerjakan dayah-dayah yang ada di Meureudu dan Pante Raja,” ujar Teuku Samsul Bakri. “Anggaran rehab dayah dari Kementerian Pekerjaan Umum. Yang laksanakan PT Brantas Abipraya. BUMN. Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan serta tenaga kerja semuanya dari mereka.”
Menurut Teuku Samsul Bakri, dayah yang dipimpin Yusri berada di zona merah karena berdekatan dengan sungai. Oleh karena itu, Kementerian PU meminta agar dayah tersebut dibangun di tempat lain atau direlokasi. “Lokasi baru dayah itu sudah disurvei dan akan diverifikasi oleh tim Kementerian PU dalam waktu dekat,” ujarnya.
Sekolah negeri juga menghadapi kondisi darurat yang sama. Sekitar 1,1 kilometer di sebelah tenggara kompleks SD IT Annur di Gampong Meunasah Lhok, 86 siswa SMP Negeri 1 Meurah Dua belajar di empat ruang kelas darurat (RKD). Mereka belajar di tengah bisingnya deru mesin proyek pembangunan sekolah tersebut, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kepala SMP Negeri 1 Meurah Dua, Muhammad Yusuf, 59 tahun, mengatakan banjir bandang pada akhir November 2025 telah menimbun 10 ruang kelas, satu musala, satu ruang kantor, dan satu laboratorium IPA dengan lumpur setebal 2,5 meter.
“Semua aset sekolah telah rusak,” kata Yusuf, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kerusakan itu memaksa sekolah mencari tempat belajar sementara. Setelah banjir mereda, kegiatan belajar dilangsungkan dengan menumpang di SDN 1 Meurah Dua. Pada saat yang sama, kata Yusuf, lumpur di sekolah yang dipimpinnya dikeruk menggunakan alat berat. Namun, pengerukan itu hanya mencapai kedalaman 80 sentimeter hingga satu meter.
“Numpang belajar di sore hari setelah anak-anak SD pulang sekolah,” sebut Yusuf. “15 hari kami numpang belajar di SDN Meurah Dua. Kami kemudian belajar di tenda-tenda darurat di sekolah kami sendiri.”
Tenda darurat yang dimaksud Yusuf adalah dua tenda darurat Kemendikdasmen dan satu tenda darurat BNPB yang berukuran 6×12 meter.
Baru pada Juli 2026 lalu, para siswa SMP Negeri 1 Meurah Dua belajar di empat RKD. “Di tengah kondisi yang serba darurat ini, dewan guru duduk di mana saja sebab mereka tidak memiliki ruangan khusus,” kata Yusuf.

RKD ini berkonstruksi baja ringan, dinding panel UPVC, pintu triplek, dan jendela kawat. Per RKD, luasnya 7 x 8 meter. RKD tersebut merupakan bantuan Aisyiyah, organisasi sayap perempuan Muhammadiyah.
Proyek Pembangunan Sekolah di Tangan TNI AD
Sejak Mei 2026, Kodam Iskandar Muda merevitalisasi SMP Negeri 1 Meurah Dua dengan APBN Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Proyek senilai Rp5.528.540.961 itu dilaksanakan melalui swakelola tipe II selama 120 hari kalender.
Di kompleks seluas satu hektare itu dibangun delapan ruang kelas, satu ruang kantor, satu laboratorium IPA, satu laboratorium komputer, satu musala, satu ruang pustaka, satu ruang UKS, dan dua toilet. Bangunan lama yang masih tertimbun lumpur dirobohkan. Bangunan baru didirikan di atas lumpur berpasir setebal 1 hingga 1,5 meter, dengan kedalaman galian fondasi antara 50 cm hingga 80 cm.
“Kami tidak memegang RAB dan rancangan atau gambar sekolah yang sedang dibangun ini. Kami hanya penerima manfaat,” kata Yusuf ketika kami tanya terkait dengan anggaran.
Selama pembangunan, material berserakan di berbagai sudut sekolah sehingga ruang bermain dan olahraga siswa menyempit. Yusuf berharap proyek segera selesai dan bangunannya cukup kuat menghadapi gempa maupun banjir.
“Semoga sekolah yang dibangun ini memenuhi Standar Nasional Indonesia atau SNI bangunan gedung. Jangan sedikit gempa langsung ambruk. Itu yang sangat kita takutkan. Atau sedikit banjir langsung longsor karena tergerus banjir,” kata Yusuf.
Di sebelahnya, TNI AD juga merevitalisasi SMA Negeri 2 Meureudu dengan nilai kontrak Rp7.700.149.000. Metode pengadaannya juga swakelola tipe dua dengan jangka waktu pelaksanaan 150 hari kalender.

Berbeda dengan SMP Negeri 1 Meurah Dua yang fondasinya dibangun di atas endapan lumpur, proyek SMA ini hanya menggunakan fondasi lama, menambal dinding, dan meninggikan bangunan sekolah lama.
TNI AD juga membangun enam ruang kelas PAUD SD IT Annur di Gampong Rungkom, Kecamatan Meureudu. Nilai kontraknya Rp1.855.191.920 dengan waktu pelaksanaan 120 hari.
Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah Teungku Chik Pante Geulima, Makmur Hasan Sufi, mengatakan sekolah telah direlokasi ke lahan seluas tiga hektare di kawasan perbukitan Gampong Rungkom, sekitar 3,5 kilometer dari lokasi lama. Yayasan sedang mengurus sertifikat wakaf lahan tersebut.
Menurut Makmur, pembangunan PAUD hampir selesai. DKK Kompas membangun enam kelas untuk SD, sedangkan Kemendikdasmen akan membangun SD IT Annur dan SMP IT Annur setelah sertifikat wakaf rampung.
Per 23 Juli 2026, Kemendikdasmen menganggarkan Rp3,001 triliun untuk merehabilitasi dan merekonstruksi 3.119 sekolah di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sebanyak 267 sekolah yang rusak berat atau harus direlokasi dikerjakan TNI AD melalui swakelola tipe II dengan anggaran Rp446,86 miliar.
Pekerjaan itu ditangani Kodam Iskandar Muda di Aceh, Kodam I/Bukit Barisan di Sumatra Utara, serta Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat.
Aceh mendapat porsi terbesar, yakni 2.099 sekolah dengan anggaran Rp2,096 triliun. Sebanyak 1.909 sekolah mengerjakan revitalisasi secara swakelola. TNI AD menangani 190 sekolah lainnya—41 PAUD, 126 SD, 18 SMP, dan lima SMA—dengan nilai Rp315,62 miliar.
Dalam siaran pers 23 Juni 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pelibatan TNI AD bertujuan mempercepat pemulihan sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi pada November 2025. Proyek tersebut menggabungkan tenaga profesional sipil dan personel TNI.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin mengatakan perjanjian kerja sama untuk 1.909 sekolah dibuat antara Kemendikdasmen dan masing-masing sekolah. Dinas pendidikan hanya berkoordinasi dan menyiapkan data. Sementara itu, menurut sumber Project Multatuli di Dinas Pendidikan Aceh, perjanjian untuk 190 sekolah yang dikerjakan TNI AD ditandatangani oleh Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak dan Kemendikdasmen.
Murthalamuddin berharap seluruh sekolah itu segera dapat digunakan agar para siswa kembali belajar dalam kondisi normal.
***
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah meminta semua sekolah menghentikan kegiatan belajar-mengajar di tenda karena masa tanggap darurat bencana telah berakhir. Namun, bagi SD IT Annur, berakhirnya status tersebut tidak serta-merta mengakhiri kondisi darurat. Bangunan sekolah belum pulih, sedangkan ruko yang mereka sewa sempit dan berada di tepi jalan yang bising.
Aida Zuhra, Kepala SD IT Annur, berharap 270 muridnya dapat segera kembali belajar di ruang kelas yang layak.
“Anak-anak tidak nyaman belajar di ruko karena posisinya juga di pinggir jalan. Bisingnya luar biasa,” katanya. “Di ruko kondisinya sempit, ruang gerak kami terbatas, dan kurang nyaman.”
Rumah Aida sendiri masih rusak dan belum diperbaiki. Namun, pikirannya kini lebih banyak tersita oleh nasib sekolah, para murid, dan guru-guru yang bertahan dalam segala keterbatasan.
“Saya juga sering memikirkan guru-guru yang mengajar di sekolah ini,” tuturnya.
Liputan ini merupakan kolaborasi Project Multatuli dengan Sinar Pidie.


