Creative Commons License

Asih Itu Hening: Kerja Kesehatan yang Tak Kasat Mata

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Ernawati dan Intan Rahmaningtyas

23/11/2022

Menjadi seorang kader kesehatan tidaklah melulu soal pengetahuan dan keterampilan terkait isu-isu medis, melainkan juga kepiawaian beradaptasi dan mendapatkan kepercayaan dari warga di segala rupa medan kerja di wilayah masing-masing.

Sayangnya, kisah-kisah mereka belum banyak menggema di antara kita.


Ketika kita membicarakan kerja-kerja kesehatan, seringkali ada imajinasi spesifik yang langsung terlintas di dalam kepala: seorang dokter di ruang operasi, seorang perawat menemani pasien atau sopir ambulans yang berkejaran dengan waktu.

Namun, cara pandang akan lingkup kerja kesehatan seperti ini sebenarnya tidak sepenuhnya mewakili kerja-kerja kesehatan yang ada. Sebagai contoh, krisis kesehatan seperti pandemi COVID-19 membuat kita tersadar bahwa kelompok masyarakat yang paling rentan dan tertinggal akan selalu menjadi yang paling terdampak di sistem kesehatan yang tidak merata.

Untuk merangkul mereka yang tertinggal dan paling rentan, ada peran penting tenaga penyambung akses kesehatan yang seringkali tak diketahui: kader-kader kesehatan.

Sejak Maret 2022, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) melanjutkan inisiatif Pencerah Nusantara dengan program PN-PRIMA: Pencerah Nusantara – Puskesmas Responsif-Inklusif, Masyarakat Aktif Bermakna untuk menyambungkan kelompok masyarakat rentan dengan akses kesehatan yang inklusif dan berbasis komunitas melalui kehadiran Kader PRIMA.

Hingga hari ini, ada sekitar 1042 orang Kader PRIMA yang bekerja sama dengan 21 puskesmas di Kota Depok, Kota Bandung dan Kabupaten Bekasi, menjangkau lebih dari 22.404 1000 warga.

Beban kerja mereka tidak sedikit, mulai dari mendata dan mendampingi kelompok rentan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, melakukan skrining penyakit tidak menular, hingga memberikan pendampingan gizi untuk anak dan ibu hamil. Sebagian bahkan menjadi Satgas COVID-19 selama pandemi.

Dengan beban dan tanggung jawab yang berat, kader kesehatan dituntut memiliki pengetahuan yang kuat tentang berbagai jenis penyakit, tahu cara berkomunikasi secara efektif dengan warga hingga mampu memberikan pertolongan saat darurat. Mereka harus punya kemampuan membimbing karena bertemu orang dan keluarga yang berbeda hampir setiap hari.

Di era digital ini mereka juga diharapkan bisa menguasai teknologi terbaru untuk segala kebutuhan pendataan, memastikan koordinasi dengan puskesmas berjalan tepat waktu berdasarkan data, serta mempunyai akses terhadap pengetahuan kesehatan terbaru.

Namun, masih ada persepsi bahwa kerja kader itu tidak membutuhkan pembaharuan serta peningkatan kapasitas. Padahal posisi strategis kader kesehatan perlu didukung dengan apresiasi yang layak, baik dari segi finansial, pengakuan kompetensi, maupun bekal ilmu pengetahuan.

Di sisi lain, sebagian masyarakat juga belum kenal dengan mereka. Nyatanya, apalagi di kalangan masyarakat urban, rumah sakit masih menjadi tujuan utama untuk pelayanan kesehatan. Bahkan tak jarang kehadiran kader yang berniat membantu ditolak warga.

Dalam seminggu, seorang kader bisa menghabiskan waktu lebih dari delapan jam untuk melaksanakan kegiatan PN-PRIMA dengan remunerasi seadanya–bisa dihitung sebagai kerja sukarela. Kerja-kerja ini adalah tanggung jawab penting yang diemban para Kader PRIMA untuk mengisi keterbatasan di dalam sistem kesehatan kita.

Ada begitu banyak aspek-aspek tak kasat mata di seputar kehidupan seorang kader kesehatan. Hal-hal yang tersembunyi di bawah permukaan inilah yang bisa membantu kita memahami lebih dalam dan pada akhirnya mengapresiasi kehadiran orang-orang seperti mereka.

Menyadari berharganya keahlian, peran serta pengabdian para Kader PRIMA sebagai penopang sistem kesehatan masyarakat, wajar kiranya mereka perlu mendapatkan apresiasi yang serius sebagai angkatan kerja. Sampai saat itu tiba, mereka akan selalu hadir di antara kita, merawat dan menemani dalam hening.


Jiwa Tetaplah Jiwa

Oleh Ernawati

(Ernawati)
(Ernawati)
(Ernawati)

Sifat hangat, gesit, dan komunikatif hadir pada sosok Ibu Arum. Mengawali pengalaman sebagai kader di bidang kesehatan sejak 2005, perempuan berusia 51 tahun ini kini terlibat sebagai Kader PRIMA, kader Posyandu, Posbindu, Jumanti (Juru Pemantau Jentik), dan Pemantau Minum Obat (PMO) di Kelurahan Cikutra, Bandung.

Tahun 2016, menjadi awal pengalaman Ibu Arum mendampingi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Di Kelurahan Cikutra, ada sejumlah ODGJ yang hidup berdampingan dengan keluarga dan masyarakat sekitar. Namun, di jalanan sering ditemukan pula ODGJ terlantar yang tidak diketahui asal-usulnya. Menyadari krusialnya pendampingan ODGJ agar mereka mendapatkan perawatan medis yang sesuai, Ibu Arum dengan lembut dan sigap selalu berupaya merujuk mereka ke instansi terkait.

Bagi Ibu Arum, “jiwa tetaplah jiwa.” Gangguan kejiwaan seseorang tidaklah mengurangi kemanusiaannya. Bagaimana Ibu Arum tidak membeda-bedakan siapa yang ia dampingi merupakan cerminan etos Kader PRIMA yang inklusif merangkul kalangan masyarakat yang rentan.


Arena Eka

Oleh Intan Rahmaningtyas

(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)
(Intan Rahmaningtyas)

Eka, seorang Kader PRIMA di Desa Mangunjaya, Tambun Selatan, Bekasi, memiliki enam peran sekaligus dalam kesehariannya. Seorang Ketua Kader PRIMA, Ketua Posyandu, istri, ibu, Komite Sekolah serta pengemudi ojek online, peran-peran tersebut harus cukup dilakukan dalam 24 jam sehari–menjadikan waktu sebagai arena kecepatan tinggi baginya. Lewat cara unik yang ia ciptakan dan berbeda dari orang pada umumnya, kini ia menjadi pembalap sebenarnya di kehidupan–seperti masa lalunya yang pernah menjajal lintas balapan.


Dua cerita foto ini merupakan bagian dari 12 cerita foto hasil lokakarya fotografi kerjasama antara CISDI dan Arkademy Project yang dilaksanakan secara luring dan daring pada 29 Juli hingga 14 Agustus 2022 dan kemudian dipamerkan pada 5 hingga 16 November 2022 di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!