Mei lalu, sebagian besar Sumatra padam listrik sampai berjam-jam. Warga terseok, aktivitas dan pekerjaan terganggu. Mengakali dengan genset pun sulit karena harga solar sedang tinggi-tingginya. Rugi menggunung. Sementara PLN tak kunjung beri kepastian skema kompensasi.
DUA PULUH EMPAT JAM tanpa listrik adalah waktu kritis untuk ribuan ayam milik Henry Saragih (67).
Bagi peternak ayam sepertinya, listrik menjadi penting dalam membantu sistem sirkulasi udara (ventilasi) di kandang tetap menyala supaya gas beracun terbuang, suplai oksigen segar lancar, suhu dan kelembaban terjaga. Ayam tidak stres, kualitas daging dan telurnya optimal.

Namun, malam 22 Mei, mimpi buruk peternak dari Desa Saentis di Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatra Utara, itu terjadi.
Listrik padam. Desa gelap. Jaringan komunikasi terganggu. Sistem ventilasi di kandang ayam Henry mati.
Henry tinggal sekitar 3 km dari peternakannya. Malam itu, ia bergegas lari ke kandang. Ia berusaha mencari cara agar kipas ventilasi tetap menyala. Ia mengecek genset untuk membantu cadangan listrik, ternyata bahan bakar solarnya kosong.
“Keliling saya mencari, dan tidak ada di mana-mana. Stres saya,” kata Henry.
“Seumur-umur, inilah kepahitan yang saya rasa.”
“Saya sampai tak bisa makan kalau mengingat kejadian kemarin.”
Ayam-ayamnya mati satu per satu. Sampai lebih dari 3.000 ekor ternaknya itu mangkat dan dikubur. Karena menjual bangkai ayam hanya akan menambah masalah. Henry setidaknya harus menanggung kerugian lebih dari Rp100 juta.

Esok paginya, ia bergegas lapor ke PLN, satu-satunya perusahaan yang bertanggung jawab atas pasokan listrik negara. Ia meminta bantuan agar peternakannya kembali beroperasi normal. Ia juga meminta PLN memperbaiki kabel-kabel listrik di peternakannya yang sebagian hilang dicuri orang.
“Saya tungguin, tapi gak ada mereka yang datang. Gak direspon mereka aduan saya. Tak mungkin saya pakai genset terus. Ini saya pakai 10.600 watt, sementara solar susah dan harganya melangit,” kata Henry.
Agar gensetnya bisa hidup seharian, Henry membutuhkan setidaknya 3 jeriken solar dengan harga tiap-tiap jerikennya berkisar Rp300 ribu.
“Mau berapa banyak lagi keluar uang saya?” tanyanya.
Henry mengaku ia membayar tagihan listrik berkisar Rp10 juta per bulan untuk operasional peternakan.
Padamnya listrik tidak hanya terjadi pada Henry dan tetangganya di desa. Nyaris 13 juta orang di lima provinsi di Sumatra: Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Jambi, mengalami hal sama. Mati total itu berlangsung 12 hingga 48 jam, sampai proses pemulihan benar-benar selesai di tiap-tiap daerah.
PLN menyalahkan cuaca ekstrem dari hujan lebat dan angin kencang memutus kabel dan mengganggu jaringan transmisi 275 kV di jalur Muara Bungo-Sungai Rumbai di Jambi.
Jalur Muaro Bungo–Sungai Rumbai adalah satu dari dua simpul utama dalam sistem interkoneksi listrik Sumatra. Jalur ini berfungsi menyalurkan pasokan listrik untuk Sumatra bagian selatan, tengah, dan utara. Maka dari itu, ketika terganggu, aliran daya antarwilayah ikut terganggu.
Malang juga dirasakan Ibnu Fawaid (37), pembudidaya ikan hias di Kota Medan. Hari itu, Ibnu sedang jauh dari rumah. Awalnya, Ibnu mengira pemadaman listrik tidak akan lama. Ia tidak panik karena paling tidak ikannya masih bisa bertahan hidup, paling tidak 4 jam tanpa bantuan pompa udara.
“Tapi ternyata sampai 25 jam tak hidup-hidup, sementara saat itu genset saya pun sedang rusak, alhasil mati ikan pari brasil yang saya pelihara untuk indukan,” kata Ibnu.

Ikan pari air tawar totol putih itu ia beli 2 tahun lalu untuk indukan dengan harga Rp25 juta. Selama perawatan, ia mengatakan diameter ikan sudah bertambah yang sekaligus menaikkan nilai jualnya.
“Kalau saya jual saja itu sudah mencapai 30 jutaan lebih lah,” katanya.
Di kalangan penghobi ikan hias, pari brasil bukan ikan sembarangan. Semakin besar ukuran dan semakin bagus coraknya, nilainya bisa terus meningkat.
Namun yang hilang bukan hanya nilainya. Ada waktu dan tenaga. Ada harapan bahwa ikan itu suatu saat akan menghasilkan anakan yang menjadi sumber penghasilan berkelanjutan.

Muhammad Ronny Suherza, pengusaha makanan beku di Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, juga dipaksa ikhlas menerima daging-daging dan saos dimsum di mesin pendinginnya rusak karena listrik mati.

“Listrik yang ku pakai ini 16.500 watt, gensetku cuma ada tiga, yang 5 ribu watt, apa gak sakit kepalaku. Dan ternyata dari ketiga genset itu, ada yang gak bisa dipakai waktu blackout, jadi rusaklah daging-daging serta saos dimsum yang kusimpan di freezer,” kata Ronny.
Ronny membayar tagihan listrik bulanan hingga Rp15 juta untuk menjamin usahanya lancar. Tak ayal, pemadaman listrik total ini membuatnya geram.
Di tengah pemadaman, ia bolak-balik mendatangi kantor PLN untuk mencari kepastian kapan listrik akan kembali menyala.
“Makanya palak kali aku, sampe kuancam orang di kantor PLN itu, kubilang, ‘kalaulah hancur lebur daging dimsum yang kujual itu, besok kubawa orang-orang dan mahasiswa buat demo kelen’,” cerita Ronny.
“Geram kali pokoknya, awak gak boleh telat bayar listrik, tapi pelayanan gak ada profesionalnya, kompensasi dari orang itu pun gak ada.”
Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, satu hari kerusakan bahan baku bisa berarti hilangnya keuntungan selama berminggu-minggu. Pemadaman listrik massal ini pun memperlihatkan betapa rapuhnya usaha kecil dan gangguan layanan publik.
Pesan singkat kepada General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatra Utara, Mundhakir Salman, pada 4 Juni, untuk meminta konfirmasi perihal kompensasi warga yang mengalami kerugian tidak mendapatkan respons. Begitu juga Humas UID Sumatra Utara Darma Saputra.
Niti Emiliana, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), mengatakan dalam situasi ini, PLN wajib memberikan kompensasi kepada konsumen akibat mutu pelayanan yang tidak standar sesuai Permen ESDM Nomor 2/2025. Pemberian kompensasi juga tanpa proses klaim yang rumit.
Dalam Pasal 6A ayat (4) aturan tersebut, disebutkan untuk gangguan dalam periode 4-8 jam, maka konsumen berhak menerima nilai kompensasi hingga 200 persen dari biaya beban atau rekening minimun. Sementara, gangguan selama 16-40 jam, biaya beban yang dikover bisa mencapai 300 persennya.
Namun, Juru Bicara PLN, Gregorius Adi Trianto, belum dapat memastikan apakah PLN akan membayarkan kompensasi kepada konsumen. Pihaknya mengatakan akan melakukan evaluasi terkait insiden ini terlebih dahulu.

Bagi masyarakat terdampak, kerugian material akibat pemadaman listrik total hanyalah sebagian dari beban gangguan pelayanan publik dari kehidupan sehari-hari.
Rafli Kahfi, seorang penyunting naskah akademik di Medan, juga harus menyiapkan mental menjawab komplain dari para kliennya yang menunggu hasil pekerjaannya.
“Ampunlah, kak, pusing hadapi komplain klien. Mereka juga gak bisa saya salahkan, karena kan mereka dikejar deadline, sementara pekerjaan ini sangat bergantung pada listrik dan wi-fi,” kata Rafli.


Begitu pula dengan Agus Putra Ziliwu, seorang pemangkas rambut di Medan Selayang, yang terpaksa menyelesaikan proses cat rambut kliennya dalam gelap.
“Payah kali lah gelap-gelap awak kerja, belum lagi hasilnya pasti gak maksimal. Syukurnya pelanggannya ngerti, ya, mau gimana lagi kan, awakpun tak maunya mati lampu, kerja sambil gelap-gelapan,” tukas Agus.