Dilema di Puncak Brakseng: antara Pangan atau Pemandangan

4 menit

Cerita soal negara agraris Indonesia dan ketahanan pangannya adalah dongeng belaka. Ia rutin disampaikan turun-temurun secara lisan, tapi saat dicek kebenarannya, fakta menunjukkan sebaliknya. Dan, selayaknya dongeng, ia pun mengandung pesan moral nan berharga: jangan telan mentah-mentah apa kata pemerintah.

Sektor pertanian memang secara konstan menyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia. Namun, persentasenya kian mengecil. Pada Februari 2022, 29,9% dari seluruh penduduk bekerja Indonesia bergiat di sektor pertanian. Padahal, 10 tahun sebelumnya, angkanya menyentuh 36,5%, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS).

Di sisi lain, pertanian bukan kontributor terbesar terhadap perekonomian Indonesia. Dari tahun ke tahun, peran itu dipegang industri pengolahan. Nilai ekonomi lahan sawah dianggap tak seberapa dibanding lahan sawit atau perumahan. Ia pun kerap dikorbankan atas nama pembangunan infrastruktur. Maka, tidak mengherankan luas lahan baku sawah terus menyusut, dari 8,06 juta hektare pada 2009 menjadi hanya 7,46 juta hektare pada 2019. Imbasnya, Indonesia kerap gelagapan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, dan impor menjadi solusi.


Di era Hindia Belanda, Desa Sumberbrantas merupakan wilayah yang didominasi perkebunan teh. Kini warga desa menanami lahannya dengan sayur-mayur. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Seorang petani menunjukkan wortel hasil panen yang akan dikirim ke Kalimantan. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Desan Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menjadi pemasok sayur-mayur di Jawa Timur di tengah alih guna dan menurunnya produktivitas lahan. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Puncak Brakseng menjelma menjadi destinasi wisata yang naik daun setelah viral di akhir 2019 dan mulai dikelola oleh warga desa dengan bantuan mahasiswa pada 2020. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Lahan kebun petani berbatasan langsung dengan jalan raya. Puncak Brakseng berada di jalur yang menghubungkan Mojokerto dengan Batu dan Malang. (Muhammad Mada Dwi Pradana)

Desa Sumberbrantas memiliki bentang perkebunan yang terhampar luas disertai pemandangan deretan pegunungan. Wortel, kubis, bit, bawang prei, kentang, dan beragam sayuran hijau serta sejumlah tanaman khas pegunungan lainnya tumbuh subur di sini. Dari ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut, desa tertinggi di Kota Batu ini menjadi pemasok sayur mayur di Jawa Timur dan belakangan didapuk sebagai tujuan wisata dengan lokasi utama di Puncak Brakseng.

Kesejukan alami dan hamparan sayur hijau memikat wisatawan datang. Tak jarang mereka asyik merekam diri dalam foto atau selfie berlatar perkebunan. Malangnya, suka bagi wisatawan menjelma duka bagi petani. Atas nama estetika, kaki-kaki mereka tak sungkan menginjak sayur-mayur yang dirawat mati-matian oleh petani.

Wisatawan pulang dengan gambar indah a la Mooi Indie sementara tanaman petani gepeng di tanah. Geram dengan ulah mereka, para petani di Puncak Brakseng memasang peringatan ‘Lahan Kami Bukan Tempat Selfie’. Pembangunan fasilitas wisata dan properti pun tumbuh seiring bertambahnya wisatawan. Para petani di Puncak Brakseng selayaknya waspada. Mereka tidak akan sekadar berhadapan dengan kaki-kaki wisatawan.


Pengunjung tiba di Puncak Brakseng. Tiada kata sepi di hari libur. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Material bangunan untuk pembangunan kafe disiapkan di atas lahan yang telah dikuasai pemodal. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Sepasang pengunjung melakukan selfie di tengah kebun sayur. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Tanaman sayur di kebun petani hancur terpijak wisatawan. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Spanduk peringatan untuk wisatawan dipasang petani pada dinding sebuah bangunan sebagai bentuk protes. (Muhammad Mada Dwi Pradana)
Keindahan pemandangan di Puncak Brakseng ternodai sampah yang ditinggalkan sembarangan oleh pengunjung. (Muhammad Mada Dwi Pradana)

Foto cerita ini diproduksi selama pelatihan foto yang diselenggarakan oleh Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan PannaFoto Institute, didukung oleh Kurawal Foundation pada 18 Mei-6 Juni 2022 dan dipamerkan pada Festival #panganjujur.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

4 menit