Duka Bola Aremania: Kematian Massal, Pasangan yang Terkubur di Satu Liang Lahat, dan Murung Wajah Singa

Ricky Yudhistira
4 menit

Menjelang tengah malam, kendaraan yang saya tumpangi berhenti tepat di depan pintu masuk Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu, 2 Oktober 2022. Sehari sebelumnya, pada waktu hampir sama, ratusan Aremania meregang nyawa. Sampai sejauh ini, menurut sumber resmi, ada 131 korban jiwa usai pertandingan Arema melawan Persebaya Surabaya dimenangkan oleh tim tamu dengan skor 2-3.

Bulu kuduk saya merinding saat berdiri di hadapan sebuah bendera putih bergambar singa yang dibentangkan di pagar besi, di bawahnya, di aspal jalan itu, bunga-bunga bertaburan, mengenang bagaimana mereka yang tercekik napasnya oleh gas air mata, terinjak-injak dan terbunuh.

Saya merinding bukan karena takut. Saya marah melihat ini semua. Saya marah mendengar penyebab kematian mereka.

Beberapa jam sebelumnya saya hadir di acara doa bersama Aremania di depan Stadion Gajayana, Kota Malang. Ini adalah stadion kandang mereka sebelum berpindah ke Kanjuruhan karena kapasitasnya tidak mencukupi dengan animo suporter untuk mendukung tim kebanggaannya.

Ada nama besar Yuli Sumpil, dirigen kebanggaan Aremania yang duduk tafakur merenungi kejadian sehari sebelumnya. Usai berdoa bersama, beberapa perwakilan Aremania diminta untuk menyampaikan pendapatnya.

“Pokoknya, kalau sampai dalam tujuh hari tidak ada yang ditetapkan tersangka …Meskipun hanya sepuluh orang, saya akan macetkan Kota Malang. Ini adalah bentuk genosida,” ungkap suporter bernama Ambon dengan lantang. Yang lain berteriak mengamini.

Bendera bergambar singa di pintu gerbang Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
Ucapan duka cita datang dari berbagai kalangan di tugu Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
Ucapan duka cita datang dari berbagai kalangan di tugu Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
Diorama berbagai cabang olahraga di Stadion Kanjuruhan, Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
Suporter Arema berkumpul di depan Stadion Gajayana, Kota Malang, untuk mengenang para korban tragedi kerusuhan Kanjuruhan, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
Seorang bocah memotret ucapan duka cita saat suporter Arema berkumpul di depan Stadion Gajayana, Kota Malang, untuk mengenang para korban tragedi kerusuhan Kanjuruhan, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
Suporter Arema berkumpul di depan Stadion Gajayana, Kota Malang, untuk mengenang para korban tragedi kerusuhan Kanjuruhan, Minggu (2/10) malam. (Project M/Arief Priyono)
All Cops Are Bastard (ACAB), sebuah bentuk kekecewaan suporter Arema pada sikap represif aparat kepolisian sehingga banyak jatuh korban jiwa. (Project M/Arief Priyono)

Saya mendapati grafiti A.C.A.B, alias All Cops Are Bastards, di aspal. Ini adalah bentuk kekesalan mereka atas brutalitas aparat keamanan.

Mereka menanti sikap nyata pemerintah untuk membuka semuanya, melakukan investigasi hingga yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah dan mendapat hukuman setimpal. Para Aremania berharap tidak hanya ucapan duka cita yang memenuhi halaman koran, media online, dan media sosial.

Jangan sampai kematian 131 nyawa itu sia-sia. Mereka berhak mengetahui fakta sebenarnya.

Mereka itu termasuk M. Alfiansyah, bocah berusia 11 tahun yang kehilangan M. Yulianton (40) dan Devi Ratna S (30), yang sekarang (dipaksa) harus hidup sebatang kara setelah pasangan orangtuanya dikubur di satu liang lahat yang sama di TPU Mergan, Kota Malang.

Sementara sebuah mural bergambar singa yang menatap muram di Kampung Biru Arema, Klojen—semoga tidak berlama-lama memendam kesedihan; dan kembali mengaum melihat kegembiraan pertandingan sepakbola.

Seorang jurnalis berada di kantor club sepakbola Arema di Kota Malang, Senin (3/10). (Project M/Arief Priyono)
Karangan bunga dari Persik Mania, pendukung kesebelasan Persik Kediri di depan Arema Official Store, Senin (3/10). Persik Kediri selama dikenal musuh bebuyutan Arema Malang selain Persebaya Surabaya. (Project M/Arief Priyono)
Seorang warga membaca koran yang penuh dengan kabar duka meninggalnya 131 suporter Arema di Kota Malang, Senin (3/10). (Project M/Arief Priyono)
Pelanggan menonton berita kematian suporter dari sebuah televisi di Warung Arema, sebuah warung legendaris di Klojen, Kota Malang, Senin (3/10). (Project M/Arief Priyono)
Makam pasangan suami istri M Yulianton (40) dan Devi Ratna S (30) di TPU Mergan, Kota Malang, Senin (3/10). Anak dari pasangan suami istri ini, M Alfiansah (11), selamat. (Project M/Arief Priyono)
Suasana Kampung Biru Arema di Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Senin (3/10)
Suasana Kampung Biru Arema di Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Senin (3/10)
Dua ekor kucing di depan mural singa di Kampung Biru Arema di Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Senin (3/10)

 

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

Ricky Yudhistira
4 menit