Memoar Mia Bustam: Melampaui Melankolia Kiri Indonesia

Fahri Salam & Adrian Mulya
9 menit
Lukisan Mia Bustam “Potret Keluarga” (1958, cat minyak di kanvas, 112 x 83 cm, koleksi Sri Nasti Rukmawati). Lukisan ini belum selesai saat pertama kali dibuat. Saat hendak menyelesaikannya selepas dari pemenjaraan, hasilnya buruk: wajah Sri Nasti Rukmawati, Sekar Tunggal, dan Lanang Gawe berubah. Kemampuan melukis Mia “teraborsi” setelah ditahan tanpa pengadilan selama 13 tahun oleh rezim Orde Baru. (Dok. Biennale Jogja 18-Yayasan Biennale Yogyakarta/Edwin Roseno)
Rezim militer Orde Baru membakar, menghilangkan, dan menutup rapat semua terbitan yang dikategorikan "kiri". Di kemudian hari, selepas rezim ini tumbang, empat memoar Mia Bustam akhirnya terbit atas usaha banyak orang. 

KETIKA Mia Bustam diwawancarai Sugiarti Siswadi, yang hasilnya dimuat Api Kartini (No. 10 Th. II 1960), dia mengungkapkan keinginannya mengadakan pameran tunggal di Jakarta:

Mengenai pelukis internasional, Mia berpendapat sama, tetapi tidak dapat menunjuk siapa yang terbaik. Dia mengagumi Käthe Kollwitz dan Diego Rivera, karena mereka memenuhi tugasnya baik sebagai pelukis, sebagai manusia. Dia hargai Van Gogh, yang bekerja di tengah-tengah kaum buruh pertambangan di de Borinage, melukiskan kemiskinan yang mencolok di lorong-lorong Kota London, dan bercerita tentang kehidupan rakyat jelata, penderitaan dan kegembiraannya.

Tentang banyaknya pelukis-pelukis wanita, dia mengatakan bahwa memang banyak yang berbakat sebagai pelukis, dan dia yakin takkan kalah banyak dari lelaki, tetapi sayang yang bisa berkembang tidak banyak. Dan ini menurut pendapatnya, karena mereka dilahirkan sebagai wanita Indonesia dalam masyarakat Indonesia (dengan penegasan dari penulis, dalam masyarakat Indonesia yang setengah kolonial dan setengah feodal). 

Nahasnya, geger 1965 bukan hanya memupus harapan Mia menggelar pameran tunggal, tapi juga membuatnya ditangkap pada 23 November 1965.

Pagi itu dia diciduk bertepatan  hari ulang tahun putranya, Watugunung. Dia diangkut truk tentara, dan tak kembali hampir 13,5 tahun berikutnya. Proses kreatifnya terhenti. Sebagian besar karyanya bahkan lenyap dalam peristiwa tersebut. 

Sugiarti Siswadi juga ditangkap dan dipenjara. Seperti Mia, dia terpaksa berhenti berkarya. (Majalah Api Kartini sempat tak bisa diakses dan menjadi dokumen yang dilarang selama Soeharto berkuasa.) 

Rezim militer Orde Baru membakar, menghilangkan, dan menutup rapat semua terbitan yang dikategorikan “kiri”. Di kemudian hari, selepas rezim ini tumbang, empat memoar Mia Bustam akhirnya terbit atas usaha banyak orang.

Proses berkarya Mia sebenarnya tercatat rapi, tapi sayangnya tak pernah dianalisis dengan baik sehingga kita hanya mengenal sejarah seni rupa Indonesia yang narasinya dominan maskulin, kompromis (bahkan oportunis), taat kekuasaan, dan akhirnya kehilangan daya kritisnya. 

Membaca cermat perjalanan hidup dan pemikiran Mia, kita bakal terkagum-kagum atas daya ingatnya yang luar biasa tajam.

Memoar pertamanya, Sudjojono dan Aku, gamblang membuka tabir sejarah yang sudah lama ditutup rapat. Memoar ini menginterupsi ‘kemajuan’ (baca: pembangunan) yang terus dilantangkan penguasa. Inilah upaya Mia mengguncang mereka yang angkuh mengglorifikasi diri sebagai pemenang sejarah.

Melawan Lewat Tulisan

Memoar Mia jadi penanda bahwa sejarah memang tak pernah tamat karena luka yang terus menganga tak kunjung diakui.

Kejernihan berpikir membuat Mia mampu menerangi pojok-pojok sejarah kelam. Dengan emosi yang terus bergejolak di tengah badai kehilangan dan tekanan, dia tak letih menulis dan menegaskan posisi politiknya.

Dia memilih berpihak pada mereka yang ditindas, dikalahkan, dan dibisukan suaranya (meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer: dilumpuhkan). Mia bahkan mampu memaparkan kisahnya dengan jenaka.

Rezim militer Orde Baru berupaya membumihanguskan segala ingatan. Rezim ini menyiksa, memerkosa, serta merusak tubuh dan mental. Mia dicerai-beraikan dari keluarganya. Luka dan duka merenggut satu per satu kehidupan yang pernah dimilikinya. 

Meski begitu, dia tak tunduk begitu saja di hadapan penguasa. Hingga akhir hayatnya, Mia tetap berusaha mempertahankan sikap kritis.

Memoar Mia Bustam: Sudjojono dan Aku (terbitan pertama 2006, diterbitkan ulang 2022); Dari Kamp ke Kamp (terbit perdana 2008, terbitan ulang 2022), Kelindan Asa dan Kenyataan (terbit perdana 2022); Mutiara Kisah Masa Lalu (terbit ulang 2024). Keempat memoar Mia diterbitkan ulang oleh Ultimus (Bandung). (Project M/Adrian Mulya)

Melalui tulisan tangannya sendiri, dia mengklaim dirinya secara utuh, menyadari seluruh konsekuensi atas pilihan hidupnya, dan konsisten menghidupi ideologi yang dia yakini. Mia melawan dengan menulis! Seluruh pengalaman dan pemikiran yang dia tulis akhirnya menginspirasi generasi saat ini dan masa mendatang. 

Mia bersahabat dengan waktu. Dia mendamaikan segala risaunya, menyapu dendam keluar dari ruang hatinya. Umur yang panjang merupakan bentuk perlawanannya dalam senyap.

Kini kita leluasa membaca rekaman perjalanan hidupnya selama 91 tahun secara utuh. Akhirnya kita mampu memahami sejarah perjalanan bangsa ini dari perspektif pribadi Mia, lengkap dengan segala emosi yang terkandung di dalamnya.

Tulisan blak-blakan Mia justru menyuguhkan banyak pengetahuan baru yang menarik diteliti dan ditafsirkan kembali. Dalam memoar tersebut, waktu menjadi sangat terbuka (open time): mampu menembus duka dan membawa para pembaca dalam perjalanan kebangsaan dari perspektif ibu, seniman, dan perempuan. 

Tulisan-tulisannya jelas tak bisa lagi diabaikan para sejarawan dan penulis sejarah seni rupa Indonesia. Sudah sepatutnya mereka memberi ruang besar untuk Mia Bustam, “Ibu Seni Rupa” kita, terlebih kontribusinya signifikan membentuk hidup personal dan artistik Sudjojono yang kerap dijuluki “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia”.

Absennya sosok Mia Bustam dalam historiografi seni rupa mencerminkan kentalnya bias gender dalam praktik penulisan sejarah seni Indonesia. Miskinnya perspektif feminis dalam penulisan sejarah seni rupa menjadikan narasi para seniman perempuan seperti Mia terasa timpang tak setara, bahkan tak jarang hilang begitu saja.  

Filsuf asal Jerman, Walter Benjamin (1892–1940), mengingatkan kita bahwa “satu-satunya penulis sejarah yang memiliki karunia menyalakan percikan-percikan harapan di masa lalu adalah orang yang meyakini hal ini: orang yang sudah mati pun tidak akan aman dari musuh, jika dia menang. Dan musuh tidak akan pernah berhenti untuk menang.” 

Sebagai seorang penulis historiografinya sendiri, Mia Bustam tetap tak aman dari pelupaan jika kita menolak mengakui, membaca, dan mempelajari apa saja yang telah dilakukannya. Penulisan sejarah yang adil seharusnya memberi Mia kredit yang layak dalam posisinya sebagai seorang tokoh penting dalam dunia seni rupa. Kerja-kerja kolektif yang menghadirkan kembali sosok Mia Bustam merupakan proses yang perlu didukung dan diapresiasi.

Ketika mengerjakan tesis tentang Mia Bustam, saya sendiri mengalami kesulitan mengingat begitu kaya data yang tak mungkin selesai dianalisis sendiri dalam waktu kurang dari dua tahun. Kerja-kerja perempuan adalah kerja-kerja kolektif. Mustahil bisa dilakukan sendirian. 

Sejarah Mia Bustam yang sangat kaya data, sangatlah layak dijadikan sebagai blok studi sejarah seni rupa Indonesia. Tetralogi memoarnya yang komprehensif dalam memetakan sejarah Indonesia pasca 1965 benar-benar wajib dibaca dan ditelaah para pengajar serta mahasiswa seni rupa untuk memahami konteks perempuan penyintas 1965. 

Selain perjalanan hidupnya sendiri yang ditulis dengan detail mencengangkan, Mia juga mencatat seniman perempuan lainnya, terutama para tokoh kiri yang nama-namanya dihapus sejarah. Dia mampu menguraikan perjuangan para perempuan ini bertahan hidup.

Mia pun piawai mengupas sisi lain Sudjojono yang tak banyak diketahui atau tak mau diakui mereka yang mengatasnamakan objektivitas (padahal ingin cari aman). Tulisan Mia menjadi pengisi lubang sejarah seni rupa yang selama ini hanya mengagungkan sosok Sudjojono.

Problemnya, pendekatan personal seperti yang diupayakan Mia sering kali dianggap tidak sesuai standar objektivitas akademik. Padahal, perspektif feminis sangat membantu kita memahami bahwa untuk menulis perempuan, kacamata “yang personal adalah politis” sesungguhnya tak terhindarkan dalam menganalisis pengetahuan perempuan. 

Bukan berarti perspektif feminis eksklusif milik perempuan. Ia terbuka untuk semua gender. Para penulis seni rupa laki-laki perlu semakin membuka cakrawala pemikiran mereka supaya lebih adil dan inklusif.

Dominasi perspektif maskulin dalam penulisan sejarah berisiko menyingkirkan pengalaman-pengalaman perempuan yang sesungguhnya krusial membentuk narasi kolektif. Masa lalu yang selalu (di)gelap(kan) membuat segalanya samar dan tak utuh sehingga generasi penerus Indonesia cemas dengan masa depannya.

Cara Baru Membaca Sejarah

Mia Bustam adalah contoh seniman perempuan kiri yang melampaui pengondisian melankolia kaum kiri. Sebab dalam penulisan memoarnya, dia sama sekali tak terjebak nostalgia kekalahan dan kefrustrasian kaum kiri Indonesia.

Setelah geger 1965, Mia justru kian menguatkan dan mentransformasi diri melampaui segala tuduhan yang dialamatkan padanya. Dia membangun narasi dirinya sebagai perempuan yang kokoh, yang berakar pada pengalaman sejarah personal maupun kolektif yang kompleks. 

Mia menaungi semua keturunannya dengan kekuatan sekaligus kelembutan. Memoarnya menyuguhkan keteguhan politik sekaligus kehangatan naratif yang memperkaya pendekatan feminis dalam historiografi Indonesia.

Dia melawan badai kekalahan dengan cara jitu yang memang dikuasainya, yaitu mencatat dengan runut, mengobservasi dengan detail, disiplin menjaga hidup, tak henti berempati pada sesama, dan akhirnya meninggalkan banyak catatan yang penting kita lanjutkan sebagai para pewaris ingatannya.  

Pameran Mia Bustam menampilkan lini masa perjalanan hidup, arsip, foto, tulisan tangan, kliping, dan karya-karya visualnya yang masih tersisa seperti lukisan, sketsa, dan sulaman. Tim berkolaborasi dengan lima seniman kontemporer Yogyakarta, Awanda B. Destia, Kemala Hayati, Nadya Hatta, Nessa Theo, dan Chandra Rosselinni, yang merespons jejak artistik Mia Bustam. (ProjectM/Tim Riset dan Pameran Mia Bustam/RaungSingosari)

Memoar, dokumen, arsip, maupun karya Mia Bustam sangat mungkin memunculkan riset-riset multi-perspektif yang berkontribusi besar bagi studi sejarah, perempuan, dan kesenian. Masih ada setumpuk surat Mia Bustam yang belum ditranskripsi, juga belum dibaca dan dianalisis.

Foto-foto dokumentasinya pun belum diriset dengan baik. Karya-karya sulaman yang tersisa dan kini berada di Limo, Depok, belum dianalisis lebih detail. Bahkan mungkin kita masih bisa menemukan kembali karya-karyanya yang saat ini belum ditemukan.

Memoar Mia sebagai historiografi perempuan pasca 1965 merekam pengalaman kekerasan negara, trauma, dan resistensi melalui narasi personal dan praktik visual. Memoar Mia dapat kita baca sebagai sumber sejarah alternatif. Ingatan-ingatan perempuan yang selama ini dipinggirkan dalam narasi resmi bisa menjadi sumber pengetahuan historis yang sah. 

Menariknya, memoar Mia tak hanya berpeluang kita telaah sebagai catatan pribadi. Lebih dari itu, ia merupakan artefak kultural yang mengintervensi wacana sejarah nasional, khususnya dalam konteks seni, politik, dan relasi gender.

Tulisan Mia mengungkap dimensi kompleks pengalaman perempuan kiri pasca 1965, termasuk dinamika rumah tangga, stigma sosial, pelenyapan karya, hingga marginalisasi institusional.

Memoar ini berfungsi sebagai perlawanan sunyi menghadapi pelupaan sejarah, sekaligus cara merebut kembali posisi subjek perempuan dalam sejarah. Dengan demikian, Mia Bustam memperlihatkan arti penting dari ‘kesabaran revolusioner’, suatu kemampuan mempertahankan komitmen transformasi sosial yang radikal. 

Mia konsisten mengupayakannya meski berjalan lambat dan penuh tantangan. Dia sadar hasil akhirnya mungkin tak sempat dia saksikan sendiri. Dia paham bahwa memperjuangkan perubahan struktural tak selalu rampung dalam satu generasi.

Sikapnya mencerminkan visi jangka panjang yang menolak tunduk pada tekanan hegemoni kekuasaan. Dia merangkul harapan, meyakini perjuangan lintas generasi, serta mengembangkan cara bersabar yang terarah.

Dalam hal ini, sabar bukan berarti pasrah atau bersikap pasif. Kesabaran revolusioner memikirkan matang-matang strategi bertahan dan melanjutkan hidup di tengah represi. Kesabaran revolusioner mengarah pada keberanian untuk tetap hadir, mencatat, dan menyuarakan narasinya sebagai tandingan narasi sejarah resmi. 

Kesabaran revolusioner sangat gamblang tercermin dari pilihan Mia untuk tidak membahas kekerasan struktural dengan amarah, tetapi lewat tulisan serta praktik kesenian yang merekam pengalaman sejarahnya secara reflektif. Memoar Mia memperlihatkan cara bertahan hidup dalam jangka panjang, menegosiasikan trauma, dan mengelola kehilangan. 

Mia Bustam menulis memoarnya pada usia senja, masa ketika kebanyakan orang memilih diam atau menyerah pada pelupaan sejarah. Umur panjang Mia tak hanya menunjukkan ketahanan biologis, tapi juga komitmen mendalam terhadap perjuangan ingatan kolektif. 

Kesaksian Mia yang tertuang dalam tetralogi memoarnya bukan untuk mengorek luka-luka lama, melainkan untuk menghidupkan kembali ingatan yang disingkirkan. Mia memperlihatkan bahwa pengalaman perempuan dalam sejarah dapat menjadi sumber pengetahuan historis yang sah dan penting. Kesaksian personal yang dia hadirkan tak hanya melengkapi kekosongan historiografi, tetapi juga mengusulkan cara-cara baru dalam membaca sejarah.


Artikel ini adalah nukilan dari bab 5 tesis “Memoar Mia Bustam: Melampaui Melankolia Kaum Kiri” karya Asrid Reza untuk studi magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, 2025. Bab ini disunting dan dibahasakan ulang oleh Sylvie Tanaga untuk pameran Mia Bustam di Biennale 18. Pameran studi arsip ‘Mia Bustam: Karya, Kehidupan, Pemikiran’ masih berlangsung hingga 20 November 2025 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

Fahri Salam & Adrian Mulya
9 menit