Creative Commons License

Mengapa Kami Mendirikan Project Multatuli

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Evi Mariani

21/05/2021

Dua pekerja sebuah percetakan di Jakarta sedang mengatur putaran dan laju kertas. (Project M/Alex Sastro)

Setiap hari saya bangun, minum kopi, lalu menemukan ada banyak hal yang salah di dunia ini. Mungkin Anda juga sama. Saya harap Anda sama, agar saya tidak merasa sendirian.

Warga sipil di Myanmar, Palestina, Papua, mati, dibunuh. Lalu orang-orang berdebat tentang siapa yang salah. Sementara setiap hari ada saja orang-orang yang dipinggirkan di Indonesia yang menderita karena berbeda agama, orientasi seksual, atau warna kulit. Semua cerita lama yang berulang dan tetap menyedihkan. Juga cerita perempuan-perempuan yang memanggul beban berat di pundaknya: kekerasan rumah tangga, kekerasan seksual, harus mencari nafkah dan mengurus anak, dan merelakan mimpinya kandas.

Lalu ada orang-orang yang terancam penghidupannya akibat proyek-proyek negara yang disebut kepentingan publik atau “strategis nasional”. Mungkin Anda seperti saya, merasa ini tidak adil. Seharusnya proyek kepentingan publik tidak memperkaya orang tertentu saja, dan memiskinkan yang lain. Harusnya sila kelima Pancasila ditegakkan.

Lalu Anda membaca, bagaimana orang yang berkuasa membuat keputusan, mengatur hidup kita, tetapi tidak becus dan tidak adil. Mungkin Anda juga membaca tulisan di media yang Anda pandang bias dan menghakimi kelompok kelas yang lemah. Hari ini saya melihat beberapa media memuji-muji gaya fesyen seorang selebritas yang dituduh, dan sudah mengaku, melakukan pelecehan seksual.

Ada begitu banyak hal yang salah di dunia ini. Apa yang bisa saya, kita, lakukan?

Saya beruntung karena saya jurnalis. Meski tidak kaya dan tidak berkuasa, sebagai jurnalis, saya lumayan punya privilese. Orang dulu bilang, pena itu lebih tajam dari pedang. Lantas, saya jadi bertanya pada diri sendiri: pena yang saya genggam ini bisa untuk apa?

Apakah pena ini saya gunakan untuk mendokumentasi peristiwa, dengan jarak yang nyaman, untuk saya kabarkan? Atau pena ini saya gunakan untuk mempersempit ketimpangan, membuat bumi lebih lestari, memberantas korupsi, menjaga kekuasaan agar tidak sewenang-wenang, dan memberi ruang aman bagi para korban?

Saya dan belasan teman membuat Project Multatuli, suatu inisiatif jurnalisme yang mengusung konsep jurnalisme layanan publik, atau “public service journalism” yang kadang-kadang disebut sebagai “journalism in public interests”. Kami adalah penulis, videografer, editor, pewarta foto, jurnalis data, digital campaigner, manajer bisnis, yang memulai inisiatif ini, dengan keyakinan bahwa jurnalisme yang baik bisa menggerakkan dan membawa dampak.

Untuk memastikan kesetiaan pada publik kami sengaja tidak mencari dana dari oligarki, yang toh menurut banyak riset sudah mendominasi industri media. Kami juga tidak mencari dana dari “venture capitalists” atau VC karena kami membaca dan mendengarkan diskusi-diskusi bahwa VC cenderung akan mendorong redaksi untuk memproduksi sebanyak mungkin tautan, dan sebanyak mungkin klik untuk setiap tautan.

Kami tidak ingin menambah “clutter” atau awul-awulan informasi demi memuaskan para investor yang mungkin tidak peduli pada jurnalisme yang baik. Jurnalisme yang didorong pasar macam inilah yang kadang-kadang membuat sebagian orang marah-marah karena kualitas berita yang rendah dan tidak menyentuh kepentingan publik.

Saya tidak sedang mengatakan tidak ada karya yang baik yang bisa dilahirkan dari jurnalisme yang ditopang oligarki atau pasar. Tentu ada. Saya sendiri toh hampir 20 tahun bekerja di media yang bisa dibilang sebagiannya ditopang oleh keluarga kaya yang cukup dekat dengan kekuasaan dan sebagian menggunakan logika pasar untuk bertahan dan tumbuh. Saya tidak pernah malu dengan pekerjaan saya di The Jakarta Post. Saya bahkan bangga. Kami mendapatkan penghargaan-penghargaan bergengsi jurnalisme pada 2020.

Tetapi, ketika pandemi menghantam dan mengguncang The Jakarta Post, dan memaksa pemilik melepas kurang lebih 70 awak redaksi sepanjang 2020, saya memutuskan membuka lembaran baru dan melangkah ke dunia yang lebih luas. Dari ruang redaksi yang sempat beranggotakan kurang lebih 100 orang, saya meninggalkan Palmerah, membuka pintu keluar, dan melihat cakrawala yang lebih luas: keadaan jurnalisme di dunia, khususnya di Indonesia.

Ketika ketidakadilan struktural semakin nyata di depan mata, apa yang bisa dilakukan jurnalisme? Apakah jurnalisme yang duduk berjarak nyaman masih relevan?

Masih banyak yang perlu diperbaiki dalam jurnalisme di Indonesia agar ia sungguh-sungguh melayani publik atau rakyat. Saya beruntung, saya tidak sendirian. Saya bertemu dengan banyak orang yang sudah menempuh perjalanan mereka masing-masing, dan melihat hal yang sama. Pada satu titik pertemuan dari berbagai persimpangan, kami bertemu, sudah dengan gelombang pemikiran yang sama. Kami bicara, diskusi, sedikit berdebat, tapi tidak terlalu berpanjang-panjang dan dalam waktu kurang dari enam bulan, kami membuat Project Multatuli.

Dalam perjalanannya kami sepakat bahwa inisiatif ini harus membuka diri untuk kerja sama dengan banyak pihak yang berpikiran sama dengan kami dan berminat bersama-sama melakukan sesuatu untuk mengubah dunia. Kami yakin, jurnalisme yang lebih mendengarkan dan lebih melibatkan banyak pihak termasuk audiens adalah jurnalisme yang relevan untuk hari ini, ketika sistem ekonomi politik dunia semakin hari semakin memperlihatkan boroknya.

Mungkin ada banyak yang salah hari ini. Tetapi kami, Anda, tidak sendirian.

 

Penulis adalah salah satu pendiri dan pemimpin redaksi Project Multatuli.