Creative Commons License

Perajin Bakpia: Bersiasat atau Tamat

Bakpia
Bakpia

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Dhoni Setiawan

23/09/2021

Perajin membalikkan adonan bakpia yang dipanggang di atas oven. (Project M/Dhoni Setiawan)

Tangan-tangan Wasiyati dan Riyanto cekatan mengemasi bakpia. Hampir 3 jam mereka mengolah adonan menjadi bakpia. Ada 10 dus pesanan untuk diselesaikan. Setiap dus berisi 20 biji bakpia. Jam satu siang, pesanan akan diambil oleh penjual oleh-oleh langganan mereka.

Pasangan suami istri itu punya usaha bakpia rumahan di Kampung Sanggrahan di Kelurahan Pathuk, Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta. Di gang sempit kampung padat penduduk itu, tercium aroma adonan tepung dan kacang hijau yang dipanggang. Sejumlah plang merek terpasang. Kebanyakan berupa alamat rumah atau angka kesukaan perajin. Wasiyati dan Riyanto menggunakan merek Bakpia Pathuk 526 Sedulur.

Sebelum pagebluk, produksi Bakpia Pathuk 526 Sedulur sebanyak 500 dus per minggu. Kini jumlahnya tidak lebih dari 50 dus per minggu. Penurunan produksi sebesar 90 persen itu bikin Wasiyati dan Riyanto kelabakan. Karena sudah tidak berproduksi setiap hari lagi, mereka merelakan 2 dari 5 oven.

“Ini sudah 2 oven yang dijual buat nutup belanja harian,” kata Wasiyati. Tahun lalu, ia kehilangan adiknya yang turut membantu membuat bakpia karena Covid-19.

Rasanya tidak lengkap berkunjung ke Yogyakarta tanpa mencicipi dan membawa pulang bakpia. Namun, permintaan salah satu buah tangan khas ini turun drastis seiring anjloknya jumlah wisatawan dan penutupan destinasi wisata. Kondisi ini memaksa pelaku usaha bakpia bersiasat.

Alih-alih memangkas pekerja, Bakpia 25 di Jl. K.S. Tubun membuat shift kerja. Selama pagebluk, para pekerja masuk bergantian karena jumlah produksi diturunkan dan juga demi menerapkan protokol kesehatan.

“Kita sistemnya masuk seminggu terus libur seminggu, bergantian terus sama teman-teman yang lain. Tidak ada pengurangan karyawan. Hanya saling bergantian saja,” kata seorang pekerja, Sriyuni.

Pabrik bakpia terbesar di DIY ini mempekerjakan 200 orang.

Para perajin yang tergabung dalam koperasi Sumekar punya siasat lain. Mereka menggunakan kemasan plastik kedap udara untuk mengurangi potensi merugi karena bakpia basi.

“Saat ini sebagian anggota sudah ada yang menggunakan kemasan plastik kedap udara. Misal bakpia isi kacang ijo dengan kemasan biasa hanya bertahan 1 minggu. Kalau menggunakan plastik vakum, bisa bertahan 1 bulan,” kata Ketua Koperasi Sumekar, Sumiati.

Koperasi beranggotakan 42 merek bakpia ini sempat melirik penggunaan kemasan kaleng, namun ide itu diurungkan karena biaya produksi jadi melonjak.

Di Bantul, sebelah barat kota Yogyakarta, produsen Griya Bakpia membuang 150 dus bakpia karena sudah melewati masa kadaluwarsa pada Desember 2020 lalu.

“Akhir tahun kemarin kita terima sekitar 300 dus bakpia, retur dari pelanggan (pedagang). Separuhya kita bagikan ke tetangga sama karyawan. Sisanya kita buang karena benar-benar sudah tidak layak,” tutur pemilik Griya Bakpia, Maharani.

Saat ini Griya Bakpia mulai merambah pasar online. Meski permintaan belum signifikan, namun ada saja yang pesan.

Para perajin bakpia berharap lokasi wisata dibuka kembali dengan penerapan protokol kesehatan mengingat kuliner ikonik ini justru lebih lekat di hati pemegang KTP non-DIY.


Bakpia
Wasiyati dan Riyanto (kiri) tengah membentuk adonan bakpia kacang hijau di industri rumahan Bakpia Pathuk 526 Sedulur. (Project M/Dhoni Setiawan)
Bakpia
Para pekerja di pabrik Bakpia 25 masuk bergantian setiap minggu seiring menurunnya produksi. (Project M/Dhoni Setiawan)
Bakpia
Seorang pekerja Griya Bakpia membalikkan bakpia yang sedang dipanggang di atas oven. (Project M/Dhoni Setiawan)

 


Editor: Ricky Yudhistira

Anda dapat berkontribusi dalam jurnalisme publik melalui karya fotografi. Silakan kirim proposal cerita foto ke [email protected] sebagai bahan diskusi bersama redaksi.