DaruratKekerasanAparat

Kultur kekerasan dan impunitas di tubuh Polri telah menjadikan lembaga penegak hukum ini 'superbody', sangat berkuasa dan menjadi alat gebuk penguasa, sehingga nyaris sia-sia mengawasinya secara eksternal maupun internal. Berbagai kasus kematian di tangan polisi serta aksi protes publik digebuki polisi menunjukkan juga betapa darurat demokrasi kita.

Dukung kami untuk terus menyajikan serial liputan yang melayani masyarakat terpinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan.

Pemberangusan Gen Z ala Rezim Prabowo: ‘Alih-alih Jinak, Orang Muda Justru Semakin Marah’

Perburuan dan pembungkaman massal pasca-demonstrasi Agustus-September 2025 membuat 703 orang menjadi tahanan politik di seluruh Indonesia. Penelusuran kami menemukan bahwa mayoritas tahanan politik itu adalah Generasi Z.

Permata Adinda12 Mar 2026

Babak Baru Perburuan Aktivis: Ditangkap Serampangan, Ditahan Kelamaan, dan Dipaksakan Pelimpahan

Para tahanan politik aksi protes Agustus-September 2025 menjalani masa tahanan yang terlampau lama bahkan sebelum persidangan. Hal tersebut berdampak terhadap ketidakpastian hukum dan pemenuhan keadilan bagi mereka. Seolah-olah mereka sudah sah bersalah. RANDI DAN RIAN menjadi tersangka untuk perbuatan yang…

Tahanan Politik dari Perburuan Polisi: Ditangkap Paksa, Dilarang Baca Buku, Disiksa untuk Mengaku

Perburuan polisi untuk mencari kambing hitam aksi massa pada akhir Agustus masih berlanjut. Di Kediri, Jawa Timur, seorang pelajar ditangkap tanpa surat pemberitahuan dan dituduh sebagai pelaku kerusuhan. Selama di tahanan, polisi melarang ia membaca buku-buku filsafat kesukaannya. Bagi aparat,…

“Saya Benci Sekali Tentara”: Perempuan Papua dalam Bayang-Bayang Kekerasan Militer Indonesia

Kekerasan terhadap orang Papua oleh militer Indonesia menyisakan trauma mendalam. Seorang perempuan di perbatasan Papua menceritakan trauma antargenerasi yang menjelma rantai kekerasan. Ia berupaya memutus rantai itu. Saya mewawancarainya pada Maret 2025. Tulisan ini memakai sudut pandang pertama. Demi menghindari…

Permata Adinda3 Okt 2025

Setelah Api Protes Redup, Polisi Memburu Orang-Orang Biasa

Jalanan mulai sepi dari aksi demonstrasi setelah sepanjang sepekan pada akhir Agustus 2025 menjadi mimbar bebas publik mengutarakan pendapat. Namun, di balik itu, polisi menangkap ribuan orang, menahan ratusan, dan menetapkan puluhan tersangka. Polisi memburu mahasiswa, pelajar, warga biasa, seniman,…

Bukan Sekadar karena Tunjangan DPR

Protes publik pada 25 Agustus dan yang berlangsung hingga saat ini adalah akumulasi kemuakan atas kondisi dan kebijakan pemerintah. Dari dirty vote, pengangkangan konstitusi, kecemasan atas ekonomi, PHK, dan lapangan kerja yang sempit, kekejaman polisi membunuh rakyat, hingga para wakil…

Pembunuhan Affan Kurniawan: Sebuah Kegilaan di Jalan Penjernihan

Affan Kurniawan, ojol berusia 21, dibunuh polisi saat sedang mencari nafkah.   Mulanya, semua berjalan seperti biasa di perkampungan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. Kira-kira sehabis Isya, Muri asyik bermain ponsel di bagian dalam warungnya.…

Viriya Singgih1 Sep 2025

Anak-Anak Muda Ini Jadi Korban Kriminalisasi Polisi di Aksi May Day. Mereka Melawan Balik

Satu setengah bulan setelah aksi May Day, Jorgiana mendatangi gedung Bareskrim Mabes Polri. Bersama 13 demonstran May Day, ia memilih melawan: melaporkan kekerasan dan penangkapan sewenang-wenang polisi kepada mereka. Jorgiana ditemani ibunya, Herlina. Saat dikerubungi wartawan, Herlina berkata: “Setahu saya…

Permata Adinda30 Jul 2025

Revisi UU Polri: Menjauhkan Reformasi Polri, Melekatkan Persepsi ACAB

Sudah banyak bukti dan peristiwa yang menunjukkan polisi Indonesia berulang kali berlaku sewenang-wenang, bahkan brutal. Tak jarang, warga merespons perilaku itu dengan slogan ACAB (All Cops are Bastards) sebagai bentuk kekesalan pada polisi. Pasca tragedi Kanjuruhan misalnya, grafiti ACAB jadi…

Merawat Luka dan Demokrasi Akibat Kekerasan Polisi 

Nunuk dan Razak berusaha masuk ke sebuah ruangan dengan pintu kaca bertuliskan “Sidik Sakti Indera Waspada.” Di depan pintu itu, Hutomo juga tak melepaskan pandangannya.  Seorang pria berbadan tegap dan berkemeja rapi kemudian menegur mereka, “Kalian ini dari mana? Apa…