Creative Commons License

Yang Tertinggal, yang Tersayang: Kisah Anak-Anak yang Jadi Yatim dan Piatu Karena Covid-19

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Arief Priyono

22/10/2021

Qafisha Malia Rahmadani, 7 tahun, belajar materi sekolah di rumah, ia biasanya ditemani sang ibu. Selepas Novi Wulandari meninggal karena Covid-19, Qafisha harus belajar mandiri.

Sebanyak 271 anak di Kota Kediri, Jawa Timur kehilangan orang tua karena terpapar Covid-19 menurut catatan Dinas Sosial Kota Kediri per 7 Oktober 2021. Mereka yang meninggal sebagian besar tulang punggung keluarga, sehingga anak-anak ini rawan terlantar dan putus sekolah.

Sekolah memang sudah gratis di Kota Kediri, khususnya di sekolah negeri. Namun selain belajar, mereka masih butuh pendampingan dan bermain selayaknya anak-anak. Kini di antara mereka ada yang harus bekerja agar bisa melanjutkan kehidupan.

Sumini, istri almarhum Sehato: “Biasanya kalau sakit dan kelelahan saya kerok langsung sehat lagi.”

Senin, 4 Oktober 2021, pukul 03.49 WIB, Sumini, 47 tahun, membuka pintu rumahnya yang beralamat di Jl. Sriwijaya, Gang Peni 05, Kelurahan Kemasan. Ia menyisir rambutnya yang masih basah usai keramas sebelum pergi bekerja. 

Itu adalah rutinitas Sumini setiap pagi. Sang suami, Sehato (nama dalam bahasa Jawa, berarti sehat lah) biasanya membantu Sumini menyiapkan dagangan, namun Sehato meninggal dunia pada 18 Juli 2021 setelah terpapar Covid-19, sehingga kini tak ada lagi yang membantu.

Sumini mendorong gerobak dari rumah ke lokasi berjualan di Jl. Monginsidi yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Anak bungsunya, Tasya Aprilia Agata, 17 tahun, menyusul dengan mengendarai motor beberapa saat kemudian. Mereka lalu membuka lapak, mengangkat meja kursi untuk ditata di trotoar, di depan sebuah toko yang telah tutup permanen. Setelah lapak siap, Tasya mengecek kebutuhan jualan yang sudah menipis stoknya. Ia kemudian berbelanja ke Pasar Setono Bethek, pasar tradisional terbesar di Kota Kediri.

Pasar Setono adalah pasar yang bersejarah buat keluarga Sumini. Itu adalah tempat ia pertama kali bertemu dan berkenalan dengan suaminya.

“Saya bertemu pak Sehato ya di Pasar Setono Bethek. Saat itu saya berdagang membantu saudara, pak Sehato berdagang membantu kakaknya,” cerita Sumini mengenang pertemuannya dengan almarhum suami pada 1992 silam.

Setelah setahun berpacaran, pada 16 Juni 1993 mereka menikah. Dua tahun kemudian, anak pertama mereka lahir, diberi nama Agus Hardika, lalu menyusul Krisna Septian pada 2002 dan Tasya Aprilia Agata pada 2004.

Sehato yang meninggal pada usia 49 tahun adalah suami bertanggung jawab di mata Sumini. Saat usia anak pertama mereka beranjak 2 tahun, Sehato mencari pekerjaan tetap sebagai loper susu segar ke rumah-rumah pelanggan. Penghasilannya tidak besar, tapi lebih pasti daripada sekedar bantu-bantu kakaknya berdagang di pasar.

“Setelah lebaran tahun ini bapak keluar dari kerjaan. Sudah 24 tahun bekerja kok gitu-gitu aja ekonominya. Bapak beralih narik ojek online karena lebih punya waktu untuk bantu-bantu saya berdagang. Juga lumayan lebih besar penghasilannya,” kenang Sumini berlinang air mata. Ia mengaku mendorong suaminya beralih pekerjaan, karena merasa jerih payah suaminya tidak dihargai majikannya. 

Sumini berkisah, Jumat, 9 Juli 2021, Sehato mengeluh sakit. Ia mengira suaminya hanya kelelahan. “Biasanya kalau sakit dan kelelahan saya kerok langsung sehat lagi,” ujar Sumini mengenang malam itu. 

Pagi harinya, tanpa sepengetahuannya, Sehato pergi ke Puskesmas Kota Wilayah Utara yang berada di belakang Pasar Setono Bethek untuk memeriksakan diri. Hasil test swab menyatakan Sehato positif Covid-19. Karena kondisinya masih stabil, ia diminta pulang untuk isolasi mandiri. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan, termasuk tracing kontak erat atau keluarga terdekat.

Senin, 12 Juli 2021 petugas puskesmas menjenguk Sehato untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kondisinya memburuk sehingga petugas puskesmas menghubungi RSUD Gambiran agar menjemput Sehato. Setelah beberapa jam dirawat di IGD sambil menunggu hasil test PCR, malam harinya Sehato masuk ruang isolasi khusus Covid-19.

“Sabtu, 17 Juli 2021 saya mendapat kabar dari pihak rumah sakit kalau bapak akan dimasukkan ke ruang ICU, namun hingga meninggal ia belum juga dipindah dengan alasan ICU kondisinya penuh. Minggu jam 1 dini hari saya video call bapak, kondisinya sudah ngedrop,” tutur Sumini menceritakan komunikasi terakhirnya dengan suami. Sehato kemudian dinyatakan meninggal dunia Minggu, 18 Juli 2021 pukul 02.15 WIB.

Tasya sangat terpukul mendengar kabar kematian bapaknya. Ia menyesal selama ini kurang akrab dengan Sehato. “Bapak sangat baik, tapi memang saya kurang akrab. Kalau saya minta sesuatu, kalau beliau ada uang pasti dituruti,” kenangnya.

Tasya mengaku mendapat pesan dari Sehato untuk menjaga ibunya dan jangan pernah lupa sholat lima waktu.

Saat ini Tasya tinggal di rumah berdua dengan ibunya. Dua kakaknya sudah hidup mandiri, namun mereka tidak bisa membantu Sumini dan Tasya karena kondisi ekonomi yang pas-pasan. Setiap pagi, ibu dan anak ini bangun dini hari, mendorong gerobak untuk membuka lapak kaki lima, berjualan kopi dan aneka minuman serta gorengan.

“Dulu pas bapak masih hidup, kami jualan nasi bungkus. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Kalau berdua dengan Tasya, tenaganya tidak cukup. Dia harus tetap sekolah dan meneruskan bakat tarinya. Setiap sore saya juga harus mengantarkan latihan,” terang Sumini.

Tasya memang tak patah arang sepeninggal bapaknya. Ia bertekad harus lulus SMK dan akan meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Ia juga masih memupuk mimpinya menjadi penari dengan tetap berlatih, meskipun seharian ia lelah membantu ibunya berjualan dan sekolah.

Sumini setiap pukul 04.00 pagi mendorong gerobak dagangannya dari rumahnya di JL Sriwijaya/ Peni 05 menuju lokasi kerja di emperan ruko JL Monginsidi, Kota Kediri.
Tasya membantu Sumini mengangkat meja-kursi untuk persiapan jualan di emperan ruko JL Monginsidi, Kota Kediri.
Tasya membantu Sumini mempersiapkan tempat jualan di emperan ruko JL Monginsidi, Kota Kediri.
Sumini sejak dini hari melayani para pelanggannya, sebagian adalah abang becak yang mangkal di sekitaran JL Dhoho, Kota Kediri. Sebelum Sehato meninggal, ia selalu membantu Sumini meracik minuman pesanan para pelanggan.
Sejak berusia tiga tahun, Tasya sudah belajar menari dan hingga dewasa sudah banyak mengikuti pementasan. Ia bercita-cita menjadi penari profesional dan bisa membiayai kuliahnya dari profesi tersebut.
Sumini bertemu Sehato dan menjalin hubungan selama dua tahun sebelum akhirnya memutuskan menikah. Pasangan ini dikarunia tiga orang anak.
Mengenang almarhun Sehato membuat air mata Sumini dan Tasya berlinang setelah kepergiannya karena Covid-19.

 


Arie Prastya Wibawa, suami almarhum Novi Wulandari: “Saya ketemu jodoh karena tak sengaja menemukan selembar kertas bertuliskan nomor telepon di angkutan kota.”

Selepas azan subuh, Arie Prastya Wibawa, 33 tahun, mengeluarkan motornya dari garasi rumah di Jl. Banjaran GG Carik No 21/83, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri, Jawa Timur. Sebuah kursi rotan ditempatkan di sela-sela sadel dan setang. Itu untuk tempat duduk Qafisha Malia Rahmadani, 7 tahun, yang akan ia titipkan di rumah neneknya di Desa Sumberbendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Ia terpaksa menitipkan Qafisha, karena sang anak hari itu sekolah daring. Sementara anak pertamanya, Bagas Ridho Prasetyo, 13 tahun, bersekolah di SMP Negeri 5 Kota Kediri saat itu sedang sekolah tatap muka, jadi di rumah tidak ada yang menemani Qafisha.

Kegiatan itu rutin dilakukan Arie sejak Cipta Novi Wulandari, istrinya, meninggal dunia pada 7 Agustus 2021 karena terpapar Covid-19. Arie yang bekerja sebagai tenaga honorer penyapu jalan di Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Kediri terpaksa harus melakukan perjalanan pulang pergi 3 kali ke Pare – Kota Kediri,  yang berjarak sekitar 18 km. 

“Saya tetap harus bekerja, dan anak-anak harus tetap sekolah. Sudah tidak ada yang bisa diminta bantuan untuk menjaga atau mengantar anak-anak sekolah, bude dan pakde yang kebetulan rumahnya dekat juga meninggal karena Covid-19,” jelas Arie.

Dengan gajinya sebagai buruh sapu jalanan, Arie tidak mungkin membayar asisten rumah tangga untuk merawat anak-anaknya. 

“Sejak Novi meninggal, saya hanya menanak nasi, lauknya beli jadi di warung. Sudah tidak ada waktu saya untuk masak lauk pauk, lebih baik buat bersih-bersih rumah dan mencuci baju anak-anak,” Arie mengisahkan rutinitasnya.

Kisah pedih Arie bermula pada 29 Juli 2021, saat ia hendak memeriksakan kandungan istrinya di RSUD Gambiran, Kota Kediri, yang sudah akan memasuki hari perkiraan lahir. Saat dilakukan test usap, Novi kedapatan positif Covid-19, test PCR juga memberikan konfirmasi yang sama.

“Istri saya langsung dimasukkan ke ruang isolasi Covid-19 di RSUD Gambiran, kami sekeluarga juga diminta test PCR, hasilnya saya dan anak-anak juga positif,” terang Arie. Ia dan kedua anaknya tidak bergejala, dan menjalankan isolasi mandiri di rumah.

Namun, pada 3 Agustus 2021, air ketuban Novi mengeruh, tanggal itu memang sudah lewat hari perkiraan lahir. Kondisi fisik Novi juga memburuk, dokter memutuskan untuk mengangkat kandungannya. Saat itulah lahir  Ahmad Fadli Prasetyo, putra ketiga pasangan Arie dan Novi tersebut lahir dengan selamat. Namun kondisi Novi tidak juga membaik, ia meninggal pada 7 Agustus 2021 di usia 30 tahun. 

Arie mengingat pertemuannya dengan Novi, yang menurutnya tidak disangka kelak menjadi ibu dari anak-anaknya. “Saya ketemu jodoh karena menemukan selembar kertas bertuliskan nomor telepon di angkutan kota,” Arie mengenang kisah cintanya bersama sang istri.

“Saya iseng saja menelepon nomor itu, eh ternyata yang nyambung cewek, ya itu Novi. Kami kenalan, dan akhirnya pacaran,” lanjutnya.

Itu terjadi pada 2007, setahun kemudian anak pertama mereka lahir. “Saya menikah dengan Novi pada 13 Februari 2009, setelah lulus sekolah saya ajak dia kos di Surabaya. Jujur saya lari dari orang tua yang tidak menyetujui hubungan kami,” katanya.

“Saya dulu nakal mas, tapi setelah punya anak saya sadar, dalam pikiran saya anak dan istri, keluarga prioritas saya,” sambung Arie.

Kisah cintanya dengan Novi rumit dan panjang, tapi karena cinta, ia merasa harus memperjuangkannya. “Sampai akhirnya Tuhan yang memisahkan kita,” kata Arie. 

Mendengar kematian anaknya, Sunarti, 45 tahun, memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerjanya sebagai buruh migran di Taiwan. Meskipun tidak sempat menyaksikan pemakaman anaknya, ia yang sudah belasan tahun menjadi buruh migran memutuskan untuk tidak pernah kembali ke sana. Semua demi merawat cucunya yang masih bayi.

“Awalnya Fadli saya titipkan pada mertua dari ipar saya, namun kan ya nggak enak lama-lama, bagaimanapun kan beliau orang lain. Lalu ibu Novi menghubungi saya agar tidak usah khawatir, karena beliau memutuskan pulang. Agak lama tiba di rumah karena harus dikarantina terlebih dahulu,” ujar Arie.

Sebelum mertua perempuannya pulang, ia pontang-panting menitipkan anaknya karena ia harus kembali bekerja setelah cuti kematian sang istri selesai. Saudara terdekatnya, yang ia sebut bude dan pakde, juga meninggal terpapar Covid-19, orang tua Arie pun juga sudah tiada sejak lama.

Arie Prastya Wibawa berkumpul bersama ketiga anaknya di rumah mertua di Desa Sumberbendo, Kediri.
Novi Wulandari meninggal dunia pada 7 Agustus 2021 setelah terpapar Covid-19 di masa kehamilan, empat hari sebelumnya ia melahirkan anak ketiganya, Ahmad Fadli Prasetyo, di RSUD Gambiran.
Dini hari pukul 4.30, Arie dan Qafisha berangkat ke Pare untuk menitipkan Qafisha di rumah neneknya, sementara Bagas bersekolah. Itu dilakukan agar ia bisa bekerja.
Potret Arie Prastya Wibawa, pegawai honorer Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri yang tugasnya menyapu jalanan di daerah Pare.
Saat kangen almarhum istri, Arie mengajak anak-anaknya menjenguk makam Novi Wulandari yang dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19 di Kelurahan Mojoroto.
Ahmad Fadli Prasetyo, bayi almarhumah Novi Wulandari. Empat hari setelah melahirkan, Novi meninggal dunia karena terpapar Covid-19.

 


Suparti, bulik almarhumah Triana Agustina: “Doa saya, Tuhan berikan saya kesehatan dan kedamaian, agar bisa terus merawat mereka.”

Kamis, 16 September 2021, Pandu Sefo Satria Arbeni, 11 tahun, melahap indomie goreng yang piringnya ditaruh di atas kursi, tangan kirinya mengusap-usap layar telepon genggam, berkomunikasi dengan teman sekelasnya. Suparti, 72 tahun, duduk di kursi ruang tamu, mengawasi cucu ponakannya tersebut. Pensiunan janda TNI AL tersebut baru saja membangunkan Beni dari tidur siang untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah. 

Beni merupakan siswa kelas 5 SD Negeri Banjaran 5 Kota Kediri, hari itu, ia memang sedang sekolah daring. Sejak ibunya, Triana Agustina, meninggal dunia terpapar Covid-19 pada 19 Juli 2021 di RSUD Gambiran, Beni tinggal bersama Suparti.

“Tidak ada saudara yang bersedia menampung mereka, saya yang terdekat,” kata Suparti. 

Kakak Beni, Dona Al Minfa Siswanto, 17 tahun, pelajar kelas 3 SMA Negeri 8 Kota Kediri, juga ikut dirawat oleh Suparti. “Ayah mereka sudah tidak bertanggung jawab, dan pergi dari rumah sejak Dona masih SMP. Sampai ibunya meninggal juga tidak pernah menjenguk anak-anaknya,” ungkapnya.

Meski sebenarnya berbeda keyakinan, Suparti tidak mempermasalahkannya. Ia adalah pemeluk Kristen, sementara Beni dan Dona pemeluk Islam, namun rasa kemanusiaan menyatukan perbedaan tersebut.

Suparti tinggal di rumah warisan keluarga, di Jl. PK Bangsa 52 B, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri. Sementara rumah Triana tepat berada di belakangnya, dengan nomor 52 C. Rumah Triana kini hanya ditinggali oleh Dona, sementara Beni tinggal di rumah Suparti. Pada jam makan atau bermain dengan adiknya, Dona baru ke rumah Suparti. 

Dona dan Beni sebenarnya masih punya kakak, tapi beda ayah. Edo Setiawan, kakak mereka, tinggal di Kota Malang, Jawa Timur. 

“Edo bekerja sebagai barista, sekarang terdampak pandemi, hanya kerja dua hari sekali. Gajinya hanya dibayar separuh, sementara ia harus menghidupi istri dan dua anaknya,” ujar Suparti.

Suparti sendiri hidup dengan pas-pasan. Uang pensiunan Suparti sebagai Janda TNI AL sebesar Rp 1.260.000 per bulan, terpaksa ia cukup-cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah Beni, sebab ia harus membeli paket data untuk sekolah daring.

“Dulu anak-anak numpang wifi internet di halaman SD kalau mengerjakan tugas atau sekolah, sekarang sudah tidak bisa lagi. Jadi saya harus membelikan paket data agar Beni tetap bisa mengikuti pelajaran sekolah, yang selang-seling daring dan offline,” keluhnya.

“Kalau dihitung-hitung, seharusnya uang untuk beli paket data bisa saya belikan elpiji untuk bisa masakin anak-anak,” tambahnya.

Meski dalam kondisi serba pas-pasan, ia tetap mengutamakan Beni dan Dona. 

“Yang penting sekarang jangan sampai mereka telat makan, harus tiga kali sehari, meskipun hanya nasi dan sayuran tanpa ikan,” mata Suparti menerawang ke langit-langit rumah saat berbicara. 

Mendung yang semula menghitam di langit mulai memudar seiring rintik hujan yang menghasilkan suara gemerisik menimpa genting rumah. Ia melangkah ke jendela kamar Beni, menutupnya agar air hujan tidak tampias ke kasur.

Kematian Triana Agustina, tentu saja meruntuhkan mimpi-mimpi Dona dan Beni, namun Suparti berusaha memupuknya agar cita-cita mereka bisa tergapai. Meskipun harus hidup pas-pasan, Suparti berusaha sekuat tenaga mencukupi kebutuhan mereka. 

Dona juga tidak diam saja, ia mencari pekerjaan sebisanya untuk bisa membantu neneknya. Ia sekarang membantu kawannya berjualan angkringan. Semula hanya dua hari dalam sepekan, ia bekerja shift mulai pukul 5 sore hingga 12 malam. Mulai awal Oktober, ia sudah bisa bekerja penuh enam hari dalam sepekan. Tugasnya meracik minuman, mengasap jajanan, dan mengantarnya ke pelanggan. Upahnya Rp 30.000 per hari, cukup untuk ia hidup sehari-hari tanpa harus bergantung dengan Suparti.

Dona mengenang sang ibu sebagai sosok yang bertanggung jawab. Meskipun mereka telah ditelantarkan sang ayah, Triana bertanggung jawab kepada anak-anaknya. Ia bekerja serabutan, utamanya menjadi buruh cuci panggilan. Semua ittu dilakukan Triana sampai akhirnya ia sakit lalu meninggal. 

“Ibu batuk-batuk terus, maka saya mengantarkannya ke dokter untuk diperiksa,” ujar Dona mengenang momen-momen saat Triana Agustina mengeluh sakit.

Namun Dona mengaku, batuk yang diderita ibunya tidak berangsur sembuh, ia juga mengalami demam tinggi. Dona lantas membawa ibunya ke RS Bhayangkara, Kediri. Hasil test usap Triana positif Covid-19, namun karena saat itu RS Bhayangkara penuh, ibunya harus dirujuk ke RSUD Gambiran, Kota Kediri. Satu minggu Triana dirawat di RSUD Gambiran, nyawanya tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia pada 19 Juli 2021 di usia 50 tahun.

Suparti, 72 tahun, pensiunan janda TNI AL, merawat dua cucu keponakan: Dona Al Minfa Siswanto, 17 tahun, dan Pandu Sefo Satria Arbeni, 11 tahun, setelah ibu mereka, Triana Agustina, meninggal pada 19 Juli 2021 karena Covid-19.
Pandangan Suparti terpaku pada teras rumah, duduk bersama Beni, menghabiskan hari saat hujan turun di Kota Kediri.
Suparti selalu berusaha mengantar dan menjemput Beni, meskipun Beni sudah duduk di bangku kelas 5 SD dan jarak sekolah dekat dengan rumah. Suparti merasa khawatir dengan kejiwaan Beni yang terpukul karena kepergian ibunda.
Dona dan Beni menghabiskan sore bersama di depan rumahnya. Beni, sang adik, tinggal dan tidur di rumah nenek Suprapti, yang lokasinya tepat bersebelahan dengan rumah mereka.
Dona Al Minfa Siswanto menyambi bekerja sebagai pelayan di angkringan, dua kali dalam sepekan. Upahnya, Rp30.000 untuk satu sif kerja, mulai jam 5 sore hingga 12 malam. Ia mendapatkan upah Rp340.000/ bulan.
Suparti menutup jendela kamar yang ditempati Beni, di luar rumah rintik hujan mulai turun.

 


Editor: Adrian Mulya

Anda dapat berkontribusi dalam jurnalisme publik melalui medium fotografi. Silakan kirim proposal cerita foto ke [email protected] sebagai bahan diskusi bersama redaksi.