Tato Mentawai hampir punah akibat kolonialisme Belanda, misi zending, dan kebijakan Indonesia pascakemerdekaan yang sama-sama melarang Arat Sabulungan. Hari-hari ini, sedikit demi sedikit pemuda Siberut menghidupkan kembali tradisi yang dulu menjadi identitas sakral masyarakat pulau. “Kalau bapak-bapak pergi ke surga dengan cara berbuat baik, mudah-mudahan dengan cara bertato pun saya sampai juga ke surga”
***
SAYA mengikuti Bajak Letcu dan dua temannya, Frenky Andi dan Ruslan Sapolenggu, menyusuri jalan setapak mencari pohon kelak baga. Pohon itu tumbuh di hutan sekitar 400 meter di belakang bengkel tato milik Letcu di Tuapeijat, ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Di sepanjang jalan setapak di Pulau Sipora itu, vegetasi masih rapat. Pohon-pohon besar seperti meranti, katuka, keruing, hingga tumung, berdiri tegak mengepung kawasan hutan.
Pohon kelak baga bakal digunakan sipatiti atau penato tradisional suku Mentawai, sebagai alat untuk menato. Kayunya yang keras dan kuat akan dijadikan tongkat jarum dan pemukulnya. Kedua alat itu disebut “lilipat patiti.”
Letcu adalah generasi termuda dari sipatiti di Mentawai. Hari itu, ia bertekad menunjukkan proses lengkap tahapan pembuatan tato Mentawai yang kesohor itu dimulai dari mencari kayu kelak baga sebagai alat utama menato.
Setelah melihat ada sebatang pohon kelak baga, ia menerobos semak untuk mendekatinya. Pohon kecil setinggi tiga meter itu memiliki dahan yang lurus ke atas, daunnya kecil.
Letcu langsung menebang kayunya dan membuang daun-daunnya. Ia mengambil batang dengan panjang sekitar dua meter.
“Saking kuatnya, kayu kelak baga ini, kalau di rumah saya juga dijadikan sangkutan untuk menggantung kuali besi yang besar dan berat,” kata Frenky memecah sunyi.
Letcu mengenal kelak baga dari Teo Ronganga, penato tradisional di Desa Simatalu, kampung tertua di Pulau Siberut yang diyakini sebagai daerah asal orang Mentawai. Kendati demikian, menurutnya selain kayu kelak baga, beberapa jenis kayu lain juga bisa digunakan sebagai alternatif lilipat patiti seperti meranti, pohon manggis hutan, batang aren, hingga bambu.
Frenky dan Ruslan, yang juga penato, memilih mengambil dahan dari pohon meranti besar yang tumbang seperti baru ditebang untuk keperluan material bangunan. Mereka mengambil dahan meranti yang melengkung untuk pegangan jarum tato dan bagian yang lurus sepanjang 50 cm untuk kayu pemukulnya.
Mereka bertiga kemudian duduk pada batang meranti yang tumbang, lalu bekerja dengan parang masing-masing membentuk kayu menjadi lilipat patiti.


“Ini baru pengerjaan kasar, kayu ini harus dijemur dulu beberapa hari untuk mengurangi kadar airnya, baru kemudian dibentuk lagi lebih kecil dan diampelas,” kata Letcu, yang nama aslinya adalah Viator Simanri Sakombatu.
Letcu adalah penato pertama dari generasi muda Mentawai. Sebelumnya para penato biasanya berumur di atas 60 tahun. Mereka adalah sisa dari tradisi Mentawai yang masih bertahan di kampung-kampung pedalaman Siberut. Keberadaan mereka semakin menyusut karena meninggal dunia dan menurunnya minat tato di Mentawai.
Bajak Letcu pertama kali mengenal tato dari pamannya, Ta Endei Romek Sakombatu pada 2012, saat ia masih tinggal di Pokai, Siberut Utara. “Saya sangat tertarik dengan tato di badan paman, hanya tinggal dia yang masih punya tato, sementara orangtua saya sudah tidak lagi menggunakan tato,” kata Letcu.
***
Keberadaan tato asli Mentawai, Ti’ti’, sudah hampir punah akibat pelarangan pada masa lalu. Dulu, dalam budaya Mentawai, tato adalah identitas baik laki-laki maupun perempuan Mentawai yang sudah dimulai saat seseorang menginjak usia remaja.
Sebelum kedatangan Belanda dengan penyebaran agama Kristen Protestan atau zending, semua orang Mentawai yang tinggal di empat pulau besar, Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan memiliki tato. Namun kini penduduk yang bertato, sisa tradisi lama itu, hanya sejumlah orang tua yang tinggal di pedalaman Siberut.
Zending masuk ke Pulau Pagai pada 1901, lalu ke pulau-pulau lain. Sejak itu, kampanye melawan Arat Sabulungan, kepercayaan lokal di Mentawai yang bertentangan dengan ajaran Protestan dan dianggap primitif, digencarkan, termasuk bertato.
Kebijakan itu juga dilanjutkan Pemerintah Indonesia pasca-kemerdekaan pada tahun 1954. Ritual pengobatan dengan sikerei (dukun atau tabib tradisional) dan ritual adat lainnya juga ikut dilarang.
Pelarangan itu melibatkan polisi dan masif dilakukan hingga 1990-an. Akibatnya, Arat Sabulungan yang menjadi jantung kebudayaan Mentawai pun menghilang. Sedangkan sisa-sisa kebudayaan Mentawai, termasuk tradisi tato, hanya tinggal di pedalaman Pulau Siberut.
“Yang keras melarang tato pada masa lalu itu polisi dan [pemuka] agama Protestan, orang yang memakai tato Mentawai bisa kena hukum, seperti paman saya,” kata Letcu.

Pada 1980-an, pamannya pernah dihukum polisi karena kedapatan memiliki tato di tubuhnya. Selama tiga bulan, ia bersama orang Mentawai bertato lainnya harus ikut “kerja paksa” memperbaiki jalan kecamatan.
“Sedangkan hukuman dari gereja Protestan saat itu berupa sanksi sosial yang dinamakan siasat gereja, yang kena hukum dikucilkan dari kegiatan di gereja,” ujarnya.
Meski pelarangan terhadap budaya Mentawai telah berakhir pada Era Reformasi, dan sejak Kepulauan Mentawai resmi menjadi kabupaten pada 1999, tetapi penggunaan tato tetap dilarang di sekolah. Hanya anak yang tidak lagi bersekolah yang bisa memakai tato. Orangtua juga melarang anaknya memakai tato karena takut mereka tidak diterima di sekolah.
Karena itu, di Pulau Siberut, tempat terakhir budaya Mentawai, tato hanya dipakai oleh para sikerei. Warga biasa, nyaris tidak ada lagi yang memakai tato.

“Saya tertarik pada tato Mentawai karena miris, di satu sisi Pemerintah Kepulauan Mentawai mengenalkan ke luar bahwa Mentawai punya tato tradisional, sementara tato Mentawai sendiri tidak dilestarikan, bahkan di media dikatakan tato Mentawai hampir punah,” kata Letcu.
Setelah pamannya meninggal pada 2015, Letcu melanjutkan pengetahuan tatonya kepada Teu Ronganga, seorang sikerei dan penato yang sudah tua yang tinggal di Simatalu, Siberut Barat.
Ia belajar teknik menato, membuat motif tato, membuat peralatan menato, dan ritual menato. Teu Ronganga adalah penato terkenal di Simatalu.
“Tetapi karena beliau sudah tua, saat itu sudah tidak lagi menato, saya menato sendiri kaki saya untuk mempraktikkan cara menato. Itu juga untuk merasakan tingkat sakitnya jarum tato yang digunakan, mulai dari duri jeruk, kayu karai yang diruncingkan hingga kawat yang diruncingkan, itu semua sakit sekali,” ujarnya.
Dari pengalaman itu, akhirnya Letcu memilih menggunakan jarum tato modern. Selain tidak terlalu sakit, juga demi kesehatan.
Pada 2016, ia mulai menato teman-temannya, anak muda Mentawai, dengan tato Mentawai di Tuapeijat. Ia juga mengunjungi kampung-kampung lama Mentawai di Desa Simatalu, Siberut Barat yang budaya tatonya masih kuat, namun sipatiti-nya tidak sanggup lagi menato karena sudah uzur. Di sana ia dipercaya menato mereka.
Sejak itu, Letcu terkenal sebagai penato tradisional Mentawai dari generasi baru. Ia telah menato banyak orang, termasuk 56 orang dengan tato motif durukat di dada, tato motif asli Mentawai yang paling besar. Ia tidak hanya menato orang Mentawai yang ingin membangkitkan kebanggaan identitas, tetapi juga turis asing yang ingin membanggakan tato Mentawai ke negeri mereka.
“Saat ini sudah banyak orang Mentawai yang kembali memakai tato Mentawai, ada pegawai pemerintah, mahasiswa, dan anak muda, mereka mulai bangga memakai tato,” kata Letcu.
Kepiting yang Mencapit Leher
Menjelang siang kami meninggalkan hutan. Kami kembali melewati jalan yang terjal, kali ini mendaki, ke Studio Tato Bajak Letcu. Siang itu, Letju sudah ada janji untuk menato seorang pemuda Mentawai.
Pemuda itu sudah menunggu kami di tangga studio Bajak Letcu yang mirip rumah tradisional Mentawai. Nama pemuda itu Rully Puja Santiago dan mengenalkan diri sebagai Puja. Ia mengenakan celana jin pendek merek Levi’s. Ia telah membuka kemejanya dan menggantungnya di tangga.
Di dadanya, terlihat tato Mentawai motif ti’ti’ gegebak (tato dada) dari Simatalu. Ada garis yang melengkung mengikuti poros dada dan di tengahnya daun alepet. Motif daun alepet ini yang membedakan tato dada di Simatalu dengan Siberut Selatan.
Ia seperti seorang pemuda Mentawai masa lalu yang keluar dari buku antropolog dari Universitas Leiden, Profesor Reimar Schefold, dan lalu tiba-tiba hadir di depan saya dengan celana modern tetapi juga memakai luat di kepala.
Tato Mentawai terlihat sudah lengkap di tubuhnya. Di bahu kiri dan kanannya ada tato motif kulit langsat yang terkembang seperti bintang. Di lengannya ada motif duri manau. Sedangkan di pergelangan tangannya, seperti juga pada kedua pergelangan kakinya, ada motif ti’ti’ simumurat.
Pahanya dihiasi tato garis-garis yang melintang. Sedangkan kedua pergelangan kakinya memiliki ti’ti’ salio dengan motif mirip pagar yang dihiasi motif duri manau yang melengkung dari lutut hingga betis. Ada pula beberapa tato matatsulu (matahari) kecil sebagai ornamen tambahan.
Di punggungnya juga ada tato punggung atau ti’ti’ gigirat berupa motif garis lurus di tulang punggung dan garis lengkungan dari bahu ke punggung.
Saya penasaran, tato apa lagi yang akan ia tambahkan.
“Saya ingin menato leher, di dekat tenggorokan, seperti tato orang-orang di Simatalu,” katanya.
Puja menjelaskan kakeknya berasal dari Simalegi, desa tetangga Simatalu di Siberut Barat, karenanya, ia banyak menggunakan tato motif Simatalu yang sama dengan Simalegi.
Letcu mulai mempersiapkan perlengkapan untuk menato Puja. Ia pergi ke belakang bengkel mengambil daun-daun dan menyiapkan lilipat patikti serta tinta tato.
Ia melakukan ritual pribadi menggunakan daun-daun di belakang pondoknya. Ritual yang sangat singkat itu tanpa kami ketahui.
“Itu ritual saya dengan leluhur, meminta izin agar semua berjalan lancar, tidak semuanya harus dilihat orang,” katanya.
Ritual itu menggunakan beberapa helai daun, di antaranya daun ailepet dan daun boblo, daun yang biasa dikenakan sikerei saat melakukan pengobatan.
Sesi menato pun dimulai. Puja berdiri menengadah dan Letcu menggambarkan motif ti’ti’ labi pakatoili (capit kepiting) di lehernya dengan spidol merah.
Setelah motif selesai, Puja disuruh berbaring telentang di tikar pandan tanpa bantal. Tangan kanan Letcu memegang lilipat patitik yang di tengahnya terpasang jarum. Sedangkan di tangan kirinya tergenggam kayu sepanjang 50 cm untuk pemukul lilipat patitik.
Di lantai di sampingnya sudah ada tinta di dalam tempurung kelapa. Tinta hitam itu terbuat dari campuran air dan arang semprong.
Ia mencelupkan ujung jarum ke dalam tinta, lalu tongkat kayu satunya lagi dipukul ke kayu yang berjarum menusuk dengan memukul-mukulkan dengan lembut ke kulit leher Puja mengikuti garis gambar.

“Tak… tak… tak…!” suara lilipat patiti yang dipukul dengan cepat terdengar nyaring beriama. Jejak tusukan jaruk meninggalkan garis hitam kemerahan. Ruslan yang menjadi asisten Letcu menahan bahu dan dada Puja agar tidak bergerak.
Puja meringis menatap pepohonan di luar jendela. Ia berhasil menahan rasa sakit hingga proses penatoan selesai sekitar 30 menit.
“Sekarang kamu sudah memiliki tato Mentawai yang lengkap,” kata Letcu menatap dengan puas hasil karyanya di kulit Puja. Sebagian besar tato di tubuh Puja adalah rajahannya.
Puja menatap wajahnya di cermin kecil dan menyaksikan tato barunya itu. Ia terlihat puas. Tidak ada pembengkakan atau darah di tato barunya itu.
“Tadi rasanya seperti disayat dengan pisau cutter, tato di leher ini termasuk bagian yang paling sakit saat ditato, selain tulang ekor dan paha bagian belakang,” kata Puja.
Tato dan Simbol Resistensi

Tato di seluruh tubuh Puja memiliki riwayat panjang. Juga kisah penolakan dari keluarganya. Puja menceritakan, ia mulai ditato pada 2016, saat masih menjadi pegawai honorer di Kantor Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai di Tuapeijat.
Ia memulai dengan tato di kedua pergelangan kakinya. Tato itu dibuat Letcu, Frenky, dan Reynold.
“Keluarga besar saya sangat marah, walau saya katakan itu tato budaya, kenapa tidak boleh? Padahal kakek saya juga ditato, kakek saya juga pernah mendapat hukuman dari pemerintah karena tatonya,” kata Puja yang berasal dari keluarga muslim.
“Ibu saya sampai berkata, ‘kalau kamu tambah lagi tatomu, kamu harus buat KK (kartu keluarga) sendiri,’
“Akhirnya saya memang keluar dari rumah dan terus menambah tato, karena semakin lama saya semakin mencintai tato Mentawai, warisan budaya dari leluhur saya.”
Puja sudah berhenti bekerja sebagai pegawai honorer pemerintah dan memilih menjadi pemandu peselancar dan bawah laut (guide surfing and underwater) untuk turis asing yang datang ke Pulau Sipora.
“Mudah-mudahan ibu saya dan keluarga memahami pilihan saya memakai tato, kalau tidak dipakai, bagaimana kita bisa menyelamatkan tato Mentawai agar tidak punah?” katanya.
Ruslan Sapolenggu, asisten Letcu, juga menceritakan kisah penolakan serupa dari keluarganya. Pemuda 31 tahun itu juga memiliki tato tradisi yang hampir lengkap di tubuhnya. Bagian yang belum bertato hanya kedua pahanya.
Ruslan mulai menato tubuhnya di Studio Letcu pada 2022.
“Saya pertama di tato di dada, saat mengetahuinya ibu saya marah, selama dua minggu ibu tidak mau berbicara dengan saya,” kata Ruslan.
Ia berasal dari Desa Sigapokna, Siberut Barat. Dulu, kedua kakeknya dari pihak ayah dan ibu adalah sikerei. Kakek dan neneknya memiliki tato Mentawai yang lengkap. Namun pelarangan oleh pemerintah membuat generasi ayah dan ibunya tidak lagi ditato, juga generasi anak-anak mereka.
“Sekarang yang memakai tato Mentawai dari Sigapokna hanya saya,” katanya.
Kakeknya, Tepalaga, ayah dari ibunya, juga pernah dihukum karena memakai tato, kata Ruslan.
“Polisi datang ke kampung kami dan membawa orang-orang yang punya tato ke Sikabaluan, ibu kecamatan Siberut Utara, mereka disuruh membersihkan jalan selama satu minggu, itu hukumannya,” kata Ruslan.
Saat kakeknya masih muda, polisi datang ke kampungnya dengan mengacungkan pistol untuk menakut-nakuti penduduk. Polisi datang untuk memeriksa orang-orang yang masih memakai kabit, melakukan ritual budaya, dan juga menato.
“Saya dapat cerita dari tetua kampung, suatu kali saat polisi datang, dari atas perahu mereka sudah menembakkan pistol ke udara. Saat itu warga sedang bergotong royong membangun gereja, pantulan pelurunya terkena bahu seorang warga hingga terluka,” katanya.
Kejadian pelarangan budaya Mentawai pada masa lalu membuat Ruslan semakin bersemangat menato tubuhnya. Kini ibunya pun sudah melunak.
“Saya kemarin sudah minta izin ke ibu saya untuk menato kedua paha dan tangan saya, katanya, ‘tidak apa-apa, terserah’” kata Ruslan tersenyum.
***
Gabriel Sakeru, Camat Pagai Utara, juga meyakini bahwa mengembalikan identitas sebagai orang Mentawai dengan menato tubuh penting dilakukan generasi muda. Pria 51 tahun asal Maileppet, Siberut Selatan itu menato kedua kaki dan lengan kirinya dengan motif tato tradisional Mentawai.
Ia ditato Letcu pada bagian lengan saat Festival Pesona Mentawai pada 2016 di Tuapeijat dan bagian kaki pada 2019.
“Saya memakai tato menandakan saya orang Mentawai,” ujarnya.
Setelah ditato, Gabriel mengisahkan, pegawai negeri sipil lain yang juga orang Mentawai banyak yang menyindirnya, mengatakannya seperti orang zaman dulu.
“Saat saya ikut rapat dan mengenakan kemeja lengan pendek, tato lengan saya kelihatan, ada yang mengatakan saya seperti Raja Thailand. Saya tidak mempermasalahkan, bupati saja tidak masalah dengan tato saya,” katanya.
Di kalangan gereja GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai), kata Gabriel, juga tidak mempermasalahkan tato Mentawai yang ia pakai.
“Kalau saya pergi gotong royong di gereja, sayakan pakai celana pendek, jadi tato di kaki saya kelihatan oleh Pak Pendeta, lalu saya katakan kepada Pak Pendeta, kalau bapak-bapak pergi ke surga dengan cara berbuat baik, mudah-mudahan dengan cara bertato pun saya sampai juga ke surga, saya bilang kayak itu,” katanya.
Dua tahun lalu saya pernah menanyai Gabriel apakah akan menambah tatonya, termasuk tato utama dengan motif paling besar di bagian dada. Ia masih bersemangat ingin mewujudkannya. Pertengahan Juni 2025 ini saya menanyai lagi.
“Kayaknya nggak, sudah cukup, tetapi jika saya masih berumur di bawah 30 tahun, kulit masih kencang, kemungkinan iya,” ujarnya.
Anak Muda yang Bertato
Bukan hanya Puja dan Ruslan yang bersemangat mengembalikan tradisi tato di Mentawai. Ada banyak anak muda lainnya yang bermunculan meminta tato tradisi di tubuh mereka.
Yuhena Firah Tatubeket, mantan aktivis mahasiswa Mentawai dari Beriulou, Sipora Selatan, salah satunya. Perempuan 27 tahun itu memutuskan ditato menjelang wisudanya di Universitas Andalas, Padang, pada 2023. Ia ditato oleh temannya pada pergelangan tangan kiri dengan motif tradisi.

“Saya puas setelah punya tato Mentawai, walau belum selesai. Orang luar malah tertarik melihat tato saya. Mereka sering mengatakan, ‘Tato Mentawai, ya?,” kata Firah.
Tetapi tanggapan negatif malah ia terima saat pulang ke kampung halamannya di Sipora. Ada tetangganya yang melihatnya dengan aneh.
“Saya dibilang perempuan nggak benar, tapi saya jawab itu arat lagai, budaya Mentawai, kenapa tidak boleh dipakai,” ujarnya.
Kedua orangtua Firah tidak mempermasalahkan tatonya, tapi adik perempuannya meminta agar tatonya dihapus.
“Adik saya yang paling nyinyir minta tato saya dihapus, dia bilang haram, tapi saya malah menambah tato lagi,” kata sarjana antropologi itu.
Sumario Tatubuket, tetangga dan juga sebaya dengan Firah, juga mulai membuat tato menjelang wisuda di Universitas Andalas pada Desember 2022.
“Saya minta izin kepada kedua orangtua, alasan saya karena saya kuliah di jurusan sejarah, saya ingin ikut menyelamatkan budaya lama Mentawai agar tidak hilang dan agar bisa saya ceritakan sejarahnya,” ujarnya.
Kedua orangtuanya tidak keberatan.
“Bapak saya mengatakan tidak apa, asal kamu mau menanggung kalau tidak diterima bekerja pada suatu instansi yang melarang tato,” katanya.
Sumario mendatangi Letju dan minta kaki kirinya ditato. Kemudian diteruskan dengan menato tangan kiri.
“Setengah dulu, nanti lama-lama akan saya lengkapi,” ujarnya.
Menurut Sumario penerimaan orang luar Mentawai dengan tato yang ia pakai sangat positif.
“Saya pernah ke sebuah bank di Padang dengan celana selutut dan ada orang-orang di sana yang melihat tato saya, mereka menanyakan tentang tato saya dengan antusias,” katanya.

Pandangan yang berbeda, menurut Sumario, justru datang dari orang Mentawai.
“Ada yang mengatakan saya seperti orang kuno, orang zaman dulu. Ada juga orang yang mengkritik tato saya dan mengatakan kalau saya harus mengerti budaya dulu baru menggunakan tato, yang mengkritik ini bahkan tidak punya tato,” ujarnya.
Sumario pantang surut. Ia merasa semakin terikat dengan tato Mentawai.
“Saya ingin melengkapi tato saya agar saya bisa bercerita tentang Mentawai kepada orang-orang luar dari tato di kulit saya,” katanya.
Ardila Saleleubaja, perempuan 26 tahun, yang kini tinggal di Desa Maileppet, Siberut Selatan juga melakukan hal yang sama. Setelah diwisuda di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Prayoga, Padang pada Januari 2025, ia memutuskan menato pergelangan tangan kirinya.
Ia ditato kakaknya, Edo Saleleubaja, yang juga seorang sipatiti (penato) dengan dibantu seorang siswa SMA yang sedang belajar menato kepada Edo.
“Tangan saya jadi kanvasnya, tapi hasilnya lumayan bagus, motif tatonya kombinasi yang diambil dari motif tato Mentawai, seperti mata pancing, bintang dan atap uma,” ujarnya.
Ardila mengaku memiliki tato Mentawai adalah keinginannya sejak lama.
“Saya pengen dilihat dan dikenal sebagai orang Mentawai,” ujarnya.
Awalnya kedua orang tuanya keberatan. Bahkan juga kakaknya Edo, meski seorang penato tradisi. Mereka keberatan karena mempertimbangkan dampaknya kepada masa depan Ardila ketika mencari pekerjaan.
“Tapi saya jelaskan, yang saya pakai kan tato Mentawai, tato budaya, saya akan mencari pekerjaan yang bisa menerima tato saya,” ujarnya.
Jika anak-anak muda Mentawai yang baru menyelesaikan kuliah berjuang menghadapi dunia kerja dengan tato tradisi di tubuh, Rus Akbar Saleleubaja telah duluan memutuskan menato tubuhnya dan menjadi identitasnya saat bekerja.
Rus, sudah lebih 20 tahun menjadi jurnalis Mentawai di Padang. Sarjana antropologi Universitas Andalas itu editor di Mentawaikita.com.
Pada 2018, pria 45 tahun asal Siberut Selatan itu memutuskan menato kedua lengannya dengan tato tradisional Mentawai. Tatonya mirip dengan motif di lengan sikerei yang popular.
“Saya memutuskan ditato karena ingin menyelamatkan warisan budaya Mentawai,” kata Rus. “Karena ini tato warisan leluhur maka saya pakai karena saya juga orang Mentawai.”
Rus awalnya menato lengannya dengan temannya menggunakan mesin tato. Karena hasilnya kurang bagus, akhirnya ia menato ulang kepada Kora Sakoddobat, sipatiti muda dari Siberut Barat.
“Ia juga menambah motif tato lengan saya dengan tato motif kulit buaya yang biasa dipakai di Siberut Barat. Saya ditato pada kedua lengan hingga enam jam,” ujarnya.

Rus mengaku tidak ada kendala dengan tatonya selama melakukan liputan di kantor pemerintahan, kantor polisi, maupun di lokasi lain. Hal itu, menurutnya, karena sudah banyak orang yang paham bahwa tatonya adalah tato budaya Mentawai, bukan tato preman.
“Yang banyak komentar ini orang di kampung halaman saya di Siberut Selatan, saya dikatakan seperti orang pedalaman, orang kuno,” katanya tertawa.
Tato Mentawai Reborn
Pendeta Parlindungan Sababalat, Ephorus [pemimpin tertinggi] Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM), menanggapi fenomena anak muda Mentawai yang mulai kembali menato tubuhnya dengan mengatakan bahwa dokumen gereja sebenarnya tidak pernah menulis secara khusus larangan tato.
Yang dilarang adalah ritual praktik Arat Sabulungan, yang merupakan kepercayaan kuno orang Mentawai.
“Mungkin penginjil zaman dulu yang datang dari Jerman terlalu keras, semua yang berhubungan dengan peralatan budaya Mentawai dihanguskan karena dianggap praktik Sabulungan, jadi perlahan budaya cepat hilang karena ditinggalkan masyarakat, termasuk tato, itu saya sesalkan juga,” katanya saat diwawancarai di Gereja GKPM Mentawai di Nem-Nem Leleu, Sikakap, Pagai Utara.
Ephorus Parlindungan menjelaskan bahwa tato adalah simbol sebagai orang Mentawai dan bukan lambang dari kepercayaan Arat Sabulungan. Sedang praktik ritual Arat Sabulungan memang dilarang oleh gereja. Praktik ritual itu di antaranya melakukan pengobatan dengan memanggil roh.
“Kalau melakukan itu jemaat akan dikenai siasat gereja, dikucilkan sebagai bagian dari anggota jemaat, tidak bisa mendapat layanan pembaptisan dan tidak boleh mengikuti perjamuan kudus,” ujarnya.
Ia pun memastikan bahwa tidak ada masalah bagi gereja jika anak-anak muda Mentawai sekarang kembali menato tubuhnya.
“Nggak masalah, itu kan hanya hiasan. Tato itu simbol sebagai orang Mentawai, bukan lambang dari Sabulungan,” katanya.
Semakin banyaknya anak muda Mentawai unjuk identitas dengan menato dirinya dan tanggapan positif dari gereja belum cukup bagi Markolinus Sagulu. Pemuda 27 tahun ini adalah ketua Forum Mahasiswa Mentawai atau Forma, organisasi mahasiswa dari Mentawai di Kota Padang.
Marko, panggilan pemuda asal Siberut itu, mengatakan organisasinya akan mendorong Pemkab Kepulauan Mentawai membuat peraturan daerah atau perda untuk perlindungan tato Mentawai.
“Perda itu penting untuk melindungi tato Mentawai agar punya ketetapan hukum yang diakui sebagai warisan budaya Mentawai, dan ini juga untuk melindungi orang Mentawai yang memakai tato Mentawai,” katanya.
Menurut Marko, selama ini ada kekhawatiran bagi mahasiswa Mentawai yang memakai tato tidak bisa mendapatkan pekerjaan, karena ada persyaratan kerja yang tidak bisa menerima orang yang memiliki tato.
“Itu ketakutan mahasiswa yang ingin pakai tato Mentawai, saya pernah mengalaminya saat ke kampus saya di Unes (Universitas Eka Sakti, Padang) beberapa bulan lalu,” katanya.
Marko menceritakan ada dosen di kampusnya menegurnya kenapa ia bertato seperti preman ini dan menyuruhnya menutupnya dengan memakai baju lengan panjang.
“Terus saya sampaikan, ini budaya saya, mengapa daerah lain boleh mempromosikan budayanya dan kami sebagai orang Mentawai tidak boleh menunjukkan identitas kami dengan tato budaya kami,“ ujarnya.
Marko yakin dengan adanya perda tentang tato Mentawai maka anak-anak muda Mentawai yang memakai tato tidak dipermasalahkan lagi oleh orang di luar Mentawai.

Marko telah menato kedua bahunya pada awal 2024 dengan motif sibalu-balu atau motif mata angin khas kampungnya di Katurei, Siberut Barat Daya, sedangkan lengan kirinya motif duri manau. Ia memilih memakai tato karena melihat budaya masa lalu Mentawai yang diintimidasi pemerintah, termasuk menghukum orang yang bertato.
“Keluarga saya sangat bangga saya memakai tato Mentawai. Ayah dan ibu saya bangga, walau mereka sudah tidak punya tato lagi,” ujarnya.
Rinto Wardana Samaloisa, Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai, menanggapi adanya permintaan melindungi tato Mentawai dengan perda. Ia berkelit, untuk membuat perda tentang perlindungan tato Mentawai itu sulit karena perda sifatnya mengikat.
“Nanti kalau kita buatkan ada perda, perda seperti apa, apakah perda yang mewajibkan orang-orang Mentawai memakai tato?” kata bupati yang berlatar belakang pengacara itu.
Namun, menurut bupati aturan bagaimana agar orang-orang Mentawai yang memakai tato Mentawai dibolehkan untuk bekerja di manapun perlu diperjuangkan di dalam undang-undang tentang masyarakat adat.
Rinto memastikan di Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak ada larangan bertato Mentawai, termasuk bagi aparatur sipil negara (ASN).
“Karena itu adalah bagian dari budaya Mentawai. Kalau ASN atau orang yang mau masuk jadi ASN memakai tato Mentawai, tidak masalah, saya ingin juga punya tato,” ujarnya.