Sawah-sawah di dua desa terdampak banjir dan longsor di Tapanuli Tengah masih terlantar. Kayu-kayu gelondongan dari area pegunungan juga pasir dan bebatuan dari sungai masih menutupi lahan-lahan yang menjadi sumber penghidupan warga. Bantuan alat berat tak lagi datang, begitu juga pemulihan bendungan dan saluran irigasi.
Bagi masyarakat yang mayoritasnya petani, pemulihan lahan adalah prioritas saat ini agar ekonomi keluarga segera pulih. Mereka meminta pemerintah tidak setengah hati.
***
SITI ABADI PANGGABEAN (60) belum punya nyali untuk kembali ke sawahnya yang rusak akibat banjir dan longsor melanda Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, akhir November tahun lalu.
Sejak bencana, ia baru dua kali menengok sawahnya seluas 1 hektare yang berada di Hutanabolon, Kecamatan Tukka itu. Pertama kali setelah banjir dan longsor terjadi, kedua kalinya pada Maret lalu.
Sejak terakhir ia tengok, kondisi sawahnya masih sama. Sumber air terhenti akibat bendungan yang rusak diterjang kayu-kayu yang hanyut dari bukit, juga lumpur dan pasir dari sungai yang berjarak belasan meter dari sawahnya.
Saat bencana itu terjadi, padi di areal sawahnya sudah menguning. Ia memperkirakan akan panen dalam 1-2 minggu ke depan. Namun bencana menggagalkan rencananya.
“Rusak semua karena banjir,” katanya, pada akhir Juni lalu.
Sawah dan ladang adalah sumber mata pencaharian utama keluarganya bersama suaminya, Walinter Hutagalung (65). Ladangnya yang menghasilkan durian juga sudah hancur karena longsor.
Ketika banjir terjadi, sekitar 30 goni padi yang mereka simpan di rumahnya juga tergenang dan sebagian terseret dan hanya tersisa 10 goni. Sisanya itu sempat mereka jual untuk menyambung hidup.
Rumahnya rusak, dikategorikan ringan, karena hanya tertimbun lumpur dan sebagian rusak. Sudah diberi kompensasi sebesar Rp15 juta dan mereka juga mendapatkan jatah hidup untuk menyambung hidup sehari-hari.
Setelah mata pencaharian hilang dan tempat tinggalnya rusak, ia dan keluarganya kini tinggal di hunian sementara mandiri yang mereka bangun bersama warga terdampak. Siti membuka warung di depan hunian, menjual minuman, gorengan dan jajanan anak-anak.

Penghasilannya dari jualan sangat jauh berbeda dengan apa yang dulu mereka dapat dari ladang dan sawah. Dalam setahun sawahnya bisa dipanen dua kali dengan hasil 18-20 karung per panen. Belum lagi dari durian jika tiba musimnya.
Biasanya setiap bulan Juni, Siti dan suami sudah bisa menanam kembali setelah panen pertama pada bulan sebelumnya.
Siti tidak tahu kapan ia bisa mengolah sawahnya kembali. Pemerintah setempat sudah mendata Siti sebagai salah satu warga terdampak pemilik sawah.
Namun, tali air, sebagai infrastruktur paling penting yang mengalirkan air dari pegunungan masih belum dibenahi, begitu juga dengan bendungannya.
“Sepanjang tali air belum diperbaiki, saluran air tersumbat lumpur sehingga tidak ada aliran air ke sawah,” ujarnya.
Banjir dan longsor yang melanda 4 kabupaten di Sumut merusak 50.539 hektare lahan pertanian. Di Kabupaten Tapanuli Tengah, luas ladang yang rusak mencapai 3.205 hektare dan sawah rusak mencapai 7.365 hektare. Area terparah ada di Kecamatan Tukka.
Sebagian besar lahan persawahan rusak diterjang banjir, ditimpa bebatuan dan pohon-pohon yang tumbang dari perbukitan. Desember lalu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam kunjungannya ke Tapanuli Tengah sudah berjanji akan memulihkan lahan-lahan pertanian yang rusak itu.
Sekitar 300 keluarga di Hutanabolon harus menanggung rugi akibat ladang dan sawah mereka yang rusak.
***
Rosintan Hutagalung (63), salah satu warga di Hutanabolon, Lorong 1, juga tidak tahu kapan ia bisa mengolah sawahnya lagi. Saat ini, sawahnya masih terbengkalai, tertimbun kayu besar dan bebatuan dari sungai.
Pasukan TNI sempat diturunkan untuk membersihkan kayu-kayu di area yang terdampak banjir. Namun, pembersihan itu belum menyeluruh. Warga terhambat jalanan yang masih penuh lumpur dan juga ketiadaan alat berat untuk mengangkut kayu-kayu tersebut.
“Sawah saya masih ada kayu dan belum bisa saya kerjakan kembali, sumber airnya juga masih rusak,” keluh Rosintan.
Setiap kali panen, sawahnya seluas setengah hektare itu bisa menghasilkan sedikitnya 27 karung gabah padi atau sekitar 2 ton. Setahun bisa dua kali panen.
“Harusnya Januari sudah tanam kembali dan bisa panen bulan April, dan mulai siap menanam lagi,” kata pensiunan guru itu.

Rosintan khawatir bila terlalu lama sawahnya dibiarkan akan menjadi lahan terlantar dan tidak menghasilkan lagi. “Maunya kalau ada bantuan dari pemerintah, diperbaiki lagi tanahnya supaya bisa ditanami lagi,” katanya.
Sejak bencana terjadi, petugas dari pemerintahan pernah sekali mendata warga yang sawahnya rusak karena bencana. “Pernah sekali, sudah difoto dan datanya disampaikan ke Lurah, tapi sampai sekarang nggak ada wujudnya,” katanya.
Kami berupaya mengonfirmasi terkait penyaluran bantuan pertanian ke masyarakat ke Lurah Hutanabolon, Polman Pakpahan. Melalui stafnya yang ditemui di Kantor Lurah Hutanabolon, Lurah tersebut mengaku sedang mengikuti rapat di Kantor Bupati Tapanuli Tengah ketika kami datang. Pada hari berikutnya, kami juga tidak berhasil menemuinya. Kami mencoba menghubungi Kepling Lorong Empat Hutanabolon, Benny, namun juga tak bersedia diwawancarai jika tidak terlebih dahulu mendapatkan izin Lurah.
“Lurah belum telepon, saya harus minta izin dulu,” katanya melalui pesan singkat. Berulangkali kami hubungi, dia tidak pernah mengangkat teleponnya.
Rasintan dan warga masih menunggu kejelasan pendataan sawah mereka, apakah akan direhabilitasi atau tidak. Alih-alih mengedepankan rehabilitasi lahan sawah, pada Mei lalu, petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) malah menawarkan bantuan bibit padi. Tawaran ditolak warga karena menganggap bibit itu tidak ada gunanya, sebab kondisi sawah masih rusak.
Di sisi lain, upaya warga untuk meminta kejelasan juga tidak pernah membuahkan hasil.
“Kami warga kurang direspon kalau menanyakan itu,” katanya.
Viktoria Mandrofa (58), warga Desa Hutanabolon lainnya, mengatakan, sebidang ladangnya yang dulunya menghasilkan durian dan rambutan, kini terbengkalai setelah lama terendam banjir. Sebagian besar pohon rambutan dan durian kini tak berbuah lagi.
“Sekarang lahan ini sudah jadi ilalang semua,” katanya saat membawa kami ke ladangnya itu.

Saat bencana terjadi, ternak babinya juga ikut terseret banjir. Dulu, ia punya 10 ekor babi. Sebagian yang selamat dijualnya. Kini hanya tiga ekor babi dipeliharanya. “Inilah (babi) yang tinggal dan bisa menghasilkan dari sini (ladang) ini,” katanya.
Sawahnya di lokasi lain tidak ikut tertimbun kayu dan lumpur, tetapi terancam kesulitan air karena irigasi yang telah rusak.
Dulu Jual Beras, Sekarang Beli Beras
Zainal Arifin (62) dan istrinya Asria Sitompul (62) baru saja memanen padi dari sebagian lahan sawahnya beberapa hari sebelum banjir menyapu Desa Bona Lumban, desa tetangga Hutanabolon.
“Hasil panen 40 karung padi dan 10 karung sudah digiling jadi beras. Satu karung berisi 50 kilogram. Kalau ditotal semuanya ada 2 ton,” kata Zainal saat ditemui di kediamannya di Desa Bona Lumban, Lingkungan 2.
Harga per kilogram padi saat itu Rp6.500 dan beras berkisar antara Rp15.000-Rp20.000, sehingga jika ditotal kerugian hasil panen lebih dari Rp20 juta.
“Semuanya hanyut dibawa banjir,” ujar Zainal.
Lebih dari 90% penduduk Bona Lumban yang berjumlah lebih dari 200 keluarga bertani padi di sawah. Asria yang merupakan ketua kelompok tani di desa itu mengatakan, rata-rata keluarga memiliki seperempat hektare sawah, dan mayoritas telah rusak.
“Sawah kami luasnya 1 hektare semuanya rusak, dan tertimbun pohon yang terseret banjir,” katanya.

Desa Bona Lumban merupakan hilir titik banjir dan longsor besar terparah di Desa Hutanabolon. Menurut penuturan Zainal dan Asria, sebagian warga yang meninggal ditemukan di desa mereka adalah warga Hutanabolon yang terseret arus dari hulu. Begitu juga pohon-pohon tumbang yang menggunung di areal persawahan di desa itu sebagian besar terseret dari hulu.
“Tinggi air saat itu mencapai jendela rumah,” kata Asria menunjuk rumah di depan rumah mereka, kira-kira setinggi 4 meter.
“Untungnya tidak ada korban jiwa dari desa ini, jika pun ada ditemukan bukan warga di sini, tetapi warga Hutanabolon.”
Tujuh bulan setelah banjir, Zainal mengaku sawahnya masih belum bisa ditanami karena masih dipenuhi pasir meskipun saat itu tentara sudah mengangkat kayu dan tanah berpasir yang menimbun. Sebagian lahan malah mengeras setelah dilalui alat-alat berat saat membersihkan kayu-kayu tumbang.
“Kalau kami paksa tanam, kami takut gagal panen,” kata Zainal.
Selama lebih dari setahun tidak menghasilkan beras dari sawahnya, warga yang dulunya menjual beras, belakangan mulai membeli beras dari luar desa mereka. Belakangan, dengan bantuan pertanian berupa peralatan, bibit dan pestisida, sebagian anggota kelompok tani mulai mencoba menanam kembali sawah mereka walaupun berisiko gagal.
Warga juga mendapat bantuan dari Bank Indonesia senilai Rp100 juta dalam bentuk barang, berupa traktor, bibit dan racun hama. Mereka mau menerima bantuan itu setelah memastikan mereka tidak akan berutang bantuan pertanian jika gagal panen.
Apa yang terjadi saat ini adalah pasir yang mengendap di areal sawah mereka seharusnya dikorek terlebih dahulu lebih dalam, sedikitnya 5cm lagi.
“Bagaimana mungkin padi tumbuh di atas pasir,” katanya.
Selain itu, tanggul di tepi sungai harus benar-benar kuat sehingga jika terjadi hujan, tanggul sementara yang adalah pasir tidak jebol dan justru meluap ke areal persawahan.
“Masyarakat ini selalu dianggap bodoh dan tidak berpengalaman. Padahal warga di sini sudah turun-temurun selama puluhan mengelola sawah,” katanya.

Desa Bona Lumban adalah salah satu sentra penghasil beras di Tapanuli Tengah. Kualitas berasnya dikenal bagus. Zainal bercerita sebelumnya desa mereka pernah dijadikan lahan percontohan budidaya padi oleh pengusaha dari Malaysia. Percontohan metode penanaman modern itu mampu menghasilkan hasil panen dua kali lipat. Sayangnya, hasil panen tidak dapat diserap pasar karena kilang penggilingan tidak siap menerima hasil panen dari petani.
”Mengingat desa ini adalah sumber pertanian padi, seharusnya lahan-lahan persawahan yang sudah rusak ini dapat segera diperbaiki, supaya masyarakat dapat kembali mengelola sawahnya,” kata Zainal.
Menanam Padi di Tanah yang Masih Berpasir
Karim Muda Silalahi, Kepala Lingkungan 1 Desa Bona Lumban, mengatakan hampir 90% area sawah di desanya lumpuh akibat banjir. Banyak sawah yang akhirnya ditelantarkan pemiliknya.
“Tidak banyak permintaan, asalkan warga bisa kembali ke sawah, nggak usahlah dulu minta ini, minta itu, yang tidak begitu perlu, pokoknya bisa turun ke sawah lagi,” katanya.
Warga menilai apa yang dilakukan pemerintah sejauh ini belum memberikan solusi yang nyata bagi masyarakat terutama petani. Februari lalu, pemerintah justru membagi-bagikan pupuk untuk warga.
”Tapi kalau dipikir-pikir, pupuknya mau dikemanain? Sawah aja belum ditanami, kok sudah diberikan pupuk? Di situ kita bingungnya. Apakah pupuk diberikan karena tanah sudah tidak bagus lagi setelah bencana, itu saya tidak tahu,” katanya heran.
Pada Januari, pemerintah melakukan seremonial pemulihan lahan pertanian padi di Desa Bona Lumban, yang dihadiri Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, Wakil Gubernur Sumut dan staf dari Kementerian Pertanian.
Masinton saat itu mengatakan, seremonial yang juga disertai penyerahan bantuan bibit dan alat pertanian itu sebagai upaya memulihkan petani yang terdampak bencana.
“Bapak, Ibu, nggak usah lagi khawatir, negara hadir membantu rakyat kita, negara hadir membantu petani,” kata mantan politisi Senayan itu, seperti dalam video yang diunggah di media sosial Pemkab Tapanuli Tengah.
Saat itu, pemerintah menargetkan 37.000 hektare lahan pertanian akan dipulihkan, namun bibit yang ditanami pada saat seremonial itu saja tidak tumbuh menjadi padi yang baik, seperti diharapkan.
“Saya sudah ingatkan itu akan gagal,” kata Asria.

Asria masih ingat, ia sempat berdebat dengan staf ahli dari Kementerian Pertanian yang hadir saat seremonial terkait penanaman bibit itu. Asria menyarankan agar saluran irigasi yang diperbaiki terlebih dahulu. Namun, ia justru mendapat jawaban yang terkesan menyepelekan kemampuan warga.
“Waktu itu katanya dua minggu sudah tumbuh, nyatanya sudah enam bulan tidak ada hasilnya,” kata Asria.
“Rumput pun nggak tumbuh.”
Tak ingin menunggu bantuan dari pemerintah yang tak kunjung turun, Asria dan suaminya kini mencoba mengelola sebagian lahan sawah mereka. Mereka mengorek pasir dari sawah dengan alat seadanya.
Sebagai korban bencana, mereka hanya berharap empati pemerintah untuk benar-benar serius membantu masyarakat.
“Kami bukannya tidak berterima kasih atas pemulihan dari pemerintah sejauh, ini seperti kayu-kayu yang sudah diangkat,” katanya.
“Tetapi, kika pemerintah memang ingin membantu, bantulah, jangan setengah hati.”


