Pemerintah gagap mengelola data, bantuan tersendat ke pelosok, ribuan pengungsi bertahan dalam trauma dan kerentanan di tenda-tenda darurat.
SETELAH gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026, banyak rumah roboh dan rusak, terutama di desa-desa pesisir utara Kabupaten Nagekeo. Tsunami minor membuat warga mengungsi ke daerah perbukitan.


Jaringan listrik padam selama kurang lebih 12 jam dan internet mati total. Layanan kesehatan dan perawatan pasien dipindahkan ke tenda darurat. Di tengah gempa susulan, tenaga kesehatan harus menggunakan helm saat mengambil foto rontgen yang tetap dilakukan di ruang radiologi.
“Kami kerja dalam ketakutan dan trauma karena gempa susulan terus berlangsung. Bila ada gempa, maka kami lari keluar, “ kata Budi, nakes RSUD Aeramo.


Berdalih listrik dan internet mati total, pemerintah daerah Nagekeo lamban memberikan data penyintas gempa kepada pemerintah pusat. Dibandingkan enam kabupaten lain di Pulau Flores, data dari Nagekeo masih berbentuk gelondongan dan tidak terperinci. Di sisi lain, para jurnalis bisa mengirim laporan dengan cepat sejak hari pertama gempa.
Buntutnya, penyaluran bantuan terkendala.
“Kami tidur dalam tenda gelap. Tidak ada alas. Pergi ke WC, air tidak ada,” kata mama paruh baya Yohana Weli pada hari kedua setelah gempa.
“Yang dikasih makan hanya lansia dan bayi, sedangkan kami semua, mama yang lain, kelaparan. Kami dikasih beras dan mie, tapi mau masak di mana?”


Berdasarkan laporan resmi pemerintah pada empat hari setelah gempa, ada 28.104 warga Nagekeo yang mengungsi dan tersebar di Kecamatan Aesesa, Aesesa Selatan, Boawae, Keo Tengah, Mauponggo, Nangaroro, dan Wolowae.
Sebagian besar pengungsi bertahan di lokasi pengungsian mandiri. Sebanyak 26.322 orang atau 93,6% pengungsi tersebar di 1.730 titik pengungsian mandiri; 1.782 orang mengungsi di lima posko terpusat.
Sementara ada 9.644 rumah rusak, dari rusak berat hingga rusak ringan. Kerusakan fasilitas publik terdiri dari 381 satuan pendidikan, 74 kantor pemerintah, 54 pelayanan kesehatan, 50 rumah ibadah, 7 fasilitas umum, dan 6 sarana air bersih.
Sebaran luas pengungsi menyebabkan penyaluran bantuan jadi persoalan besar.
Bantuan terpusat di sekitar kota, sementara desa-desa pelosok bertahan atau mengambil sendiri ke kota kabupaten. Bupati hanya menyiapkan satu dapur umum di posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Makanan diedarkan ke pengungsi yang sebagian besar berlindung di tenda-tenda mandiri.
Kondisi itu diperparah akses jalan yang tertutup longsor yang belum dibersihkan alat berat.


“Kesulitan kami di tenda pengungsi ini kami tidak tahu harus berkoordinasi dengan siapa bila ada keluhan. Padahal para pengungsi ini mengeluh kedinginan, makanan tidak cukup, tapi tidak tahu harus mengeluh ke mana,“ kata Petrus, Kepala Desa Marapokot.
Di antara para pengungsi terdapat 2.686 lansia, 1.630 balita, 398 ibu hamil, serta 233 warga sakit atau difabel. Kelompok-kelompok ini memiliki kebutuhan khusus yang tidak bisa disamakan dengan bantuan umum.
Dan, persoalannya bukan cuma soal bantuan.
Sejak hari pertama, pengungsi kecewa karena bupati dan pejabat pemerintahan tidak hadir di tengah kesulitan, padahal mereka membutuhkan dukungan moral.
“Kami semua warga Nangadhero, Tonggurambang, Marapokot. Kami kecewa. Sudah satu kali 24 jam kami tidak melihat bupati dan orang pemda,” kata Natalia pada hari kedua setelah gempa. “Cukup datang dan kunjungi kami. Lihat batang hidung mereka saja tidak ada.”
Pejabat mulai mendatangi sejumlah lokasi pengungsian beberapa hari kemudian, tapi terpusat di kota. Kunjungan pejabat itu juga lebih menonjolkan seremoni ketimbang kebutuhan pengungsi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengunjungi Sekolah Dasar Katolik Rowa di Boawae pada 24 Agustus 2026. Guru-guru sekolah diminta hadir di lokasi, termasuk anak-anak korban gempa dari sekolah lain.


Pada 27 Agustus, jumlah pengungsi Nagekeo sebanyak 51.284 jiwa, berdasarkan laporan Provinsi NTT. Angka ini berbeda dari data 28.104 jiwa pengungsi pada 19 Agustus. Perbedaan ini menunjukkan pendataan pengungsi terus berubah selama masa tanggap bencana.
Hampir dua minggu setelah gempa, mayoritas pengungsi di daerah pesisir masih enggan pulang karena trauma atas gempa susulan.
Marselinus Jago, warga Desa Nangadhero, pulang hanya untuk memeriksa kondisi rumah, lalu bermalam kedinginan di bawah tenda mandiri di Aeramo bersama warga lain.
“Warga semuanya mengungsi karena masih trauma,” ujar seorang Ketua RT bernama Didimus.
Diintip Maut di Tenda
Satu bulan setelah gempa, sejumlah warga Nagekeo masih bertahan di tenda mandiri yang dibangun sendiri di dekat rumah.
Mereka mulai kembali dari pengungsian di dekat perbukitan sekitar dua minggu lalu. Namun, rumah yang ditinggalkan belum bisa ditempati kembali, sementara hunian sementara bagi para pengungsi belum tersedia.
Di Desa Waekokak, wilayah utara Nagekeo yang berdekatan Kota Mbay, Monika Bopo dan keluarganya masih bertahan di tenda mandiri. Bersama keluarganya dan cucunya, ia tinggal di dekat rumah yang telah rusak parah.
Sejak kembali dari pengungsian, Monika bertahan di tenda darurat dengan terpal seadanya.
Hasil survei dari desa menetapkan rumahnya rusak sedang, sedangkan rumahnya tak mungkin bisa ditinggali lagi dan harus dirobohkan untuk membangun ulang. Dinding rumahnya sudah retak dan roboh.
“Kata petugas, kalau mau rusak berat harus kasih roboh semua rumah dalam waktu dua hari, sedangkan saya tidak ada tenaga jadi biar saja kasih rusak sedang,” kata Monika.


Di wilayah selatan Nagekeo, sejumlah warga masih tidur di tenda darurat.
Di Desa Degelea, Florida Wea, seorang ibu difabel, tinggal di tenda sempit bersama suami dan anak-anaknya. Rumah mereka hancur.
Terpal seadanya jadi tempat berlindung keluarga itu. Ketika malam, Florida dan keluarganya harus bertahan dalam udara dingin menusuk tulang.
“Tadi malam waktu hujan, biarpun hujan tidak terlalu besar, air hujan itu menetes dan kami tidak bisa tidur,” ujar Florida. “Kami menjaga anak-anak tidur sampai pagi.”
Bantuan untuk kelompok rentan, terutama untuk disabilitas dan balita, masih minim.
Kepala Desa Degelea Adrianus Pati berkata ada 833 warga desanya terdampak gempa, dengan 80 rumah rusak berat berdasarkan penilaian desa.
Warga yang rumahnya ambruk membutuhkan segera hunian sementara, tapi sampai kini belum tersedia, sementara hujan mulai turun.
“Warga saya sangat membutuhkan seng untuk atap, untuk bangun rumah darurat karena sudah dekat musim hujan,” ujar Adrianus. “Beberapa hari lalu turun hujan, beberapa warga jatuh sakit.”
Di Kabupaten Nagekeo, pusat gempa NTT, pembangunan hunian sementara baru dimulai beberapa hari terakhir.
Pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 27 September 2026. Fasilitas publik seperti pendidikan, irigasi, dan jalan belum diperbaiki. Sementara gempa susulan terus berlangsung.
“Kebutuhan penanganan lebih mendesak adalah huntara segera dibangun,” kata Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Muga Sada.
“Untuk warga yang rumahnya rusak berat agar segera dibangun huntara,” kata tenaga ahli BNPB di Nagekeo, Oka Prawira, menambahkan bahwa semua data kerusakan rumah masih bisa diperbarui.


Sebulan setelah gempa besar, data resmi khusus untuk Nagekeo mencatat 20 warga meninggal, 34 warga luka berat, 139 warga luka ringan, dan 21.952 warga mengungsi.
Total korban untuk data NTT hingga pekan ini adalah 142 orang meninggal, terdiri dari 48 orang meninggal di hari terjadi gempa, dan 94 orang meninggal di pengungsian.
Seorang pengungsi yang meninggal adalah Mario, bayi berumur 1 tahun 10 bulan dari desa pesisir Tonggurambang. Warga desa ini mengungsi ke perbukitan.
Kesehatan Mario memburuk saat mengungsi. Ia dibawa ke Rumah Sakit Aeramo dalam kondisi nyaris tidak sadarkan diri dan sesak napas. Kadar gula darahnya turun (hipoglikemia); ia mengalami diare dan dehidrasi berat.
Selain itu Petrus Ndiwa berumur 70 tahun dari Desa Kotagana meninggal di pengungsian.
Petrus memiliki penyakit asma atau gangguan pernapasan kronis. Ia tinggal di lokasi pengungsian yang tidak layak, yakni sebuah dapur MBG yang belum selesai dibangun.
Kedinginan di posko pengungsian, asmanya kambuh. Ia juga selalu syok karena gempa susulan. Petrus meninggal dalam perawatan intensif dari paramedis Puskesmas Mauponggo.