Creative Commons License

Menilik Rumah Orang Rimba

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Teguh Suprayitno

31/05/2021

Seorang anak berjongkok di teras rumah godong. Rumah godong adalah rumah berkamar dan beruang tamu. Dinding rumah terbuat dari kulit kayu mesuai, lantai dari kulit kayu meranti, atap dibuat dari daun benal atau serdang. (Project M/Teguh Suprayitno)

Di tengah pandemi Covid-19, kehidupan Orang Rimba di Sarolangun, Jambi semakin rentan setelah secara terencana mereka dipaksa hidup jauh dari hutan dengan segala aturan adatnya. 

Sejak 1995 pemerintah berupaya memodernisasi mereka yang tinggal di hutan lewat program perumahan sosial. Pola hidup tidak menetap dengan begitu saja dapat meninggalkan rumah yang akan hancur sendiri oleh alam membuat Orang Rimba dianggap “terbelakang” dan punya “masalah sosial” sehingga perlu diatasi. 

“Rumah itu solusi supaya mereka hidup sehat, hidup layak,” kata Hillalatil Badri, Wakil Bupati Sarolangun.

Narasi pembangunan yang digaungkan pemerintah secara sistematis menyingkirkan Orang Rimba dari hutan adatnya dan dipaksa berdampingan dengan masyarakat desa yang dianggap lebih beradab. 

Sampai dengan 2019, pemerintah telah 59 kali membangun pemukiman untuk Suku Anak Dalam – sebutan sepihak pemerintah yang menggeneralisir Orang Rimba dan Masyarakat Bathin 9 – di Jambi. Meski banyak yang ditinggal, program perumahan justru terus dilanjutkan. Setelah 2019, pemerintah berencana membangun perumahan di 37 lokasi. Dinas Sosial Provinsi Jambi mencatat setidaknya 7.677 jiwa dari 1.885 keluarga menjadi target untuk dirumahkan.

“Walau orang mencemeeh (meremehkan) tidak berhasil, program Kementerian Sosial sampai kapan pun akan tetap berjalan. Karena itu amanat undang-undang, memanusiakan manusia,” kata Usup Suryana, Kepala Seksi Pemberdayaan Sosial Komunitas Adat Terpencil, Dinas Sosial Provinsi Jambi.

Pemerintah beralasan program rumah adalah solusi untuk ruang hidup yang terus menyempit. Kebutuhan lahan untuk perkebunan kelapa sawit berskala besar dan transmigrasi telah merampas ruang hidup Orang Rimba. Mereka yang kehilangan hutan berarti telah kehilangan segalanya: rumah dan sumber penghidupan.

Kelompok Orang Rimba yang hidup di pemukiman semakin sulit mengakses sumber penghidupan. Pada tahun 1990-an konflik Orang Rimba dengan masyarakat luar meningkat dan berujung pembunuhan.

“Masalah utama yang dihadapi Orang Rimba saat ini adalah sumber daya yang semakin menipis akibat industri kelapa sawit, transmigrasi dan pemukiman. Yang kemudian terjadi mereka kelaparan, sakit dan akhirnya meninggal,” kata Adi Prasetijo, antropolog Universitas Semarang yang telah 15 tahun mempelajari kehidupan Orang Rimba di Jambi.

Cikalundang, pria Rimba dari kelompok Tumenggung Bebayang mengaku mengalami masalah ekonomi selama tinggal di permukiman Kawasan Terpadu Madani Suku Anak Dalam. Ubi di pekarangan rumah yang ditanam tidak cukup untuk makan. 

“Ini sama orang nunggu kandang kerbau. Nggak mungkin kita makan tanah,” katanya.

Orang Rimba akhirnya kembali ke hutan.


Editor: Ricky Yudhistira

Cerita foto ini merupakan bagian dari serial reportase #MasyarakatAdat dan Lingkungan Hidup.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!