Serial ini mendokumentasikan kekerasan masa lalu yang dilakukan negara. Berfokus pada kisah-kisah personal terkait kejahatan kemanusiaan negara, dari sudut pandang generasi ketiga dan seterusnya. Serial ini adalah ruang untuk mencatat luka sebagai ruang pemulihan trauma di tengah pengabaian negara yang terus berupaya menyembunyikan peran kejahatannya.
Dukung kami untuk terus menyajikan serial liputan yang melayani masyarakat terpinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan.

Peringatan: Tulisan ini memuat deskripsi kekerasan yang bisa membuat Anda tidak nyaman. Paman saya dulu bilang PKI itu persoalan di Jawa. Untuk konteks saat itu, memang Jawa terdengar relatif jauh. Namun, apa pun yang berasal dari Jawa itu nyatanya sanggup…

Merawat ingatan soal kejahatan kemanusiaan di Indonesia adalah kerja sunyi. Negara tidak menyediakan ruangnya, institusi pendidikan tidak mengajarkannya, dan masyarakat dibentuk untuk menjauhinya. Minggu siang, 21 September 2025, saya bertamasya bersama sembilan kawan ke tiga kuburan massal 1965 di Desa…

Merawat bukan berarti lemah, melainkan bentuk perlawanan mendalam.

Harapan ke depan saya sangat sederhana: tolong temukan bapak saya, Yani Afri, yang dihilangkan paksa oleh negara 28 tahun silam. Sejak saya kecil, kisah tentang bapak selalu samar. Bapak pergi pada 26 April 1997 saat saya belum genap empat tahun,…

Di tengah dominasi sejarah resmi negara yang menihilkan suara korban, upaya generasi ketiga tapol 1965 untuk membabar sejarah keluarga adalah suar nyala baru.

Peringatan: Artikel ini bisa memicu trauma. Selewat 27 tahun setelah Orde Baru runtuh, negara justru kian gamblang berusaha mencuci dosa dengan menyetip babak-babak sejarah kelam yang sarat kekerasan terhadap komunitas Tionghoa. Mei 1998 adalah momen perdana saya…