Creative Commons License

Tak Ada Jalan Lain Selain Maju Terus Bersama Penyintas Kekerasan Seksual

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Evi Mariani

27/05/2022

Women's March di Jakarta. (Hafitz Maulana)

Beberapa minggu terakhir saya menerima kabar bertubi-tubi sehubungan kasus-kasus dugaan kekerasan seksual: Gofar Hilman diumumkan jadi host di Prambors (beberapa hari kemudian Prambors mengumumkan penundaan), lalu akun Twitter “ZahariZahari13” men-tag saya dan menggelar utas panjang membela diri atas tuduhan (bahasa dia “fitnah”) seorang jurnalis perempuan, dan Polda Sulawesi Selatan menggelar konpers mengatakan dugaan pencabulan tiga anak di Luwu Timur disetop karena “kurang bukti” (lagi).

Kabar ini datang bersamaan dengan kabar-kabar lain tentang korban-korban baru yang kasusnya tidak selesai, lambat ditangani, atau jika ditangani, tidak membuat korban merasa mendapatkan keadilan.

Bagi saya pribadi, tentu ini melelahkan. Di kasus Gofar Hilman (yang menganggap merekam partner seks dan menontonnya bersama teman-teman adalah normal), lalu kasus yang digelar utasnya oleh “ZahariZahari13”, dan di kasus ibu “Lydia” di Luwu Timur, saya cukup terlibat meski hanya ikut berpendapat dalam upaya memperkuat posisi penyintas. Perkembangan terakhir ini pastinya tidak bisa dibilang “menggembirakan” bagi saya pribadi.

Saya sengaja menghindari membaca komentar-komentar orang-orang demi ketenangan jiwa saya. Tapi satu dua terbaca juga. Dan orang-orang yang sejak kemarin menyangsikan penyintas sepertinya sedang merayakan “kemenangan” mereka bahwa benar adanya, menurut mereka, para penyintas ini menuduh sembarangan.

Yang paling vokal dari tiga ini adalah Gofar Hilman, yang diberi ruang besar di suatu kanal YouTube ngetop nan populer. Omongan dia sepertinya berhasil meyakinkan banyak orang, terutama laki-laki, bahwa ada banyak penyintas kekerasan seksual di luar sana yang bakal ngarang-ngarang cerita dan pura-pura menderita hanya untuk menuduh laki-laki tak berdosa yang sekadar sial kena tuduh padahal tidak melakukan apa-apa (ha!).

Saya sempat terkuras juga. Aduh, ini semua mungkin akan memperlemah perjuangan para penyintas dan para pendampingnya, demikian pikir saya. Sempat kecil hati juga.

Tapi saya kilas balik ke beberapa tahun lalu, merenung tentang mengapa saya ada di sini, secara kiasan bisa dikatakan “di tengah-tengah pertempuran”, pasang badan bawa perisai dan pedang (pena). Kalau saya ingat-ingat, saya masuk ke medan peperangan penghapusan kekerasan seksual tidak disengaja juga. Dimulai dari menulis satu kasus, merembet ke #NamaBaikKampus, dan seterusnya.

Mengapa saya ada di pertempuran untuk menghapuskan kekerasan seksual? Karena saya ingin menghapuskan kekerasan seksual dari muka bumi ini.

Sebagai jurnalis kerap kami dituntut “netral”, tapi saya tidak mungkin mengambil posisi “netral” dan berkata: antara menghapuskan kekerasan seksual dan tidak menghapuskan kekerasan seksual di muka bumi ini, saya memilih di tengah saja. Manusia macam apa saya ini kalau saya berkata begitu. (Tuntutan netral tidak bisa diterapkan dalam kasus apa pun sebenarnya.)

Dan tidak mungkin bagi saya untuk menghapuskan kekerasan seksual dari muka bumi ini jika saya tidak berdiri bersama mereka dan memperkuat penyintas, apa pun kondisi mereka. Saya juga akan jadi munafik jika saya memilih-milih penyintas. Misalnya saya memilih hanya membela yang kasusnya mudah saja, agar saya tidak kena risiko dibully orang. Saya tidak bisa memilih hanya membela penyintas yang kesaksiannya super solid dan konsisten atau yang karakternya kuat, keputusan-keputusannya selalu bijak, personanya disukai netizen.

Mengapa saya memilih ada di sisi penyintas, apa pun kondisi mereka? Karena relasi kuasanya, karena situasinya yang timpang, karena ketidakadilannya. Karena penyintas, siapapun mereka, seperti apa pun orangnya, selalu ada di posisi yang lemah.

Lebih jauh, penyintas artinya seseorang yang sudah mengalami kekerasan, sehingga hampir pasti kapasitas mental dan fisik mereka sudah dilemahkan oleh kejahatannya tersebut. Mereka menjadi korban pun persis karena mereka ada dalam relasi kuasa yang tidak adil, dan utamanya ini terjadi karena gender mereka bukan laki-laki heteroseksual yang maskulin.

“Laki-laki heteroseksual yang maskulin” ini sudah cukup untuk memperkuat posisi tertuduh ketika berhadapan dengan korban di masyarakat kita yang masih patriarki ini. Tidak perlu pakai embel-embel pejabat, orang kaya, punya koneksi dan sebagainya. “Laki-laki heteroseksual maskulin” akan lebih dipercaya ketika menyampaikan perspektif dia. Mereka bahkan punya privilese, pendapat dia tentang satu peristiwa otomatis diterima sebagai fakta, tanpa harus mengalami ujian verifikasi bertubi-tubi.

Ini berlawanan dengan keterangan perempuan, yang sejak awal sudah dituntut untuk jauh lebih solid, lebih konsisten, lebih “masuk akal” dalam ukuran kita-kita yang dididik oleh patriarki ini, tidak peduli bagaimana kondisi mental mereka ketika sedang diuji “verifikasi”.

Sebagai jurnalis saya harus patuh pada Kode Etik Jurnalistik, saya harus mengedepankan disiplin verifikasi. Tetapi tidak semua kasus kekerasan seksual bisa diverifikasi secara adil apalagi jika kata terakhir merupakan hasil proses verifikasi yang dipimpin dan didominasi perangkat hukum yang cenderung maskulin. Maka saya berdiri di sisi penyintas sampai dia bisa dibuktikan, oleh proses verifikasi yang tidak maskulin dan berperspektif korban, memang berbohong.

Selain disiplin verifikasi, jurnalis pun harus punya “compassion sehingga liputannya bisa adil. Tanpa empati, rasa kasih, jurnalisme hanya akan jadi corong penguasa. “Compassion” saya tentunya kepada yang posisinya lebih lemah, dengan demikian, kepada penyintas, sekali lagi apapun kondisinya.

Bagi mereka yang merasakan kurang lebih hal yang sama dengan saya beberapa minggu terakhir, mungkin merasakan kelelahan. Saya pribadi memang merasakan secara global masyarakat patriarki saat ini sedang melakukan serangan balik pada gerakan #MeToo.

Saya menuliskan ini dalam usaha saya mengulurkan tangan pada kita semua yang ada di medan pertempuran yang sama. Saya ingin memegang tangan kalian semua, dan saya pun butuh tangan saya dipegang oleh kalian. Jalan kita masih panjang. Tapi saya senang saya bisa berjalan bersama banyak orang dalam menghapuskan kekerasan seksual di muka bumi ini.


Editor: Fahri Salam

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!