Creative Commons License

Hidup Seratus Tahun

100 Tahun
100 Tahun

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Eko Rusdianto

22/02/2022

Mangaweang, pria berusia 102 tahun di kampung Buntu Barana, Kecamatan Suli Barat, Kabupaten Luwu. (Project M/Eko Rusdianto)

LEBIH BAIK JIKA kamu punya waktu berkunjung ke kampung Buntu Barana di Luwu, kemudian bertanya siapa orang yang paling banyak menyaksikan kematian dan kelahiran, maka itulah dia. Lelaki yang punya sepuluh anak, dari tiga istri, lupa berapa cucunya, dan usianya sudah lebih dari 100 tahun.

“Mungkin Tuhan meminta saya mendoakan semua yang meninggal duluan,” kata Mangaweang, seolah-olah menjadi kalimat pertamanya untuk menerima usia panjang.

Tiga tahun terakhir jalannya hanya sampai teras rumah. Ia pernah terjatuh di kamar mandi, tempurung lutut kaki kirinya bergeser. Beberapa orang membantunya dengan teknik urut tradisional, tapi tak pernah bisa pulih. Dan ia sendiri mengibaratkan tulangnya sudah aus; sekian tahun telah digunakan, dari masuk-keluar hutan hingga mengurus kantor desa.

Umurnya sudah 102 tahun, setidaknya demikian yang tercatat dalam Kartu Keluarga: Kelahiran 31 Desember 1920. “Tapi, waktu saya mau jadi kepala desa,orang bilang kalau yang dicatat di KTP biar dikasih muda sedikit, jangan terlalu tua,” katanya. “Kalau tidak salah ingat, umur saya dikasih lebih muda lima tahun.”

Meski demikian, melihatnya sepintas dan melupakan namanya, mendengar ungkapan-ungkapannya dan tak bertanya mengenai umurnya, ada banyak yang keliru menerkanya masih berusia 60-an tahun.

Ia adalah identitas kampung. Kampung Buntu Barana adalah Mangaweang. Ia menjadi kepala desa dari 1966 hingga 1983, kemudian dari 1993 hingga 2001. Ia mendapatkan gaji mulai dari Rp250, naik menjadi Rp750, dan terakhir Rp750.000.

Penghasilan itu mencukupi kebutuhan keluarganya, sementara ia mengakui tidak cakap mengurus lahan. Maka, beberapa petak sawah dan kebun warisan keluarga diserahkan ke koleganya. Rumah panggungnya yang kokoh dibangun berkat bantuan warga selama sembilan hari. Tiang-tiang rumah menggunakan kayu bitti yang kuat.

“Karena rumah ini dibangun oleh banyak orang,” kata Mangaweang dengan perasaan haru, “pintunya selalu terbuka. Siapa saja bisa datang.”

100 Tahun
Mangaweang melakukan rutinitas berjemur di pagi hari. (Project M/Eko Rusdianto)

Warga memintanya menjadi kepala desa karena ia dianggap punya pamor dan kesabaran. Ia menyelesaikan sengketa warga dengan cara musyawarah, meski dengan begitu ia akan didatangi orang-orang yang tak puas lalu menumpahkan amarahnya.

“Biasanya saya juga mau marah, tapi tidak ada gunanya. Kalau orang emosi, pasti nda bisa mendengar toh,” katanya.

Agus, anak bungsunya, menceritakan orang-orang bersengketa ini terkadang melewati batas. Bukan ayahnya yang meladeni, tapi beberapa teman ayahnya yang biasanya tidak terima, lalu “mendatangi langsung orang itu dan tak jarang berkelahi.”

“Tapi pembalasan itu tak boleh ketahuan bapak. Karena kalau dia tahu, dia juga akan marah.”

Dan, beberapa orang yang menjadi teman terbaik ayahnya ini pun sudah meninggal.

Agus lahir tahun 1993. Ketika SMA, ia mulai menelisik perihal ayahnya. “Dan cerita yang saya dapat seperti itu. Dan paling sering, kalau sudah tenang, sehari setelahnya atau malamnya, bapak datang ke rumah orang yang marah itu. Terus dia bicara baik-baik.”

Seingatnya, dari kecil sampai sekarang, tak pernah ayahnya memukul atau menyentuh tangannya. “Kalau dia marah, dia hanya membentak. Setelah itu selesai.”

Di Buntu Barana, Mangaweang adalah pria yang dihormati. Kesabaran dan kharismanya membuat banyak orang segan. “Orang bilang, kalau nenek itu (Mangaweang) orang hebat. Dia banyak sekali ilmu, tapi tidak pernah diperlihatkan,” kata Gaffar, warga lain.

Di Luwu, sapaan nenek disematkan untuk orang tua, laki-laki maupun perempuan.

Bagaimana Mangaweang menjadi kepala desa? “Ada orang-orang datang ke saya, mereka bilang kalau bukan saya, bisa jadi kampung ini akan menjadi berantakan.”

“Saya menolak. Waktu itu masih banyak orang tua di kampung. Tapi ada utusan kecamatan memaksa harus saya.”

“Saya juga takut karena siapa tahu ini jebakan untuk penjarakan saya?”

“Tapi, kalau saya tolak, saya akan tetap dituduh sebagai orang yang tidak mau menjadi Indonesia. Akhirnya, itu alasan utamanya.”

Beberapa bulan sebelumnya, Mangaweang baru keluar dari hutan. Ia adalah prajurit setia Kahar Muzakkar, gerilyawan kelahiran Luwu yang memberontak pemerintah Indonesia pada 1950-an dan bergabung dengan gerakan Darul Islam. Ketika pemerintah Indonesia mengumumkan Kahar telah tertembak mati pada Februari 1965 di Lasolo, semua anggota pasukan pergolakan itu secara otomatis berhenti—meski banyak pengikutnya percaya ia masih hidup dan bersembunyi.

Pimpinan memerintahkan semua pasukan keluar dari hutan, termasuk kepada Mangaweang.

“Saya menangis. Saya pegang kaki komandan, ‘Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini? Kita harus berjuang sampai mati.”

“Tapi saya dibentak. Saya harus ikuti perintah.”

Kehilangan semangat hidup, Mangaweang pun pulang menuju kampung istrinya di Desa Temboe, masih di Luwu. Ia mengolah sagu. Perlahan, ia membangun rumah tangga bersama Daraya, yang dinikahinya pada 1951, dikaruniai tujuh anak. (Satu anak meninggal dunia.) Ketika menjadi kepala desa, ia kembali ke kampungnya ke Desa Buntu Barana.

100 Tahun
Pemandangan memasuki Desa Buntu Barana, Kecamatan Suli Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. (Project M/Eko Rusdianto)

Belum setahun menjabat kepala desa, perubahan politik besar terjadi. Soeharto menggantikan Sukarno. Gelombang pembunuhan terhadap ratusan ribu komunis dan simpatisannya terjadi di Jawa, Bali, Sumatera, dan kawasan lain. Di Luwu, kehidupan tampaknya terjadi sesuai apa yang dibayangkan Mangaweang. Ia juga merasa lega. Sukarno baginya musuh ideologis Kahar Muzakkar.

“Yang paling bagus,” ujarnya, “Soeharto membenci komunis.”

Di Buntu Barana, Mangaweang adalah keluarga besar. Jelang akhir 1960-an saat perangkat desa membutuhkan sebuah kantor, ia mendatangi keluarganya, meminta hibah sepetak tanah. Lalu, pada 1975, saat ada sengketa lahan yang di atasnya telah berdiri bangunan sekolah dasar, ia juga meminta hibah lahan keluarganya.

Ia meminta kecamatan mencarikan anggaran membangun sekolah baru. Bantuan sebesar Rp70.000 digunakan untuk semen, atap, dan sebagainya. “Orang-orang bantu membangun. Tenaga gratis. Bangku-bangku sekolah dibuat warga. Orang kerja terus.”

Kini Sekolah Dasar Negeri 11 Buntu Barana itu berdiri bersisian dengan rumahnya. Di teras, ia bisa mendengar dan melihat anak-anak sekolah berteriak dan berlarian. Sekolah itu telah melahirkan ribuan alumni, dan itulah kebahagian bagi Mangaweang.

 

HARI-HARI INI Kepala Mangaweang terasa berat. “Na pandrasana,” katanya. Saya seperti tersiksa.

“Karena nda ramai mungkin.”

“Iyo kapang—mungkin,” katanya. “Karena anak-anak sekolah juga belum masuk jadi nda ada suara, karena corona toh.”

Mangaweang merasakan kesepian. Ia selalu gelisah. Ia tak ingin ditinggal sendiri di rumah. “Sekarang semua anak sudah ada keluarga sendiri. Tapi, kalau Lebaran, rumah ini ramai sekali. Sampai berhari-hari. Saya senang sekali.”

Ia sudah tak mampu menghitung berapa tepatnya jumlah cucunya. Ia lupa mengingat semua namanya. Di rumahnya, ia kini tinggal bersama istri dan dua anaknya yang belum menikah.

“Kalau saya ke pasar pagi, anak-anak sudah pergi kerja, dia duduk di teras terus mi sampai saya pulang dari pasar,” kata Nurmi.

100 Tahun
Mangaweang dan Nurmi. (Project M/Eko Rusdianto)

Di Kecamatan Suli, pasar rakyat digelar setiap Rabu dan Sabtu. Nurmi yang rutin berbelanja acap ditanya oleh para pedagang saat ia memilih makanan yang cocok untuk suaminya. “Orang-orang selalu kaget kalau tahu suami masih hidup,” katanya. “Jarang orang percaya.”

Nurmi adalah istri ketiga Mangaweang. Mereka menikah pada Juli 1987, dan dikaruniai tiga anak. Sementara istri keduanya, Subaeda yang menikah pada 1983, tidak memiliki anak. Nurmi lahir pada 1960.

Nurmi menemani Mangaweang selepas dari masa jabatan pertama kepala desa, hingga terpilih kembali pada 1993. Dan selepas tahun 2000-an, saat suaminya tidak lagi menjabat kepala desa, sementara anak-anaknya mulai membutuhkan biaya sekolah, Nurmi mengibaratkan saat itu sebagai periode sulit.

Nenekmu ini orangnya tidak banyak pusing. Dia tenang. Tapi tenangnya mi itu yang bikinka biasa jengkel.”

“Kalau anak-anak mau bayar sekolah, saya biasa meminjam dulu. Nanti kalau sudah panen, baru diganti.”

Saya cukup kaget mendengar kisah ini karena, lazimnya, seorang kepala desa merupakan simbol yang punya akses kekuasaan dan kekuatan di tingkat kampung. Nurmi tertawa mendengar kekagetan itu, “Saya bersyukur sekali karena nenekmu nda ambil ji punya orang. Atau ambil uang salah.”

Bagi Mangaweang, memiliki harta yang bukan haknya adalah dosa.

Pada 1982, ketika pengerjaan jalan utama Parepare—Palopo, material batu dan pasir diambil dari sungai Buntu Barana. “Ada ratusan kubik yang diangkut,” kenangnya. “Pemborongnya berkata, kamu mau apa?”

Saya bilang, “Cukup kalian buat jalan yang menembus ke kampung Tammalumu supaya tidak memutar jauh ke Murante.”

Dan kini akses jalan itu menjadi poros utama yang menghubungkan Kecamatan Suli dan Suli Barat.

 

DI HUTAN, MANGAWEANG dijuluki Bung Batii. Itu ketika ia menderita penyakit cacar pada 1952. Badannya berair karena tubuhnya melepuh. Ia tak mampu bergerak selama dua bulan.

Cacar, atau dalam bahasa lokal Luwu adalah sagala’, menjadi salah satu penyakit menakutkan. Sebelum vaksin cacar sampai ke pedalaman, para dukun mengobatinya dengan memandikan pasien dengan air kelapa dicampur kunyit. Orang-orang yang terinfeksi tidak dibolehkan mandi dalam waktu tertentu.

Jika pasien mengidap cacar yang parah berakibat kematian. Dan jika berhasil sembuh, biasanya meninggalkan bekas luka bahkan menjadikan seseorang cacat fisik.

Untuk Mangaweang, bekas penyakit itu berupa bintik-bintik hitam menyebar badan. Kepalanya pun menjadi botak.

“Waktu saya sembuh, saya jalan-jalan, saya ketemu keluarga jauh, dia nda kenal saya,” katanya.

Sapaan “bung” dalam periode gerakan Islam Kahar Muzakkar menjadi sesuatu yang lumrah. Kahar menginginkan semua sekat sosial dan derajat kebangsawanan dihilangkan untuk membuat orang sama rata. Kahar membenci feodalisme. “Di dalam hutan, tidak ada orang dipanggil Opu, Andi, Karaeng, Puang, atau Bau’,” kata Mangaweang, mengenang. “Kahar panggil kami ‘Bung’, atau kalau pribadi, dia bilang ‘saudara.’”

100 Tahun
Rumah Mangaweang di Desa Buntu Barana, Kecamatan Suli Barat, Kabupaten Luwu. (Project M/Eko Rusdianto)

 

MANGAWEANG MENGUSAP MATANYA. Ia pamit untuk menunaikan salat asar. Baginya salat adalah cara terbaik untuk selalu mengingat Tuhan dan kematian. Juga cara terbaik untuk mendoakan banyak orang.

“Itu takdir, rahasia Tuhan,” katanya menjawab rahasia usia panjangnya. “Saya tidak tahu kenapa Tuhan kasi saya umur panjang. Biasa orang datang sama saya, bertanya apa rahasia hidup lama. Saya juga tidak tahu.”

“Sejak dulu saya sudah selalu siap mati. Siap.”

Perbincangan tentang kematian adalah perihal begitu personal. Pada Oktober 2021, saat anak pertamanya dari istri pertama, berusia 62 tahun meninggal dunia, ia terpukul. Ia menangis tersedu di kamar. Ia mengenang buah hatinya yang lahir saat masa pergolakan.

Mangaweang menundukan kepalanya. Memalingkan wajahnya dengan dingin. Ia mematung. Diam beberapa saat.

Itu kehilangan keduanya. Kehilangan pertama saat tahun 1960-an anaknya yang masih bayi meninggal.

“Waktu mamak saya meninggal, sakit juga. Tapi lain rasanya kalau anak yang meninggal. Susah bilangnya.”

Nurmi menengahi pembicaraan kami. Ia bilang suaminya saat berdoa lama sekali. “Saya bilang, ada doa untuk semua orang. Nda perlu menyebutkan satu-satu nama keluarga.”

Tapi, Mangaweang punya alasan lain. Baginya, kesehatan dan ingatannya yang baik harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Doa nama-nama orang dekatnya harus disebutkan satu per satu. Memulai dari orang tua, istri, anak-anaknya, keponakan, cucu, keluarga lain, hingga mendoakan keselamatan bangsanya.

“Jadi kalau dia sudah sembahyang magrib, biasanya doanya belum selesai, sudah masuk waktu isya,” kata Nurmi.

“Mungkin Tuhan kasi saya umur panjang untuk mendoakan orang-orang,” kata Mangaweang.

 

BAGAIMANAPUN USIA PANJANG telah membawa Mangaweang mencintai hidupnya. Ia menikmati setiap cerita dengan suka cita. Meski demikian, ia adalah orang di kampung yang paling banyak melihat kematian sekaligus kelahiran.

Ia melihat perubahan desanya, dengan pandangan teliti. Desanya begitu sejuk hingga tahun 1980-an. Ada beragam burung hinggap di pepohonan. Sumber makanan dari sungai  melimpah.

“Jam delapan sampai jam sepuluh pagi,” katanya, “orang masih pakai sarung keluar rumah karena masih dingin. Sekarang jam lima subuh, sudah buka baju karena panas.”

Selain berjemur pagi, rutinitasnya yang ia banggakan kepada setiap orang adalah mandi subuh. “Saya tidak sembahyang subuh kalau tidak mandi,” katanya. “Mandi subuh bikin segar.” Lagi-lagi ia mengingat patronnya. Panglima Kahar Muzakkar menginginkan anak buahnya harus bersih tatkala menunaikan salat.

“Coba kau mandi subuh-subuh, setiap hari itu enak”.

Auuu, tae dibela olai tu. Anu massussa ake tau ondi. Appa begadang ri mawatang.” Ah, susah sekali itu dilakukan, karena itu akan ribet untuk anak muda sekarang, karena kita ini suka begadang, kata Huseri.

Huseri adalah kerabatnya. Ia berusia 38 tahun. Baginya, Mangaweang adalah orang tua tempat bertanya segalanya, dari perkara menyelesaikan sengketa hingga meminta nasihat. “Penjaga kampung,” katanya. “Ia bisa membantu mengobati penyakit yang tidak bisa didapatkan dokter.”

Mangaweang menurut banyak orang bukanlah orang biasa. Ia mengerti ilmu klenik. Tapi, Mangaweang menampiknya. “Saya itu belajarnya mengaji saja. Sembahyang menjadi paling penting.”

Nda adami baca (ilmu) paling bagus dari itu.”

Tapi, Mangaweang juga adalah kisah jenaka. Saat masih sehat dan bisa berkeliling kampung, ia bakal senang bermain domino hingga tertidur. Ia berseloroh jika ia selalu memiliki jiwa muda. “Kalau fisik, sudah tua, tapi kepala, kan, bisa muda.” Ia tertawa.

Mangaweang. (Project M/Eko Rusdianto)

Ia mengenang pernikahan pertamanya.

Awal 1950-an, ia berencana menjadi nelayan. Ia akan ikut berlayar dengan lambo, jenis kapal besar mirip phinisi, yang telah selesai dibuat di kampung Babang, pesisir Larompong. Pemilik kapal telah menerimanya. Namun, ketika pulang ke Buntu Barana, ia kaget melihat beberapa orang menumbuk padi di halaman rumah.

Seorang paman menyarankannya menikah. Tapi ia menolak. Pamannya berkata kalau ia tetap menolak, ia dilarang pulang ke rumah lagi. Maka, ia pun menerimanya.

Tapi, sesudah menikah, ia justru menikmati suasananya. “Saat menjadi pengantin baru,” katanya sambil tersenyum dengan tawa pelan, “adalah yang paling menyenangkan.”

Di sinilah Mangaweang. Ia bersandar di kursi ruang tamu. Pintu rumahnya terbuka lebar, menghadap hamparan padi menguning. Jika kamu berkunjung ke kampung Buntu Barana, kamu mungkin melihat seorang tua berjemur matahari pagi, dari jam 6 sampai jam 9, ditingkahi kicau burung kutilang di ranting-ranting pohon mangga depan rumah. Ia akan membiarkan cahaya pagi pelan-pelan menyentuh kulit dan menghangatkan tulang. Ia biarkan kulitnya terbakar berwarna cokelat gelap. Ia biarkan tubuhnya mengeluarkan keringat di lengan, bahu, dada, wajah, dan keningnya. Lalu ia akan memamerkan lengannya.

Maballo ngasang pa,” katanya. Semuanya masih sehat.


Editor: Fahri Salam

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!