Polisi dalam Pengeroyokan dan Pembunuhan Warga Pejompongan pada Demonstrasi 27 Agustus 2026

BBC News Indonesia dan Suara.com
23 menit
Anggota Polri dalam gerombolan hitam-hitam pengeroyok Fatur dan Bambang. (Project M)

Investigasi kami menelusuri setidaknya 12 pelaku pengeroyokan diduga adalah aparat kepolisian Indonesia. Di antara mereka membawa tanda pengenal dan borgol plastik merah.

Laporan ini merupakan liputan kolaborasi Project Multatuli, BBC News Indonesia, dan Suara.com.

* * *

“BAWA! BAWA! BAWA!”

Bambang Setiawan, warga Pejompongan berumur 60 tahun, dikeroyok dan diseret dan dibunuh oleh gerombolan berpakaian hitam-hitam.

Gerombolan dengan penampilan serupa itu juga mengeroyok Faturrohman, remaja 18 tahun yang sedang duduk di gang rumahnya. 

Fatur diseret ke DPR, disiksa, dan dipaksa mengaku sebagai “provokator”, lalu dibawa ke Polda Metro Jaya. 

Pengeroyokan Fatur dan Bambang terjadi selang 30 menit, antara pukul 23.00 dan 23.30 pada 27 Agustus 2026, menurut kesaksian warga sekitar Pejompongan. 

Di media sosial, narasi yang mengemuka adalah para pelaku pengeroyokan dari ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, kelompok kekerasan informal yang dikenal dekat dengan lingkaran Presiden Prabowo Subianto.

Orang-orang GRIB memang turun ke jalan pada Kamis malam itu, dipimpin oleh ketuanya Hercules alias Rosario de Marshall, eks paramiliter binaan tentara Indonesia di masa pendudukan Timor Leste.

Sejumlah video di media sosial merekam massa GRIB mengejar dan memukuli demonstran secara membabi buta di sekitar Slipi, Jakarta Barat.

Sebaliknya, lokasi kekerasan terhadap Fatur dan Bambang berada di Jl Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, atau sekitar 2 km dari lokasi terakhir massa GRIB terekam.

Tanpa menampik kekerasan oleh ormas GRIB, kami menemukan kelompok lain yang disinyalir pelaku pengeroyokan Fatur dan pembunuhan Bambang. 

Mereka diduga adalah aparat kepolisian.  

Anggota Polri dalam Rombongan Pengeroyok Fatur dan Bambang

Pada 27 Agustus 2026, orang-orang berpakaian sipil hitam-hitam ini berada bersama aparat polisi berseragam dan tersebar di beberapa titik demonstrasi. 

Mereka berada di dekat flyover Gerbang Pemuda (mal Senayan Park); di sekitar gedung DPR; dan di sekitar Pejompongan Raya. Mereka mengenalkan diri dari Polda Metro Jaya. 

Mereka punya wewenang memeriksa barang-barang yang dibawa demonstran, menggeledah ambulans, hingga menciduk demonstran. Mereka punya akses keluar-masuk gedung DPR.

Setidaknya 12 pengeroyok Fatur dan Bambang berkumpul dengan para polisi pada siang, sore, dan malam hari. Mereka terlihat di dekat kolong jembatan Senayan Park Mall, sekitar DPR, dan di dalam kawasan parlemen.

Sebelum pengeroyokan, mereka bersama polisi berseragam melakukan pengawasan, memberikan arahan, hingga menangkap massa demonstrasi. 

Penelusuran kami menemukan salah satu pelaku pengeroyokan adalah anggota Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. 

Ada tiga video di media sosial yang kami dapatkan, yang sudah kami verifikasi silang dengan beragam sumber, yang merekam pengeroyokan Faturrohman dan Bambang Setiawan. Ia terdiri dari satu video kekerasan terhadap Fatur; dan dua video pengeroyokan terhadap Bambang.

Karena kekerasan terjadi pada malam hari dengan penerangan sekitar yang seadanya, rekaman video itu tidak cukup baik mengidentifikasi wajah para pelaku. 

Maka dari itu kami memakai jalur identifikasi lewat tampilan luar yang melekat pada para pelaku; entah ciri pakaian, topi yang dipakai, perawakan hingga perkakas yang mereka bawa; dengan memetakan pergerakan mereka dan mencocokkan dengan ciri-ciri khas tersebut.

Pengeroyokan Fatur 

Dua di antara gerombolan pengeroyok Fatur sebelumnya tampak berada di sekitar persimpangan flyover Gerbang Pemuda menuju Senayan Park Mall (dari arah DPR/MPR RI).

Satu orang memakai topi navy dengan visor merah, yang kami namakan OTK 1. Sementara satu orang lainnya mengenakan kaus hitam dengan tulisan “The World is Full of Hope”; ia terlihat membawa tali merah (yang kami identifikasi borgol plastik); kami menyebutnya OTK 2. 

Keduanya berada di dalam gerombolan sedang memberikan arahan ke atas jalan layang (tempat Brimob berjaga-jaga) dan mengatur lalu lintas. Di dekat mereka aparat polisi berseragam.

Dalam video pengeroyokan Fatur, OTK 1 membawa tongkat kayu dan membiarkan Fatur diseret dan ditendang sambil mengawasi situasi sekitar. Sementara OTK 2 menendang Fatur. 

Foto pertama penampakan OTK 1 dan OTK 2 di persimpangan flyover Gerbang Pemuda; foto kedua dan ketiga penampakan mereka saat pengeroyokan Fatur. (Sumber: TikTok @musikvfhxw7 dan Istimewa)

Di video pengeroyokan itu terekam juga satu orang mengenakan pakaian hitam, celana abu-abu muda, dan topi bucket coklat yang ditekuk. Kami menamakannya OTK 3. Ia membawa tongkat rotan dan menendang wajah Fatur. 

Sebelumnya, OTK 3 terlihat di sekitar DPR. Ia bersama rombongan hitam-hitam lain menciduk seorang demonstran lalu membawanya ke depan pagar DPR yang dikelilingi para polisi berseragam.

Foto pertama penampakan OTK 3 saat menciduk demonstran di depan DPR; foto kedua saat dia di lokasi pengeroyokan Fatur. (Sumber: Suara.com dan Istimewa)

Satu orang lain memakai kaus hitam bersablon motif di bagian punggung, bertopi gelap, dan membawa ransel merah. Ia terlihat berada di dalam kawasan parlemen DPR. Kami menamakannya OTK 4. 

OTK 4 bersama rombongan menciduk, menyeret, dan menggebuk seorang laki-laki yang belakangan diketahui intel TNI. Video yang sama menunjukkan dia melempar sesuatu dari area dalam parlemen ke arah massa di luar pagar.

Di video pengeroyokan Fatur, OTK 4 (mengalungkan tanda pengenal) tampak membawa tongkat kayu dan menendang Fatur.

Foto sebelah kiri adalah OTK 4 menyeret masuk intel TNI ke dalam gedung DPR; dua foto di sebelah kanan adalah penampakannya saat pengeroyokan Fatur. (Sumber: Sindo News dan Istimewa)

Ada juga OTK 5 dengan ciri-ciri memakai topi putih dan jaket navy dengan tulisan berwarna m

erah (tidak terbaca) di punggungnya. Pada malam hari, OTK 5 berada di depan gedung DPR, berkumpul dengan kelompok berpakaian hitam-hitam dan polisi berseragam.

Foto OTK 5 diposting oleh akun TikTok @sh444zi. Akun diduga milik anggota Polri ini memposting juga foto-foto dalam gedung Resmob Unit III Polres Metro Jakarta Pusat.

Di video pengeroyokan Fatur, OTK 5 menyeret Fatur dan memisahkannya dari seorang tim medis yang berupaya menyelamatkan korban. 

Foto pertama OTK 5 tampak berkumpul dengan aparat kepolisian di depan DPR; foto kedua dan ketiga OTK 5 sedang menyeret Fatur. (Sumber: TikTok @sh444zi dan Istimewa)

Pengeroyokan Bambang

Kami mengidentifikasi OTK 6 dengan ciri-ciri memakai kaus hitam, celana dan topi krem, juga semacam sleeve tattoo di kedua lengannya. 

Pada sore hari, orang dengan ciri-ciri seperti OTK 6 tampak di depan Jl Pejompongan. Ia bersama aparat berpakaian hitam lainnya sedang mengejar massa pelajar menjauhi kolong jembatan Pejompongan yang menuju gedung parlemen. 

Saat pengeroyokan Bambang, ia bersama kelompok pengeroyok dan menyaksikan Bambang diseret. 

Foto pertama adalah OTK 6 sedang mengejar massa pelajar bersama kelompok aparat berpakaian sipil lain; foto kedua OTK 6 tengah menyaksikan pengeroyokan Bambang. (Sumber: TikTok @videoasik27 dan Istimewa)

Ada juga OTK 7 berada di kerumunan menyaksikan Bambang dikeroyok dan diseret. Sebelumnya, ia terlihat di kolong jembatan Pejompongan bersama rombongan kepolisian berpakaian sipil, di antaranya memakai kaus bertuliskan “POLISI”. Mereka menghadapi massa pelajar yang melempari petasan. 

Foto pertama OTK 7 terlihat di kolong jembatan Pejompongan bersama aparat kepolisian; foto kedua dia menyaksikan pengeroyokan Bambang. (Sumber: Tribunnews dan Istimewa)

Selain itu, ada OTK 8 dengan penampilan memakai kaus band metal abu-abu dengan sablon merah dan putih, serta topi hitam berlogo putih. 

OTK 8 terlihat dalam barisan briefing dengan anggota polisi lain dalam video yang diunggah akun TikTok @bang_naga2010 milik Kanit 1 Subdit 2 Ditressiber Polda Metro Jaya Kompol Immanuel Sinaga. 

Video berisi kompilasi foto itu menampilkan Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Kombes Raden Bagoes Wibisono Handoyo Koesoemah sedang memimpin briefing.

Di video pengeroyokan Bambang, OTK 8 membawa tongkat kayu menunjuk ke arah korban yang diseret dan meneriakkan, “Bawa! Bawa! Bawa!”

Foto pertama OTK 8 sedang briefing bersama aparat kepolisian lain di depan Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya; foto kedua dan ketiga dia berada di lokasi pengeroyokan Bambang. (Sumber: TikTok @bang_naga2010 dan Istimewa)

Ada juga OTK 9 memakai kaus hitam berlogo tengkorak dengan bordir tepi merah. Ia terekam lewat unggahan akun Instagram @kompi8pmj, berada di belakang pasukan Samapta Bhayangkara (Sabhara) bersama gerombolan hitam-hitam lain.

Di lokasi kekerasan terhadap Bambang, ia tampak sekilas menyaksikan pengeroyokan. 

Foto pertama OTK 9 berada di belakang pasukan Sabhara bersama gerombolan berpakaian hitam; foto kedua dia menyaksikan pengeroyokan Bambang. (Sumber: Instagram @kompi8pmj dan Istimewa)

Selain itu, ada OTK 10 dengan penampilan memakai topi putih, kaus lengan panjang abu-abu, celana hitam, dan masker merah kecoklatan. Sebelumnya, ia bersama rombongan hitam-hitam lain terekam di jalan tol depan DPR menuju arah Pejompongan pada malam hari, berteriak ke demonstran, “Balik! Balik!”

Orang dengan ciri yang sama tampak dalam video pengeroyokan Bambang, berlari di samping gerombolan yang menyeret Bambang. 

Foto pertama OTK 10 tampak di seberang DPR bersama rombongan hitam-hitam mengusir massa membubarkan diri; foto kedua dia berada di lokasi pengeroyokan Bambang. (Sumber: Istimewa)

Kelompok pengeroyok yang sama 

Kami menduga pelaku pengeroyokan Fatur dan Bambang adalah kelompok yang sama. 

Seseorang yang kami sebut sebagai OTK 11 dan OTK 12 terekam dalam pengeroyokan Fatur dan Bambang. 

OTK 11 mengenakan kaus hitam dengan sablon putih, biru, dan kuning di bagian punggung; OTK 12 memakai topi serta kaus hitam dengan tiga garis putih di kedua lengan. 

OTK 11 tampak berkumpul dengan gerombolan aparat kepolisian berpakaian hitam-hitam dan bertuliskan “POLISI” di sekitar DPR ketika langit masih terang. Ia juga berada di kolong jembatan Pejompongan bersama aparat kepolisian pada malam hari.

Dua foto di sebelah kiri OTK 11 tengah berkumpul bersama aparat kepolisian di belakang gedung DPR (Jalan Gelora) dan di bawah flyover Pejompongan. Dua foto di sebelah kanan dia berada di antara kerumunan pengeroyokan Fatur dan Bambang. (Sumber: Radar Jogja, Tribunnews, dan Istimewa)

Sementara OTK 12, pada siang atau sore hari, terekam berada di depan DPR sedang menciduk seorang massa bersama OTK 3 dan kelompok aparat berpakaian sipil lainnya. Mereka membawa demonstran itu ke depan pagar parlemen. 

Di video pengeroyokan Fatur, OTK 12 menyerukan sesuatu; di video pengeroyokan Bambang, ia menyaksikan dan membiarkan Bambang diseret. 

Foto pertama dan kedua OTK 12 bersama aparat kepolisian menciduk demonstran di depan DPR. Foto ketiga dan keempat dia tampak di lokasi pengeroyokan Fatur dan Bambang. (Sumber: Suara.com dan Istimewa)

Kami menelusuri wajah OTK 12 lewat internet dan berdasarkan tiga sumber pemberitaan, dia diduga anggota Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. 

Penelusuran dan temuan ini sudah kami konfirmasi ke Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, lewat surat elektronik Humas PMJ pada 25 September maupun surat tertulis via kurir ekspedisi pada 28 September. Tapi, upaya meminta tanggapan dari Kabid Humas PMJ belum direspons sampai artikel ini diterbitkan.

Aktivitas Aparat Berpakaian Sipil di DPR dan Pejompongan

Lampu penerangan segera dimatikan setelah polisi-polisi bertameng dan kelompok berpakaian hitam-hitam keluar dari gerbang utama DPR.

Saat itu jam 7 malam dan pasukan polisi memaksa demonstran yang tersisa membubarkan diri. Sambil mengejar dan menenteng tongkat kayu, mereka meneriaki para pendemo, “Bubar! Bubar! Bubar!” 

Video lain merekam kelompok aparat berpakaian sipil bersama polisi berseragam membubarkan massa. Salah satunya membawa senter. Satu orang lain mengejar dan melemparkan tongkat kayu ke arah massa. 

Aparat kepolisian berpakaian sipil terekam menggebuk demonstran pakai tongkat dan menendangnya di sekitar DPR sambil berteriak, “Balik! Balik!”

Seorang pendemo sempat mengunggah video, yang kemudian dihapus sepihak oleh platform TikTok, lalu diposting ulang di akun Instagram. 

Di video itu, ia hendak mendekati dan menyelamatkan seseorang di sekitar DPR yang digebuki dan berteriak meminta tolong. Pelaku pengeroyokan terekam berpakaian hitam-hitam.

Si pembuat video gagal menyelamatkan korban; dia harus lari karena dikejar para pengeroyok yang membawa tongkat rotan dan rantai.

Ia berkata kejadian itu berlangsung sekitar pukul 19.30. Orang-orang yang menggebuk korban, katanya, “intel kepolisian” tanpa seragam. 

“Kenapa saya bilang intel? Karena pas kejadian itu baru mulai kerusuhan. Ormas belum ada. Dia berdampingan dengan polisi yang bertameng. Pas saya mau dekati, ada intel yang bawa rantai mau tangkap saya,” tulisnya.

Kami berusaha mewawancarai si pemilik akun; dia sempat mengiyakan tapi tidak merespons lagi.

Di Pejompongan, warga setempat mengatakan polisi berpakaian hitam-hitam sudah berjaga sejak pukul 15.00.

Warga mengetahui mereka adalah polisi karena ada yang membawa kartu identitas dan memakai kaus berkerah hitam bertuliskan “POLISI” di bagian punggung. Ada juga yang memegang handy talky. 

“Saya perhatikan yang datang siang itu memang aparat. Kalau malam, tidak tahu,” kata seorang warga yang kami wawancarai. “Ada sekitar 50 orang. Pakai baju preman semua. Bilangnya mereka polisi.”

Selain itu, ketika massa pelajar berdatangan, beberapa polisi mengimbau warga menepi dari jalan, tambahnya.

Warga menyaksikan gerombolan polisi berjaga di kolong jembatan Pejompongan, Bank BNI, dan di sebelahnya gedung Badan Pemeriksa Keuangan. Pada sore hari gerombolan itu menghalau massa pelajar yang datang dari arah Jalan Penjernihan menuju DPR. 

Dari dua video yang tidak bisa kami identifikasi waktu persisnya, kelompok hitam-hitam di Pejompongan menghajar demonstran lain sebelum pengeroyokan Fatur dan Bambang. 

Video pertama merekam gerombolan berpakaian hitam-hitam menghadapi massa pelajar di jajaran ruko bingkai cermin yang salah satunya milik Bambang. Seorang demonstran dibekuk dan dikeroyok. Suara yang terekam, “Polisi itu yang hitam-hitam.”

Video kedua menunjukkan gerombolan berpakaian hitam-hitam berteriak ke massa pelajar, “Ambil! Ambil! Satu! Satu!” 

Klaster Para Pengeroyok

Kami memetakan setidaknya ada dua klaster kelompok aparat polisi tanpa seragam yang mengeroyok Bambang dan Fatur di Pejompongan. 

Satu kelompok berjaga di sekitar Pejompongan sejak sore hari; satu kelompok lain sebelumnya berjaga di sekitar DPR.

Di antara mereka ada yang berjalan menuju Pejompongan menyeberangi jalan tol depan DPR, sambil membubarkan massa. 

OTK 12 tampak berjalan bersama OTK 3, OTK 10, dan Kanit II Reserse Mobile (Resmob) Polda Metro Jaya, AKP Fechy Jowiberthi Ataupah.  

Pergerakan OTK 3, OTK 10, dan OTK 12 dari depan menuju seberang DPR bersama Kanit Reserse Mobile Polda Metro Jaya. (Sumber: TikTok @melanesianwildboar (fechyataupah), Istimewa, Google Earth)

Rekaman CCTV menunjukkan rombongan aparat berpakaian sipil hitam-hitam, beberapa memakai kaus bertuliskan “POLISI” di bagian punggung, dan beberapa tampak dalam video personel Siber Polda Metro Jaya, berjalan di Jl Gerbang Pemuda menjauhi Senayan Park Mall sekitar pukul 20.00. Jalur ini menembus ke Jalan Gelora (belakang DPR) dan menuju Pejompongan. 

Pada pukul 21.30, kelompok aparat berpakaian sipil berada di kolong jembatan Pejompongan. Mereka berhadapan dengan massa pelajar yang melempar petasan. Aparat memprovokasi massa, “Lagi! Lagi!” Selain itu, mereka membawa laser hijau diarahkan ke massa. 

Pergerakan rombongan Siber Polda Metro Jaya dari depan DPR sampai ke Jalan Gelora (belakang DPR). (Sumber: TikTok @bang_naga2010, CCTV Pemprov (di-posting oleh akun Youtube @AkbarYahya), Google Earth)

Kami mengidentifikasi OTK 7 dan OTK 10 berada di antara gerombolan di kolong jembatan Pejompongan; keduanya juga berada di lokasi pengeroyokan Fatur.

Anggota Polda Metro Jaya bahkan secara terbuka memposting kegiatan polisi berpakaian sipil hitam-hitam di sekitar DPR dan Pejompongan pada 27 Agustus 2026.

Kompol Indah Hartantiningrum, Kasubdit 1 Direktorat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya, melalui akun Instagram @indahhh2009, menunjukkan hingga malam hari bersama rombongannya berjaga di belakang flyover Pejompongan menuju Jl Pejompongan Raya.

Ada juga Kompol Immanuel Sinaga, yang tercatat per Mei 2026 sebagai Kanit 1 Subdit 2 Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya. Ia memposting lewat akun TikTok @bang_naga2010 merekam aktivitasnya dari siang hingga malam bersama rombongan berpakaian hitam-hitam di sekitar DPR dan Pejompongan Raya.

Penampakan OTK 8 mirip dengan ciri-ciri salah satu anggota kelompok dalam video yang diposting oleh Immanuel Sinaga. Ia tampak dalam barisan melakukan briefing bersama Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya Kombes Raden Bagoes Wibisono Handoyo Koesoemah. 

Kami tidak tahu persis pukul berapa rekaman itu dibuat, tapi Immanuel Sinaga mengunggah fotonya berada di Pejompongan Raya pada malam hari, hanya beberapa meter dari lokasi pengeroyokan Bambang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto belum merespons upaya konfirmasi kami mengenai dugaan keterlibatan anggotanya. 

Persebaran personel kepolisian di dekat TKP pengeroyokan Fatur dan Bambang pada malam 27 Agustus 2026. (Sumber: Instagram @indahhh2009, Tribunnews, TikTok @bang_naga2010, Google Earth)

Membawa HT, Tanda Pengenal, dan Borgol Plastik

Seorang saksi mata melihat Bambang Setiawan dipukuli ramai-ramai dengan tongkat kayu. Salah satu pelakunya membawa handy talky.

Bambang terlihat terkapar di badan jalan. Tapi si saksi mata tak bisa menolong. Polisi di sekitar menembakkan gas air mata. 

“Saya langsung ke belakang. Ke pos RW Petamburan. Nggak kuat,” katanya.

Tubuh Bambang dibawa ke RS TNI AL Dr. Mintohardjo di bilangan Bendungan Hilir, rumah sakit terdekat dari lokasi pembunuhan itu. 

Yoga, putra bungsu Bambang, berkata ayahnya sudah meninggal saat dibawa ke RS Mintohardjo. 

“Bapak pas masuk sudah dalam keadaan tidak bernapas. Kata dokternya begitu,” ujarnya.

Pihak RS Mintohardjo tidak menjawab upaya konfirmasi kami hingga artikel ini dirilis.

Faturrohman berkata pelaku pengeroyokan mengaku dari “intel DPR”. Fatur diseret hingga ke dalam gedung DPR melalui gerbang belakang Manggala Wanabakti. Di sana, ia disiksa dan dipaksa mengaku “provokator”.

Ketika azan Subuh berkumandang, Fatur dibawa ke Polda Metro Jaya. 

Dari rekaman video yang sudah kami verifikasi, beberapa di antara pelaku mengalungkan tanda pengenal dengan sebuah logo di tengah-tengahnya, dimasukkan ke dalam holder berbahan plastik. Bentuk tanda pengenal ini tampak serupa dengan yang dipakai anggota kepolisian Polda Metro Jaya.

Beberapa di antara pelaku juga tampak membawa tali merah. Kami mencocokkannya dengan video-video lain dan menemukan kabel merah itu mirip borgol kabel tis sekali pakai. 

Perbandingan bentuk tanda pengenal rombongan pengeroyok Pejompongan (dua foto pertama) dengan yang dipakai aparat kepolisian. (Sumber: Istimewa dan Instagram @indahhh2009)

Rekaman video dari sebuah akun TikTok menunjukkan borgol plastik merah dipakai untuk mengikat tangan orang-orang yang ditangkap polisi.

Sepanjang 2025-2026, Polri melakukan empat kali pengadaan “borgol plastik” (selain dari pengadaan luar daerah). Satuan yang belanja borgol tis plastik itu dari Bareskrim Polri senilai Rp51,5 M; Rolog Polda Metro Jaya Rp35,9 M; Korbrimob Polri Rp44,1 M; dan Korsabhara Baharkam Polri Rp24,1 M. 

Keempatnya membeli dari penyedia yang sama, yaitu PT Sekawan Abadi Nusantara. Berdasarkan e-katalog INAPROC, platform pengadaan barang dan jasa pemerintah Indonesia, perusahaan berbasis di Jakarta Selatan itu hanya mengadakan borgol plastik berwarna merah. 

Borgol plastik yang dibawa rombongan pengeroyok (foto pertama) dengan yang dipakai aparat kepolisian untuk mengikat massa (foto kedua), serta yang dibeli kepolisian lewat INAPROC (foto ketiga). (Sumber: Istimewa, TikTok @arie_genks, katalog INAPROC)

Polri menerjunkan 18.504 personel kepolisian untuk “mengamankan” demonstrasi 27 Agustus 2026, tapi tidak merinci satuan dari mana saja dan berapa jumlah personel yang yang menyamar sebagai intel/sipil.

Peraturan Kapolri mengatur secara terbatas anggota polisi dibolehkan berpakaian sipil atau tidak berseragam.  

Pasal 7 ayat 3 dalam Perkap Polri No. 6/2018 tentang pakaian dinas pegawai negeri Polri menetapkan anggota polisi berpakaian bebas diizinkan untuk satuan kerja reserse kriminal, intelijen keamanan, pengamanan internal, divisi hubungan internasional, dan Detasemen Khusus 88 Anti-teror.

Meski begitu, Perkapolri No. 1/2009 tentang penggunaan kekuatan tindakan polisi mengatur bagi anggota dalam penugasan tersebut harus dapat diidentifikasi sebagai polisi dengan memakai seragam, jaket bertuliskan “POLISI”, kendaraan bertanda polisi, lencana, hingga memperkenalkan diri sebagai polisi.

Selepas peristiwa pembunuhan Bambang Setiawan di Pejompongan, Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka berinisial DS, 33 tahun;  DDS, 29 tahun; dan FP, 23 tahun.   

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyebut ketiga tersangka itu pekerja harian lepas. 

“Para pelaku merasa terganggu dengan peristiwa yang terjadi saat mereka bersama-sama melintas, karena kebetulan para pelaku ini mencari nafkah di sekitaran atau area tempat kejadian perkara. Kemudian sedang terjadi kerusuhan, mereka ikut serta di dalam kerusuhan itu sendiri,” klaim Iman.

Polda Metro Jaya tidak menampilkan ketiga wajah tersangka dalam konferensi pers pada 12 September 2026. Ketiganya memakai masker penutup wajah atau balaclava. 

Polisi mengklaim proses penyidikan sudah menempuh metode “scientific crime investigation”. Di antaranya membuat dua sketsa wajah terduga pelaku yang diklaim berdasarkan keterangan sejumlah saksi dan hasil analisis rekaman CCTV di sekitar lokasi pembunuhan. 

Polisi berkata Bambang Setiawan dievakuasi oleh tim kesehatan Polda Metro Jaya ke RS TNI AL Mintohardjo. Polri juga mengklaim baru melakukan evakuasi setelah situasi dinilai aman.

“Jadi, berawal dari ada informasi masyarakat kepada pihak kepolisian, kami mengetahui bahwa di lokasi itu masih terjadi kerusuhan, sehingga Polri menghitung evakuasi tersebut aman bagi petugas,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto.

Tim kolaborasi telah mengajukan permohonan tanggapan ke Budi Hermanto atas temuan-temuan laporan kami. 

Pada 25 September, kami mengirimkan surat elektronik ke alamat [email protected], tapi hingga 28 September pukul pukul 17.00, email tidak berhasil terkirim dengan keterangan “kotak masuk penerima penuh”. 

Kami juga mengirimkan surat tertulis diantar kurir ekspedisi yang ditujukan untuk Kabid Humas Polda Metro Jaya pada 28 September dan diterima esok hari pukul 14.17 oleh petugas humas. 

Hingga artikel ini diterbitkan, upaya konfirmasi tim belum direspons oleh Polda Metro Jaya maupun Kabid Humas Budi Hermanto.

Apakah GRIB Jaya Sampai ke Pejompongan?

Kami mencoba membandingkan ukuran tongkat kayu yang dibawa massa pengeroyok dan massa GRIB. 

Massa GRIB tampak membawa tongkat dengan ukuran mencapai atau lebih tinggi dari kepala manusia. Sementara massa pengeroyok tampak membawa tongkat dengan ukuran lebih pendek—seukuran dada manusia dan setengah badan—dan lebih tipis.

Ciri-ciri tongkat kayu yang dibawa massa pengeroyok itu mirip dengan yang dibawa aparat kepolisian. 

Perbandingan ukuran tongkat yang dibawa aparat kepolisian dan anggota GRIB Jaya. (Sumber: iNews, TikTok @bang_naga2010, Istimewa, TikTok @abduljabbarafi42)

Dokumentasi di media sosial menunjukkan aparat polisi berpakaian sipil baru terlihat membawa tongkat kayu pada malam hari. Sebuah video menunjukkan mereka memegang tongkat sejak berada di dalam gedung DPR. 

Massa GRIB dikenali memakai ikat kepala putih. Rekaman video mereka membawa tongkat dan memakai ikat kepala putih beredar luas di media sosial saat memukul massa di jalan agar membubarkan diri.  

Meski begitu, saksi mata yang melihat pengeroyokan Bambang Setiawan di Jl Pejompongan berkata tidak ada pelakunya mengenakan ikat kepala putih. 

“Ikat kepala putih di arah sini nggak ada,” ujar saksi mata yang kami temui. “Yang video viral itu di sini nggak ada. Pakai ikat putih tuh nggak ada.” 

Berdasarkan video yang beredar di media sosial, kami memetakan jalur pergerakan massa GRIB pada malam hari 27 Agustus.

Sekelompok massa GRIB dengan ikat kepala putih tampak berkumpul di kantor DPP GRIB Jaya di Kedoya, Jakarta Barat.

Pada 20.52, kelompok ini terekam video Jasamarga masuk ke tol Kebon Jeruk membawa bambu. Gerombolan ini tampak terdiri dari 7 truk engkel, 1 pikap, beberapa mobil dan motor.

Sekitar pukul 21.00, massa GRIB tampak di dekat RS Harapan Kita, tepatnya di Jalan Kota Bambu Utara, Palmerah. Mereka beriringan dengan Brimob yang ikut mengacungkan tangan ketika massa GRIB berseru, “Jaga, jaga, jaga Jakarta. Jaga Jakarta sekarang juga.”

Sekitar pukul 21.30, rombongan GRIB tampak berhenti di jembatan layang Slipi di depan Hotel Menara Peninsula. Hercules turun dari mobil SUV, diikuti massa berikat kepala putih menenteng bambu.

Hingga pukul 22.00, GRIB tampak masih berada di sekitar wilayah tersebut.

Berdasarkan video-video itu, massa GRIB tampak melakukan kekerasan ke orang-orang sekitar.

Massa GRIB terlihat terakhir kali di titik tersebut dengan masih memakai ikat kepala putih. Titik itu berjarak sekitar 2 km atau 30 menit berjalan kaki ke lokasi kekerasan terhadap Fatur dan Bambang di Pejompongan Raya. 

Rute pergerakan GRIB Jaya. Massa berikat kepala putih ini tertangkap kamera terakhir kali di flyover Slipi dekat Hotel Menara Peninsula. (Sumber: Istimewa, Jasamarga, TikTok @abduljabbarafi42, Google Earth)

GRIB Jaya mengakui ikut turun membubarkan demonstran, tapi tidak sampai ke Pejompongan. 

“Ketua umum dan massa tidak bisa tembus sampai ke Pejompongan karena areanya tertahan di Slipi dan Polres Jakarta Barat yang lama (Jalan S. Parman). Oleh karenanya, mengaitkan kematian itu dengan GRIB sangat salah dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya,” ujar Kuasa Hukum DPP GRIB Jaya Wilson Colling pada 31 Agustus.

Untuk dapat mendalami identitas para pelaku pengeroyokan, kami membutuhkan akses rekaman beresolusi tinggi seperti CCTV. 

Kami telah mengajukan permohonan akses CCTV di beberapa titik sekitar DPR dan Pejompongan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui platform Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Jakarta. 

Per 16 September, Pemprov DKI menolak memberikan akses dengan alasan rekaman CCTV itu bersifat tertutup “untuk melindungi data pribadi yang terekam dalam CCTV”, “dapat menimbulkan penyalahgunaan penyebaran informasi”, dan “dapat mengungkap pola keamanan identitas pegawai maupun masyarakat.”

Ia juga menambahkan, “Adapun informasi terkait akses rekaman CCTV yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat terbuka apabila ada perintah/ izin tertulis dari aparat penegak hukum.”

Mengikuti Tingkah Rezim

Selain kekerasan terhadap warga sipil berujung kematian, Polda Metro Jaya menangkap 322 orang dan menetapkan 48 tersangka.

Tim Koalisi Advokasi Masyarakat Sipil Tahanan Politik (Kawal Tapol) menduga beberapa di antaranya korban salah tangkap. Seorang korban ditangkap dan mengalami kekerasan fisik oleh aparat polisi berpakaian hitam dan berbadan kekar.

Kekerasan saat demonstrasi bukan kali ini saja. Setiap ada demonstrasi, dugaan aparat bertindak represif senantiasa mengiringi.

Pelakunya adalah aparat berseragam maupun tidak.

Laporan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menerangkan saat demonstrasi menolak revisi Undang-Undang Pilkada pada Agustus 2024, lebih dari 200 orang mengalami tindak kekerasan oleh aparat di 44 titik daerah.

Kekerasan aparat mencakup pemukulan di bagian kepala, penyeretan, sampai tendangan ke peserta aksi.

Temuan YLBHI di Jakarta, Bandung, dan Makassar memperlihatkan aparat tanpa seragam terlibat menangkap peserta demo dan melakukan pengeroyokan.

Represi serupa berulang saat demonstrasi menolak revisi Undang-Undang TNI pada Maret 2025.

Di Malang, Jawa Timur, aparat melakukan penyisiran dan memukul massa secara membabi buta. Pelakunya termasuk “orang tak dikenal berpakaian hitam,” menurut Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Malang.

Saat demo menolak kenaikan tunjangan anggota DPR pada Agustus 2025, represi gila-gilaan merebak. Pengemudi ojek online Affan Kurniawan di Jakarta tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob.

Aparat berseragam maupun yang diduga tidak berseragam bertindak represif dan memukul demonstran pakai tongkat kayu, mengutip Amnesty International.

Sepanjang 2025, kepolisian menjadi institusi yang paling banyak diadukan kepada Komnas HAM, dengan total 805 aduan. Salah satu yang disorot adalah bagaimana kepolisian bekerja dalam pengamanan ketertiban umum, penyampaian pendapat, serta penggunaan instrumen hukum terhadap kritik publik.

Alasan mengapa kekerasan aparat dalam demonstrasi terus berulang dapat dijawab dengan memakai setidaknya dua perspektif, mengacu analisis Direktur Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII) Eko Riyadi.

“Yang pertama adalah saya menaruh perhatian besar soal pola pendidikan,” terangnya.

Pendidikan aparat kepolisian, secara umum, “belum polisi sipil,” imbuh Eko.

Pendidikan di institusi kepolisian dibangun untuk memperkuat jiwa korsa dan terkadang menyertakan dimensi kekerasan fisik dalam penerapannya.

Model pendidikan semacam ini dibentuk mengikuti struktur hierarki di tubuh kepolisian yang “mirip dengan militer,” jelas Eko.

Karena hierarkinya masih kental, maka tradisi pendidikannya tidak demokratis sehingga proses diskusi maupun kolaborasi amat kecil dikembangkan. Prinsipnya komando dari atas ke bawah.

Konsekuensinya, pendidikan di institusi kepolisian tidak serius mengenalkan konsep perlindungan hak asasi manusia sebagaimana tercantum lewat Peraturan Kapolri.

“Kemudian yang kedua, kita belum bisa meletakkan bahwa menyampaikan aspirasi publik itu sebenarnya adalah hak dan kebebasan warga negara, bukan gangguan keamanan,” ucap Eko.

Masalahnya, otoritas negara masih melihat demonstrasi sebagai “gangguan ketertiban dan keamanan” sehingga “pola tindakan yang diambil menjadi represif,” ujarnya.

Dalam konteks dugaan peran aparat tak berseragam formal pada kasus pengeroyokan Faturrohman dan Bambang Setiawan, Eko menilai hal itu “melanggar hukum.”

Pasalnya, dalam penggunaan seragam melekat kewajiban maupun batasan hukum tertentu mengenai apa yang boleh dan tidak dilakukan. Di samping itu, penggunaan seragam dimaksudkan agar publik dapat mengidentifikasi langsung sedang berhadapan dengan siapa.

“Kalau si orang yang menggunakan seragam formal polisi itu melakukan pelanggaran hukum, maka ketika menuntut itu juga mudah,” tandas Eko.

Maka, ketika Faturrohman dan Bambang Setiawan dihajar kerumunan “hitam-hitam”, sementara anggota polisi yang diduga berpakaian sipil tidak mengambil langkah sama sekali guna mencegahnya, Eko menilai mereka sudah melakukan “pelanggaran secara pasif.”

“Jadi, saya sangat khawatir kekerasan yang mereka lakukan itu terlembaga dan terjustifikasi secara etis, moral, maupun hukum.”

“Mereka yang melakukan kekerasan itu semacam menganggap bahwa kekerasan adalah bagian dari menjalankan tugas institusional.”

Masalahnya, pola kekerasan sistematis ini mengikuti tingkah rezim. 

Eko tidak yakin ke depan ada perubahan mendasar. Ini lantaran kepolisian merupakan cermin dari rezim kekuasaan. Kalau rezim yang ada demokratis, kepolisian mengikuti.

“Tapi, kalau rezimnya cenderung otoriter atau bahkan otoritarianistik, kita perlu khawatir polisi juga menggunakan cara-cara yang sama.”

 

Malam Terakhir Bambang Setiawan, Penjual Cermin yang Tewas Dikeroyok Gerombolan Orang Tak Dikenal

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

Liputan Terkait
BBC News Indonesia dan Suara.com
23 menit