Creative Commons License

Bermagang-magang Dahulu, Kerja, Kerja, Kerja Kemudian, Kena Kesehatan Mental Duluan: Ketika Mahasiswa Dituntut Terus ‘Produktif’

Generasi Burnout
Generasi Burnout

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Permata Adinda

23/11/2021

Ilustrasi #GenerasiBurnout. (Project M/Inez Kriya - di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

TIPS MEMBUAT CV

1. Pakai format ATS-friendly (ATS: applicant tracking system): 

  • Gunakan bahasa Inggris;
  • Gunakan jenis font yang umum (Arial, Helvetica, Times New Roman);
  • Hindari memakai gambar;
  • Gunakan judul heading yang umum, seperti education, experience, skills;
  • Di bagian deskripsi diri, gunakan kata-kata kunci sesuai deskripsi pekerjaan yang dilamar;
  • Lainnya (bisa cari sendiri di Google, kata kunci: “How to make ATS-friendly CV”)

2. Gunakan kata kunci yang bisa diukur. (contoh: “managed to grow Instagram account @… followers from XX to XXXXX”

3. Gunakan platform cek CV di internet untuk memastikan CV telah sesuai standar

4. Jalan pintas yang bisa kamu ambil: gunakan platform CV builder yang tersedia di internet yang akan memastikan CV telah sesuai standar

 

SAFINA punya teknik jitu supaya dokumen riwayat hidupnya lolos seleksi. Intinya, buatlah CV sesederhana mungkin sehingga memudahkan sistem untuk membacanya. 

Tekniknya terbukti manjur: selama semester tujuh ini, ia mendapatkan kesempatan magang tiga kali. Magang pertama kali selama Mei-Juli 2021, magang kedua Juli-Oktober 2021, dan magang ketiga Oktober 2021-Januari 2022.

Dari situ, teman-temannya meminta bantuan Safina untuk memoles CV mereka.

“Dulu, aku pakai template CV konvensional yang ada fotonya, desainnya bergambar-gambar. Nggak tembus-tembus. Sekarang, setelah pakai yang ATS-friendly, hampir selalu tembus,” katanya.

Safina telah memetakan jalur kariernya di masa depan. Setelah lulus kuliah, ia menargetkan bisa bekerja di salah satu perusahaan rintisan berstatus unicorn (valuasinya US$1 miliar) atau decacorn (valuasinya US$10 miliar) di Indonesia. Impian terbesarnya adalah mengamankan pekerjaan di salah satu perusahaan yang biasa disebut “The Big Four”, yaitu empat firma audit Deloitte, Ernst & Young, KPMG, atau PwC.

Saat ini Safina adalah mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Barat, dan ia telah mulai mengatur strategi untuk sampai ke impiannya. 

Ia kini magang di perusahaan startup berstatus unicorn. Meski tak berharap akan diangkat menjadi pekerja tetap di perusahaan ini, tapi ia yakin pengalamannya sekarang bisa menjadi bekal menjanjikan bagi kariernya.

Untuk mencapai posisi ini, jalannya tidak mudah. Safina, yang bukan dari keluarga dengan privilese mentereng, perlu magang di dua tempat lain terlebih dulu sebelum dilirik oleh perusahaan impiannya ini.

Persaingan dalam melamar magang, terutama di perusahaan-perusahaan teknologi startup terkemuka di Indonesia, terbilang ketat. Pada dasarnya, perusahaan tidak menuntut seorang mahasiswa untuk punya banyak pengalaman kerja. Pengalaman berkecimpung di organisasi dan di kepanitiaan kampus sudah cukup. Tapi, dengan tingginya tingkat kompetisi, perusahaan tentu akan mencari kandidat terbaik.

Belum ada data yang secara lengkap menjabarkan jumlah pendaftar magang di seluruh perusahaan teknologi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Tetapi, sebagai gambaran, tahun ini saja ada 16 ribu pelamar magang di perusahaan lokapasar Lazada, sementara posisi magang hanya dibuka untuk 82 pelamar. Artinya, 1 orang yang diterima bersaing dengan 195 pelamar.

Seorang pegawai HRD di sebuah perusahaan startup terkemuka yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa sebuah posisi magang dapat diperebutkan oleh lebih dari 500 mahasiswa. Ia juga berkata mahasiswa yang berkuliah di kampus prestisius dan sebelumnya telah berpengalaman magang akan menjadi nilai tambah.

“Seorang mahasiswa yang berasal dari universitas top-tier, bagus secara technical, culture fit, dan pernah magang di tempat lain, pasti akan dipilih ketimbang mahasiswa yang berasal dari universitas second tier dan nggak pernah magang di tempat lain,” jelasnya. 

Intinya yang ia bilang, persaingan magang semakin berat; ini puncak piramida. Kamu harus memulai dari bawah kecuali kamu punya privilese. Dan sekalipun kamu kuliah, yang adalah privilese sendiri, jalan kamu tak langsung mulus untuk mencapai puncak piramida.

Nah, bagi orang seperti Safina yang belum punya banyak pengalaman, ia punya dua strategi. 

Pertama, mengirimkan lowongan ke perusahaan-perusahaan yang belum terlalu mapan untuk membangun CV. Kedua, bergantung pada koneksi orang dalam—sebagaimana yang ia dengar dilakukan oleh teman-temannya yang punya privilese—entah anak atau keponakan seorang pejabat jika kamu ingin melamar di sebuah instansi pemerintahan; atau setidaknya kenalan orang dengan jabatan berpengaruh jika kamu ingin melamar di sebuah perusahaan swasta.

Safina mengandalkan opsi pertama sebagai orang yang tidak punya koneksi orang dalam.  Selama semester tujuh ini, ia memperkirakan telah mengirimkan lamaran ke sekitar 100 posisi. Ia mengirim sekitar 50 lamaran sebelum mendapatkan tawaran magang pertama kali di sebuah perusahaan startup edutech.

Sebut saja perusahaan A. Perusahaan ini fokus menawarkan pelatihan di ranah digital marketing, UI/UX, dan data science. Perusahaan rintisan ini masih berumur belia, namanya belum setenar Zenius dan Ruangguru.

Karena itu, selama magang di tempat tersebut, Safina masih mengirimkan lamaran magang ke berbagai perusahaan lain, dengan harapan pengalamannya saat itu akan membuatnya lebih dilirik perusahaan lebih terkemuka.

Bukan dia saja yang merasa “insecure” mendapatkan tempat magang yang kurang tenar. Seorang temannya bercerita diterima di sebuah perusahaan tidak terkenal dan memintanya, “Jangan bilang-bilang ke siapa-siapa kalau gue kerja di sini.”

Citra perusahaan memang bisa jadi daya tarik besar bagi kalangan pekerja. Survei Employer Branding SWA dan Hay Group pada 2017 kepada 2.500 pekerja dan mahasiswa, mendapati alasan utama seseorang mendambakan tempat kerja adalah karena citra perusahaan atau image company (24,09%); dua alasan utama lain gaji (23,01%) dan manfaat (15,47%).

 

KAMPUS Safina memang mewajibkan mahasiswa semester tujuh untuk magang. Totalnya, ada tiga satuan kredit semester atau SKS khusus untuk magang. Namun, tidak ada kewajiban magang di lebih dari satu tempat. 

Safina merasa ada tekanan sejawat (peer-pressure) yang membuatnya dan teman-temannya berlomba-lomba magang. Semakin banyak tempat magang yang berhasil ditembus, semakin baik. Semakin prestisius perusahaannya, semakin baik lagi. Dorongan untuk menjadi serba terbaik ini menumbuhkan perasaan insecure ketika teman-temannya telah mendapatkan magang di perusahaan lebih mapan.

“Kalau mereka bisa, kenapa aku nggak?” katanya.

Beberapa bulan setelah magang pertamanya, Safina lolos seleksi untuk magang di sebuah perusahaan lebih mapan. Sebut aja perusahaan B, perusahaan ini menyediakan platform merekrut karyawan dan mengembangkan karier. Di perusahaan ini, Safina magang selama lima bulan.

Selain naik level dari segi “kemapanan” perusahaan, uang saku yang didapatkannya juga naik. Di perusahaan A, Safina tidak mendapatkan uang saku. Ia juga kerap dituntut bekerja melewati jam kerja, hingga pukul 21.00. Di perusahaan B, Safina mendapatkan uang saku Rp2 juta dan uang makan siang.

Safina masih terus mengirimkan lamaran selama magang di perusahaan B. Dengan pengalaman lebih banyak, ia menyadari kesempatannya untuk dipanggil wawancara jadi lebih besar. Jika sebelumnya perlu menyebar CV ke lebih dari 50 perusahaan, kini ia hanya perlu menyebar ke 10 perusahaan. Dan, kemungkinan besar, salah satunya akan tembus.

Gayung bersambut. Safina dipanggil untuk wawancara di sebuah perusahaan ketiga, sebut saja perusahaan C, saat masih magang di perusahaan B. Ia lolos seleksi. 

Sekalipun uang saku yang ditawarkan di perusahaan C lebih kecil, tapi ia merasa pekerjaannya lebih menantang. Pada saat yang sama, Safina lebih dekat dengan mimpinya untuk bekerja di sebuah startup unicorn

Memutuskan untuk mengambil kesempatan ini, Safina magang di dua tempat secara bersamaan selama sebulan, lalu melepaskan perusahaan B dan sepenuhnya magang di perusahaan C.

 

 **

TIPS WAWANCARA

  1. Percaya diri
  2. Jawab pertanyaan pewawancara dengan jujur, dengan pilihan kata yang dapat meyakinkan pewawancara.
  3. Gunakan metode STAR: specific (gambarkan situasi atau problem secara spesifik), task (deskripsikan apa tanggung jawabmu), action (jelaskan langkah-langkahmu untuk menyelesaikan masalah), and result (bagikan hasil yang telah kamu capai)

 

NABILA punya satu kata untuk jurusan kuliahnya: Bau. 

“Jurusan BAU,” katanya. Jurusan wangi menurutnya yang lulusannya akan mudah mendapatkan kerja. Kedokteran adalah salah satunya, kata Nabila. Sementara jurusannya kebalikannya.

Nabila adalah mahasiswa studi humaniora semester tujuh di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Kakaknya lulusan kedokteran. Orangtuanya melihat prestasi kakaknya sebagai tolok ukur untuk Nabila: kakaknya lulus cepat, bergelar cum laude. Maka, Nabila mesti begitu. Kakaknya telah menjadi dokter sukses, Nabila juga mesti sukses kelak.

Namun, jika ada jaminan bagi kakaknya untuk menjadi dokter selepas kuliah, Nabila merasa lapangan pekerjaan yang tersedia bagi lulusan jurusannya terbatas.

Nabila merasa tidak bisa bergantung pada kampus untuk mengamankan pekerjaan nantinya. Pihak kampus memang membantu mencarikan lowongan kerja. Dalam konteks program studi Nabila, kampus akan membantu menyalurkan lowongan pekerjaan yang berkaitan dengan jurusannya, seperti di sektor kebijakan atau pemberdayaan masyarakat. 

Posisi paling cocok untuk mahasiswa angkatan akhir atau yang baru lulus ada di tingkat ‘officer’, salah satunya biasa disebut community development officer. Tetapi, setiap satu lowongan kerja itu, akan diperebutkan setidaknya satu angkatan jurusan Nabila, yakni 75 mahasiswa. Selain itu, masih ada senior-seniornya yang masih menganggur yang akan melamar posisi tersebut.

Kuliah di jurusan yang menurut Nabila ‘bau’ ini membuatnya mulai mengamankan sekocinya sendiri dengan cara mulai aktif berorganisasi, mencari-cari tempat magang, dan pekerjaan sampingan sejak semester tiga untuk mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya.

2019

Nabila baru kuliah 1,5 tahun. Merasa butuh mencari tempat magang sebagai “aktualisasi diri,” ia memilih sebuah lembaga nonpemerintah (LSM) yang punya fokus pada kesehatan mental. Di sana, Nabila sempat menjajal beberapa divisi, termasuk di bagian manajemen sumber daya manusia.

Pekerjaan di tempat magang ini cukup padat. Suatu waktu, Nabila diminta untuk membuat empat kegiatan online untuk internal setiap bulan. Namun, dengan kebanyakan atasan dan rekan-rekan pemagang lain yang usianya tidak berbeda jauh darinya, ia merasa lebih seperti sedang berorganisasi dibandingkan bekerja. 

“Karena seperti nggak ada hierarki dan komunikasinya cair, seperti ke sesama teman. Tapi, memang sih, bukan berarti tempat kerja nggak bisa kayak begitu.”

2020

Nabila masih magang di LSM tersebut, tetapi ia merasa ingin menjajal tempat magang lain. Ia mencoba melamar ke perusahaan-perusahaan startup terkemuka, tetapi tidak menuai hasil. Ia menduga ia belum cukup berpengalaman dibandingkan mahasiswa-mahasiswa lain yang melamar.

Sama seperti Safina, ia akhirnya mencoba melamar magang ke perusahaan-perusahaan lebih kecil, sekadar untuk mengisi CV. “Maybe we do have to start from the bottom,” katanya.

Selama semester empat, Nabila sempat magang di tiga tempat dalam satu waktu. Salah satunya sebuah media yang menugaskannya untuk membuat konten. Di sana, Nabila mendapatkan pelatihan terlebih dulu, kemudian diputar ke beberapa rubrik berbeda setiap bulan.

Kesibukan ini juga belum termasuk perkuliahan dan kegiatan organisasinya di dalam dan di luar kampus.

Ia merasa masih bisa mengatur waktu selama magang di beberapa tempat tersebut. Setidaknya, perusahaan tempatnya magang tidak menuntut terlalu banyak. Masing-masing perusahaan yang kebanyakan masih dalam tahap rintisan biasanya meminta Nabila untuk mengerjakan 1-2 konten setiap bulan. Seluruhnya tidak dibayar.

2021 – September

Kewajiban magang Nabila sudah beres. Ia tertarik mencoba hal baru: bekerja sampingan. 

Setelah mengirim lamaran ke beberapa perusahaan, ia mendapatkan tawaran bekerja di sebuah agensi, hanya saja posisi yang ditawarkan penuh waktu. 

Nabila saat itu sudah semester enam. Jadwal kuliahnya tidak terlalu padat; ada beberapa hari cukup lowong yang bisa dilaluinya dengan bekerja di kantor. Kebetulan, kantornya itu menetapkan WFH 100%.

Kenyataannya, pekerjaan di agensi itu menyedot hampir seluruh waktunya setiap hari. Atasannya mempercayakan Nabila menangani beberapa klien sekaligus. Setiap hari ia mesti menyiapkan konten untuk seluruh klien untuk seminggu ke depan. Tugasnya: menyiapkan brief desain dan caption untuk keperluan media sosial, kemudian dioper ke desainer grafis untuk dieksekusi.

Di atas kertas, jam kerja kantor pukul 10.00-17.00, Senin-Sabtu. Namun, kenyataannya, karena ia mesti bolak-balik revisi dan mengakomodasi permintaan diskusi dari klien, Nabila sering kali menghabiskan waktu hingga jam 6 pagi untuk bekerja. Ia hanya tidur selama 2-3 jam, kemudian lanjut bekerja lagi.

Di tengah itu semua, Nabila masih mengerjakan tugas kuliah, kuliah kerja nyata alias KKN, dan persiapan skripsi.

September – sekarang

Nabila memutuskan mengakhiri masa kerjanya demi bisa fokus mengerjakan skripsi. Ia mengaku kapok bekerja di perusahaan agensi, tapi merasa tetap butuh pekerjaan sampingan, atau setidaknya kembali mencari tempat magang, selama menghabiskan masa-masa akhir kuliahnya ini.

Untuk pertama kali, Nabila mendapatkan posisi magang yang memberikannya upah. Besarnya kurang dari Rp500 ribu/bulan.

Di satu sisi, keinginannya untuk menyibukkan diri semula sekadar demi mencari kesibukan dan mengeksplorasi minat. Setelah magang dan bekerja, ia banyak belajar dan menguasai kemampuan. Plus, jejaring sosialnya juga bertambah.

Ia juga merasa bisa lebih mandiri dengan tidak lagi bergantung orangtuanya untuk membeli barang-barang yang ia sukai. Sebagai penggemar K-pop, ia suka mengoleksi album dan merchandise yang rata-rata harganya sekitar Rp200 ribu per barang. Ia juga ingin sesekali menikmati makan mewah yang sekali makan habis sekitar Rp100 ribu per orang.

Di sisi lain, seiring waktu, kesibukannya ini menjadi kebutuhan: Ia menyadari mesti bekerja ekstra keras mengumpulkan pengalaman kerja di masa kuliah, demi memudahkannya mendapatkan kerja setelah lulus kuliah.

Kekhawatiran ini ditambah fakta ia mesti bersaing dengan rekan-rekan sepantarannya yang, menurut Nabila, lebih produktif dibandingkan dirinya. 

“Nggak bisa gue! Orang-orang produktif banget. Kalau ketemu sama teman-teman, mereka semua kerja. Ya Allah, tolong??”

Totalnya, selama berkuliah, Nabila telah aktif di lebih dari tiga organisasi, empat tempat magang, dan tiga kerja sampingan.

 

Negara Minta Kita untuk Kerja, Kerja, Kerja

NADIEM Makarim dalam “Bincang-bincang Kampus Merdeka bersama Mendikbudristek”, 17 November lalu, berpesan kepada para mahasiswa: “Cari project paling sulit ketika magang.” 

Pengalaman berada di situasi menantang akan memberikan jaminan bagi mahasiswa untuk menjadi andal di dunia kerja, katanya.

“Ketika masih jadi mahasiswa, kalian ibaratnya masih pakai pelampung. Kalau kalian gagal atau kesulitan dalam menangani project-nya, terus apa konsekuensinya? Kan nggak ada.”

Konsekuensi secara langsung terhadap karier mungkin tidak ada. Tetapi, bagi Nabila, upaya untuk terus produktif ternyata berimbas ke kesehatan mentalnya.

Nabila didiagnosis mengalami gangguan bipolar tipe mixed features, yang membuatnya bisa berada dalam episode mania dan depresi secara bersamaan. Ada juga gejala yang mengarah ke gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder. Sejak 2019, ia mulai memeriksakan diri ke psikiater dan mengonsumsi obat.

Seiring bertambah kesibukannya, siklus Nabila mengalami depresi juga semakin sering. Pola tidur terganggu jadi salah satu faktor utama: ketika jam tidurnya kurang dari 6 jam, ia mulai merasakan cepat letih, lebih sensitif, dan lebih mudah ke fase depresi.

Ada kaitan antara tuntutan pendidikan dan karier terhadap kondisi mental seseorang. 

Riset Tim Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia memetakan keresahan mental usia 16-24 tahun yang disebut “periode kritis”. Temuannya, 92,1% responden kesulitan menjadi mandiri; 91,3% kesulitan mengelola keuangan; 90% kesulitan mengelola waktu dan beban akademik. Ada pula persoalan kesepian karena mereka mesti merantau, kesulitan berinteraksi dengan orang lain, ada permasalahan hubungan pribadi, hingga permasalahan seksualitas.

Riset terhadap 393 mahasiswa pada Mei 2020 ini menemukan 95,4% responden pernah mengalami gejala kecemasan (anxiety), 88,3% mengalami gangguan suasana hati atau mood disorder dan bipolar, dan 88% mengalami gejala depresi. Di tengah situasi tersebut, menurut riset berjudul “Mental Health Problems and Needs among Transitional-Age Youth in Indonesia” itu, mayoritas mereka masih menginternalisasi masalahnya; mereka kesulitan atau tidak tahu cara mengakses bantuan profesional.

Riset ini mendukung temuan Badan Kesehatan Dunia yang menyatakan 1 dari 4 remaja di rentang usia itu mengalami gangguan kesehatan jiwa.

 

PEKERJAAN ideal bagi Nabila tidaklah muluk-muluk. Ketika lulus nanti, ia berharap dapat memiliki pekerjaan dengan gaji layak dan tidak eksploitatif. 

Nabila ogah kembali ke kondisi bekerja selama di perusahaan agensi: enam hari setiap pekan, lebih dari 8 jam sehari, dan digaji sebatas UMR Yogyakarta sekitar Rp2 juta.

Safina punya impian serupa. Meski ada cita-cita besar untuk bekerja di salah satu firma audit terbesar di dunia, satu kriteria minimal yang ia cari adalah pekerjaan dengan status permanen yang dapat memberinya jaminan finansial yang stabil.

Untuk mencapai impian itu, mereka melewati jalan tidak terlalu mulus.

Populasi Indonesia didominasi usia produktif (15-64 tahun). Ada 191,08 juta jiwa, atau 70,72% dari total populasi Indonesia dalam rentang usia ini. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menyambut baik kenyataan ini. Menurutnya, Indonesia memasuki fase “bonus demografi”. Potensi SDM yang tinggi, katanya, “dapat dimanfaatkan” untuk meningkatkan ekonomi Indonesia.

Meski begitu, realitas “bonus demografi” tidak selalu semanis namanya. 

Pada saat yang sama meningkatnya populasi usia produktif, ahli demografi sosial Ariane Utomo mengamati ada kondisi politik, ekonomi, dan situasi pasar kerja yang kompleks di Indonesia. 

Meningkatnya jumlah populasi usia produktif diiringi meningkatnya pula jumlah kalangan teredukasi. Selama satu dekade terakhir, persentase penduduk yang menyelesaikan pendidikan S1 hingga S3 meningkat jumlahnya hingga 2,2 kali lipat. Pada rentang yang sama, persentase yang tidak sekolah, tidak tamat/belum lulus SD, lulus SD, dan lulus SMP juga menurun.

Namun, secara bersamaan, Ariane menyebut Indonesia belum siap menyerap potensi tenaga kerja yang besar itu. 

Indonesia berada pada fase “premature deindustrialization”: tingkat penyerapan pekerja manufaktur stagnan—atau bahkan menurun—jika dibandingkan tren negara-negara lain yang telah mengalami fase industrialisasi lebih dulu.

Ada pula tuntutan untuk terus meningkatkan kemampuan demi dapat bersaing. Ada fenomena ‘degree inflation’ yang telah terjadi secara global: semakin banyak perusahaan menetapkan lulusan S1 sebagai kriteria utama dalam lowongan pekerja, termasuk di Indonesia. 

Gelar S1 menjadi tidak terlalu berharga lagi, padahal orang yang bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi termasuk sebagai kelompok privilese: penduduk Indonesia yang lulus S1 hanya 8,31% dari total populasi berusia 15 tahun ke atas.

Di tengah persaingan ketat dan akses yang timpang ini, keberadaan pekerjaan layak justru terancam. Ada informalisasi pekerjaan di sektor formal.

Dan, berlakunya Undang-undang Cipta Kerja pada awal tahun 2020 melegalkan sistem yang membuat pekerja semakin berada di posisi rentan. 

International Domestic Workers Federation (IDWF) mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo, yang memperingatkan bahwa undang-undang sapujagat ini akan membuat semakin banyak kelas pekerja, terutama pekerja perempuan, dalam kondisi prekariat: sistem outsourcing menjadi lebih fleksibel, upah minimum lebih rendah, melegalkan rezim pekerja kontrak, jam kerja lebih panjang, pemutusan hubungan kerja lebih mudah, dan pesangon berkurang.

Dengan berbagai latar belakang ini, Ariane tidak kaget bahwa persaingan kerja yang ketat telah terlihat sejak fase permagangan. 

Keputusan mahasiswa untuk berlomba-lomba magang, mengincar perusahaan-perusahaan yang terkemuka dan mapan, tidak bisa disebut sekadar keinginan diri sendiri, tapi dipengaruhi faktor-faktor yang sifatnya struktural.

Ia mengibaratkan para mahasiswa sedang “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. 

“Maksudnya, di tengah persaingan yang tinggi dan sifat pekerjaan lebih eksploitatif, mahasiswa sekarang mungkin rela untuk dieksploitasi dahulu, untuk harapannya bisa menikmati masa depan,” katanya.

 

**

SAFINA punya hobi membuat kue, khususnya kue-kue diet keto yang rendah kalori dan tanpa gula. Hobi itu jarang dilakoninya lagi sejak sibuk magang.

Nabila senang membaca dan membeli buku. Saat ini ia sedang membaca buku Seno Gumira Ajidarma, Affair: Obrolan tentang Jakarta. Belum semua buku sempat ia baca; kini membaca baginya membutuhkan energi dan konsentrasi tinggi. 

Ketika capek habis bekerja, ada kegiatan lain yang lebih ringan dilakukan Safina dan Nabila.

TIPS MENGISI WAKTU LUANG

  • Binge-watch film di platform layanan streaming
  • Mendengarkan musik 
  • Menghabiskan waktu di media sosial
  • Tidur

 


*Safina dan Nabila bukan nama sebenarnya.

Editor: Fahri Salam

Tulisan ini adalah bagian dari serial liputan #GenerasiBurnout. Jika kamu mahasiswa dan punya keluhan soal magang, bantu kami untuk isi survei berikut: bit.ly/generasiburnout

Pembaca bisa mengakses layanan konsultasi psikologi berikut: 

  • Hotline Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri: +62 811 3855 472 (L.I.S.A).
  • Lihat daftar penyedia layanan konseling online di sini.
  • Lihat daftar puskesmas dan rumah sakit di sini.