Creative Commons License

Magang Tak Benar-Benar Merdeka: Dijerat Overwork, Depresi, Pelecehan, hingga Serangan Buzzer

Generasi Burnout
Generasi Burnout

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Ann Putri

16/12/2021

Ilustrasi Generasi Burnout. (Project M/Inez Kriya - di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)


Agenda Harian Kirana Selama Magang:

SENIN 

  • Pagi rapat mingguan, bahas proyek-proyek yang sudah dikerjakan seminggu lalu
  • Lanjut kuliah, jadi asdos, mengurus skripsi sampai sore
  • Mengerjakan project (membuat proposal pengembangan produk, dokumentasi produk) di sela-sela kuliah
  • Siang/sorenya mengikuti webinar dari tempat magang selama 2 jam
  • Malam melanjutkan kerja modul pelajaran untuk tempat magang

SELASA

  • Pagi kuliah, jadi asdos, mengurus skripsi sampai sore
  • Mengerjakan project di sela-sela kuliah
  • Siang atau sore mengikuti webinar dari tempat magang selama 2 jam
  • Malam melanjutkan kerja modul pelajaran untuk tempat magang

RABU 

  • Pagi kuliah, jadi asdos, mengurus skripsi sampai sore
  • Mengerjakan project di sela-sela kuliah
  • Siang atau sore mengikuti webinar dari tempat magang selama 2 jam
  • Jam 7-12 malam rapat pembuatan program belajar bersama tim

KAMIS

  • Pagi kuliah, jadi asdos, mengurus skripsi sampai sore
  • Mengerjakan project di sela-sela kuliah
  • Siang atau sore mengikuti webinar dari tempat magang selama 2 jam
  • Malam melanjutkan kerja modul pelajaran untuk tempat magang

JUMAT

  • Pagi kuliah, jadi asdos, mengurus skripsi sampai sore
  • Mengerjakan project di sela-sela kuliah
  • Siang atau sore mengikuti webinar dari tempat magang selama 2 jam
  • Malam melanjutkan kerja modul pelajaran untuk tempat magang

SABTU

  • Pagi ikut webinar dari tempat magang
  • Siang jam 1-3 bahas program belajar bersama tim

MINGGU

Istirahat


SENIN adalah hari yang panjang dan melelahkan buat Kirana. Seharian ia bakal digempur dua agenda rutinnya: magang dan kuliah. Sejak pagi ia sudah harus mengikuti rapat di tempat magang, siang hari ia kuliah diselingi pekerjaan magang, sorenya lanjut pekerjaan magang hingga malam, tak jarang hingga larut.

Jadwal hari berikutnya tak kalah melelahkan. Agendanya hampir sama, cuma berkurang satu, tak ada rapat di tempat magang, namun malam hari ia harus begadang. Pada hari Sabtu, ia juga tak bisa santai, dari pagi hingga sore agenda magang sama padatnya. Nyaris ia hanya punya hari Minggu untuk istirahat, itu pun kalau tak ada gangguan pekerjaan.

Selama 4 bulan magang di startup edutech membuat Kirana kelelahan sampai burnout dan depresi. Sakit kepalanya sering kumat, ia merasa hampa, menangis tanpa sebab, merasa ingin hilang ditelan bumi, dan sering marah-marah tanpa alasan yang jelas kepada adik dan orang tuanya. 

Pacarnya khawatir ia kelelahan berat. Sementara hubungannya dengan teman-temannya juga memburuk karena ia sering membatalkan janji dengan mereka, sampai pada titik di mana teman-temannya tidak lagi mengajaknya nongkrong. Tugas kuliahnya juga keteteran, ia kerap kabur dari rapat yang menurutnya tidak membutuhkan peran aktifnya.

Meski begitu, ia enggan pergi ke psikolog karena pengalaman lampaunya dengan psikolog dan dokter tidak memuaskan. “Aku merasa solusi dari psikolog enggak memuaskan soalnya masalah-masalahku asalnya dari luar kontrolku,” tuturnya. “Terus dokter juga cuma nyuruh aku istirahat, makan, dan ngatur stress.” Ketidakseriusan tenaga kesehatan dalam memberikan perawatan ke dirinya membuatnya semakin merasa mentok.

Jadwal yang padat dan hal buruk yang mengikutinya itu bermula ketika Kirana memutuskan untuk mendaftarkan diri dalam program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Kampus Merdeka, sebuah program dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). 

Kirana adalah mahasiswa jurusan ilmu eksakta di sebuah perguruan tinggi di pulau Jawa. Sama seperti mahasiswa pada umumnya, ia berkeinginan mendapatkan pengalaman kerja melalui magang. Semula ia magang di sebuah instansi pemerintahan di Jawa Tengah. Kebetulan durasi magang pertamanya bersamaan dengan awal pandemi yaitu bulan Maret, yang berarti tak ada tugas berarti dan uang saku. Hari tersibuknya hanya menggotong arsip ke lantai 2 dan mengatur arsip-arsip tersebut supaya lebih terorganisasi.

Ketidakpuasannya dengan magang pertama itu mendorongnya untuk magang lagi. Kali ini ia melamar via MSIB alias Kampus Merdeka. Ia mencari tempat magang yang dekat dengan tempat tinggalnya dan kalau bisa sejalan dengan jurusannya. 

“Sebenernya pengen magang di lembaga penelitian kaya LIPI atau Eijkman, tapi karena pandemi jadinya nggak ada [posisi magang],” tuturnya. 

Akhirnya ia memilih melamar magang di perusahaan FMCG, farmasi, dan startup edukasi. Dari 50 lamaran yang ia kirimkan, hanya satu perusahaan edutech yang memanggilnya untuk wawancara. Setelah melewati proses rekrutmen, ia dan rekrut-rekrut diterima dengan proses onboarding yang sangat meriah.

Awal magang, ia tidak punya banyak kerjaan. Baru setelah menjalani tes, ia ditempatkan di kelompok inti. Secara garis besar, lingkup pekerjaannya masih sama, tapi beban dan jam kerjanya naik drastis. Kalau dulu ia dibantu dan disupervisi oleh mentor dari awal sampai akhir, sekarang ia mengerjakan hampir semuanya sendirian dengan supervisi minimal. Dimasukkannya seseorang ke dalam tim inti juga tidak berdasarkan indikator yang jelas.


Pekerjaan Kirana Sebelum Masuk Tim Inti:

  1. Membuat background dari product requirement document (PRD). Sisanya seperti task flow, user flow, product research dikerjakan oleh intern bagian UI/UX designer dan product research.
  2. Presentasi ke mentor setiap minggu
  3. Presentasi ke CPO setiap bulan
  4. Membuat program belajar dengan teman beda divisi

Catatan: Semua dilakukan dengan supervisi dari mentor dan ia juga sudah familiar dengan produk yang sedang dikerjakan. Sedangkan setelah masuk tim inti tidak ada supervisi mentor, semua dikerjakan sendiri tanpa pembekalan terlebih dahulu. Ditambah ia tidak familiar dengan website yang ia kerjakan di tim inti.


Selain itu, kontraknya tidak mengatur jam kerja per hari, hanya mengatur cakupan kerjanya. Itupun ketambahan membuat modul pelajaran yang harus laku keras di pasaran, padahal posisinya adalah product analyst.

Selain isu jam dan beban kerja, ia juga merasa kurang diperhatikan oleh mentornya. Ia hanya bertemu dengan mentornya seminggu sekali, sisanya ia dan rekan-rekan magangnya harus jalan sendiri. Mentor juga tidak pernah memberikan masukan atau kritik soal presentasi produk yang mereka lakukan. Perusahaan tidak memberikan silabus yang jelas perkara magang posisi product manager/analyst dan perusahaan juga tidak membolehkan peserta magang melihat job desc product manager yang sebenarnya.

Ekspektasi yang diberikan oleh CPO (chief product officer) terhadap Kirana dan rekan-rekan magangnya juga terlampau tinggi. Alih-alih mendapat apresiasi karena upaya memenuhi tuntutan yang berat, presentasi yang mereka buat justru mendapat komentar tak enak. 

“Ide seperti ini tidak akan laku kalau di-pitch ke bisnis dan teknologi,” kata CPO suatu hari. Komentar pedas itu membekas dalam ingatan Kirana.

Sejak Kirana berada di tim inti, ia sudah menjelaskan kepada mentor dan co-mentor bahwa beban kerja magangnya cukup berat, belum lagi ditambah ia masih mengerjakan skripsi, menjadi asisten dosen, dan menyelesaikan mata kuliah. Namun solusi dari kurangnya mentoring tidak kunjung datang. 

Bagaimana tidak, mentornya sendiri memegang dua peran yang berbeda dan membawahi 2 tim anak magang yang terdiri dari 14 orang. Kirana mengestimasi ada sekitar 90 anak magang dengan 300 karyawan tetap di perusahaan itu. Sedihnya lagi, isu kurang mentoring ini sudah menjadi masalah umum di perusahaan ini kecuali di divisi content creator.

Awalnya ia enggan protes ke pihak Kampus Merdeka dan tempat magang perihal kondisi magang itu. Ia berpikir, magang kali ini setara dengan 7 SKS, karena itu ia tak ingin nilainya jatuh karena dicap sebagai anak magang yang kebanyakan mengeluh. Padahal kondisi magang sudah jauh dari kata ideal, sampai-sampai ia tak bisa membedakan batasan antara waktu kerja dengan waktu pribadi. 

Ia berkaca dari pengalaman salah satu temannya memutuskan tidak mau ikut rapat lewat jam 10 malam dan tidak mau diganggu ketika akhir pekan. Hasilnya, kawannya itu mendapat nilai B karena dianggap kurang aktif. Cukup lama ia merenungkan itu, sampai akhirnya terkumpul keberanian untuk mengajukan komplain soal ketiadaan work-life balance. Komplain itu mendapat sambutan yang tidak bisa dibilang baik, namun setidaknya sekarang ada peraturan yang memperbolehkan pekerja magang berhenti bekerja jam 10 malam kalau peserta magang sudah capek.

Seolah masalah-masalah tadi kurang berat, ia juga ditimpa masalah uang saku yang terlambat datang. Ia menerima uang saku Rp4 juta per bulan, nominal paling tinggi yang diungkapkan dari semua narasumber. Tapi kenyataannya ia baru menerima uang saku bulan ketiga meskipun magangnya sudah masuk bulan kelima. Tentu ia kecewa mengingat pendapatan bulanannya–yang dulunya rutin didapatkan dari kerja paruh waktu–mengering. Kebutuhan kuliahnya tak terpenuhi karena orang tua hanya membayar sebagian UKT-nya, sehingga ia harus meminjam uang saudara untuk menutupinya. 

Resolusi yang didapatkan sejauh ini berupa estimasi kapan uang saku bisa cair dan formulir pengaduan tentang uang saku yang tak sesuai. Lebih suram lagi, tak banyak yang bisa ia dan teman-temannya lakukan selain menekan pihak-pihak atas untuk memberikan hak para peserta magang.

Kerja Keras, Malah Jadi Korban Pelecehan

Ranum adalah peserta prototype magang Kampus Merdeka pada tahun 2020. Ranum bisa mencicipi program ini lebih dulu karena Kepala Prodi kampusnya adalah salah satu inisiator Kampus Merdeka atau KMIB.

Ranum berkesempatan magang di sebuah biro media nasional ternama di pulau Kalimantan selama 4 bulan. Ia dan kawan-kawan magangnya menjalani pelatihan selama 2 minggu sebelum diterjunkan ke lapangan. Pelatihan ini meliputi pelatihan jurnalistik umum, bidang-bidang pemberitaan, serta ciri khas biro media tersebut. 

Uang saku yang ia mendapatkan hanya Rp300 ribu perbulan. Berbeda dengan program magang Kampus Merdeka yang uang sakunya dibayar oleh Kemenristekdikti, program prototype magang Kampus Merdeka ini dibayarkan oleh pihak kampus. Selain jumlahnya yang sedikit, pembayarannya juga dirapel dua bulan sekali. 

Pengalamannya magang di biro media ini terhitung negatif. Selama magang ia harus berganti bidang pemberitaan dan mentor sebanyak 3 kali. Beban kerjanya terhitung berat, minimal memproduksi satu tulisan sehari dengan tempat liputan yang sering kali jauh jaraknya. Beberapa berita yang ia tulis tidak dimuat, padahal judul dan topiknya diajukan sendiri oleh redaktur. Mentornya selalu tidak puas dengan hasil kerjanya, padahal menurutnya hasil kerjanya lebih baik daripada teman-temannya.

Selain tak puas, mentornya juga tampak tidak menyukainya sehingga mengabaikannya. Sang mentor lebih suka memperhatikan teman-teman magangnya. “Mentor magang aku juga lebih perhatian sama temen-temen aku, kayanya karena mereka lebih sering ngajak ngobrol temen-temen aku,” tuturnya. 

Perbedaan perlakuan ini terus terjadi hingga usai magang; teman-temannya diajak untuk ke kantor setelah magang selesai dan ditawari bergabung dengan organisasi non-profit sang mentor. Ranum menduga perbedaan perlakuan ini terjadi karena adanya beauty privilege yang tak dimiliki dirinya

Puncak masalahnya adalah pelecehan seksual verbal dan seksisme yang ia terima kala liputan di salah satu kantor dinas provinsi. Kejadian ini membuatnya trauma. “Temanku sempat menyarankan untuk melapor ke AJI, tapi tidak begitu berani karena pelakunya ASN,” ucapnya. “Rekaman pembicaraan juga sudah dihapus karena aku takut.”

Tumpukan-tumpukan masalah ini membuatnya merasa burn out, depresi, dan kesepian. Performa tulisannya menurun, begitu juga dengan motivasinya untuk menjalankan kuliah. Ia menangis setiap saat dan merasa kurang dihargai. Teman-teman dan partnernya sibuk sehingga ia kehilangan tempat untuk bersandar. Mereka punya kesibukan sendiri dan tinggal jauh dari tempatnya sekarang sehingga ia merasa sungkan untuk meminta waktu mereka.

Untungnya di tengah kegelapan itu ia bisa menemukan sedikit dukungan dari redakturnya. “Kebetulan redakturku sama-sama perempuan, jadi aku lebih nyaman curhat sama beliau. Beliau yang kadang ngasih topik sama judul liputan, beliau juga selalu nyemangatin aku. Beliau orangnya memang begitu sih ke semua orang. Tapi aku gak cerita soal dilecehin di tempat liputan ke beliau.”

Kesempatan untuk pulang kampung selama Lebaran membuatnya bisa berpikir lebih jernih. Sekembalinya ke kantor, mentornya semakin tak suka dengan performanya. Ia memilih untuk tidak acuh dan memperbaiki performanya di bulan terakhir.

Pengalaman buruknya di magang sebelumnya tidak menghentikannya untuk kembali magang. Namun kali ini ia mengambil program Kampus Mengajar angkatan kedua. Selain untuk magang, ia juga mengambil program ini untuk menggantikan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang menjadi mata kuliah wajib jurusannya. Program Kampus Mengajar menempatkannya di sebuah SD berakreditasi C yang letaknya tak jauh dari kosnya. 


Jadwal Harian Ranum:

Senin – Jumat  

  • Berangkat ke sekolah pukul 07.00 pulang 11.00 
  • Mengatur program kerja (Pokja) bersama teman-teman satu kelompok 
  • Merencanakan Pokja Pojok Baca, yaitu mendata isi perpustakaan 
  • Membuat dan mengirim laporan harian dan mingguan 
  • Mengerjakan skripsi di kosan atau tempat nongkrong murah

Selasa, Kamis, dan Sabtu sore 

  • Observasi lokasi les di tempat part-time yang tidak ada hubungan dengan program Kampus Mengajar

Minggu

  • Istirahat

Ia ditempatkan di sebuah SD berakreditasi C dan mengajar literasi dan matematika. Silabus materinya diberikan langsung dari pusat. Tugasnya bersama teman-teman satu tim adalah mengembangkan silabus untuk diajarkan di masing-masing sekolah. 

Selain itu, ia dan timnya juga diberikan tugas untuk memperbaiki perpustakaan sekolah. Tugasnya antara lain mendata buku-buku yang dimiliki perpustakaan, menyingkirkan buku-buku dan LKS kurikulum KTSP yang tak lagi dipakai, dan memasukkan buku-buku baru dari pemerintahan kota. Ruangan perpustakaan diperluas sehingga siswa bisa lebih nyaman belajar di perpustakaan. Dengan jadwal seperti ini, Ranum bisa pulang cepat.

Pengalaman magang Kampus Mengajar jauh lebih positif dibandingkan pengalaman magang sebelumnya. Beban kerjanya lebih ringan dibandingkan dulu. Tak hanya itu, Kampus Mengajar juga menyediakan posko pengaduan pelecehan seksual.

“Iya sudah ada bahkan sebelum Permenristekdikti no. 30,” ucapnya.

Program Kampus Mengajar membuka matanya akan ketimpangan kualitas sekolah Indonesia, terutama sekolah-sekolah swasta di luar Pulau Jawa. Banyak siswanya tidak bisa belajar daring karena orangtua mereka berasal dari kalangan menengah-bawah yang tidak memiliki Android atau laptop. 

Ketiadaan infrastruktur ini tak hanya membuat proses pembelajaran terhambat. Bank Dunia mengestimasikan setidaknya anak-anak Indonesia kehilangan tiga tahun pendidikan selama pandemi ini. Akibatnya, mereka kehilangan waktu untuk mendapatkan skill yang digunakan untuk kehidupan mereka di masa depan. Diperkirakan, setidaknya 68 juta siswa akan kehilangan pendapatan seumur hidup bernilai $151 triliun. Efek ini paling terasa di anak-anak dari keluarga miskin, semakin menurunkan kesempatan mereka untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Dari segi program, Ranum menganggap program Kampus Mengajar ini sangat positif, baik bagi mahasiswa maupun sekolah tempat mengajar. Namun Ranum menyayangkan kurangnya dukungan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), jauhnya penempatan peserta yang ditambah dengan pencairan uang saku yang telat. 

Soal uang saku, Ranum punya masalah lain, yaitu kecilnya nominal uang saku yang diterima. Sebagai mahasiswa bidikmisi, ia hanya menerima uang saku Rp500 ribu per bulan sedangkan teman-temannya yang non-beasiswa bidikmisi menerima Rp1,2 juta per bulan. Sebesar Rp700 ribu selisihnya dipotong dari beasiswa bidikmisi yang ia terima. 

“Awalnya aku tidak mengeluhkan ini, tapi dampaknya baru terasa setelah beberapa bulan mengabdi. Aku harus mencari penghasilan tambahan, ditambah sekarang harus mengerjakan skripsi dan mengabdi [di Kampus Mengajar]. Imbasnya performa fisikku menurun,” tuturnya. “Harusnya apa yang diterima mahasiswa sesuai dengan apa yang sudah dijalani, apalagi tuntutan [pekerjaannya] hampir setara dengan profesional.”

Selain nominal yang relatif terhitung kecil, pencairannya juga lambat. Setiap 4 minggu sekali ia mengirimkan laporan lengkap soal progres magangnya. Baru 4 sampai 5 minggu kemudian uang sakunya turun. Sialnya, mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi mengalami keterlambatan pencairan uang saku 1 sampai 2 minggu dari non-beasiswa. Tentunya ini menyulitkan mengingat mahasiswa bidikmisi banyak bergantung pada uang beasiswa untuk bertahan hidup.

Tengah November lalu, ia mendapatkan uang saku bulan ketiga. Sebelumnya ia mendapat informasi uang saku bulan ketiga akan dirapel bersama uang saku bulan keempat dan kelima karena Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang berada di bawah Kementerian Keuangan “mau tutup buku”. Tapi sepertinya ini hanya janji kosong semata. 

Ilustrasi Generasi Burnout. (Project M/Inez Kriya – di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

Lebih Dari Sekadar Masalah Uang Saku

Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nizam angkat bicara masalah uang saku itu. Melalui pesan WhatsApp tertanggal 25 November 2021, Nizam menyatakan isu keterlambatan uang saku peserta sudah diselesaikan. Ia menjelaskan keterlambatan uang saku diakibatkan oleh banyak faktor. 

Pertama, program sebesar ini baru pertama kali dijalankan dan melibatkan dua pihak, LPDP dari Kementerian Keuangan sebagai pemberi dana dan Kemendikbudristek sebagai eksekutor program. Kedua, prosedur administrasi dan pertanggungjawaban keuangan yang perlu dilakukan oleh Dikti cukup panjang dan rumit. Ketiga, ada banyak kebolongan administrasi dari peserta program, seperti data log book yang tidak lengkap, izin belum diisi, salah mengisi nomor rekening, dan masih banyak lagi. Masalah dipotongnya uang saku yang diterima mahasiswa bidikmisi, hal ini dikarenakan peraturan yang tidak membolehkan double funding. 

Nizam menambahkan, pencairan uang saku seluruh program Kampus Merdeka sudah mencapai 99,2%. Namun cerita dari Kirana, Ranum, dan sekian peserta magang lainnya menunjukkan fakta berbeda. 

Data dari akun @MagangStudi menunjukkan setidaknya ada ±3600 mahasiswa yang belum menerima uang saku bulan kedua dan ±12.900 mahasiswa belum menerima uang saku bulan ketiga. Bahkan ada 193 peserta belum menerima uang saku dari bulan pertama, dan 54 orang menerima uang saku yang tidak sesuai nominal kontrak. Mereka juga melampirkan bukti keterlambatan pencairan bukan pada lamanya proses administrasi LPDP, tapi data macet Ditjen Dikti dan Kemenristek

Sebagai gambaran, saat ini ada 13.000 lebih mahasiswa dari 1.300 perguruan tinggi, lebih dari 3.000 mentor profesional, 110 mitra magang, dan 33 mitra MSIB yang mengikuti program MSIB 1. Nizam mengatakan Kemenristekdikti terus melakukan evaluasi dan perbaikan setiap harinya. Komitmen ini nantinya akan ditunjukkan lewat program MSIB tahun 2022. Luar biasanya lagi, pemerintah akan menambah kuota peserta dan anggaran di angkatan selanjutnya.

Dalam kesempatan lain, Nizam sudah pernah menjanjikan akan mengusahakan agar uang saku itu segera cair. Itu pun setelah para peserta magang membanjiri kolom percakapan dalam webinar berjudul “Bincang-bincang Kampus Merdeka Bersama Mendikbudristek” yang diselenggarakan pada 17 November lalu. 

Alih-alih aspirasi itu didengar, admin langsung menutup kolom komentar tersebut. Bincang-bincang itu seketika berubah menjadi dialog satu arah. Tak ada lagi aspirasi yang bisa disampaikan dengan leluasa. Pembungkaman aspirasi para pemagang itu sukses. Tak ada satu pun nada minor yang terdengar di forum itu.

Menteri Kemendikbudristek Nadiem Makarim yang juga hadir dalam acara itu turut bungkam perihal uang saku. Fokusnya hanya tertuju ke para peserta magang Kampus Merdeka yang terpilih untuk menyampaikan testimoni. Dari seluruh testimoni peserta magang tersebut, tidak ada yang menyebutkan hal-hal negatif dari pengalaman magang mereka, apalagi menyinggung uang saku yang tak kunjung turun. 

Pembungkaman semacam itu bukan pertama kali terjadi. Beberapa anak magang lainnya pernah membuat akun Twitter dan petisi untuk menggalang dukungan massa soal ini. Bukannya mendapat respons baik, mereka justru diserang buzzer

Salah satu serangan itu datang dalam sebuah grup besar Telegram Magang Merdeka Kemendikbudristek. Salah satu akun yang tidak diketahui identitas aslinya bahkan menyarankan mahasiswa yang menagih hak uang saku untuk melacur agar mendapatkan uang tambahan. 

“Saran saya melacur atau jadi ojol aja sambil nunggu uang sakunya cair.”

Akun lainnya mengolok-olok agar mahasiswa mencari kerja sambilan tanpa banyak menuntut hak mereka.

“Jangan menuntut Kemendikbudristek saja… Mahasiswa harus cerdas.”

Serangan semacam itu bukannya menyelesaikan masalah, tapi menjadi daftar masalah baru dalam program yang didesain untuk penggembangan potensi mahasiswa.

Keterlambatan pencairan uang itu tidak hanya terjadi pada mahasiswa peserta magang, tetapi juga pada mentor. Salah seorang sumber Project Multatuli yang bekerja di perusahaan yang menjadi mitra Kampus Merdeka menceritakan bahwa perusahaannya harus mengcover keterlambatan pencairan pembiayaan mentor untuk semua proyek. 

“Hal ini juga dilakukan karena perusahaan kami mengikuti juga program Studi Independen di mana terjadi juga keterlambatan pembayaran mentor. Sehingga kami memprioritaskan pembayaran mentor,” tulisnya melalui email.

Keterlambatan pencairan uang itu berdampak panjang bila tidak segera diselesaikan. Misalnya untuk operasional proses magang dibutuhkan subscription email atau slack yang bakal berhenti begitu tidak dibayar. Mau tak mau, perusahaan mitra Kampus Merdeka yang harus menalangi supaya proses magang bisa terus berjalan dengan baik. Seandainya perusahaan menolak menalangi, maka yang menjadi korban adalah para peserta magang. 

Di tengah kondisi magang yang masih jauh dari ideal, Ranum dan Kirana bersyukur mereka diberikan kesempatan magang di Kampus Merdeka. Namun di sisi lain, mereka tidak bisa memungkiri fakta bahwa program ini justru membawa stressor baru ke kehidupan mereka. Kirana burnout sampai sakit fisik dan mental karena beban kerja dan jam kerja panjang, sedangkan Ranum mengalami gejala depresi akibat tekanan kerja yang berat, kesepian, dan pelecehan seksual. 

Apa yang terjadi pada keduanya membuktikan program magang ini minim perlindungan, terutama perlindungan kerja. Mereka tidak bisa protes soal perlakuan tempat kerja yang semena-mena karena takut berimbas ke nilai magang mereka. 

Ranum dan Kirana punya pandangan yang berbeda soal program magang ini. Kirana yang berasal dari universitas papan atas di pulau Jawa menyatakan dirinya kapok bekerja di startup, terutama startup edutech. Ia ingin bekerja di kantor yang memprioritaskan work-life balance dan kesehatan para pekerjanya. Setelah bekerja di sana selama dua tahun, ia akan kuliah S2 dan bekerja sebagai peneliti.

Sedangkan Ranum sebagai mahasiswa pendidikan dari universitas di luar pulau Jawa, menyadari ada masalah soal kesempatan mendapat pekerjaan yang masih memperhitungkan nama besar kampus. Karena itu, ia berencana untuk mengikuti program magang Kampus Merdeka angkatan 2. Ia tahu program magang Kampus Merdeka bermasalah, tapi mendapatkan pengalaman kerja sebanyak-banyaknya sebelum lulus jauh lebih penting baginya. Nantinya ia ingin mencari posisi magang sebagai copywriter.


*Kirana dan Ranum bukan nama sebenarnya.

Editor: Mawa Kresna

Tulisan ini adalah bagian dari serial liputan #GenerasiBurnout. Jika kamu mahasiswa dan punya keluhan soal magang, bantu kami untuk isi survei berikut: bit.ly/generasiburnout

Pembaca bisa mengakses layanan konsultasi psikologi berikut: 

  • Hotline Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri: +62 811 3855 472 (L.I.S.A).
  • Lihat daftar penyedia layanan konseling online di sini.
  • Lihat daftar puskesmas dan rumah sakit di sini.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!