Creative Commons License

Karateka Hazara Menjaga Asa Pencari Suaka

Karate
Karate

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Rangga Firmansyah

04/12/2021

Meena Asadi melakukan yoko geri. Juara karate asal Afghanistan ini membuka sasana bagi para pengungsi di Cisarua, Bogor. (Project M/Rangga Firmansyah)

Seorang anak muda berlari kecil menembus lorong sebuah pertokoan di Cisarua, Bogor. Seragam karate menempel di badannya. Ia berlari menyusul rombongan anak kecil menuju sebuah aula di lantai dua. Letaknya di belakang pertokoan tersebut. Sesampainya di sana, seorang perempuan berusia akhir 20-an dengan postur tegap menyambut mereka. Dia adalah sensei mereka, Meena Asadi. 

Meena adalah karateka peraih 38 medali emas dari sejumlah kejuaraan nasional maupun internasional yang pernah diikutinya di Afghanistan, Bangladesh, India, dan Pakistan. “Saya punya banyak murid. Semuanya adalah pengungsi. Tak hanya orang Afghanistan, namun kebanyakan orang Afghanistan. Sekarang saya sudah memiliki 40 murid,” kata Meena.

Cisarua dikenal sebagai salah satu tempat penampungan pengungsi di Indonesia. Per Juni 2021, terdapat 13.416 jiwa pengungsi di Indonesia yang terdaftar oleh UNHCR. Lebih dari setengahnya berasal dari Afghanistan dengan 7.490 jiwa. Ketidakstabilan keamanan lebih dari tiga dekade di negara itu mendorong arus pengungsian.    

Indonesia sendiri merupakan negara transit bagi para pengungsi. Setelah mengurus status pencari suaka di perwakilan UNHCR di Indonesia, mereka kemudian tinggal di sejumlah penampungan sembari menunggu lampu hijau dari negara-negara pemberi suaka. Masalahnya selama negara pemberi suaka masih dan malah makin memperketat kebijakan penerimaan pengungsi, entah kapan itu akan terjadi. Lebih-lebih di tengah meningkatnya sentimen kepada imigran dalam beberapa tahun terakhir dan pandemi Covid-19. Sejumlah pengungsi telah menunggu lebih dari satu dekade.  

Bagi pemerintah Indonesia, tidak ada kewajiban menanggung hidup para pengungsi. Indonesia tidak menandatangani Protokol 1967, yakni Konvensi PBB Tahun 1951 tentang Status Pengungsi. Maka di tengah ketidakpastian mendapatkan pemukiman permanen, semakin lama para pengungsi semakin tidak berdaya. Mereka bertahan hidup seadanya karena dilarang bekerja di negara penampungan. Mereka juga sulit mengakses layanan kesehatan dan pendidikan formal yang terbatas. Kecemasan karena terlunta-lunta, kekhawatiran akan masa depan, dan tiadanya penghasilan menjadi sumber gangguan mental. BBC melaporkan ada 13 pengungsi Afghanistan di Indonesia bunuh diri dalam kurun tiga tahun terakhir.

Cisarua Refugee Shotokan Karate Club adalah sasana kedua yang  dikelola Meena. Di Kabul, Meena pernah mendirikan sebuah dojo karate. Kehadiran sasana di mana perempuan dan laki-laki beraktivitas bersama dan dilatih seorang perempuan membuat kelompok Sunni garis keras seperti Taliban dan pendukungnya tidak senang. Apalagi Meena berasal dari etnis minoritas Hazara yang menganut aliran Islam yang berbeda. Etnis ini selalu menjadi sasaran diskriminasi dan kekerasan Taliban dan kelompok ekstrem lainnya. Genosida, menurut orang Hazara.

Ancaman berulang kali menyasar ke dojo, murid-murid perempuan, dan tentunya Meena. Makin lama makin intens. Ketika merasa nyawanya sudah terancam tanpa perlindungan aparat, Meena memutuskan mengungsi ke Pakistan bersama keluarganya pada 2015. Setahun kemudian, mereka mengungsi ke Indonesia dan terdampar di Cisarua. Dalam dua bulan, Meena mendirikan dojo. Ia menggunakan aula olahraga yang sepenuhnya tidak terpakai dan bisa dimanfaatkan selama dua jam setiap Senin, Rabu, dan Jumat untuk latihan karate.

“Olahraga adalah salah satu cara mengurangi kekhawatiran dan depresi. Terlunta-lunta dalam waktu lama membuat para pengungsi stres. Melakukan hal yang positif dapat membantu mereka melalui tantangan ini,” kata Meena.

Selain mengurangi stres, Meena memberikan pelatihan karate agar para pengungsi, khususnya anak-anak, mendapatkan pelajaran karena mereka dilarang bersekolah dan bekerja di sini. “Hal terpenting yang saya pikir sampai kapan mereka harus seperti ini. Sebagai pengungsi yang hak asasinya terampas, kami tidak mendapat jawaban jelas dari yang berwenang,” tambahnya.

UNHCR berusaha meyakinkan para pengungsi bahwa jatah penempatan di negara-negara pemberi suaka terutama diberikan kepada para pengungsi yang tidak berdaya. Namun, bagaimana menentukan siapa yang tidak berdaya ketika semua pengungsi merasa demikian karena gangguan kesehatan mental?

Meena sangat memahami apa yang dialami murid-muridnya. Saat berusia 12 tahun, dia mengungsi ke Quetta, sebuah kota di Pakistan dekat perbatasan Afganistan. Setahun kemudian pada 2005, Meena memberanikan diri mengikuti latihan karate di dekat tempat penampungan pengungsi. “Mengapa perempuan dilarang berolahraga dan melakukan kegiatan lain seperti laki-laki?” katanya mengenang. 

Karate memberikan motivasi hidup dan kepercayaan diri bagi Meena. Kemampuannya berkembang pesat dan terendus pencari bakat Pakistan. Ia ditawari paspor Pakistan hanya untuk mewakili negara itu pada Asian Games 2010 di Bangladesh. Dua medali dia sumbangkan. Meena kemudian memperoleh kesempatan kembali ke Afghanistan untuk berjuang di ajang karate bagi negaranya sampai kemudian ia harus mengungsi untuk kedua kali.

Bagi Meena, mengajar karate memberikan energi untuk selalu meniupkan harapan kepada murid-muridnya di saat dirinya pun sulit melihat secercah harapan. Para muridnya dan pengungsi lainnya bangga ketika Meena meraih medali emas pada turnamen karate virtual Wali Kota Bogor yang diikuti 300 karateka, termasuk pelatih, se-Jawa Barat pada April 2021. 

Solusi penempatan permanen bagi para pencari suaka masih berupa wacana. Kini, sekadar bermimpi kembali ke Afghanistan pun pupus setelah Taliban merebut kekuasaan. Taliban telah melarang kaum perempuan beraktivitas dalam dunia olahraga, pendidikan, dan kerja; serta tidak berhenti menindas etnis Hazara.  

“Anak saya bertanya di mana negara kami? Saya tidak bisa menjawabnya,” ungkapnya.

Meena berharap kepada Pemerintah Indonesia agar para pengungsi mendapat perhatian lebih. “Bapak Jokowi, bolehkan kami belajar dan bekerja. Hidup para pengungsi rusak karena tidak bisa melakukan apa-apa.”

Karate
Seorang anak muda berjalan melintasi kios-kios di sebuah pertokoan menuju sasana Cisarua Refugee Shotokan Karate Club yang berdiri sejak 2016. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Anak-anak bersiap mengikuti latihan karate. Kebutuhan sasana untuk sewa tempat, fasilitas, seragam, dan ujian kenaikan tingkat berasal dari donasi. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Para karateka melakukan pemanasan. Mereka berasal dari sejumlah negara, namun mayoritas berasal dari Afghanistan. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Meena Asadi mengajarkan kata kepada murid-muridnya, baik perempuan maupun laki-laki, aktivitas yang dilarang Taliban di negara asalnya. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Anak-anak perempuan mendapat kesempatan berlatih karate sebagai bentuk pembelajaran dan mengatasi stres. Baik di negara asal maupun di negara transit, mereka dilarang bersekolah. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Karateka perempuan melakukan tendangan. Sasana ini merupakan cita-cita Meena agar siapapun dapat berolahraga tanpa pembatasan gender, etnis, agama, bangsa, dan usia. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Meena membimbing salah satu muridnya. Melalui karate, Meena meniupkan harapan pada para pengungsi yang nasibnya terlunta-lunta dan merasa terlupakan. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Tiga karateka putri sedang beristirahat. Kegiatan positif dapat memberi motivasi dan kepercayaan diri bagi para pengungsi. (Project M/Rangga Firmansyah)
Karate
Meena bersama-sama murid-murid Cisarua Refugee Shotokan Karate Club. Meena akan sangat senang apabila warga Indonesia mau bergabung berlatih bersama. Tidak ada tarif, namun apabila ada yang memberi akan ia terima, (Project M/Rangga Firmansyah)

 


Editor: Ricky Yudhistira, Ronna Nirmala

 

Penggalangan dana bersama untuk kegiatan lebih dari 1500 pengungsi selama 2022 dilakukan melalui mekanisme berikut.

Cisarua Refugee Shotokan Karate Club adalah salah satu dari 7 pusat pelatihan yang dikelola sendiri oleh pengungsi (6 di Indonesia dan 1 di Thailand), yaitu: The Cisarua Refugee Learning Centre, Refugee Learning Center, Refugee Learning Nest, Peace Educational Shelter, Hope Learning Centre, dan Bangkok Urban Community Club.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!