Keadilan bagi 135 Korban Meninggal Tragedi Kanjuruhan: ‘Saya Tidak akan Menonton Pertandingan Arema Lagi’

Fahri Salam & Ricky Yudhistira
11 menit
Peringatan: Cerita foto ini memuat deskripsi kekerasan yang dapat mengganggu kenyamanan Anda.

Tiga foto Citra Ayu Amelia (15) menggantung di ruang tamu. Budi Hariyanto (48) duduk lesehan di karpet cokelat yang digelar di tengah-tengah ruangan itu. Matanya menatap langit-langit rumah di Gang Salak.

“Saya memberikan izin nonton. Itu yang membuat ibunya membiarkan Citra ke Kanjuruhan,” ucap Budi.

Istri Budi, Munzaenah (43), sempat menolak keras Citra menonton pertandingan Arema melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022.

“Sekali ini saja, Buk. Ini yang terakhir kali. Habis ini aku nggak nonton lagi,” janji Citra. Budi menirukan ucapan Munzaenah saat meneleponnya.

Pasangan ini dipisahkan jarak. Budi bekerja sebagai penggiling daging di sebuah depot bakso di Denpasar. Istri dan anaknya di Malang.

Citra Ayu Amelia adalah salah satu dari 135 jiwa yang hilang dari Tragedi Kanjuruhan. Citra adalah siswi kelas 1 SMK Negeri 7 Malang jurusan Analisis Pengujian Laboratorium.

Citra meninggal saat berusaha keluar dari tribun, berdesak-desakan di ruangan yang sangat sempit, berupaya mengemasi nyawa dan napas dan kehidupan dari kepanikan massa yang diberondongi gas air mata secara brutal oleh kepolisian Indonesia.

“Citra sebenarnya duduk di Tribun 12, entah kenapa ia bisa keluar melalui pintu 13”, ungkap Budi.

Budi mengetahui anaknya sudah tiada pada Minggu pagi, 2 Oktober. Ia segera pulang ke Malang dari Bali, tapi tak sempat melihat wajah anaknya untuk terakhir kali. Ia tiba saat hari sudah malam. Citra sudah dikuburkan di pemakaman.

Foto-foto korban tragedi kanjuruhan, termasuk Rudi Hariyanto dan anaknya yang masih balita M. Virdi Prayoga, ditata berjajar sebelum diarak saat unjuk rasa di Stadion Gajayana, Malang, Kamis, 10 November 2022. (Project M/Arief Priyono)
Kiri: Lilik Nurhasanah (39), perempuan asal Blitar yang menjajakan bunga pada peziarah di dekat pintu 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu, 26 November 2022. Kanan: Tangga pintu 13 yang menjadi lokasi tumpukan para korban di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu, 26 November 2022. (Project M/Arief Priyono)
Sebuah kendaraan parkir di dekat tembok yang tertempel poster ilustrasi “Gas Pembunuh” di kawasan Kayutangan, Kota Malang, Sabtu, 22 Oktober 2022. (Project M/Arief Priyono)
Kiri: Kamar tidur Citra Ayu Amelia (15), korban meninggal dunia di tragedi Kanjuruhan, Rabu, 7 Desember 2022. Kanan: Budi Hariyanto (48) ayah dari korban Citra Ayu Amelia bersama kakak korban, Nur Rizki Fadhiilah Puspitaningrum (21) di rumahnya, Desa Kendalpayak, Kec. Pakisaji, Kabupaten Malang, Rabu, 7 Desember 2022. (Project M/Arief Priyono)

“Sehari sebelumnya Citra minta potong rambut, anehnya ia minta wali kelas untuk berfoto bersama dengan teman-temannya,” kata Siti Madiyah (37), bibi Citra.

“Sabtu itu hujan, sepatunya basah. Citra menyetrikanya agar kering karena itu sepatu kesayangannya,” kenang Siti Madiyah.

“Saya tidak tahu kalau Citra nonton, maka waktu kakak menelepon saya untuk mencari Citra, saya kaget. Karena Citra nggak cerita akan nonton Arema melawan Persebaya,” ungkap Nur Rizki Fadhillah Puspaningrum (21), kakak perempuan Citra yang malam itu nonton pertandingan di Tribun 5. Kakak sulungnya, Lucky Agung Pratama (23), juga menonton di Tribun 13. Ketiga kakak beradik ini menonton di tribun berbeda.

Kedua kakak Citra sudah menikah. Mereka tidak tinggal dalam satu rumah. Mereka tidak diberitahu orangtuanya bahwa Citra hari itu menonton pertandingan Arema. Lucky baru tahu setelah ditelepon ibunya karena Citra belum pulang hingga Minggu tengah malam.

Kedua kakak beradik itu membagi tugas. Mencari ke Kanjuruhan dan berkeliling ke sejumlah rumah sakit. Begitu juga teman-teman Citra ikut mencari.

Lewat tengah malam, mereka mencari ke tiga rumah sakit. RSUD Saiful Anwar. RSUD Kanjuruhan. RS Wava Husada Kepanjen. Mereka melihat data korban satu per satu. Namun, ditengah-tengah kekalutan dan banyak keluarga korban yang juga mencari keluarganya, membuat pencarian itu menjadi susah.

Kakak laki-laki Citra tidak menyerah. Hingga usai subuh, ia kembali ke RS Wava Husada. Di sanalah ia melihat adiknya di antara jajaran mayat suporter lain.

“Citra mebawa kartu identitas. Ada banyak korban yang tidak bawa kartu identitas. Meskipun wajahnya sudah lebam dan menghitam, kami bisa mengetahui itu Citra,” kata Siti Madiyah.

“Citra cantik hari itu. Ia selalu pamitan kepada saya saat mau ke mana-mana. Ia banyak senyum,” tutur Siti.

Budi Hariyanto berkata Citra tidak seorang diri menonton pertandingan Arema vs Persebaya. Satu teman Citra, yang memboncengnya dengan motor ke stadion, juga menjadi korban.

“Ia koma selama dua hari di RSUD Saiful Anwar. Saat siuman, kami tidak berani menceritakan bahwa Citra sudah tiada.”

Bilqis dan Bella. Sahabat Sejak Kecil dan Teman Seperjalanan

Bilqis Khairunisa (15) masih sering menoleh ke jok belakang motornya dalam perjalanan berangkat sekolah. Bilqis memang sering menjemput Citra dan membonceng motornya karena mereka satu sekolah. Ia masih tak percaya sahabatnya sejak di SDN Kendalpayak, Pakisaji, itu sudah tiada.

“Saya yang mengajak Citra nonton pertandingan Arema melawan Persebaya. Ini adalah kali kedua Citra nonton di Kanjuruhan,” kata Bilqis di teras rumahnya, Desa Karangduren.

Sabtu itu hujan. Bilqis baru bisa menjemput Citra sekitar pukul 16.45. Mereka ke rumah Bilqis terlebih dahulu. Lalu gantian Bella Nisfaidatul Agustin (16) membonceng Citra ke Stadion Kanjuruhan. Rumah Bilqis dan Bella bergandengan tembok.

“Saya yang mengajak Citra dan Bella nonton di Kanjuruhan. Satunya meninggal dan satunya koma di rumah sakit. Saya tidak akan menonton pertandingan Arema lagi,” ujar Bilqis.

Persahabatan Bilqis dan Bella abadi. Meskipun mereka berbeda desa, tapi pilihan belajar di sekolah dasar yang sama membuat mereka bertemu dan tak terpisahkan sejak saat itu. Mereka berbeda sekolah saat SMP, tapi kembali bersekolah di tempat yang sama saat SMK.

“Citra sering WA saya saat mau berangkat sekolah. Kadang dia minta saya barengi. Sekarang kadang saya kangen menunggu WA dia.”

Di rumah sebelah, Bella duduk di ruang tamu dengan alat bantu jalan bersandar di dinding.

“Itu bantuan dari Aremania, cuman hanya dua kali dipakai kalau nggak salah. Lebih sering kalau mau ke kamar mandi, saya papah hingga ia bisa jalan sendiri sekarang,” ujar Elly Farida (47), ibu Bella.

Bella baru pertama kali ini membonceng Citra menuju stadion, meskipun sudah menonton pertandingan Arema sejak SD. “Kami ber-15 menuju Kanjuruhan, tapi hanya enam orang yang masuk stadion,” kata siswa kelas 1 SMK Negeri 2 Turen jurusan Pengolahan Hasil Ikan ini.

Setelah masuk ke stadion, Bella dan Citra tidak mendapatkan tempat duduk. Mereka berdiri di jajaran depan tribun mendekati pagar. Sementara Bilqis mendapatkan tempat duduk di deretan atas Tribun 12.

“Entah kenapa, dari Tribun 12, Citra bisa keluar menuju pintu 13. Saya sendiri sudah tidak ingat karena sampai anak tangga menuju pintu 12, saya sudah tidak sadarkan diri,” kisah Bella.

Bella Nisfaidatul Agustin (16) teman semotoran korban Citra Ayu Amelia mengalami retak kaki kiri saat kejadian tragedi Kanjuruhan. Bella mengalami koma selama dua hari dan nyawanya tertolong setelah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Saiful Anwar, Malang. (Project M/Arief Priyono)
Bilqis Khairunisa (15) sahabat korban Citra Ayu Amelia. Ia hampir setiap hari membonceng Citra ke sekolah dan ia pula yang mengajak citra untuk menonton pertandingan Arema vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 lalu. (Project M/Arief Priyono)
Kiri: Lefi Lidya Wardhani (27) menunjukkan foto rontgen tulang punggungnya yang retak, Kamis, 20 Oktober 2022. Kanan: Rumah Defi Antok, ayah yang kehilangan kedua putrinya, saat ini kosong karena ia berada di bawah perlindungan LPSK sehingga harus tinggal di rumah aman, Rabu, 7 Desember 2022. (Project M/Arief Priyono)
Peziarah tragedi Kanjuruhan berdiri di sekitar Patung Singa setelah menabur bunga, Sabtu, 26 November 2022. (Project M/Arief Priyono)

Mendengar sesuatu yang buruk terjadi di Stadion Kanjuruhan, Elly Farida malam itu tidak bisa tenang. Ia bolak-balik ke kamar mandi.

Suaminya, Eddy Hermanto (52), memintanya untuk tenang. Ia tidak bisa tenang karena ponsel Bella tidak bisa ditelepon.

Usai tengah malam, mendengar kabar banyak orang meninggal, ia semakin panik. Begitu pula suaminya. Begitu pula Belgis Annareka (22), kakak sulung Bella.

Mereka pontang-panting ke RS Wava Husada dan RSUD Kepanjen, masing-masing dua kali. Hasilnya nihil. Mereka lantas ke RSUD Saiful Anwar, tapi tak juga menemukan Bella.

Sekitar Minggu subuh, mereka mendengar kabar bahwa Citra, teman seperjalanan Bella, ditemukan telah meninggal dunia.

“Di rumah saya gelisah, lalu saya mengajak suami dan anak saya untuk kembali ke RS Saiful Anwar pagi-pagi sekali,” kata Elly.

Mereka bertiga kembali menuju Kota Malang. Jarak tempuhnya setengah jam perjalanan dari rumah.

Sampai di rumah sakit, mereka menyebar. Mengecek kamar mayat. Mengecek Instalasi gawat darurat. Namun, mereka tetap tidak menemukan Bella.

Tak patah arang, Belgis masuk ke IGD lagi, mengecek satu per satu pasien yang sedang dirawat. Sampai di sebuah ranjang, ia mengenali kaki menjulur melewati selimut. Ia yakin itu adiknya.

“Saat Belgis mendekat, wajah Bella benar-benar lebam dan menghitam. Sangat berbeda sekali. Jadi, waktu kami pertama kali melihat, wajar kalau awalnya kami tidak bisa mengenalinya,” kata Elly.

“Baru pertama kali ini seumur hidup melihat suami saya menangis,” kenangnya saat melihat anaknya koma.

Saat mereka menemukan Bella, waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Bella dalam kondisi tidak sadar. Barulah pada Senin, 3 Oktober, pukul 5.30 pagi, Bella siuman.

“Kami menyembunyikan info kalau Citra meninggal dunia. Kami takut kondisi Bella melemah kalau mengetahui kondisi teman seperjalanan ke Kanjuruhan menjadi salah satu korban yang tidak bisa diselamatkan,” ungkap Elly.

Bella sangat beruntung, kisah Elly selanjutnya. Ia sebenarnya pingsan di tangga pintu 12 Stadion Kanjuruhan. Keluarga hanya menduga-duga, apa kejadian selanjutnya sehingga Bella bisa dikeluarkan dari lokasi maut tersebut. Ia mengalami retak kaki kiri. Sekujur tubuhnya lebam-lebam.

“Mukanya menghitam dan lebam. Sepertinya semua korban gas air mata mengalami itu. Matanya juga sempat merah,” tambah Elly.

Ia bersyukur ada yang membawa Bella ke RSUD Saiful Anwar sehingga nyawa putrinya bisa selamat.

Perang Jalanan

Pengunjuk rasa mengenakan kostum pocong di depan markas Polres Malang, Kamis, 8 Desember 2022. (Project M/Arief Priyono)
Seorang pengunjuk rasa mengacungkan jari tengah ke arah wajah polisi yang berjaga di sebuah perempatan di daerah Kepanjen, Malang, Kamis, 8 Desember 2022. (Project M/Arief Priyono)
Sejumlah anggota brimob berjaga di depan pintu gerbang markas Brimob Ampeldento saat unjuk rasa Aremania, Kamis, 8 Desember 2022. (Project M/Arief Priyono)
Para pengunjuk rasa membentangkan spanduk “Semua Ini Karena Gas Air Mata” di depan Balai Kota Malang, Kamis, 10 November 2022. (Project M/Arief Priyono)

Aremania bergolak. Mereka menolak hasil autopsi yang menyatakan penyebab meninggalnya korban Tragedi Kanjuruhan. Tim Gabungan Aremania bersama Federasi KontraS menduga ada manipulasi dalam proses autopsi.

Pengumuman hasil autopsi oleh tim Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) Jawa Timur menyatakan bahwa penyebab kematian 135 orang dalam Tragedi Kanjuruhan bukan karena gas air mata.

Pada Kamis, 8 Desember, ribuan Aremania berkumpul di Stadion Gajayana, Kota Malang. Mereka menyatakan sikap menolak hasil autopsi. Mereka menggelar Aksi Konvoi Hitam Aremania Mencari Keadilan 135 Menit.

Aksi hari itu kurang lebih berlangsung 7,5 jam. Dari jam 10 pagi hingga jam 5.30 sore. Berakhir di Stadion Kanjuruhan. Ditutup berdoa di Pintu 13.

Berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya dengan long march jalan kaki, kali ini Aremania mengendarai kendaraan bermotor. Seperti janji mereka, Kota Malang dan sejumlah wilayah di Kabupaten Malang menuju Stadion Kanjuruhan, benar-benar dibuat lumpuh.

Keputusan untuk mampir di sejumlah kantor kepolisian sektor membuat waktu aksi ini berakhir molor dan baru selesai hingga menjelang Magrib. Stadion Kanjuruhan, yang semula tidak menjadi lokasi tujuan, menjadi lokasi terakhir usai massa Aremania berunjuk rasa dan menggelar doa bersama di markas Polres Malang di Kepanjen.

Berbeda dari aksi-aksi sebelumnya, anggota polisi juga Brimob mulai menemui Aremania. Di Mako Brimob Ampeldento, Kabupaten Malang, mereka berjaga di pintu masuk. Juga di markas Polres Malang di Kepanjen, polisi sudah berjaga di depan gerbang. Di wilayah Kota Malang, tak ada satu pun anggota polisi tampak bersiaga, bahkan untuk mengurai kemacetan di jalan raya.

Tampaknya, aksi 8 Desember bukanlah yang terakhir. Ada aksi-aksi susulan yang kelak mereka lakukan.

Strategi perang jalanan masih akan mereka kobarkan. Sejauh ini, di wilayah Kota dan Kabupaten Malang masih dikepung berbagai spanduk, banner, poster protes, grafiti hingga mural.

Sebuah tulisan “Polisi Pembunuh” di pembatas jalan yang sedang diperbaiki di depan Gereja Hati Kudus Yesus, JL Basuki Rahmat, Kayutangan, Kota Malang, Sabtu, 22 Oktober 2022. (Project M/Arief Priyono)
Sebuah mural tuntutan untuk mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan di sebuah tembok di Jl Basuki Rahmat, Kota Malang, Jumat, 14 Oktober 2022. (Project M/Arief Priyono)
Sebuah banner bertuliskan “Justice For! Malang Disaster” menutupi wajah ayah dan ibu di patung KB di Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Selasa, 25 Oktober 2022. (Project M/Arief Priyono)
Para pengunjuk rasa menyalakan flare dan mengangkat poster “All Cops Are Bastard” di depan Balai Kota Malang, Kamis, 10 November 2022. (Project M/Arief Priyono)
Dua pelajar berjalan di depan pintu pertokoan dengan grafiti “Suka Membaca Jadi Pintar Tidak Membaca Jadi Polisi” di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Senin, 24 Oktober 2022. (Project M/Arief Priyono

 


Artikel ini bagian dari serial #PolisiBukanPreman

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

Fahri Salam & Ricky Yudhistira
11 menit