Serbuan Ubur-Ubur di Pantai Probolinggo: Tanda Bahaya Perubahan Iklim dan Pencemaran Sungai

Adrian Mulya & Ronna Nirmala
14 menit

Ledakan populasi ubur-ubur di laut bukan pertanda baik. Fenomena ini menandakan ada ketidakseimbangan dalam ekosistem laut. Upaya rehabilitasi perlu dilakukan dari hulu.


KAWANAN ubur-ubur ikut merayakan Idulfitri tahun ini dengan memenuhi Pantai Mayangan di Probolinggo, Jawa Timur. Laporan media menyebut jumlah kawanan ubur-ubur itu mencapai jutaan ekor. 

Namun, kehadiran ubur-ubur tidak disambut dengan sukacita. Pantai Mayangan sepi, bukan hanya dari pengunjung tetapi juga para nelayan yang sehari-hari mencari kerang dan reket atau udang pantai yang biasanya menjadi bahan baku terasi. 

“Agak susah menembak ikan karena pandangan mata tertutup ubur-ubur. Padahal kan ikan muncul saat pasang, tapi saat itu juga ubur-ubur sedang banyak-banyaknya,” kata Solihin (27), salah satu miteng atau nelayan tembak tombak dari Kecamatan Leces, Probolinggo. 

Solihin mengaku ia bisa berenang hingga kedalaman 8-10 meter tanpa alat bantu pernapasan untuk menembak ikan. Akan tetapi, kemampuannya menjadi sia-sia karena kehadiran ubur-ubur yang menutup permukaan air. 

Hari itu, Solihin mengaku hanya bisa menangkap beberapa ikan saja, jauh berbeda dari waktu-waktu tanpa ubur-ubur di pantai.

Sejumlah nelayan pesisir mengangkut hasil tangkapan kerang dan “reket” (udang kecil untuk bahan baku terasi) di Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.

“Saya dapat dua ekor ikan baronang, ini sejenis ikan karang pemakan lumut dan harusnya banyak saat musim angin barat seperti ini. Ini pulang saja, karena susah ada ubur-ubur,” kata Hendro Wahyudi (38), miteng lain menimpali. 

Sementara, para pencari kerang dan reket mengakali dengan menunggu waktu air surut di sore hari, ketika ubur-ubur ikut terbawa ke tengah laut. 

Keberadaan ubur-ubur di Pantai Mayangan bukan baru sekali. Warga mencatat biasanya mereka muncul satu tahun sekali dengan durasi hingga satu bulan.

Pantai Mayangan, atau sejatinya adalah teluk di antara urugan dari reklamasi proyek perluasan Pelabuhan Tanjung Tembaga Mayangan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun 2000, memiliki kandungan garam yang tinggi. Lokasi itu kerap menjadi tujuan pengunjung untuk wisata ‘kungkum’ atau berendam karena diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti pengapuran hingga asam urat.

Seorang perempuan berenang dengan memegang tangga ambalan untuk terapi pengapuran di Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.
Dua perempuan remaja merendam kakinya di antara ubur-ubur yang memenuhi Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.

Tidak Mungkin Berlayar

Serbuan ubur-ubur juga memaksa nelayan meliburkan kapal-kapal mereka. 

Maryudi (48), salah satu nelayan, mengatakan bukan hanya sulit untuk berlayar tetapi jaring yang menjadi alat tangkapnya juga hanya akan dipenuhi oleh ubur-ubur. 

Maryudi mengaku ia memiliki dua buah perahu penangkap ikan, dan dua-duanya menganggur selama kemunculan ubur-ubur. Dari satu perahu, ia bisa mendapatkan penghasilan antara Rp100.000-150.000 per hari. Satu perahunya dioperasikan oleh rekannya dengan sistem bagi hasil.

“Dengan muncul ubur-ubur ini, satu-satunya cara agar tetap bisa bekerja kami beralih menjaring kerang, itu pun harus menunggu laut benar-benar surut dan ubur-ubur sudah kembali agak ke tengah laut,” kata Maryudi, saat dihubungi pada 5 Oktober 2023. 

Menurut Maryudi penghasilannya menurun drastis menjadi Rp10.000-15.000 per hari karena jeda surut hingga setidaknya ubur-ubur sudah tidak terlalu banyak biasanya sangat pendek. 

Data Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur tahun 2020 menyebut jumlah kapal perikanan yang bersandar di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan mencapai 549 unit yang terdiri dari kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan. Kapal-kapal memiliki ukuran kecil hingga besar mulai dibawah 5 GT (gross tonnage) hingga di atas 30 GT.

Maryudi yang juga Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Perikanan mengatakan tidak banyak yang bisa dilakukan nelayan dengan kapal kecil seperti dirinya ketika fenomena ubur-ubur terjadi. 

“Empat hari ini juga ada ubur-ubur lagi, namun tidak dalam skala besar seperti awal musim kemarau kemarin (April – Mei). Jadi kami masih bisa melaut,” tambahnya. 

Kapal kecil dengan jaring seperti miliknya biasanya melaut tidak lebih dari satu mil dari bibir pantai dengan ikan tangkapan belanak, bandeng laut, dan udang.

Seorang nelayan pesisir bersiap untuk menangkap kerang dan “reket” (udang kecil untuk bahan baku terasi)di Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.

Mohamad (74), Ketua Kelompok Nelayan Pesisir Utara mengatakan hal yang sama, ia dan anggota kelompoknya tidak bisa melaut selama ubur-ubur memenuhi Mayangan. 

Masalahnya kemudian, beralih mencari kerang juga tidak mudah, karena menurutnya dalam satu bulan mencari kerang hanya bisa dilakukan sebanyak delapan kali, tergantung surut air laut. Udang reket juga hanya muncul musiman saat air pantai jernih. 

“Di wilayah saya saja ada 20 perahu lebih, kami nelayan pancing dengan kapal ukuran 12 meter bermesin 16 PK yang bisa menampung sampai enam orang,” kata Mohamad. 

Saat musim sedang baik, mereka memancing ikan krese dan putihan, dengan kemampuan 4-5 kg per orang. Pendapatan kumulatif mereka sekitar Rp720.000 – Rp900.000 per hari yang dibagi untuk enam orang anggota.

“Rombongan ubur-ubur itu menutupi laut sehingga kapal kecil tidak bisa melintas, kalaupun saya memancing di pinggir juga sulit mendapatkan ikan,” keluh warga Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini. 

“Kami tidak tahu apa penyebab ubur-ubur ini, mungkin karena perubahan iklim.” 

Ubur-ubur dan Ketidakseimbangan Laut

Seorang pemancing menunggu umpannya dimakan ikan di antara ubur-ubur di Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.

Fenomena kehadiran ubur-ubur di pantai juga bukan hanya terjadi di Probolinggo. Pada Oktober 2018, di Teluk Jakarta, juga muncul fenomena serupa. Menariknya, kemunculan ubur-ubur di Teluk Jakarta terjadi menjelang akhir musim kemarau, sedangkan di Probolinggo terjadi pada akhir musim penghujan. Kendati demikian, pola nyaris selalu berulang setiap tahunnya.

Mochamad Ramdan Firdaus, staf Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (kini BRIN) pada 2020, mengatakan terdapat empat penyebab terjadi ledakan populasi ubur-ubur, yakni penangkapan ikan yang berlebih, perubahan iklim, dinamika oseanografi, dan eutrofikasi. 

Eutrofikasi adalah kondisi ketika terjadi peningkatan kesuburan yang berlebihan yang mengakibatkan peningkatan kandungan klorofil, ditambah kadar garam yang tinggi di laut. 

Eutrofikasi juga menyebabkan pertumbuhan fitoplankton yang disukai oleh ubur-ubur. Sementara ledakan populasi fitoplankton meningkatkan peluang terjadinya kondisi anoxic (keadaan tanpa oksigen) yang tidak dapat ditolerir oleh kebanyakan organisme lain, namun ubur-ubur tetap bisa bertahan.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa ubur-ubur telah ada sejak setengah miliar tahun lalu, bahkan sebelum era Dinosaurus. Berbeda dengan hewan laut lain yang menderita akibat pencemaran laut dan perubahan iklim global, ubur-ubur justru mengalami peningkatan populasi yang signifikan. Semakin tinggi tingkat pencemaran laut, semakin subur mereka berkembang.

Tanpa darah dan otak, ubur-ubur dapat bertahan dengan sedikit oksigen. Begitu ubur-ubur mengambil alih, kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi larva ikan membuat sulit bagi spesies lain untuk mengkolonisasi kawasan tersebut, bahkan setelah kadar oksigen kembali normal. 

Widodo Setiyo Pranowo, peneliti ahli utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, mengatakan ubur-ubur biasanya menyukai suhu laut antara 24-31 derajat Celsius. Begitu juga dengan kadar garamnya, berkisar 30-35 PSU. 

Ia mencatat kadar garam di Teluk Jakarta berkisar 30-32 PSU, sementara Selat Madura sekitar 32-34 PSU. Kadar garam di Teluk Jakarta yang lebih rendah mengartikan bahwa lebih banyak pasokan air tawar yang berasal dari darat. 

Air tawar yang mengalir ke Teluk Jakarta berasal dari 13 sungai yang bermuara di wilayah tersebut. Sementara, Selat Madura memiliki jumlah muara sungai yang jauh lebih sedikit. Salah satu muara sungai yang secara signifikan memberikan pasokan air tawar di Selat Madura adalah Sungai Porong, yang kalau ditarik ke atas berhulu ke Sungai Brantas.

“Sungai-sungai yang bermuara di laut, selain membawa air tawar dari darat juga membawa nutrient atau zat hara (klorofil). Zat hara ini sangat berguna bagi fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang. Apabila zat hara semakin banyak maka fitoplankton juga akan semakin banyak,” kata Widodo.

Nanik Retno Bawono dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya di Malang mengatakan perlu ada analisis lebih dalam untuk melihat apakah pencemaran Sungai Brantas menjadi salah satu penyebab ledakan populasi ubur-ubur.

Sampah rujak buah dengan wadah plastik ditinggalkan oleh wisatawan di Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.

“Bahan pencemar yang masuk di laut itu input sumber utama paling banyak dari aliran sungai. Kalau menurut saya, jadi selain dari atmosfer ataupun dari laut, yang perlu dianalisis itu adalah sumber utama asupan yang masuk dari aliran sungai yang bermuara ke dalam laut tersebut. Itu kemungkinan yang bisa menyebabkan booming ubur-ubur,” kata Nanik di kantornya, awal Juli. 

Ia mengatakan ubur-ubur dan pertumbuhan fitoplankton memiliki keterkaitan yang erat dengan konsentrasi nitrat dan fosfat di perairan laut. Ketersediaan yang tinggi dari nutrisi seperti nitrat dan fosfat dapat menyebabkan eutrofikasi.

Ketika kondisi eutrofikasi terjadi, populasi ubur-ubur dapat meledak karena makanan mereka fitoplankton melimpah. Oleh karena itu, mengawasi dan mengelola konsentrasi nitrat dan fosfat di perairan laut adalah penting untuk mengendalikan pertumbuhan berlebihan ubur-ubur dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Sumber Pencemaran Sungai Brantas

Staf ECOTON dan relawan mengambil sampel air untuk diteliti kandungannya di Wisata Mata Air Sumber Banteng, Kota Kediri, Jawa Timur.

Nanik bersama mahasiswanya saat ini tengah meneliti pencemaran Sungai Brantas yang diduga berasal dari kandungan mikroplastik. Penelitian yang ia namakan Miber atau Microplastic in Brantas River ini menelusuri kandungan mikroplastik dari hulu ke hilir, termasuk di kota-kota yang dilalui Brantas seperti Batu, Malang, Mojokerto, dan Surabaya. 

Penelitian ini bertujuan untuk memahami sejauh mana mikroplastik tersebar dan bagaimana pencemaran ini memengaruhi ekosistem sungai dan laut. Salah satu dugaan penyebarannya berasal dari pupuk. 

Menurut Nanik, beberapa jenis pupuk mengandung mikroplastik dalam bentuk mikro pelet yang memang ditambahkan untuk meningkatkan efisiensi aplikasi pupuk.

“Namun, perlu diingat bahwa penggunaan mikroplastik dalam pupuk juga menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan dan kesehatan. Partikel mikroplastik ini dapat mencemari tanah dan air tanah, serta memiliki potensi untuk masuk ke dalam rantai makanan melalui tanaman dan hewan” kata Ninik.

Adi Setiawan, dosen Budidaya Pertanian Universitas Brawijaya, mengatakan bahwa penggunaan pupuk di wilayah Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri dan Mojokerto memang sangat tinggi. 

Adi menjelaskan, potensi pupuk atau urea ikut terlarut ke sungai bisa mencapai 60 persen. “Jika rata-rata kebutuhan urea/za per hektar per musim tanam padi mencapai 300 kg, dan terlarut hingga 60 persen, tentu ini sangat besar jika terakumulasi,” kata Adi, pada awal September 2023.

Data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2022, menyebut total lahan persawahan di sepanjang Wilayah Sungai (WS) Brantas mencapai 382.074 hektar. 

Sungai Brantas mendapatkan status Strategis Nasional, atau dengan kata lain dikelola langsung oleh Kementerian PUPR. Luas Wilayah Sungai (WS) Brantas mencapai 14.103 kilometer persegi atau mencapai 29,42% dari luas Provinsi Jawa Timur. WS Brantas memiliki 220 daerah aliran sungai (DAS), dengan luas DAS Brantas adalah yang terbesar yakni mencapai 11.888 km². 

“Nah bisa jadi fenomena melimpahnya plankton ini tidak hanya dari Sungai Brantas, karena aliran Sungai Bengawan Solo yang melewati Lamongan dan Gresik yang lebih banyak menggunakan urea dengan ditebar langsung ke lahan tambak ikan. Kalau ini benar-benar dilarutkan di air,” kata Adi. 

Pengawasan Brantas dan Peran Komunitas

Staf ECOTON dan relawan menguji sampel air untuk diteliti kandungan kimianya di Wisata Mata Air Sumber Banteng, Kota Kediri, Jawa Timur.

Inisiatif untuk mengawasi kualitas air Sungai Brantas salah satunya muncul dalam bentuk program Brantasae, sebuah portal untuk menampung pelaporan kualitas air yang melibatkan komunitas dan relawan. 

Proyek ini adalah kerjasama Universitas Brawijaya dengan Department of Water Management Delft University of Technology (TUDelft) dan Hanzehogeschool Groningen dari Belanda.

Reza Pramana, staff peneliti Water Resources Management TUDelft, mengatakan Brantasae merupakan upaya untuk memperluas partisipasi masyarakat, selain juga bisa menjadi wadah kolaborasi dengan individu atau organisasi lain yang memiliki perhatian serupa. 

”Salah satu langkahnya adalah dengan lebih memperluas akses informasi tentang pengairan. Ini bisa dilakukan dengan mengakses sumber daya dan inisiatif yang ada,” kata Reza, Juni lalu.

Selain membangun website, TUDelft juga mendistribusikan peralatan untuk para relawan mengecek kualitas air di Sungai Brantas.

“Di Belanda dulu juga ada masalah sampah di mana-mana, mereka kalau nggak salah butuh waktu 30 tahun untuk mengatasinya,” ungkap Reza, seraya menambahkan pihaknya optimistis bahwa perubahan bisa terjadi meski membutuhkan proses yang panjang.

Selain upaya komunitas, peran pemerintah juga penting dalam pengawasan pencemaran Sungai Brantas. 

Azis, Deputi Eksternal dan Kemitraan ECOTON, lembaga konservasi yang berfokus pada kebersihan sungai, mengaku pihaknya kecewa pada Pemerintah Kota Kediri akibat minimnya keterlibatan mereka pada upaya pelestarian lingkungan. 

“Kami seperti dibiarkan sendiri, padahal kami beberapa kali membantu membuatkan program di Kota Kediri bekerja sama dengan DLH membuat pilot project Zero Waste City di Kelurahan Tempurejo,” kata Azis saat ditemui, pertengahan Juni lalu. 

“Tidak ada tindak lanjut dan mereka inginnya hanya terima bersih.”

Seorang bocah perempuan berusaha meraih instalasi botol air mineral di halaman ECOTON, Gresik, Jawa Timur.

Proyek perdana zero waste city di Kelurahan Tempurejo dilakukan melalui penggunaan kembali dan pemilahan semua produk, serta kemasan. Tanpa membakar dan ditimbun sembarangan yang bisa mencemari tanah, air atau udara yang mengancam lingkungan dan kesehatan.

Dalam studi karakteristik sampah di Kelurahan Tempurejo, ditemukan bahwa sekitar 59,7 persen dari total sampah merupakan sampah organik, sekitar 16,4 persen dapat didaur ulang, dan sisanya sekitar 23,9 persen merupakan residu. Sayangnya tidak semua bisa diolah atau dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Pasalnya, masih ada sampah yang dibuang ke sungai. 

Kota Kediri dianggap strategis karena wilayahnya dibelah oleh Sungai Brantas yang melintang dari selatan ke utara. Maka tak heran ada istilah umum di masyarakat kota ini yang menyebut wilayahnya sebagai Timur Sungai atau Barat Sungai.

Sungai Brantas membelah Kampung Warna-Warno, Jodipan, Malang, Jawa Timur.

Chevy Ning Suyudi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kediri, mengklaim pihaknya mempunyai roadmap penanganan sampah. Namun, sayangnya peta jalan itu belum sepenuhnya mampu menyelesaikan problem sampah yang ada. Dengan jumlah 289.418 penduduk, Kota Kediri menghasilkan 140-150 ton sampah per harinya. 

Pasalnya, limbah sampah di kota seluas hanya 63,4 km² dan dengan jumlah penduduk 289.418 mencapai 140-150 ton per hari. 

“Sebenarnya kalau kita memaksimalkan peran kelompok sampah mandiri (KSM) dan membangun lima Tempat Pembuangan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), Kota Kediri ini sudah bebas sampah atau zero waste,” kata Chevy saat ditemui di rumahnya, 11 Juni 2023.

Chevy mengamini bahwa problem pencemaran di Sungai Brantas tidak hanya terkait dengan bagaimana pemerintah menyiapkan sarana dan prasarana menuju kota bebas sampah.

Sampah menumpuk di Wisata Mangrove, Nguling, Pasuruan, Jawa Timur.
Refleksi kaca dua perempuan di depan stan laundry popok di Kantor ECOTON, Gresik, Jawa Timur.

Ia menuding penggunaan popok sekali pakai yang masih marak di masyarakat ikut berkontribusi dalam upaya pemerintah mengatasi sampah. Hal ini dikarenakan masih banyak di antara masyarakat yang percaya bahwa popok sekali pakai pamali untuk dibuang ke TPS karena akan menyebabkan dubur anak memerah (semacam terbakar), dalam kepercayaan masyarakat Jawa disebut suleten.

Kami di Pemerintahan Kota Kediri beberapa kali melakukan kegiatan workshop untuk membuat popok yang bisa dicuci dan dipakai ulang, tapi ya sulit karena mungkin kurang praktis,” kata Chevy. 

ECOTON pernah merilis data, popok bayi persentasenya mencapai 37% dari keseluruhan sampah yang mencemari sungai. Menurut ECOTON ada tiga juta popok bayi yang dibuang oleh masyarakat yang tinggal di sepanjang DAS Brantas. 

Ubur-Ubur si Penguasa Lautan

Para peneliti meyakini ubur-ubur sudah di ambang kepunahan. Bukan hanya karena spesies ini telah ada sejak lama, tetapi juga karena ubur-ubur adalah mangsa penting. Ubur-ubur menjadi sumber makanan bagi anemon laut, tuna, penyu, hingga penguin. 

Akan tetapi, studi lain menemukan bahwa ubur-ubur adalah predator. Ia bisa memakan telur ikan, udang, kepiting, dan tanaman dalam ukuran kecil. Ubur-ubur menggunakan sel penyengat seperti jarum di tentakelnya untuk melumpuhkan mangsanya sebelum memakannya. Saat dipicu, ruangan penyengat (nematosista) akan terbuka, membiarkan air laut mengalir masuk, dan melepaskan racunnya.

“Ledakan ubur-ubur tentu mempengaruhi produksi perikanan,” kata Ramdan. 

“Jika larva dan telur ikan sudah dimangsa oleh ubur-ubur maka ikan tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupannya sehingga stok ikan dewasa menjadi akan berkurang. Misalkan ubur-ubur api yang sering terdampar di laut selatan Jawa. Seekor ubur-ubur mampu memakan 120 ekor larva sehari.”

Masih dalam forum webinar yang diselenggarakan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Oksto Ridho Sianturi, seorang pakar plankton, menyatakan ubur-ubur terbukti sebagai hewan yang tangguh.

“Ubur-ubur ini sudah lima kali mengalami kepunahan massal. Jadi bisa dibilang organisme ini termasuk master of the Ocean,”kata Oksto.

Catatan World Register of Marine Species (WORMS) tahun 2020, menyebut saat ini di dunia terdapat 4023 spesies ubur-ubur.

Dengan semakin tercemarnya perairan dari hulu ke hilir, maka bukan tidak mungkin spesies ini akan semakin bertambah dan dampak terburuknya adalah mengancam keanekaragaman lautan.

“Nah, kondisi yang ada sekarang dengan tingkat stres terhadap kelautan yang begitu tinggi, mulai global warming, eutrofikasi, peneliti-peneliti khawatir kondisi yang sekarang mengembalikan ubur-ubur sebagai predator utama lagi seperti ke zaman 500 juta tahun yang lalu,” tukas Oksto. 

Seorang warga memegang ubur-ubur saat berenang di Pantai Mayangan, Probolinggo, Jawa Timur.

Artikel ini didukung Internews’ Earth Journalism Network

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

Adrian Mulya & Ronna Nirmala
14 menit