Underprivileged Gen Z Ibu Kota: Hidup Miskin, Woke, dan Punya Gangguan Mental

Mawa Kresna
25 menit
Anida duduk di sofa di kawasan pemukiman Pancoran Buntu II, Jakarta Selatan, wilayah yang biasa disebut sebagai kampung pemulung. Ia tinggal bersama kawannya yang mengontrak sebuah kamar di sebuah rumah bedeng dua lantai yang terdiri dari 13 kamar. (Project M)
Peringatan: artikel ini memuat cerita tentang percobaan bunuh diri dan KDRT.

“Anida orangnya kayak gimana?”

“Nggak jelas. Ngerokok melulu. Nggak bisa bengong.”

“Nggak bisa bengong?”

“Iya, lo nggak boleh bengong. Kalau bengong malah kambuh.”

“Baik, nggak, orangnya?”

“Baik. Tapi nggak pernah kasih orang. Maunya dikasih.”

“Hah! Anjir.”

“Ya, Da? Tapi kalau lo punya pasti lo ngasih, ya. Lagi nggak ada aja.”

“Karena gue miskin, kan.”

Anida sedang duduk di bangku kayu di depan rumah kontrakan warga. Hari menjelang malam, langit mendung, mulai terdengar suara rintik-rintik hujan. Raut wajahnya lelah, dan sorot matanya agak tegang, seperti orang kurang tidur.

“Iya, belum tidur dua hari,” ceritanya.

Di dekat Anida, ada Pak Botak dan Bunda yang juga sedang duduk santai. Bunda adalah penjaga kontrakan. Ia mengelola warung mi instan di sana. Ada juga beberapa kawan Anida yang sesekali mengajaknya mengobrol sambil setengah meledeknya.

“Anida kalau nggak kenal sama orang jutek! Nggak negur. Ya, kan, Da?” kata seorang kawannya ketika ditanya soal kepribadian Anida.

“Emang iya? Gue nggak sadar.”

“Padahal kita kenal. Tapi lo nggak negur.”

“Gue nggak tahu! Gue malu-an orangnya.”

Tapi Bunda dengan sigap langsung membelanya. “Nggak boleh gitu, lo! Anida anaknya memang sedikit mellow. Tapi baik, jujur.”

Telah lebih dari satu bulan Anida tinggal di Pancoran Buntu II, Jakarta, wilayah yang biasa disebut sebagai kampung pemulung. Kawan baiknya Farah mengontrak di salah satu kamar di sana, di sebuah rumah bedeng dua lantai yang terdiri dari 13 kamar. Anida biasa ikut tidur dengannya.

Di sekitar kontrakan, terlihat sisa puing-puing dari rumah yang telah diratakan. Dahulu tempat itu termasuk sebagai wilayah padat penduduk. Warga-warga tinggal di rumah-rumah kecil yang berdiri berdempetan. Tetapi kasus sengketa lahan berujung pada penggusuran membuat kebanyakan warga terpaksa pindah.

Kini hanya tersisa segelintir orang yang masih teguh memperjuangkan tanahnya di sana. Anida memandang kosong tumpukan-tumpukan sampah di depannya.

Anida, perempuan berusia 23 tahun, adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Nama Anida punya arti “berpendirian teguh”. Tetapi Anida merasa nama yang diberikan bapaknya kepadanya itu membawa beban yang berat baginya. Ia tidak merasa punya keinginan kuat atau pendirian teguh. Kawan-kawannya menilai Anida sebagai orang yang senang mengikuti arus.

“Ada ide nama baru buat gue, nggak?” tanya Anida ke teman-temannya.

Bagi anak-anak seusianya, bermimpi atau punya cita-cita adalah hal wajar. Tetapi cita-cita adalah barang mahal bagi Anida.

Hidupnya tidak seperti generasi Z atau anak muda yang umumnya dipersepsikan. Pemerintah, berdasarkan riset dosen ilmu kebudayaan di Universitas Melbourne, Annisa Beta, memberikan gambaran anak muda ideal lewat staf khusus milenial yang dipilih oleh presiden: lulusan universitas, kondisi finansial mumpuni, memiliki modal untuk menjadi pendiri atau pimpinan perusahaan start-up sukses.

Anida sedang berkuliah, tetapi kondisi finansialnya jauh dari mumpuni. Keluarganya hidup di bawah garis kemiskinan: Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan besaran Garis Kemiskinan per rumah tangga rata-ratanya adalah Rp2.187.756/bulan. Anida beserta adik-adiknya hidup dari upah ibunya sebagai pekerja rumah tangga yang sebesar Rp1,5 juta/bulan.

Sebagai anak yang tinggal di pusat Jakarta, Anida hampir tidak pernah pergi ke mall atau nongkrong di kafe. Ia tidak terpikir untuk belanja baju atau sepatu. Sekali jajan di mall umumnya butuh uang setidaknya Rp50 ribu–Anida biasa menghabiskan uang Rp50 ribu dalam satu minggu. Anida tidak ‘tech-savvy’—istilah yang umum dilekatkan pada Gen Z. Laptop dan hp-nya bukan keluaran terbaru dan lebih sering rusak. Untuk keperluan internet, Anida menumpang koneksi WiFi di kamar Farah.

Anida juga tidak terpikir atau berencana untuk mengambil cicilan hunian yang harganya telah naik pesat beberapa tahun ke belakang ini. Keluarganya kesulitan bahkan untuk membayar uang sewa bulan depan.

Anida didiagnosis mengidap skizofrenia sejak empat tahun lalu. Ia sering merasa gelisah, was-was, seolah-olah ada orang yang mengikutinya. Seringkali ia berhalusinasi mendengar suara-suara bisikan. Ketika ia sedang memotong-motong bahan makanan, misalnya, ada bisikan yang menyuruhnya untuk memotong jarinya sendiri.

Kondisi mentalnya membuat Anida sulit tidur. Kepalanya terlalu penuh. Jika terlalu lama tidak tidur, ia akan lebih mudah terpicu merasakan halusinasi. Anida mesti mengonsumsi obat anti-psikotik dan obat tidur dari dokter untuk bisa tidur semalaman.

Anida sebenarnya tinggal di sebuah gang padat di dekat ITC Roxy Mas, Jakarta Barat. Bersama ibu dan kedua adiknya, mereka berempat mengontrak di sana. Rumah semi-permanen yang dibuat dari bedeng dan papan kayu itu terletak di ujung sebuah gang sempit. Warga sekitar biasa menyebutnya “gang senggol”, sebab gang hanya bisa dilewati oleh satu orang.

Tetapi Anida lebih banyak menghabiskan waktu di Pancoran. Di sana ada Farah dan kawan-kawan lainnya yang banyak menemani dan mengajaknya ngobrol sehingga ia bisa teralihkan dari halusinasi-halusinasi di kepalanya. Di rumah, ibunya bekerja sampai malam. Adik-adiknya sekolah. Sementara Anida tidak bisa ditinggalkan sendiri dengan isi kepalanya.

“Kepala gue kalau lagi keberisikan kayak bubaran pabrik garmen. Rame banget,” timpal kawan Anida yang juga mengontrak di Pancoran. Mereka sedang membahas soal skizofrenia dan gangguan mental lainnya.

“Jangan-jangan kacang ijo juga, lo. Kayak Anida.”

“Eh, kacang ijo maksudnya apa?”

“Kacang ijo. Skijo. Skizofrenia,” jawab kawan Anida, Putra, ia juga pengidap skizofrenia. Anida mengajaknya datang ke Pancoran karena Anida bilang ada reporter yang sedang meliput soal isu gangguan mental.

“Kita ada rencana mau bikin Skizo Club,” kata Putra lagi.

“Isinya siapa aja?”

“Baru kita berdua (Anida dan Putra) doang, nih. Sobat mental illness.

Bangunan rumah tinggal di kawasan pemukiman Pancoran Buntu II, Jakarta Selatan. Beberapa tahun terakhir warga Pancoran Buntu berkonflik dengan PT Pertamina Training and Consulting (PTC) yang mengklaim tanah tersebut. (Project M)

KDRT dan Pengalaman Pindah dari Satu Rumah ke Rumah Lain

Bagi Anida, ia tidak pernah benar-benar merasa memiliki rumah. Sejak kecil, hidupnya selalu berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya.

Keluarganya sempat tinggal di rumah keluarga bapaknya yang awalnya tidak berpenghuni, tetapi kemudian keluarga bapaknya meminta kembali rumah itu, sehingga mereka harus pergi.

Mereka lalu pindah ke rumah nenek, atau ibu dari bapaknya Anida, tetapi juga tidak bertahan lama karena ada konflik keluarga. Mereka kemudian pindah lagi ke sebuah rumah kontrakan, kemudian ke rumah keluarga lain di daerah Petojo, Jakarta Pusat.

Saat itu, Anida, ibunya, dan adik-adiknya masih tinggal satu rumah dengan bapaknya. Tetapi itu tidak bertahan lama.

Anida ingat ibunya sempat menitipkannya di rumah keluarganya di Bengkulu selama enam bulan ketika ia masih duduk di bangku SD. Anida tidak pernah bertanya kepada ibunya kenapa ia dititipkan di sana, tetapi ia menduga ibunya ingin menjauhinya dari permasalahan rumah tangga mereka.

Bapak Anida adalah pelaku KDRT. Anida beberapa kali menyaksikan bapaknya melakukan kekerasan fisik dan mencoba membunuh ibunya. Ia melihat ibunya dicekik dan diinjak. Anida tidak bisa berbuat banyak, bapaknya juga pernah berupaya membunuh Anida. Ia mengejar-ngejar Anida sambil membawa pisau.

Orangtua Anida, terutama bapaknya, bukan tipe orangtua yang terbuka kepada anaknya. Apalagi terkait isu kesehatan mental. Anida hanya ingat ia pernah curi-curi dengar bapaknya dibilang mengidap sakit jiwa. Belakangan, saat Anida duduk di bangku SMP, ia baru melihat obat-obatan bapaknya dan diagnosis dokter kepadanya. Bapaknya juga mengidap skizofrenia.

Tetapi, perilaku abusive bapaknya tidak ada hubungannya dengan gangguan mental yang ia miliki. Anida merasa bapaknya memegang nilai-nilai patriarkis: bapaknya merasa lebih berkuasa karena ia pencari nafkah di keluarga. Ia juga menuntut perempuan untuk tunduk dan patuh kepadanya. Di satu titik, nilai-nilai yang ia pegang itu membuat bapaknya merasa ia bisa bertindak sewenang-wenang kepada istri dan anak-anaknya.

Hidup mereka sempat baik-baik saja. Bapaknya membuka usaha reparasi elektronik kecil-kecilan di dekat rumah mereka, di Petojo. Usaha itu berjalan baik, Anida juga merasakan kondisi ekonomi keluarganya lancar. Tetapi, ketika Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama menjabat sebagai gubernur di DKI Jakarta, usaha bapaknya itu kena gusur. Sejak itu, perkara besok makan apa dan tinggal di mana menjadi semakin tidak pasti bagi keluarganya.

Pada satu titik, bapak Anida mengusir mereka dari rumah. Ibu Anida belum bekerja saat itu. Hidup mereka luntang-lantung selama satu bulan. Menumpang dari satu tempat ke satu tempat lainnya, sebelum akhirnya mendapatkan rumah kontrakan di daerah Taman Kota, Daan Mogot.

“Kami sempat numpang di tempat kos temanku. Satu kamar berempat. Benar-benar nggak ada tempat lagi. Ibu aku lalu cari kerja, dan kami pindah ke Taman Kota. Adik aku yang carikan tempat. Lalu kami pindah lagi ke Roxy karena banjir,” ujar Anida.

Dari total upah Rp1,5 juta/bulan ibunya, Rp1 juta dipakai untuk membayar biaya sewa kontrakan. Tersisa Rp500 ribu untuk mereka berempat pakai untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Kamar yang ditinggali oleh Anida, Farah dan seorang teman mereka setahun terakhir. Kamar petak semi permanen tanpa ventilasi seringkali menjadi pilihan paling masuk akal bagi kebanyakan warga di pemukiman padat Jakarta.(Project M)

Anida baru sadar ketika ia beranjak dewasa bahwa pengalaman-pengalaman traumatik yang ia alami semasa kecil berpengaruh besar pada hidupnya. Pengalaman itu memberikan goresan-goresan luka yang sulit untuk disembuhkan.

Ia awalnya sering mengalami sakit kepala dan susah tidur. Timbul pula ketakutan-ketakutan bahwa bapaknya akan datang kembali ke hidupnya dan mencoba membunuh keluarganya.

Ketika Anida lolos SBMPTN, kesenangan yang Anida rasakan tidak berlangsung lama. Kondisi rumahnya sedang tidak baik-baik saja, dan ia tidak kuat menanggung beban hidup saat itu. Anida melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak berbutir-butir obat racikan sakit kepala yang pernah diresepkan kepadanya.

Ia dilarikan ke rumah sakit dan diopname selama tiga hari.

“Waktu itu belum ke psikiater. Aku belum paham soal isu kesehatan mental,” ceritanya.

Anida kemudian dibawa ke psikiater, menggunakan BPJS Kesehatan. Ia melalui beberapa kali proses asesmen, dan dokter memberikannya obat-obatan. Awalnya, ia didiagnosis mengidap depresi mayor. Tetapi Anida merasakan gangguan psikotik yang ia alami semakin parah. Dokter kemudian sempat memberikan diagnosis bipolar dengan psikotik, lalu terakhir ia didiagnosis mengidap skizofrenia.

Jika Anida mengingat-ingat lagi, itu bukan percobaan bunuh diri pertama dan terakhirnya. Ia melakukan percobaan bunuh diri kembali setelah keluarganya diusir oleh bapak. Saat itu kondisi emosional ibunya menjadi tidak stabil. Kondisi ekonomi juga begitu terpuruk. Ketakutan Anida akan bapaknya semakin menjadi-jadi. Ia kembali menenggak berbutir-butir obat.

“Kalau diingat-ingat, waktu kecil aku juga sering melakukan percobaan bunuh diri. Aku menjedot-jedotkan kepala sampai bocor, terus pernah mau menenggak baygon. Itu waktu aku kelas 6 SD,” cerita Anida.

Anida masih sering merasa linglung–efek dari isi kepalanya yang selalu penuh–sampai-sampai ia tidak berani pergi jauh seorang diri. Ia pernah tiba-tiba kambuh dan merasa kebingungan, tidak tahu arah, dan tidak tahu siapa dirinya, ketika ia sedang berjalan seorang diri.

“Ya, udah, aku ngemper di pinggir jalan. Mainin tanah. Benar-benar kayak orang bingung. Untung itu nggak jauh dari rumah sakit, aku dibawa warga sekitar dirawat inap di sana.”

Tetapi, semenjak kuliah, kondisi mental Anida relatif membaik. Setidaknya, ia tidak lagi melakukan percobaan bunuh diri. Obat-obatan yang diresepkan kepadanya membantu untuk meredakan halusinasi, depresi, dan gangguan tidur yang ia alami.

Anida sempat mengungkapkan kekhawatiran akan efek samping obat kepada dokternya. Ia bertanya apakah obatan-obatan yang diresepkan kepadanya dapat meningkatkan risiko sakit ginjal atau masalah-masalah kesehatan lainnya. Dokternya bilang, “Risikonya ada, tapi lebih kecil dibandingkan risiko kamu menyakiti diri dan bunuh diri jika kamu nggak minum obat.”

Lebih dari itu, hidup Anida menjadi lebih baik karena ia menemukan kawan-kawan yang menerima dan ada untuk dirinya.

“Kayaknya orang-orang di sini pada sayang banget sama Anida.”

“Banget,” jawab Bunda.

“Sayang. Makanya badannya gemuk di mari,” tambah temannya.

Obat antispikotik yang dikonsumsi sehari-hari oleh Anida untuk meredakan gejala skizofrenia yang diidapnya. (Project M)

Aktivisme dan Inisiatif Dapur Umum di Pancoran

Sejak kuliah, Anida aktif bersolidaritas dalam kegiatan aksi, konsolidasi, hingga terlibat dalam kerja-kerja LSM (lembaga swadaya masyarakat).

Anida pernah dituduh sebagai penyusup ketika ia sedang mengikuti suatu aksi protes. Ia bersama dengan kawan-kawan mahasiswanya berada dalam satu baris mahasiswa yang semuanya memakai jas almamater. Anida sedang tidak membawa jasnya, ia memakai jaket abu-abu polos saja.

Di tangannya, Anida memegang poster dengan tulisan, “Usir Aparat dari Tanah Papua”.

Tiba-tiba, polisi berdiri di mimbar dan dengan menggunakan toa meneriaki barisan mahasiswa, “Hati-hati ada penyusup! Yang jaket abu-abu!” sambil menunjuk ke arah Anida.

Sejak itu, Anida skeptis dengan demo-demo yang pesertanya hanya mahasiswa. Ia merasa aksi protes semacam itu terlalu eksklusif. Orang-orang yang bukan mahasiswa atau tidak memakai jas almamater bisa dengan mudah dicap sebagai penyusup.

Selama kuliah, Anida ikut bersolidaritas menolak penggusuran yang terjadi di Tamansari, Bandung, hingga di Kulon Progo, Yogyakarta. Ia turut serta dalam aksi demonstrasi menolak RKUHP dan RUU KPK pada 2019, juga aksi menolak RUU Cipta Kerja pada 2020. Anida juga sempat magang selama beberapa bulan di sebuah lembaga yang melakukan pendampingan hukum kepada korban-korban kekerasan seksual.

Dengan Farah, Anida telah berkawan lama. Mereka sering bertemu di acara-acara aksi, kemudian menjadi semakin dekat sejak mereka sama-sama mengelola dapur umum.

“Jadi, Anida orangnya gimana? Kok kamu bisa jadi dekat banget sama Anida?”

“Nyusahin!” kata Farah usil. “Ya, kita bisa dekat karena nyambung aja. Seleranya sama. Pendiriannya sama.”

“Kenapa sampai rela kamarnya ditumpangin?”

“Anida bukan numpang.” Farah membela Anida. “Kita sama-sama butuh girl support,” katanya. Ketika Farah sedang dalam masa-masa terpuruk, Anida hadir dan menemaninya.

Anida merasa kawan-kawan dan warga di Pancoran telah jadi support system bagi dirinya. Mereka bisa memahami kondisi Anida, dan pada saat yang sama selalu menemani dan memberikannya dukungan. Ia tak pernah merasa kelaparan di sana, sebab ada saja warga yang akan memberikannya makan. Nasi, lauk, dan sayur-sayuran. Lauknya terdiri dari ikan, telur, atau ayam–jika nasibnya sedang mujur.

“Rokok juga dari teman-teman. Kadang aku kayak, ‘Eh, minta dong.’“

Anida dan kawan-kawannya menetap di Pancoran bermula dari inisiatif dapur umum, yang kegiatan utamanya adalah membagi-bagikan makanan kepada warga terdampak Covid-19.

Ketika anak-anak gerakan berkenalan dengan Anida pertama kali, tak sedikit dari mereka yang merasa kikuk. Masih banyak yang belum paham soal isu kesehatan mental. Mereka kerap melemparkan jokes yang mereka sebut tidak “politically correct”, mulai dari stigma soal gangguan mental sampai melakukan body shaming.

“Habis becanda-canda gitu, ternyata Anida-nya beneran skizo. Anjir. Merasa berdosa banget,” ujar seorang kawan Anida, mengenang kali pertama ia bertemu Anida. “Soalnya, selama hidup, belum tahu soal skizofrenia. Belum pernah ketemu orang yang mengalaminya langsung.”

Kadang, ada pertanyaan-pertanyaan polos tentang kesehatan mental yang mereka lemparkan ke Anida.

“Psikolog tuh kayak bisa nebak-nebak gitu, ya?” seorang kawan Anida bertanya.

“Maksudnya indigo?” kawan lainnya menimpali.

“Nggak. kayak dia bisa ngebaca orang, gitu.”

“Dukun?”

“Bukan! Kayak dia bisa tahu kalau kita sakit jiwa.”

“(Baca) dari tingkahnya, maksudnya. Jadi misal kelihatan lo lagi stres,” jelas Anida.

“Kalau ini racun-racun lo, ya, Da,” ujar kawannya lagi ketika melihat bungkusan obat Anida.

“Racun, racun! Kalian ini. Kok jadi Anida yang disalahin,” bela Bunda.

Suatu waktu, Anida kambuh. Ia berhalusinasi melihat bayangan bapaknya di cermin di depannya. Suasana sedang ramai saat itu. Orang-orang sedang berkumpul dan berbincang santai di teras dapur umum.

Tiba-tiba, Anida menonjok kaca di depannya sampai pecah. Secara tidak sadar, Anida menggenggam pecahan-pecahan kaca di telapak tangannya. Tangannya gemetar. Darah mulai mengucur. Tidak ada yang bisa membuka atau membujuk Anida untuk melepaskannya.

Orang-orang di sekitarnya panik, tidak tahu apa yang mesti mereka lakukan.

Anida tidak tahu pasti penyebab ia terpicu saat itu. Kambuh dan berhalusinasi telah jadi hal biasa bagi Anida, meski jarang sampai separah itu. Anida menduga ia tertekan dengan situasi Pancoran yang saat itu sedang genting. Menyaksikan kerusuhan atau orang berkelahi membuat Anida mudah terpicu. Apalagi ada isu penggusuran dalam konteks Pancoran.

“Aku nggak bisa melihat orang berantem. Pasti kambuh,” cerita Anida.

Sejak kejadian itu, kawan-kawan dan warga Pancoran berupaya untuk menciptakan ruang aman bagi Anida. Mereka berkomitmen untuk menjadi saling mengerti dan menguatkan satu sama lain.

“Kalau Anida lagi kambuh, kita ledekin. ‘Da, lagi kambuh nih, ye.’ Kita jogetin, bertingkah konyol. Biar ketawa.”

Ketika mereka membuka dapur umum di Pancoran untuk pertama kalinya, pada Maret 2021, suasana Pancoran Buntu II sedang tegang. Anak perusahaan Pertamina, PT Pertamina Training and Consulting (PTC), mengklaim sepihak tanah warga sebagai milik mereka. Beko atau eskavator telah bersiap di dekat daerah PAUD untuk merobohkan bangunan. Setiap malam, brimob berkeliling kampung dengan motor trail, memakai seragam dan membawa senjata lengkap.

Pada 17 Maret 2021, pihak perusahaan mengerahkan ormas Pemuda Pancasila (PP) untuk merampas rumah dan mengusir warga. Pihak ormas memprovokasi warga dan melemparkan batu ke arah warga. Bentrok terjadi. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mendata 28 orang luka-luka, 8 di antaranya luka berat akibat bentrok.

Tidak terpikir oleh Anida, Farah, dan kawan-kawan lain di Dapur Umum bahwa mereka akan bersolidaritas mendampingi warga melawan penggusuran paksa. Niat mereka ke sana awalnya sederhana saja. Mereka ingin membantu meringankan beban ekonomi para warga, yang kebanyakan bekerja sebagai pemulung, melalui makanan.

Anida menghabiskan waktu dengan anjing milik seorang penghuni di sekitar tempat tinggalnya. (Project M)

Dapur umum telah berjalan sejak sebelum mereka sampai di Pancoran. Inisiatif ini terbentuk di awal pandemi, ketika banyak masyarakat kesulitan secara ekonomi hingga menjadi tunawisma. Program bantuan sosial dari pemerintah belum berjalan saat itu. Farah, kawan Anida, bercerita bahwa mereka urunan “goceng pertama” untuk membeli bahan makanan.

“Kayak beli minum, gitu. Dari yang biasanya buat mabok, akhirnya dialihkan untuk berbagi.”

Mereka, sebagai anak-anak yang kebanyakan berasal dari lingkaran mahasiswa, awalnya membagi-bagikan makanan ke lingkungan terdekat kampus terlebih dahulu. Saat itu di Depok. Kemudian, mereka mulai berpindah ke Jakarta, menyasar sepanjang jembatan Menteng ke Kuningan yang saat itu ramai didatangi para tunawisma yang mencari tempat beristirahat. Setelah itu, barulah mereka bernaung di Pancoran.

Dari yang awalnya hanya diinisiasi oleh kurang dari 10 orang, inisiatif ini berkembang hingga mendapatkan dukungan solidaritas dari berbagai pihak. Mereka membuat akun Instagram @dapurumum_ yang pengikutnya kini ada 1.000 orang. Pada masa awal-awal pandemi, mereka bisa mendapatkan sumbangan hingga Rp5 juta per bulannya.

Dalam mengelola dapur umum, ada yang bertugas untuk belanja, memasak, dan mencuci piring.

“Anida kebagian tugas apa?”

“Mencicipi.”

“Sambil jajan-jajan dikit, lah,” timpal Anida.

“Belanja. Jajan. Itu bagian dia. Pokoknya makanan udah jadi dia bawa pulang dulu. Udah disisain empat buat di rumah,” tambah Farah.

“Anjir! Hahaha. Tau aja lo.”

“Pokoknya yang daging-daging udah dikresekin. Incerannya dia yang bungkusan nasinya paling tebel,” sahut kawan Anida lainnya.

Anida terbahak. Wajahnya memerah.

“Bagus. Nggak ada yang bilang buruk. Kita harus menolong diri sendiri dulu, kan, baru orang lain. Sok-sokan bantu orang, keluarga sendiri kelaparan,” ujar Farah.

Mereka juga turut membuka Pasar Gratis, membagi-bagikan pakaian bekas kepada warga, dan memberikan makanan kering kepada kucing dan anjing jalanan.

Sebelum mereka datang, warga Pancoran menaruh ketidakpercayaan terhadap orang luar. Anak-anak tidak berani menghampiri orang asing dan selalu memakai helm ketika keluar rumah. Mereka takut kena timpuk batu, sebab warga setempat telah beberapa kali mengalami bentrok. Mereka juga tidak berani mendekati PAUD, tempat belajar yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak, sebab PAUD telah jadi markas kepolisian.

Anak-anak Dapur Umum melakukan pendekatan ke anak kecil dengan mengajak mereka berkeliling memberikan makan ke kucing dan anjing di sekitar rumah. “‘Ayo kita kasih makan kucing! Masa kucing di PAUD nggak dikasih makan? Kan polisinya nggak kasih makan kucing.’” Farah memeragakan caranya berdialog dengan anak-anak.

Lalu, ia, Anida, dan kawan-kawan Dapur Umum lain mengajarkan mereka calistung dan mengajak mereka menggambar, mewarnai, dan menempelkan gambar-gambar itu di tembok-tembok bangunan. Saat itu, masih banyak anak yang belum dapat mengenali warna, apalagi membaca.

Mereka juga mendampingi anak-anak untuk mengelola emosi dan memahami makna penggusuran yang terjadi pada mereka. Setidaknya, mereka bisa paham bahwa mereka tidak sendiri. Penggusuran tidak hanya terjadi pada mereka, dan ada orang-orang mau bersolidaritas dengan mereka.

“Saking antusiasnya, anak-anak di sini nyanyinya lagu-lagu anarki semua.”

‘Panjang umur anarki, hidup tanpa hierarki.’ Mereka sampai hafal.”

“Ponakan-ponakan gue pada hapal,” ujar seorang anak muda yang tinggal di sana. “Pas lagi sakit, mereka nyanyinya itu. Katanya biar semangat.”

Lambat laun, warga menaruh kepercayaan kepada mereka, dan meminta bantuan untuk meramaikan aksi dan melakukan konsolidasi.

Bersatu dalam Forum Pancoran Bersatu dan Koalisi Rakyat, mahasiswa dan masyarakat dari berbagai penjuru datang untuk mendukung perlawanan warga setempat. Mereka ikut melakukan ronda tiap malam bersama warga, juga membantu warga merebut kembali PAUD yang tadinya menjadi markas aparat keamanan.

Perhatian Anida besar terhadap isu-isu kekerasan; kekerasan oleh negara, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan seksual. Kuliah di jurusan sosiologi membuatnya mendapatkan banyak akses bacaan terkait isu sosial dan politik. Lebih dari itu, Anida mengalami sendiri hidup dalam kemiskinan, menjadi korban penggusuran, dan menjadi korban KDRT.

Ia tidak ingin orang lain merasakan apa yang ia alami.

Menyaksikan bentrok dan tekanan terhadap warga di Pancoran membuat hatinya perih. Ia telah mengalami langsung rasanya tidak punya rumah. “Penggusuran bisa jadi titik awal buat jadi homeless”, ujar Anida.

Buku bacaan dan laptop yang sering digunakan Anida untuk mengerjakan tugas kuliah serta kegiatan aktivisme. (Project M)

Pendidikan dan Kemiskinan Struktural

Anida sedang menunjukkan obat-obatan yang diresepkan dokter kepadanya.

“Obat apa, nih? Tidur?” tanya kawannya.

“Lo mau?”

“Berapa?”

“25 ribu per keping,” jawab Anida.

“Mahal!”

“Lumayan buat rokok-rokoknya dia!” Bunda membelanya.

“Tapi ntar gue kacang ijo, lagi.”

Uang jajan adalah kemewahan bagi Anida. Meski bukan anjuran dokter, Anida sedang berusaha untuk mengurangi konsumsi obat-obatannya. Ia ingin bisa hidup tanpa obat seperti kawan-kawannya yang lain.

“Kalau dokterku tahu, pasti aku kena marah,” katanya.

Anida mesti segera membereskan skripsinya, lulus, lalu mencari kerja. Jika ia tidak segera lulus dan dapat kerja, uang Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) miliknya akan habis dan keluarganya akan terancam tak punya tempat bernaung lagi.

Ketika Anida lolos tes SBMPTN, gurunya yang mengetahui kondisi ekonomi Anida menganjurkannya untuk mendaftar program KJMU yang memberikan bantuan dana kuliah bagi mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik. Anida lolos program tersebut.

Kini, setiap semester, di luar dari biaya kuliah, Anida mendapat Rp8 juta. Meski khawatir terdengar lancang, Anida bilang terus terang bahwa uang itu telah membuatnya seperti tulang punggung bagi keluarganya. Ia menyerahkan hampir seluruh uang KJMU untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, kecuali Rp50 ribu-Rp100 ribu yang ia ambil tiap minggunya untuk membiayai ongkos transportasi. Sesekali juga ia ambil jatah untuk kebutuhan kuliah seperti mencetak tugas kuliah, atau biaya reparasi laptopnya yang sering bermasalah.

Untuk konsultasi ke psikolog dan psikiater terkait kondisi mentalnya, Anida mengandalkan BPJS Kesehatan. Ia dan ibunya sempat mengajukan menjadi peserta BPJS secara gratis, program yang tersedia khusus bagi masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi. Farah dengan sayang bilang bahwa Anida adalah contoh anak muda yang hidupnya bertopang pada program-program sosial pemerintah.

Bagaimana dengan kebutuhan senang-senang? “Aku sempat ambil Rp2 juta buat beli HP. HP lamaku sering error”, katanya. Ia kemudian berupaya mengoreksi kata-katanya, “Eh, itu buat senang-senang nggak, sih? Nggak, ya?”

Selama pandemi, Anida mengikuti perkuliahan daring, menjadikan kuota internet sebagai salah satu pengeluaran rutin terbesarnya. (Project M)

Lolos SBMPTN adalah pencapaian besar bagi Anida. Ia sempat putus sekolah. Saat SMA, ia mengalami depresi. Ia sering terlihat murung dan menyendiri. Selama sekitar tiga bulan, Anida tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Nilai-nilainya jeblok. Ia tidak tahu ke mana bisa mencari bantuan, dan belum tahu banyak soal isu kesehatan mental.

Tetapi Anida bukan anak yang bodoh. Seorang guru sekolahnya mencoba mendekati Anida dan mendorongnya untuk mengejar Program Pendidikan Kesetaraan SMA atau Paket C. Anida berhasil terbujuk. Ia mengikuti Paket C dengan tekun, dan berhasil lulus. Lewat SBMPTN, Anida diterima masuk jurusan sosiologi di sebuah perguruan negeri di Jakarta.

Kuliah jadi masa-masa yang menyenangkan bagi Anida. Ia jadi banyak baca buku-buku tentang postmodernisme, Marxisme, dan psikoanalisis. Salah satu penulis favoritnya adalah Carl Gustav Jung, seorang psikiater dan psikolog asal Swiss yang berperan besar mengembangkan konsep psikoanalisis pada 1900-an.

Saat ini, Anida sedang asyik membaca buku Michel Foucault yang berjudul “Kegilaan dan Peradaban”, yang ia pinjam dari kawannya. Anida merasa isi buku itu relevan dengan kondisinya sekarang. “Orang gila dianggap nggak rasional dan dipisahkan dari masyarakat sosial. Jadi relate aja sama keadaanku”, ungkapnya.

Anida teringat akan pengalaman tak menyenangkannya ketika dirawat inap di poliklinik kejiwaan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Ia dibawa ke bangsal kejiwaan yang letaknya terpisah dari poliklinik-poliklinik lain. Lalu ia diletakkan di sebuah kamar yang isinya hanya dirinya seorang. Hanya ada kasur dan kamar mandi di dalam kamar. Tak ada listrik sama sekali. Jendela kamarnya dipasang jeruji besi. Anida merasa begitu terisolasi dari lingkungan hidupnya sendiri.

Untuk skripsinya, Anida sebenarnya pernah mencoba mengajukan topik tentang warga Pancoran yang terancam jadi korban penggusuran untuk skripsinya. Tapi, topik itu ditolak oleh dosen pembimbingnya. Anida bilang dosennya memihak kepada PT PTC, dan menganggap skripsi Anida terlalu berpihak kepada para warga.

Ia lalu sengaja tidak memulai-mulai skripsi di bawah bimbingan dosen tersebut supaya ia bisa ganti dosen pembimbing. “Kesal soalnya”, ujarnya.

Saat ini, dosen pembimbingnya telah berganti. Tetapi memulai skripsi masih jadi tantangan tersendiri bagi Anida. Jika ia tidak minum obat, gangguan psikotik Anida akan kambuh. Jika minum obat, Anida akan merasa ngantuk sepanjang hari. Keduanya bikin dirinya sulit untuk berkonsentrasi mengerjakan skripsi.

“Bisa nggak, ya, aku lulus?”

Coretan di sudut kamar Anida. (Project M)

Yang Miskin Tetap Miskin

Sebagai kelahiran 1999, Anida masuk ke dalam kategori Generasi Z, yaitu generasi yang lahir pada rentang 1996-2012. Karakteristik-karakteristik yang umum dilekatkan pada Generasi Z: gemar teknologi, cerdas, melek secara finansial, fleksibel, dan toleran.

Pada saat yang sama, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Generasi Z yang saat ini mulai memasuki dunia kerja juga jadi salah satu kelompok usia yang paling banyak menjadi pengangguran dan rentan masuk dalam kemiskinan ekstrem. Per Februari 2021, angka pengangguran pada usia 20-24 tahun mencapai 17,66%, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 14,3%.

Terlepas dari karakteristik unik setiap generasi, kemiskinan dapat menimpa siapa saja, terutama anak-anak yang lahir dari keluarga miskin. Hasil riset SMERU Institute pada 2019 menunjukkan bahwa anak yang lahir dari keluarga miskin cenderung tetap menjadi miskin ketika mereka dewasa: pendapatan anak-anak miskin setelah dewasa 87% lebih rendah dibanding mereka yang tidak besar dari keluarga miskin.

Annisa Beta, pendiri Anotasi.com dan dosen ilmu kebudayaan di University of Melbourne, melihat fenomena ini tak ubahnya seperti fenomena “politics of survival” yang terjadi di Amerika Serikat. Di satu sisi, ada relasi kuasa antara pemerintah dengan anak muda yang membiarkan mereka bertahan hidup sendiri, tanpa ada jaring pengaman sosial yang dapat melindungi mereka dari keterpurukan ekonomi.

Di sisi lain, pemerintah memberikan gambaran “The American Dream” versi Indonesia lewat perwakilan anak-anak muda yang dipilih oleh pemerintah–dari staf khusus milenial yang semuanya adalah pendiri startup, memiliki modal untuk berbisnis, dan adalah lulusan universitas prestisius, juga dari selebritas hingga influencer kaya raya semacam Atta Halilintar. Capaian-capaian yang sebenarnya mereka raih dari berbagai privilese yang mereka miliki.

Realitasnya, dapat berkuliah telah menjadi privilese sendiri bagi orang Indonesia. Pada saat yang sama, tawaran hidup yang lebih baik lewat kesempatan pekerjaan yang layak menjadi semakin langka di tengah kondisi kerja yang semakin ke sini semakin prekariat.

“Semua matriksnya neoliberal, bahwa kesuksesan seseorang bergantung pada seberapa keras orang itu bekerja. Ini jadi mengkhawatirkan karena persepsi ini jadi pembenaran. Bahwa kemiskinan adalah salah mereka sendiri”, jelas Annisa.

Selain subjek ideal, Annisa berargumen ada pula subjek tidak ideal versi pemerintah. Pertama, model anak muda yang gagal: mereka yang miskin dan sekadar berusaha untuk bertahan hidup. Kedua, mereka yang ‘nakal’: kritis terhadap pemerintah dan menuntut kondisi hidup yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang seringkali dapat label ‘anarkis’, ‘radikal’, ‘ekstremis’―bahkan ‘kadrun’ di masa pemerintahan Jokowi.

“Kalau protes sedikit, komisi anak nanti akan bilang anak-anak seharusnya tidak berpolitik. Atau, kasus seperti Ravio Patra yang tiba-tiba ditangkap”, tambah Annisa. “Mereka bisa diculik, hilang, hanya karena mereka mengekspresikan keinginan yang berbeda dari apa yang diinginkan yang berkuasa”.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE (Center of Reform on Economics) Mohammad Faisal mengamati bahwa isu krusial bagi kalangan anak muda saat ini adalah berkurangnya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di sektor formal. Indonesia sedang mengalami fase ‘bonus demografi’ atau meningkatnya populasi usia produktif, tetapi pada saat yang sama potensi ‘bonus demografi’ tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah.

“Sejak pandemi, lapangan pekerjaan lebih banyak di sektor informal. Anak-anak muda juga terpaksa bekerja di sektor informal. Bagaimana bisa menikmati ‘bonus demografi’ kalau pekerjaan tidak teratur, terpaksa masuk ke sektor informal, dan jumlah pengangguran meningkat?” ujar Faisal.

Anida, potret Gen Z yang hidupnya bertopang pada program-program sosial pemerintah di tengah kemiskinan struktural. (Project M)

* * *

Anida sedang duduk di bangku dekat warung mi instan Bunda. Ia diam saja. Raut mukanya agak muram.

“Kenapa lu, Da?” kata temannya, menghampiri Anida.

“Bising kepala gua”, jawabnya.

Sesekali Anida menoleh ke arah pacarnya yang sedang mengutak-atik mesin motor di luar kontrakan. Mereka belum lama pacaran. Sekitar sebulan.

Dulu Anida sempat takut untuk berkomitmen. Berdasarkan pengalamannya, pacar-pacarnya sebelumnya kerap merasa tidak nyaman dengan gangguan mental yang Anida alami, dan akhirnya meninggalkan dirinya.

“Sudah bertahun-tahun pacaran, lalu jadi nggak nyaman. Putus. Aku jadi takut”, cerita Anida.

Tetapi Anida mulai mencoba membuka diri dengan pacarnya saat ini. Kawan-kawannya di Pancoran merestui hubungan mereka, alias, mereka yang pertama menggoda dan berusaha mencomblangi Anida dan pacarnya sampai akhirnya mereka beneran pacaran. Orangnya baik, perhatian, suportif, kata mereka.

Hujan turun deras. Tak lama sebelumnya wilayah Pancoran Buntu II sempat kena banjir. Di gang sebelah tak jauh dari kontrakan mereka, ketinggian banjir bisa sampai setinggi dengkul orang dewasa.

Duduk di sebelah Anida, Farah menuangkan satu porsi bakso ke dalam mangkok. Ia mengajak Anida dan dua orang lainnya ikut makan. Mereka berempat makan bersama di satu mangkok, satu butir bakso dibagi menjadi dua sampai empat potong.

Awan, seekor kucing jantan peliharaan warga, datang menghampiri Anida. Cuaca sedang dingin-dinginnya, Awan duduk di pangkuan Anida, memeluknya, lalu tertidur. Farah bilang ia suka dirundung warga karena perilakunya yang lemah lembut. “Dikatain kucing bencong,” kata Farah.

“Emang kenapa kalau bencong, ya?” Sahut Anida. Ia mengelus Awan.

Farah menghubungkan handphone-nya dengan speaker bluetooth. Lagu Iwan Fals, Desa, memenuhi pojok jalan Pancoran Buntu II.

Untuk apa punya pemerintah, kalau hidup terus-terusan susah.


Laporan ini adalah tulisan perdana dari serial reportase #UnderprivilegedGenZ. Selain Awan si kucing jantan, nama seluruh warga Pancoran Buntu II dalam tulisan ini disamarkan. Baca pengantar kami untuk serial ini: Bias Kelas Gen Z. Serial ini didukung oleh Kawan M.

Pembaca bisa mengakses layanan konsultasi psikologi berikut:

  • Hotline Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri: +62 811 3855 472 (L.I.S.A).
  • Lihat daftar penyedia layanan konseling online di sini.
  • Lihat daftar puskesmas dan rumah sakit penyedia layanan kesehatan mental di Jabodetabek di sini.

Terima kasih sudah membaca laporan dari Project Multatuli. Jika kamu senang membaca laporan kami, jadilah Kawan M untuk mendukung kerja jurnalisme publik agar tetap bisa telaten dan independen. Menjadi Kawan M juga memungkinkan kamu untuk mengetahui proses kerja tim Project Multatuli dan bahkan memberikan ide dan masukan tentang laporan kami. Klik di sini untuk Jadi Kawan M!

Liputan Terkait
Mawa Kresna
25 menit