Creative Commons License

Cerita Kurir di Gorontalo: Dari Disidang Bupati Sampai Ancaman Parang Di Kepala

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Franco B. Dengo

07/06/2021

Gusnul Yakin bersiap mengantar paket yang memenuhi motornya di depan sebuah kantor SiCepat di Kota Barat, Gorontalo. Jumlah paket di setiap bulan Ramadan melonjak luar biasa. (Project M/Franco B. Dengo)

Sepekan jelang Lebaran, intensitas kerja para kurir berlipat-lipat, tak ada libur dan minim waktu istirahat. Mereka berjibaku seharian: memenuhi hasrat berbelanja warga sekaligus penjual di situs jual beli online.

Di depan sebuah gerai, Rifkiansyah Suleman (22) sibuk bolak-balik membopong sebuah bungkusan yang hampir seukuran tubuhnya. Ia terlihat kelimpungan mencari bagian yang kosong dari sadel motornya, sebab yang tersisa hanya bagian kecil yang sedari awal dilapangkan untuk bokongnya. Hampir seluruh bagian motor dipenuhi bungkusan berwarna hitam, membuat warna merah terang motor itu menjadi tampak gelap. Tiga bungkusan raksasa tersebut berisi paket yang harus ia antar hari itu juga, Selasa 11 Mei 2021.

Semua paket akhirnya rampung berada di atas motor. Tapi ia masih menemui kebuntuan lain. Lantaran paket yang beratnya dua kali lipat dari tubuh kurusnya, ia kesulitan melepas penopang motor. Setelah empat kali percobaan gagal, rekan kerjanya datang membantu.

Rifki adalah salah satu dari empat kurir di kantor JNT (Jet & Tom) Express cabang Kabupaten Bonebolango, Provinsi Gorontalo. Di daerah seluas sekitar 2.000 kilometer persegi—dengan 18 kecamatan itu—mereka bertanggung jawab mengantarkan paket para pembeli di situs jual beli online.

Siang itu, ia membawa 94 paket. Dalam beberapa hari terakhir, ia sering mengantar lebih dari 100 paket dalam sehari. Saya meminta izin untuk mengikuti aktivitasnya mengantar paket-paket tersebut.

“Yakin?” tanya dia. “Ini bukan perjalanan biasa. Mending ikuti kurir lain!”

Ia bersedia saya buntuti. Kami berangkat dari depan gerai JNT Bonebolango di Desa Tumbihe, Kecamatan Kabila. Lokasi gerai itu tidak jauh dari pusat perbelanjaan Kota Gorontalo. Saat itu jalan raya sedang ramai-ramainya dengan aktivitas warga yang pergi-pulang belanja. Sementara Rifki sibuk mengantar belanjaan orang lain.

Bagi sebagian warga, pekan terakhir jelang Lebaran memang jadi masa-masa tenggang untuk berbelanja. Tidak hanya di pusat-pusat perbelanjaan, keriuhan juga terjadi di situs-situs belanja online. Bagi kurir seperti Rifki, momentum seperti ini bisa menjadi berkah; bisa juga menjadi petaka.

“Kalau sudah ada promo-promo, diskon, atau gratis ongkir di Shopee, saya memang sudah mempersiapkan mental. Memang kita bisa capai target karena banyak paket yang masuk. Tapi, ya, itu, dituntut untuk lebih capek dari sebelumnya. Berkali-kali lipat, malah,” katanya.

Rifkiansyah Suleman mengendarai motor melewati sebuah gang sempit. Tidak jarang ia mengantar paket sampai ke dapur rumah pelanggan. (Project M/Franco B. Dengo)

Beberapa hari belakangan, hujan mengguyur hampir seluruh wilayah Gorontalo. Namun, siang itu, pukul 13.30 Wita, matahari nampak tidak berniat mengurungkan teriknya. Laju motor Rifki tiba-tiba melesat ketika melewati gapura bertuliskan “Selamat Datang”. Gapura itu menjadi penanda kalau kita sudah memasuki wilayah tugasnya: Kecamatan Suwawa dan sekitarnya.

Tak jauh dari situ, kami mulai keluar dari jalan utama, masuk ke lorong-lorong jalan rabat beton, melewati dapur-dapur rumah warga, hingga tibalah di alamat pelanggan pertama. Rifki sangat hati-hati turun dari motor. Ia tahu, kesalahan sedikitpun akan memberantakkan paket-paket yang sedari pagi ia sortir. Dua pesanan telah sampai kepada pemiliknya di wilayah itu.

Kami kembali ke jalan utama. Motor Rifki berhenti di depan sebuah rumah besar yang berhadapan dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Rumah itu milik salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bonebolango. Rifki disambut seorang perempuan baya yang sepertinya sudah menanti paket cash on delivery (COD) atau paket bayar di tempat itu.

Si pelanggan langsung membuka paket dan mengeluarkan beberapa gamis warna-warni. Satu per satu gamis tersebut dicocokkan dengan warna kulitnya. Beranda rumah itu seketika menjadi kamar ganti. Sementara itu, Rifki berdiri bak sebuah cermin, sesekali ia menengok jam tangan, seolah memberi tanda: masih ada 90 paket yang harus saya antar!

Pelanggan itu kemudian masuk ke dalam rumah membawa gamis-gamis tadi, meninggalkan cermin hidup yang menunggu bayaran. Saya menghitung, setidaknya 25 menit Rifki mondar-mandir di depan pintu, sebelum akhirnya si pelanggan itu keluar dan nampak kaget melihat Rifki yang masih ada di depan rumah. 

“Lupa bayar. Tidak apa-apa. Rumah sini memang sudah langganan saya antar paket,” ujar Rifki.

Runyamnya Bayar di Tempat

Waktu terasa berjalan sangat lambat ketimbang laju motor dan gerak Rifki. Satu per satu paket mulai mengurangi beban motor. Dari rumah ke rumah, dari kantor ke kantor, dari lorong ke lorong, hingga kembali ke jalan raya. Begitu seterusnya. Ia hanya punya waktu menghela napas normal saat menelepon untuk konfirmasi pengantaran paket.

Menurut Rifki, sistem bayar di tempat membuat proses transaksi menjadi runyam dan sangat menyita waktu. Masih banyak warga yang belum mengetahui persis bagaimana sistem COD tersebut. Hal ini membuat ia harus menjelaskan berulang-ulang kali. Belum lagi jika ada pelanggan yang memaksa melihat langsung isi paket sebelum membayar. Dalam situasi-situasi seperti itu, kurir menjadi sangat berisiko. Seperti yang ia alami pada pertengahan tahun 2020 kemarin.

Mulanya semua berjalan baik-baik saja. Pria itu menerima paket COD dengan sukacita, dan membayar sesuai harga yang tertera pada paket. Rifki kemudian melanjutkan perjalanan. Selang beberapa menit, telepon genggamnya berdering. Seturut menyelesaikan transaksi beberapa paket, ia mengangkat telepon yang tak berhenti berdering itu.

“Halo…”

“Kamu mau lari, ya? Kurang ajar! Di mana kamu sekarang?”

“Saya tadi masih sibuk menelepon pelanggan dan mengantar paket, Pak.”

“Saya tunggu sekarang di rumah. Nggak bisa kau lewat pulang!”

Ternyata penelepon tersebut pelanggan yang tadi. Dia merasa paket yang dia terima tidak sesuai dengan apa yang istrinya pesan. Rifki langsung berbalik arah menuju rumah pelanggan itu dengan perasaan gusar. Di tahun pertamanya bekerja sebagai kurir, ia langsung berhadapan dengan situasi macam ini.

Di depan rumah yang sebelumnya sepi, saat ia balik, tiba-tiba ramai dikerumuni warga. Amukan si pelanggan itu ternyata sampai ke telinga tetangga-tetangganya. Rifki melangkah dengan pelan memasuki rumah tersebut. Di hadapannya seorang laki-laki mengamuk tak karuan.

Paket yang dipesannya adalah satu paket speaker mobil yang harganya lumayan mahal. Menurut dia, barang yang sampai sama sekali bukan seperti yang dipesan istrinya, sembari memperlihatkan bukti-bukti pemesanan kepada Rifki. 

Rifki tahu betul apa yang sedang terjadi. Sang pelanggan itu mungkin ada benarnya. Tapi, sebagai kurir, ia hanya bisa berupaya menjelaskan seterang-terangnya tentang sistem bayar di tempat, dan posisinya yang hanya sebagai pengantar paket. Apalagi si pelanggan tidak melakukan video unboxing ketika membuka paket yang, bisa saja menjadi alasan kuat untuk pengembalian barang kepada penjual.

Tak hanya itu, alasan Rifki bersikukuh bertahan adalah, jika dikembalikan ke kantor, harga satu paket speaker mobil tak bisa ia bayar dengan gaji dua bulannya saat itu.

Namun pelanggan itu sama sekali tak mau mendengarkan penjelasan Rifki. Dia tetap menganggap Rifki seorang penipu, seorang pencuri. Malah makin brutal, dia pergi ke dapur dan mengambil sebuah parang berukuran lengan laki-laki dewasa. Rifki hanya bisa pasrah ketika parang tersebut diarahkan ke tengkorak kepalanya.

“Mereka pikir kami ini penjual. Jadi ketika apa yang mereka inginkan tidak sesuai, kami yang jadi sasaran, kami yang jadi pelampiasan,” kata Rifki.

Beruntung, warga yang ada saat itu langsung mengamankan Rifki. Ia sangat bersyukur diselamatkan keberuntungan.

Saat itu sebenarnya Rifki sudah menelepon kantor JNT. Ia juga menelepon tim legal JNT, tim atau person yang memang dibentuk khusus ketika ada konflik semacam itu, atau ada polemik-polemik mengenai transaksi. Tapi, saat itu, kata Rifki, tim legal sedang berada di luar daerah. Memang selama ini, menurutnya, tim legal hanya akan membantu yang di perkotaan, atau di tempat-tempat yang jaraknya gampang dijangkau. Begitu juga dengan pimpinannya di kantor.

“Kalau masih bisa ditanggulangi, tanggulangi saja dulu.”

Begitu yang diucapkan bosnya ketika parang hanya berjarak sepersekian meter dari kepalanya.

Rifkiansyah Suleman melayani seorang pelanggan yang membayar paket dengan sistem bayar di tempat. Ia pernah mengalami ancaman senjata tajam dari pelanggan saat barang yang diterima tidak sesuai pesanan. (Project M/Franco B. Dengo)

JNT bisa dibilang jasa pengiriman yang aturannya sangat memudahkan pengirim dalam metode sistem bayar di tempat. Jika di perusahaan ekspedisi lain tarif ongkos kirim (ongkir) dan biaya lainnya, dibayar di muka oleh pihak pengirim. Sedangkan JNT memiliki kebijakan ongkir bisa dibayar ketika paket diterima. 

Hal ini, menurut pandangan Rifki, sering dimanfaatkan oleh online shop. Belum kering dalam ingatannya ketika beberapa waktu lalu, seorang pelanggan membuka paket COD di depan kantor dan mendapati isi paket tersebut ternyata hanya batu. Orang-orang di kantor Rifki kebingungan karena kontak penjual juga tidak bisa dihubungi.

Terkait masalah yang muncul karena paket COD ini pihak JNT Bonebolango enggan memberikan konfirmasi. Saya mendatangi kantor mereka Sabtu 5 Juni 2021 namun si atasan bilang masih sibuk, belum bersedia, dan menawarkan untuk wawancara esok hari. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi keesokan harinya.

Terlampau banyak cerita-cerita pilu yang dialami Rifki, khususnya saat meladeni pelanggan yang menggunakan metode sistem bayar di tempat. Dalam beberapa kasus, ia bahkan memilih membayar barang yang telah dibuka dan dikembalikan pelanggan. Seperti yang terjadi di awal Ramadan kemarin. 

“Seseorang memesan paket Al-Qur’an, pakai bayar di tempat. Tapi pas sampai, sudah dibuka, katanya ongkirnya bukan begini dan dikembalikan,” cerita Rifki. “Saya membayarnya. Saya membawa paket itu pulang. Saya ikhlas. Itu paket suci.”

Waktu menunjukkan pukul 15.35 Wita. Tak terasa satu bungkusan besar berisi paket telah kosong. Masih ada sekitar 60-an paket yang masih harus diantar. Kami tiba di wilayah kantor-kantor pemerintah Kabupaten Bonebolango. Ternyata, dalam puluhan paket yang dibawa Rifki, ada satu paket dengan nama Bupati Bonebolango, Hamim Pou.

Saat itu kantor bupati sangat sepi. Saya mengikuti motor Rifki yang langsung menuju ke arah belakang kantor. Hanya ada satu orang berpakaian dinas yang kami temui waktu itu. Rifki lekas menghampirinya dan menyodorkan paket berupa dokumen yang dikirim dari Jakarta. Pria berpakaian dinas itu memperlihatkan gestur ketakutan. Begitu juga dengan orang berikutnya yang Rifki temui, termasuk anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) yang berjaga di pos.

Sikap penolakan yang mereka tunjukan itu bukan tanpa sebab. Pernah, suatu hari Rifki mengantarkan paket yang sama, atas nama bupati. Seorang pegawai menerima paket itu dan ternyata hilang, tidak sampai ke tangan bupati. Lantaran kasus itu, Rifki diundang bupati langsung di rumah dinas. Rifki menjadi kambing hitam dalam kasus hilangnya paket bupati itu, sebab tak ada satu pun pegawai yang mengaku menerimanya.

Beruntung Rifki punya bukti berupa foto saat ia menyerahkan paket tersebut. Ia akhirnya terbukti tidak bersalah dalam sidang tertutup itu. Kasus semacam ini bukan hanya sekali dua kali dialami Rifki. Pernah juga ia berhadapan dengan seorang kapolsek dan pimpinan-pimpinan instansi besar lainnya. Dan setiap kali dilanda kasus serupa, ia sendiri yang datang memberi penjelasan dan klarifikasi, bukan pimpinannya; tanpa dampingan dari orang-orang dari kantornya.

“Seperti kata bos. Kalau bisa saya tanggulangi, ya, disuruh tanggulangi sama saya sendiri,” ungkap Rifki.

Pernah, suatu hari Rifki mengantarkan paket yang sama, atas nama bupati. Seorang pegawai menerima paket itu dan ternyata hilang, tidak sampai ke tangan bupati. Lantaran kasus itu, Rifki diundang bupati langsung di rumah dinas. Rifki menjadi kambing hitam dalam kasus hilangnya paket bupati itu, sebab tak ada satu pun pegawai yang mengaku menerimanya.

Lebih Keras dari Punggung Sapi

Matahari perlahan mulai turun menuju barat. Sekitar pukul 16.30 Wita, kami memasuki tempat-tempat yang, secara pribadi, baru pertama kali saya kunjungi. Rifki terlihat sangat hafal setiap seluk beluk wilayah ini. Satu kali saya kehilangan jejak karena tak mampu mengimbangi kecekatannya. Rute ini telah menjadi jalur yang ia lalui setiap hari selama dua tahun terakhir.

Di jalanan sempit dan sepi, seorang petani melempar senyum kepada Rifki yang sedikit memperlambat laju motornya karena kebingungan. Ada yang menaruh alamat abu-abu, sehingga ia harus memasuki lebih dari dua rumah yang salah. Si petani mengarak dua ekor sapi yang baru saja kelar menggarap sawah. Sapi-sapi itu bahkan pulang ke kandang lebih cepat dibanding Rifki.

Rifki bekerja sebagai sprinter (sebutan ala kantoran buat para kurir) JNT sejak akhir tahun 2019. Sebelumnya, usai lulus sekolah menengah atas (SMA), ia bekerja sebagai tenaga bantu teknisi di salah satu hotel di Kota Gorontalo. Rifki merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya sudah menikah. Kini, tinggal dia yang hidup serumah bersama kedua orangtuanya. Rifki juga yang sekarang menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

Area tugas Rifki bisa dibilang yang paling sulit dijangkau: ujung timur Provinsi Gorontalo. Wilayah tugas yang sewajarnya untuk dua kurir.

Sebagai perbandingan, sehari sebelumnya, Senin 10 Mei 2021, saya mengikuti salah seorang kurir lain yang wilayah kerjanya di Kota Gorontalo. Gusnul Yakin (42), bekerja untuk ekspedisi Sicepat belum genap satu tahun. Saya bertemu dengan Gusnul sekitar pukul 07.00 Wita, ketika pintu beberapa pertokoan dan rumah-rumah di sekitar gerai tempat kerjanya masih tertutup rapat.

Hari itu Gusnul membawa 39 paket. Wilayah tugasnya di Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Ia memang sering berangkat kerja selepas salat subuh, di waktu siang punya sedikit waktu untuk membantu istrinya jualan makanan siap saji dan gorengan. Kami mengantar semua paket dalam kurun waktu sekitar 3 jam, dan menempuh jarak sekira 25 kilometer (pergi-pulang).

Gusnul dulunya adalah seorang honorer di lembaga pemerintahan. Belasan tahun ia menekuni profesi itu. Tahun 2017 ia memutuskan berhenti dan memilih menjadi kurir di JNE. Kala bekerja di JNE, ia pernah digaji Rp700 untuk satu pengantaran paket. Selain itu, ada banyak hal yang membuat Gusnul beberapa kali menyuarakan keluhan-keluhan atasannya waktu itu.

Sesuatu yang takut disampaikan teman-teman kurirnya yang lain, lantaran mereka beranggapan bahwa kasta antara kurir dan orang-orang di kantor sangatlah jauh.

“Tidak didengarkan. Berulang kali saya bilang tentang keadaan dan kesulitan-kesulitan kami di lapangan yang seperti apa. Tetap saja tidak dihiraukan,” ungkap Gusnul.

Deputi Kantor PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Cabang Utama Gorontalo, Taufan Fesa, membantah pernyataan Gusnul soal upah di bawah rata-rata itu. Diungkapkannya, upah kurir JNE berada di kisaran Rp1.200-1.500, tergantung kondisi wilayah geografisnya. Dia menolak membahas lebih detail soal pengupahan karena menurutnya itu adalah urusan dapur perusahaan.

Sistem pengupahan JNE, kata Taufan, menganut sistem crowdsourcing bukan outsourcing. Meski begitu, Taufan tidak memungkiri bahwa segala pengupahan kepada para kurir tergantung dari paket yang masuk.

“Kurir kan based on barang masuk, Pak. Jadi tidak bisa diprediksi,” katanya, Jumat, 4 Juni 2021.

Medio tahun 2020, di masa akhir jelang akhir kontraknya, Gusnul keluar dan mencari peruntungan di ekspedisi lain. Begitu juga dengan banyak teman sepenanggungannya di JNE. Mereka berbondong-bondong pindah sembari berharap nasib menjadi lebih berpihak.

Saat ini Gusnul merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Di jasa pengiriman yang sekarang, ia menerima gaji bulanan. Gusnul enggan menyebut nominal gajinya.

“Cukuplah untuk uang makan istri dan anak.”

Gusnul memiliki tiga anak. Dua di antaranya sekarang berada di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Gusnul dikontrak Sicepat selama setahun, beberapa bulan lagi menuju kedaluwarsa. Baik Gusnul, maupun Rifki sadar betul se-“sapi” apapun mereka bekerja, pada hakikatnya mereka hanya sekrup yang kapan saja bisa dicabut.

Rifkiansyah Suleman memarkir motornya di bahu jalan saat memastikan salah satu alamat yang tertera di paket. Dengan banyaknya paket yang harus diantar, ini sekaligus adalah kesempatan istirahatnya yang sangat singkat. (Project M/Franco B. Dengo)

Sama seperti Gusnul, kontrak Rifki juga tinggal menghitung bulan. Ia dikontrak selama dua tahun. Rifki menuturkan, sebenarnya ada beberapa kurir baru yang masuk dan ditempatkan di wilayah tugasnya. Namun, semuanya gugur, bahkan hanya bisa tahan tak sampai sebulan.

Menurut Rifki, ada banyak teman-teman kurirnya yang gugur sebelum kontrak habis. Alasannya bisa beragam, ada yang mengundurkan diri karena tidak mampu dengan sistem kerja kurir, ada banyak juga yang dipaksa gugur oleh atasan karena berusaha menjadi manusia biasa yang butuh istirahat.

Kalender para kurir tak punya tanda merah. Saat orang-orang bersuka cita merayakan hari-hari besar seperti Lebaran atau Natal, mereka tetap berjibaku di jalanan. Sebenarnya, kata Rifki, dalam satu minggu mereka diberikan satu hari untuk libur. Tetapi ketika misalnya mereka mengambil waktu libur itu, tetap saja ada paket yang masuk, dan nantinya menjadi beban motor pada keesokan harinya.

“Sama saja sih. Saya juga baru benar-benar menyadari ini.”

Suatu hari, ibu Rifki jatuh sakit. Ia sengaja mengambil jatah liburnya di pekan itu untuk merawat ibunya di rumah sakit. Belum sampai sehari ia mendampingi sang ibu, orang kantor meneleponnya, mengabarkan bahwa banyak paket yang masuk dan menanyakan kesediaan Rifki untuk mengantar. Rifki pergi saat itu juga, sembari berjanji dalam hati akan mengantar semua paket lebih cepat, agar bisa kembali mendampingi ibunya.

Selain tak ada hari libur, sesuai pengalaman Rifki, kurir juga sangat sulit untuk bisa sakit. Apalagi di kantornya yang hanya memiliki kurang dari lima kurir. Beberapa mantan koleganya dipecat gara-gara urusan yang satu ini. Meskipun mereka telah mengirim surat keterangan dokter, tetap saja dianggap lalai karena paket terus masuk dan menumpuk.

Pernah, di musim hujan tahun kemarin, Rifki jatuh sakit lantaran jaket hujan miliknya dipakai untuk melindungi paket-paket milik pelanggan. Bagi Rifki, paket lebih berharga dibanding tubuhnya. Keesokan harinya ia tetap mengantar paket meski dalam keadaan demam. Karena lagi-lagi, paket tetap masuk dan terancam menumpuk.

Dengan konsekuensi kerja-kerja itu, Rifki menerima gaji Rp2.000.000 per bulan. Selain itu, ia juga mendapat bayaran Rp1.000 dari setiap satu paket yang berhasil diantar. Dalam sebulan, ia harus mengantar 1.200 paket agar capai target. Di bulan Ramadan, target itu dinaikkan menjadi 1.400 paket.

Tak banyak yang tahu, selain mengantar pesanan, kurir juga punya target lain yakni pengiriman ekspres (segera sampai) serupa layanan GoSend atau GrabExpress. Dalam kontrak kerja Rifki, pengiriman bahkan merupakan hal yang paling diutamakan dibanding pengiriman nonekspres. Sebulan, harus ada orang yang mengirim paket dalam bentuk barang maupun uang tunai melalui Rifki: tidak boleh kurang dari sekitar 300 barang, tidak boleh kurang dari Rp7 juta uang tunai. Jika tidak capai target itu, maka lelah kerja Rifki mengirim paket ekspres di bulan itu dianggap hangus.

Rifki selalu tak punya jawaban ketika ditanya sampai kapan ia akan bekerja sebagai kurir. Tapi, diam-diam ia sudah punya target yang ia perhitungkan sendiri.

“Mungkin setelah menikah saya akan berhenti. Karena saya hanya ingin menikah satu kali,” ujar Rifki.

Target ini ia pilih bukan tanpa sebab. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah tangga teman-temannya hancur gara-gara kerja ini. Bahkan ada yang baru menikah, tak berapa lama langsung cerai. Kebanyakan, kata Rifki, karena sulit membagi dan memiliki waktu untuk keluarga. Ia dan kawan-kawannya bekerja dari pagi hingga ujung-ujung malam. Setiap hari!

Mantra di Ujung Malam

Rifki memberi isyarat kalau kami sudah berada area ujung. Motor-motor penambang lalu-lalang. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) tinggal beberapa kilometer dari desa-desa penghujung ini. Waktu menunjukan pukul 17.11 Wita, sebentar lagi waktu buka puasa. Wajah Rifki memucat, sesekali bibir keringnya terlihat ketika ia membuka masker.

Di wilayah ini, Rifki sudah bukan lagi orang asing. Di sini, ia lumayan terkenal, apalagi setelah insiden diancam parang itu. Tak terhitung, sudah berapa banyak orang dan rumah yang ia temui selama dua tahun terakhir.

Langit mulai gelap. Masjid-masjid yang kami lewati ramai, sibuk mempersiapkan sajian buka puasa. Terdengar jelas lantunan ayat suci dan ceramah di toa-toa masjid itu, sebagai penanda beberapa menit lagi waktu buka puasa. Rifki mengajak saya berhenti di depan sebuah toko. Ia masuk ke toko itu dengan langkah cepat, langsung menuju ke lemari pendingin dan mengambil sebotol air kemasan.

“Tumben, hari ini panas sekali. Padahal kemarin hujan deras,” celotehnya.

Beduk bergema. Tubuh Rifki akhirnya merasakan air, meski tidak seberapa dibanding air keringat yang ia keluarkan hari ini. Belum kelar tegukan ketiga, telepon genggamnya berdering, seseorang telah menunggu pesanan dan lokasinya sangat dekat dengan toko yang kami singgahi. Ia menunda tegukan, dan melanjutkan melakukan transaksi. Tinggal tersisa tujuh paket lagi.

Kami melanjutkan perjalanan. Ada perasaan lega ketika mengetahui hanya tinggal beberapa paket lagi, lalu perjalanan ini akan usai. 

Kami tiba di sebuah jembatan gantung. Di bawah jembatan setinggi sekira 10 meter itu, suara riak air sungai Bone—salah satu sungai terbesar di Gorontalo—sedikit banyak membuat dada sesak. Motor Rifki berada di depan. Jalur jembatan itu hanya bisa dilalui satu motor. Ia meminta saya memelankan motor, lalu menurunkan kaki untuk keseimbangan.

Seorang wanita telah menunggu di ujung jalan. Dia adalah tujuan terakhir paket. Wajahnya sumringah, seperti kedatangan suami yang baru pulang dari perang.

“Terima kasih banyak,” ujar wanita itu.

“Sama-sama, Bu. Eh, kembaliannya masih 4.000, saya tukar dulu di warung sebelah, ya?” 

“Sudah. Tidak apa-apa. Untuk Anda saja itu.”

“Betulan?”

“Iya.”

“Terima kasih banyak, Bu.”

Rifkiansyah menggunakan senter telepon selulernya saat menunjukkan paket kepada seorang penerima di sebuah desa paling ujung di Kabupaten Bonebolango. yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. (Project M/Franco B. Dengo).

Rifki sangat bahagia, seolah baru menerima tunjangan hari raya (THR) dari kantornya. Bukan soal uangnya, kata Rifki, tapi karena orang-orang yang memberi itu ikhlas, dan dia senang bisa mengantar paket-paket itu dengan selamat. Tidak semua paket berhasil diantar. Ada lima paket yang tidak sampai pada tuannya, lantaran mereka tidak berada di tempat dan tidak bisa dihubungi, semua paket yang tertunda itu adalah paket COD.

Kami pulang, dan laju motor Rifki sama sekali tidak berkurang, padahal semua paket sudah diantar. Kami tiba di kantor JNT pukul 19.55 Wita. Rifki bergegas masuk ke kantor. Saya membuka aplikasi pengukur jarak dan waktu tempuh yang sejak awal saya aktifkan. Total, kami menempuh 77,7 kilometer dengan waktu lebih dari enam jam.

Rifki tiba-tiba keluar dengan membawa bungkusan paket lagi.

“Masih 30 sisa paket lagi target untuk hari ini. Tinggal yang di dekat-dekat sini saja,” katanya.

Setiap hari, ia berangkat dari rumah pukul 07.00, pulang pukul 00.00 Wita, bisa kurang bisa juga lebih. Setiap kali ia pulang tengah malam, ibunya tak pernah absen menanti di rumah, sengaja belum tidur sebelum putra bungsunya tiba, dan selalu meminta Rifki berhenti bekerja menjadi kurir.

“Istirahatlah, Nak. Kerja macam apa ini?”


Editor: Mawa Kresna

Tulisan ini adalah bagian dari serial reportase #SekrupKecil di Mesin ‘Big Tech’ yang didukung oleh yayasan Kurawal.