Creative Commons License

Lebaran Bersama Latifah, Menempuh 184 KM Mengantar Paket

kurir
kurir

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Viriya Singgih

Raden Siti Latifah menjemput paket dari seorang pengirim di wilayah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Ketika sebagian besar pengemudi ojek online memilih tidak beroperasi saat Lebaran, Latifah sengaja mengambil momen tersebut untuk mencari pendapatan tambahan. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

Bagi banyak orang, Lebaran adalah saatnya menarik napas setelah setahun penuh bekerja keras. Ia adalah jeda yang dirindukan, bagai pit stop di tengah balapan panjang mencari sejahtera. Namun, semua itu tak berlaku untuk Raden Siti Latifah. Buatnya, Lebaran justru waktu terbaik untuk mencari nafkah.

Latifah punya banyak predikat. Ia ibu tunggal, juru masak panggilan, juga kurir dan tukang ojek lepasan. Hampir sepanjang bulan Ramadhan 2021 ia sibuk mengerjakan pesanan berbagai kue kering, entah nastar, sagu keju, atau kastengel. Pada 13 Mei, atau hari Lebaran pertama, ia “mematikan oven” dan beralih sepenuhnya menjadi pengantar barang.

“Sudah tiga Lebaran saya begini,” kata Latifah yang tahun ini berusia 52. “Orang-orang pada silaturahmi, saya cari duit.”

Latifah telah menjadi mitra bagi perusahaan teknologi Grab Indonesia sejak 2017. “Mitra” di sini adalah sebutan halus untuk pengemudi lepasan yang bertugas mengantar penumpang atau barang sesuai pesanan pengguna aplikasi Grab. 

Sejumlah riset mengungkapkan bahwa istilah mitra membuka celah bagi pemberi kerja untuk mempekerjakan seseorang tanpa jam kerja pasti, upah bulanan minimum, tunjangan hari raya, ataupun jaminan kesehatan.

Mulanya Latifah hanya menganggap pekerjaan mengantar penumpang dan barang sebagai sampingan untuk mendapat tambahan pemasukan saat layanan jasa kateringnya sepi. Namun, ia keasyikan.

Sebagai tukang ojek online atau ojol, ia bisa mendapat Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per hari, tergantung seberapa rajin ia mengambil pesanan. Uang sejumlah itu sangat membantu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, sejak 2003 ia mesti membesarkan lima anak seorang diri. Alhasil, saat masih tinggal di Sentul, Bogor, pada periode 2017-2018, ia rutin berangkat pukul 5 pagi dari rumah dan baru pulang tengah malam setelah seharian mengantar penumpang atau barang ke Jakarta dan sekitarnya. Menyadari bahwa perputaran penumpang, barang, dan tentu saja uang berpusat di ibu kota, ia memutuskan pindah rumah ke Condet, Jakarta Timur, pada akhir 2018.

Raden Siti Latifah (kiri) dan anaknya Putri Maharani berjalan menuju lokasi salat Id di wilayah Condet, Jakarta Timur, Jakarta. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

Sejak pandemi Covid-19 merebak pada awal 2020, Latifah berhenti mengantar penumpang. Ia memilih fokus mengantar barang untuk meminimalkan risiko terinfeksi virus korona. Selain menjadi mitra Grab untuk layanan GrabExpress, ia pun sempat menjajal bekerja untuk perusahaan logistik SiCepat Ekspres dan platform niaga elektronik Shopee, utamanya untuk layanan Shopee Express dan ShopeeFood. Namun, ia merasa paling cocok dengan GrabExpress dan ShopeeFood.

Latifah cuma dua bulan jadi kurir SiCepat. Di sana ia mendapat gaji bulanan Rp 2,2 juta dan uang harian Rp 50.000. Ada pula bonus Rp 200.000 bila berhasil mengantar barang di atas jumlah tertentu dalam sebulan. Namun, ia kewalahan dengan volume barang antaran setiap harinya, yang rata-rata mencapai 75 hingga 100 paket. “Walaupun jaraknya dekat-dekat, tapi lumayan juga,” katanya.

Lain halnya dengan Shopee Express. Saat Latifah menjadi mitra di sana, ia harus mengirimkan setidaknya 30 paket per hari untuk mendapat pemasukan Rp 150.000. Artinya, ongkos kirim satu paket senilai Rp 5.000. Angka ini masih relatif besar bila dibandingkan kondisi saat ini. Per April 2021, kurir Shopee Express harus mengirimkan minimal 80 barang sehari untuk mendapat pemasukan Rp 177.040, atau Rp 2.213 per paket. Walau begitu, Latifah kecewa karena ternyata pemasukan hariannya baru bisa dicairkan sepenuhnya setiap dua minggu sekali. Akhirnya, ia hanya bertahan sehari sebagai kurir Shopee Express.

“Misalnya kita sudah antar barang nih, (dapat) Rp 150.000. Hari ini kita cuma dapat Rp 50.000. Yang Rp 100.000 ditumpuk, nanti dikasihnya per dua minggu,” kata Latifah. “Rp 50.000 cukup buat apa?”

Berhenti dengan Shopee Express, Latifah lanjut dengan ShopeeFood, layanan pesan-antar makanan yang baru diluncurkan Shopee di Indonesia pada 22 Februari 2021. Promosi gencar ShopeeFood, entah dalam bentuk diskon 50% atau gratis ongkos kirim, membuat Latifah rutin kebanjiran pesanan. Tarif pengiriman ShopeeFood adalah Rp 9.600 untuk jarak tempuh hingga 5 kilometer. Lebih jauh dari itu, ongkosnya lebih besar lagi. Ada pula insentif bila mampu mengantar makanan dalam jumlah tertentu per harinya. Insentif terbesar adalah Rp 55.000 untuk pengiriman 12 makanan, yang naik menjadi Rp 70.000 khusus saat Lebaran pada 13-14 Mei 2021.

Sejumlah riset mengungkapkan bahwa istilah mitra membuka celah bagi pemberi kerja untuk mempekerjakan seseorang tanpa jam kerja pasti, upah bulanan minimum, tunjangan hari raya, ataupun jaminan kesehatan.

Namun, andalan Latifah tetap GrabExpress. Pada hari biasa, ongkos kirim barang minimal adalah Rp 14.000 untuk jarak hingga 2 kilometer, dengan potongan 20% untuk perusahaan. Saat Lebaran, tarif minimalnya naik menjadi Rp 21.000. Semakin jauh jarak tempuh, semakin besar pula nominalnya. Latifah lebih senang mengantar belasan barang dengan jarak jauh dan ongkos besar sebagai mitra GrabExpress dibanding mengejar target mengirim 80-100 paket per hari dengan jarak dekat sebagai kurir SiCepat atau Shopee Express. Selain lebih fleksibel secara waktu, menurutnya pemasukan yang diterima sekali jalan pun lebih “berasa”.

Pada hari Lebaran pertama 2020, Latifah mulai mengantar barang sebagai kurir GrabExpress selepas salat Id dan pulang ke rumah sebelum magrib. Seharian itu, ia berhasil mengumpulkan Rp 485.000. Kali ini, pada Lebaran 2021, ia bertekad memecahkan rekor pribadi tersebut dan meraih setidaknya Rp 500.000 sebelum magrib. Malamnya, bila masih memungkinkan, ia bermaksud mencari tambahan lagi melalui ShopeeFood.

Mereka yang kenal Latifah paham, ia memang seakan tak kenal lelah dan tak takut sakit. Bila ada peluang mencari pemasukan lebih, ia pasti bakal langsung tancap gas.

“Saya sakitnya kalau enggak punya duit,” katanya. “Kalau megang duit malah sehat.”

Dari Condet ke Depok

Pukul 7 pagi. Sehabis salat Id, Latifah menjamu saya dan kawan fotografer, Felix Jody, di rumah kontrakannya di Condet, Jakarta Timur. Dengan gesit, ia bolak-balik dapur dan lantas menyajikan ketupat sayur, daging rendang, serta ayam goreng di ruang tamu berukuran sekiranya 2 x 3 meter.

Dua hari sebelumnya, saya telah meminta izin Latifah untuk mengikuti dan mengabadikan kesibukannya mengantar barang saat Lebaran. Dengan terbuka, ia mengiyakan.

Raden Siti Latifah bersiap berangkat dari kontrakannya di wilayah Condet, Jakarta Timur, Jakarta. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

Sembari sarapan, Latifah asyik menceritakan perannya di Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia, asosiasi yang menaungi setidaknya 30 ribu ojek dan kurir online dari seluruh Indonesia. Sejak 2018, ia dipercaya menjadi kepala divisi Srikandi di Garda. Srikandi adalah wadah bagi para pengemudi perempuan yang saat ini memiliki 70 anggota terdaftar.

Saat tengah asyik bercerita, tiba-tiba Latifah celingak-celinguk. “Handphone-nya mana, Kak?” tanyanya pada Muhidin, anak keduanya yang bekerja di Badan Kepegawaian Negara saat siang dan menjadi tukang ojek online saat malam atau libur.

“Biasanya kalau kita aktifin, itu langsung (pesanan datang). Jangan diaktifin dulu. Kita makan dulu deh. Nanti repot urusannya,” kata Latifah sambil tertawa.

Latifah lanjut bercerita. Kali ini sedikit mundur ke 2017 saat ia pertama mendaftar menjadi mitra pengemudi Grab. Ia ingat betul, ia jalan dari rumah di Sentul pada pukul 4.30 pagi untuk mendaftar di Cibubur, Jakarta Timur. Setibanya di sana, sudah ada sekitar 600 orang yang mengantre dengan niat sama.

“Tapi kita lady diutamakan. Saat itu lady yang daftar cuma 15 orang, termasuk saya. Yang lainnya cowok,” katanya. “Dari 15 orang, yang masuk cuma lima.”

Dari awal, Latifah lebih senang mengantar penumpang dan paket dibanding makanan. Alasannya sederhana: ongkosnya lebih besar karena jarak antaran yang lebih jauh. Dalam sehari, ia bisa mengantar 10-15 penumpang dan barang.

Penasaran, saya tanya, apa saja jenis pesanan yang bisa diambil mitra pengemudi Grab?

Muhidin lantas membuka ponsel Latifah di tangannya dan memperlihatkan daftar layanan Grab yang bisa dikerjakan pengemudi. Ada tombol di sebelah kanan masing-masing layanan, entah GrabBike, GrabFood, atau GrabExpress Instant dan Same-day. Bila tombol itu dipencet, akan muncul warna hijau yang menandakan pengemudi berstatus aktif dan siap mengambil pesanan. Muhidin memberi contoh dengan mengaktifkan layanan GrabExpress Instant.

“Kita bisa aktifin yang mana saja terserah kita?”

“Bebas,” kata Latifah. “Cuma saya mainnya di paket. Lagi pandemi begini, yang penumpang benar-benar stop, saya matiin.”

Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari aplikasi GrabDriver di ponsel yang dipegang Muhidin. Masuk pesanan pertama pada pukul 7.40 pagi. Latifah sontak tertawa.

“Kan saya sudah bilang, kalau saya habis salat Id, makan, nyalain, sudah langsung nyangkut.”

“Arahnya ke Sukmajaya, kota Depok,” kata Muhidin.

Buset, pesanan pertama langsung pindah provinsi, pikir saya. Saya dan Jody lantas bertatapan. Sudah waktunya kerja.

“Ke Depok, Mas. Mau?”

“Sikat.”

Raden Siti Latifah dibonceng anaknya Muhidin mengantarkan paket di Jakarta. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

Lintas Tiga Provinsi

Pukul 11.40 siang. Terik. Saya mematikan sepeda motor di depan sebuah kompleks perumahan elite di Alam Sutera, Tangerang Selatan. Jody turun dari sepeda motor. Saya juga. Saya meregangkan badan. Pinggang saya sakit. Jody juga.

“Kenapa kita bisa sampai di sini sih, Jod?”

Dalam waktu empat jam sejak Latifah menerima pesanan pertama, saya dan Jody telah mengikutinya berkeliling mengantar lima barang dengan jarak tempuh 84 kilometer. Tengah hari saja belum, kami sudah melintasi tiga provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Karena sedang libur kerja, Muhidin ikut “narik” menemani ibunya. Pembagian tugasnya jelas: Muhidin yang mengemudikan sepeda motor, Latifah yang turun menemui pengirim atau penerima. Dengan begini, mereka tak perlu memarkir sepeda motor di dalam mal atau apartemen saat harus mengambil atau menyerahkan barang. Muhidin menunggu ibunya di pinggir jalan dan, setelah satu tugas beres, mereka bisa segera lanjut mengambil pesanan baru.

Pesanan terus datang tanpa henti. Apalagi, kebanyakan kurir lain emoh kerja saat Lebaran, sementara banyak orang ingin mengirim makanan pada kerabat atau kenalan sebagai bentuk silaturahmi. Sejauh ini, lima barang yang harus diantarkan Latifah semuanya makanan, termasuk kue-kue kering. “Pokoknya kalau Lebaran begini justru gacor,” kata Latifah sembari semringah.

Saat kami mengantarkan barang ke Depok, seorang bapak yang berdiri dekat dengan rumah penerima sempat memandang Latifah dan Muhidin dengan heran sebelum kemudian berkata, “Libur-libur masih ngirim juga. Hebat.”

“Saya juga heran, Pak,” sahut saya dalam hati.

Dari Depok, kami lanjut ke Pasar Rebo di Jakarta Timur, Palmerah dan Kembangan di Jakarta Barat, hingga tiba di Alam Sutera. Tiap kali menyelesaikan sebuah pesanan, Latifah bertanya pada saya dan Jody: “Masih kuat, Mas?” Saya selalu membalas dengan: “Kuat. Lanjut, Bu!” Walau begitu, pinggang ini lama-kelamaan sakit juga.

Raden Siti Latifah mengantarkan paket kepada penerimanya di wilayah Depok, Jawa Barat. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND)

Saya dan Jody menunggu Latifah dan Muhidin mengantar barang ke dalam kompleks perumahan elite di Alam Sutera itu. Tak sampai 10 menit, mereka sudah keluar lagi dan memarkir sepeda motor di sebelah kami. Latifah lantas membuka aplikasi GrabDriver di ponselnya untuk melihat tujuan pengantaran selanjutnya: Gading Serpong, Tangerang.

Latifah menjelaskan, sekalinya mengaktifkan aplikasi, ia memang tidak bisa pilih-pilih pesanan dan tujuan pengantaran. Pokoknya, selagi berstatus aktif, ia bakal terus menerima pesanan dengan tujuan tak terduga, entah menjauhi atau mendekati rumahnya di Jakarta Timur. Biasanya ia bakal dibawa menjauh terlebih dahulu, sebelum perlahan rute antarannya kembali mendekati rumah secara otomatis. Namun terkadang, bila rutenya tak kunjung bersahabat sementara staminanya sudah habis, Latifah terpaksa mematikan aplikasi agar bisa menyudahi hari.

Pukul 12.03 siang, kami berhasil menyelesaikan antaran barang keenam. Latifah kembali mengecek ponselnya, lalu terkekeh melihat pesanan yang baru masuk.

“Ke Mampang (Prapatan), Mas. Lumayan Rp 100.000, nganterin soto.”

Astagfirullah.

“Masih kuat, Mas?”

Saya tertawa bingung, lalu pasrah menjawab, “Lanjut, Bu.”

Dan, lanjutlah kami menempuh perjalanan 38 kilometer untuk mengantar soto dari Tangerang ke Jakarta Selatan. 

Dari Sentul Sampai Magelang  

Latifah membangun reputasi sebagai “ratu aspal” sejak 2017, tepatnya saat ia berhasil mengantar sejumlah dokumen dari Sentul hingga Magelang dalam waktu kurang dari sehari dengan menggunakan sepeda motor.

Mulanya tak terduga. Seorang kenalan lama menghubungi Latifah untuk mencari suaminya, tak tahu bahwa mereka telah pisah rumah sejak 2003. Kenalan lama itu bermaksud meminta tolong suami Latifah mengirimkan dokumen penting ke tiga lokasi berbeda: Indramayu di Jawa Barat serta Pekalongan dan Magelang di Jawa Tengah.

“Saya coba pesan GrabCar,” kata kenalannya itu. “Cuma dari Grab-nya ditolak terus.”

“Kalau saya ambil boleh enggak?” tanya Latifah.

Lah, Ibu nekat?”

“Saya butuh duit.”

Saat itu, Latifah sedang mencari tambahan pemasukan untuk biaya anaknya yang ketiga masuk SMP swasta. Makanya ia langsung menawarkan diri untuk mengantar dokumen tersebut. Bila menggunakan GrabCar, ongkos kirimnya adalah Rp 1,85 juta. Latifah menawar agar jadi Rp 2 juta. Sepakat.

Kenalannya bilang, seluruh dokumen harus sudah sampai tujuan sebelum pukul 10 malam. Latifah berangkat dari Sentul pukul 4.30 pagi dan tiba di Magelang pukul 9.50 malam.

“Saya enggak pakai makan. Jadi istirahatnya cuma isi bensin doang enam kali.”

Komunitas Grab dari berbagai daerah ikut mengawasi perjalanan Latifah dan rutin menanyakan kabarnya. Setelah Latifah tiba di Magelang dan menyelesaikan urusan, teman-teman pengemudi dari Yogyakarta pun menjemput, lalu mengajaknya makan dan istirahat.

Tidak mau berhenti terlalu lama atau bahkan sampai menginap, Latifah tancap gas kembali ke Sentul pada pukul 12 malam. Sepanjang perjalanan pulang, ia melawan kantuk dengan mengudap roti dan biskuit serta menenggak kopi dan minuman energi berulang kali.

“Sampai di rumah pagi,” kata Latifah. “Jam 8 apa jam 9 itu sudah sampai. Jam 11-nya saya sudah ngebid (cari penumpang) lagi.”

Sejak itu, reputasi Latifah tersebar dari mulut ke mulut. Orang-orang Sentul kerap mencarinya untuk meminta tolong mengantarkan penumpang atau barang ke tempat-tempat relatif jauh dengan cara “tembak tarif” tanpa lewat aplikasi. Pada satu waktu, ia pernah membawa penumpang hingga Garut. Pada waktu lain, ia mesti mengantarkan jas pengantin ke Bandung. Kerja keras Latifah akhirnya membuat banyak orang percaya padanya.

Sebagai ibu tunggal, Latifah memang terbiasa bekerja ekstra demi keluarga. Pada 2003, ia membawa anak-anaknya meninggalkan suami setelah suaminya itu terjerat utang ratusan juta rupiah gara-gara menjajal praktik “uka-uka”, alias modus penipuan penggandaan uang secara gaib. Sejak itu, Latifah membesarkan lima anak sendirian. Ia mencari nafkah siang dan malam, entah melalui jasa katering ataupun dengan menjadi ojol, hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya dan bahkan membiayai pernikahan putra sulungnya.

Raden Siti Latifah berjalan mencari alamat pengirim di wilayah Pasar Rebo, Jakarta Timur. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND 2.0)

Tak hanya itu, Latifah kini tengah menabung agar suatu hari bisa membuka bisnis makanan sendiri. Memang, cinta pertamanya adalah memasak. Selama ini, ia pun selalu mendahulukan pesanan masakan dibanding pesanan antaran penumpang atau barang. Setiap bulan Ramadhan, ia selalu kebanjiran pesanan kue kering. Ia juga pernah dikontrak stasiun TV nasional untuk memasok 300 boks nasi dan lauk setiap hari selama tiga tahun. Masakan andalannya: ayam geprek dan ayam penyet.

Jika modal telah terkumpul, Latifah ingin bisa fokus memasak di rumah dan memasarkan dagangannya secara daring. Dengan begitu, ia tak perlu menyewa tempat dan membuka restoran fisik. Sejumlah kerabat dan kenalan telah menawarkan bantuan modal padanya, tapi ia menolak.

“Saya mau usaha sendiri,” kata Latifah. “Saya enggak mau ketergantungan sama orang.”

Memecahkan Rekor Pendapatan

Latifah dan Muhidin sampai di rumah mereka di Condet, Jakarta Timur, pada pukul 6.30 malam. Pada hari Lebaran pertama ini, mereka berhasil menyelesaikan 15 pesanan antaran barang dengan jarak tempuh sejauh 184 kilometer – kurang lebih setara jarak antara Kebayoran Lama di Jakarta Selatan dan Cicalengka di Bandung, Jawa Barat. Total pemasukan mereka sebelum dipotong Grab adalah Rp 604.000.

Dengan berseri-seri, Latifah bercerita pada saya dan Jody, ada karyawan Grab kenalannya yang menghubungi dan mengatakan, “Hari ini enggak ada yang sampai di atas Rp 500.000. Elo malah Rp 600.000 sendirian.”

Latifah semangat sekali bercerita, sementara saya dan Jody berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa lelah. Pinggang saya seakan mau patah. Namun, saya juga masih penasaran ingin menanyakan beberapa hal padanya, salah satunya soal sistem kemitraan antara perusahaan seperti Grab dan para pengemudi di lapangan.

Sistem kemitraan yang terjalin antara para ojek dan kurir online dan perusahaan teknologi dan niaga elektronik di Indonesia selama ini membuat para pengemudi mesti bekerja tanpa jam kerja pasti, upah minimum, hak libur, pesangon, atau jaminan sosial. Karena itu, saat berbincang dengan saya via telepon, Ketua Presidium Nasional Garda Igun Wicaksono mengusulkan agar perusahaan bisa memberikan opsi pada para pengemudi untuk dapat menjadi mitra tetap atau non-tetap.

Mitra tetap, misalnya, bisa mendapatkan insentif, asuransi, dan berbagai tunjangan lain dari perusahaan tempatnya bekerja. Namun, konsekuensinya adalah mereka tak bisa “gonta-ganti seragam” dan mengantarkan penumpang atau barang untuk perusahaan lain. Mereka juga mesti bisa memenuhi target harian atau bulanan tertentu dengan jam kerja pasti. Sementara itu, mitra non-tetap tidak memiliki akses terhadap beragam bentuk tunjangan dan perlindungan sosial dari perusahaan, tapi memiliki fleksibilitas untuk mengatur sendiri jam dan beban kerjanya. Mereka juga bisa menjadi mitra untuk beberapa perusahaan berbeda di saat bersamaan.

“Saya cenderung lebih setuju yang fleksibel,” kata Latifah. “Kita kan di sini juga punya keluarga, punya anak. Jadi kita bisa ngurus anak dulu, atau kita bisa ngerjain yang lain dulu. Kalau kita pengin punya duit ya kita kerja. Kalau kita lagi ada uang lebih, enggak mau kerja ah, malas, ya sudah.”

Ini wajar karena menjadi ojek atau kurir online bukanlah satu-satunya pekerjaan Latifah. Bila bisa memilih, ia pun lebih ingin menjadi juru masak penuh waktu. Masalahnya, ada banyak orang yang benar-benar menggantungkan hidupnya pada pekerjaan ojol tanpa memiliki pilihan lain. Mereka menggerus aspal dari pagi hingga tengah malam untuk mencari nafkah tanpa jaminan sosial.

Di sisi lain, Latifah setuju bahwa mesti ada aturan jelas soal tarif minimal pengantaran barang sebagai kurir daring. Dengan begitu, perusahaan tidak bisa seenaknya menurunkan ongkos kirim dan membebani para pengemudi di lapangan. “Memang harus ada itu,” katanya.

Di tengah perbincangan dengan Latifah, Muhidin keluar dari kamarnya dengan jaket berwarna oranye. Sekitar pukul 7 malam, ia pamit untuk mencari tambahan lagi sebagai kurir ShopeeFood.

Saya jadi tak enak. Sebelumnya, Latifah sudah bilang bahwa ia ingin “narik” lagi selepas magrib. Apa karena saya dan Jody terus mengajaknya bercakap akhirnya jadi Muhidin yang mesti menggantikannya mengantar makanan? Namun, Latifah tetap meladeni kami dengan ramah. Kami terus berbincang sembari mengudap kue-kue kering buatannya hingga kira-kira pukul 7.30 malam. Setelahnya, saya dan Jody mengucapkan terima kasih dan meminta izin pamit.

Raden Siti Latifah masih memeriksa orderan setelah tiba di rumahnya di Condet, Jakarta Timur. (Project M/Felix Jody Kinarwan di bawah lisensi Creative Commons BY-NC-ND)

Setibanya di rumah di Kebayoran Lama, saya langsung mandi, makan, dan tidur. Badan saya sudah tak bisa kompromi. Saya lantas tidur nyenyak sekali dan baru bangun pukul 11 siang keesokan harinya.

Tak lama setelah bangun, saya melihat ada pesan WhatsApp dari Latifah yang masuk pada pukul 6.21 pagi. Ia mengirimkan tangkapan layar ponselnya yang menunjukkan jumlah pemasukannya dari GrabExpress pada 13 Mei 2021. Secara total, ia mendapat Rp 683.000 dari 18 pekerjaan mengantar barang.

Loh, seingat saya total pemasukan Latifah kemarin itu cuma Rp 604.000 dari 15 antaran barang.

“Kemarin malam ambil tiga orderan lagi, Bu?”.

“Iya,” jawabnya. “Habis sayang masih ramai.”

Memang begitulah Latifah. Selama masih ada tenaga, ia akan terus berusaha agar keluarga bisa makan, anak-anak bisa sekolah, dan ia bisa mewujudkan mimpi memiliki rumah dan bisnis makanan sendiri.

“Selama bertahun-tahun saya membiayai anak-anak seorang diri, dari mulai buka usaha katering, pernah juga jadi tukang cuci gosok, terakhir jadi ojol,” kata Latifah. “Ada saja (jalannya). Makanya saya bilang, dari nyekolahin anak sampai nikahin anak yang pertama pun saya sendiri.”

Hidup Latifah memang berat, tapi ia terlalu keras kepala untuk menyerah begitu saja. Berulang kali ia dihajar kenyataan, berulang kali pula ia bangkit melawan. Latifah mau menentukan jalan hidupnya sendiri dan, tentu, kisahnya belum berakhir di sini.


Editor: Mawa Kresna

Tulisan ini adalah bagian dari serial reportase #SekrupKecil di Mesin ‘Big Tech’.