Creative Commons License

Sekrup Kecil Mesin ‘Big Tech’: Kemitraan Tanpa Kesetaraan

Ditulis oleh Foto & Teks oleh Video oleh Ditulis oleh Audio oleh
Adi Marsiela

14/06/2021

Anzharry Muslim mendokumentasikan barang kiriman ke aplikasi Shopee Express di depan lokasi antaran di wilayah BKR, Bandung. Seorang kurir wajib melaporkan status barang yang diantarnya itu, diterima oleh siapa disertai dengan keterangan waktu dan foto barang sudah sampai lokasi tujuan via aplikasi. (Project M/Adi Marsiela)

Istilah mitra seharusnya memberikan keuntungan yang setara dalam skema bisnis logistik. Kenyataan di lapangan berbicara beda. Shopee, perusahaan e-commerce berjaringan internasional tidak bisa memberikan kepastian soal pemasukan,  keselamatan, hingga jaminan pekerjaan yang layak bagi mitranya.  

Anzharry Muslim, seorang warga Bandung, bisa dibilang seorang kurir yang tidak terlalu ambisius. Dalam perspektif kerja layak, Anzhar termasuk kurir yang tidak terlampau memaksa diri kejar setoran sebagaimana yang didorong oleh algoritma di aplikasi, sebuah teknologi yang terus menerus memantau dan mengukur kinerja para kurir

Setiap ada pesanan masuk, Anzhar, begitu dia biasa dipanggil, akan menghitung apakah tarifnya sebanding dengan jarak. Kalau tidak, Anzhar akan menolak pesanan yang masuk lewat aplikasi Shopee khusus untuk kurir.

Anzhar juga memilih tidak ngoyo dan menyempatkan istirahat, karena dia tahu, kalau dia sakit, dia tidak akan bisa mencari nafkah sementara jaminan sosial pun pas-pasan. Lagipula, Anzhar berkomitmen mengantar dan menjemput istri setiap hari sehingga meski pesanan datang terus, Anzhar akan melempangkan waktu di saat dia harus menjemput istrinya. 

Akibatnya, “grade” Anzhar mentok di grade C.

“Grade saya masih di C karena lebih banyak menolak. Katanya, kalau ada rekrutan buat (posisi) permanen bakal menggunakan grade,” kata Anzhar.

Sesudah libur Lebaran Anzhar bekerja lagi sebagai kurir untuk Shopee Express pada 17 Mei 2021, atau empat hari sesudah Idul Fitri 1442 Hijriah. Pekerjaan ini ia jalani sejak 23 April 2021 sesudah Anzhar menjadi mitra “point to point” (P to P) Shopee Express non Jabodetabek. “Begitu yang tertulis di kontrak, tapi saya tidak pegang dokumen kontrak karena dipegang mereka,” kata Anzhar kepada saya yang mau mengikutinya bekerja. 

Masa kerja dalam kontraknya itu berlaku hingga 3 Mei 2021. Namun dia masih bisa menerima pesan antar barang lewat aplikasi pemberian Shopee. Aplikasi yang tidak tersedia di Playstore itu bakal memberi notifikasi jika ada order yang bisa dikerjakannya. 

Notifikasi itu memberikan informasi lokasi pengambilan dan pengiriman barang dengan jarak serta jasa yang bakal diterima Anzhar.

“Kita ada waktu 90 detik untuk menerima, menolak, atau membiarkan orderan,” kata Anzhar. 

“Kalau dibiarkan atau ditolak?” kata saya. 

“Bakal masuk terus kang kalau dibiarkan. Kalau ditolak, paling ngaruh ke grade saya,” terangnya. 

Untuk setiap pengantaran, Anzhar bakal menerima jasa pengantaran atau pendapatan dasar sebesar Rp9.000. Dengan catatan, lokasi penerimaan dan pengantaran barang dalam rentang 0-4 kilometer. Setiap bertambah 1 kilometer, kurir dapat tambahan jasa Rp500. 

Ayah satu orang anak ini memilih orderan dengan jasa pengantaran kurang dari Rp12.500. Setiap kurir P to P bebas memilih, menerima, membiarkan, atau menolak orderan. 

Dengan aplikasi yang sama, Anzhar bisa mengetahui pemasukannya setiap hari. Sistem pembayarannya mengakumulasi pemasukan kurir antara Senin-Rabu dan Kamis-Minggu. Jadwal transfer itu delapan hari setelah Rabu dan Minggu. 

Selama empat pekan bekerja, pendapatan dasar Anzhar tercatat sebesar Rp793.000. Namun baru sebagian yang masuk ke rekeningnya. 

Selain pendapatan dasar, Anzhar juga berhak mendapat bonus senilai Rp15.000 jika menyelesaikan tujuh “perjalanan” atau Rp25.000 jika menyelesaikan sembilan perjalanan dalam sehari. Pada periode 26 April-7 Mei 2021, bonusnya Rp10.000 jika menyelesaikan enam perjalanan, Rp25.000 untuk sembilan perjalanan’, hingga Rp35.000 untuk 12 perjalanan.

Shopee menawarkan bonus berbeda saat Idul Fitri pada rentang 12-16 Mei 2021. Bonusnya antara Rp25.000-Rp50.000 untuk kurir yang menyelesaikan antara enam dan 10 antaran dalam sehari. 

“Saya ga terlalu mengejar bonus. Paling telat jam tiga sore saya matikan aplikasi karena pilihan sendiri. Tidak pernah seharian, cape,” imbuhnya. 

Saya bertemu pria berusia 27 tahun ini usai dia mengantar kerja istrinya sekitar pukul 8.00 WIB, Senin, 17 Mei 2021 di bilangan Jl. RE. Martadinata, Bandung. 

Order pertama masuk pukul 08:24 WIB. Jasa pengantarannya Rp9.500. Anzhar menuntaskan pengantaran pukul 08:58 WIB karena beberapa kali mencari alamat lengkap. “Aplikasi langsung mengarah ke Google Maps untuk lokasi penerima barang tapi kadang tidak matching,” tuturnya. 

Selepas itu, saya dan Anzhar melipir kawasan Sukaluyu. Dia bercerita jasa pengantaran hanya menutup biaya transportasi dari lokasi pengambilan ke penerima barang. “Bensin dari tempat kita terima pesanan sama biaya motor itu jadi tanggungan mitra,” kata Anzhar.

Sembari menunggu orderan, lulusan SMK jurusan teknik audio video ini membagi pengalaman kerja sebelum jadi kurir. Setahun lepas sekolah, dia bekerja sebagai satpam. Profesi itu dia jalani selama enam tahun.

Anzharry Muslim mengambil barang dari penjual daring di wilayah Mohammad Toha, Bandung. Ia memperoleh kompensasi jasa pengambilan dan pengantaran barang senilai Rp 9.000 untuk jarak 0 – 4 kilometer dan tambahan Rp500 per kilometer berikutnya dari Shopee Express. (Project M/Adi Marsiela)

Pukul 09:51 WIB, notifikasi aplikasi Shopee berbunyi. Jasa pengantarannya Rp13.000. Rutenya ambil barang di daerah Ujungberung. 

“Ga sebanding kang, rutenya jauh,” kata Anzhar.

“Jadi mau dibiarkan?” tanya saya. 

“Kita tolak saja, tunggu yang lain masuk,” tuturnya.

Dia kembali bercerita. Selepas jadi satpam, Anzhar sempat menjajaki pekerjaan marketing di salah satu startup teknologi informasi. Tugasnya menawarkan sistem pembayaran buat toko. “Ada gaji dasar Rp3 juta per bulan. Kontrak tiga bulan tapi di bulan kedua sudah berhenti,” imbuhnya. 

Pukul 10:23 WIB, notifikasinya kembali berbunyi. Barang harus diambil di Jalan Cihapit dan diantar ke Babakan Irigasi. Jasa pengantarannya Rp11.000. 

“Ditolak lagi? Kejauhan ya?” ujar saya. 

“Iya kang, tidak sebanding,” kata dia. 

Setiap menolak orderan, kurir harus menyertakan alasannya di aplikasi mereka. Apakah karena lokasi pengambilan barang terlalu jauh, lokasi pengantaran terlalu jauh, tidak mau ke lokasi pembeli, atau jalan menuju ke lokasi banjir. 

Tidak lama, notifikasinya berbunyi. Kali ini pengambilan barang tidak jauh dari lokasi saya dan Anzhar berbincang. Jasa pengantarannya Rp12.000. Perjalanan menggunakan motor ke titik pengambilan barang memakan waktu 18 menit. 

Anzhar harus memotret barang dan resinya sebelum berangkat ke tempat tujuan. Foto itu dia unggah ke aplikasi. Sesudahnya, Anzhar harus membuat tangkapan layar rute perjalanannya sebagai jaminan apabila ada perbedaan hitungan jasa pengantaran dengan penyedia aplikasi. 

Perjalanan ke lokasi penerima barang di selatan Bandung menghabiskan waktu hingga 40 menit. Tugas Anzhar belum selesai. 

“Ini masalah lagi di lapangan. Kadang lokasi yang ditunjukkan tidak sesuai,” kata Anzhar. 

“Jadi bagaimana?

“Mau tidak mau, kita tanya-tanya, parkir motor di sini saja kang,” tambah Anzhar seraya memarkir motornya di gang yang hanya bisa dilalui dua motor berlawanan arah. 

Untuk mengantarkan barang itu, Anzhar berjalan kaki sekitar 10 menit ke lokasi. Itu juga setelah bertanya-tanya hingga tiga kali. 

Setiap menyelesaikan pengiriman barang, Anzhar harus mengunggah foto sebagai bukti barang berhasil diantarkan. Lengkap dengan nama penerima dan tanda tangan digital dari penerima. “Karena sedang Covid tanda tangan digital itu saya ganti pakai nama penerima,” kata Anzhar lagi.

Orderan keempat masuk saat Anzhar menuntaskan laporan pengiriman sebelumnya. Kali ini dia harus mengambil barang di kawasan Antapani dan mengantarkannya ke Jl. Telex. Jasa pengantarannya Rp11.500.

Orderan berikutnya kembali masuk pukul 13:14 WIB tanpa ada jeda. Butuh waktu 8 menit menuju ke lokasi pengambilan barang. Jasa pengantarannya Rp12.500. Anzhar menyelesaikan order ke-limanya pada pukul 13:53 WIB di daerah Sekemerak.

Selepas dari situ, Anzhar mengajak saya kembali ke Sukaluyu, lokasi yang sama saat menunggu orderan empat jam sebelumnya. Anzhar mengeluarkan bekal berisi nasi, gorengan, telor dadar, dan sosis yang dibawakan istrinya. 

“Buat saya uang dua ribu rupiah itu sangat berarti.”

“Makanya tadi cari tempat yang ga ada tukang parkir?”

“Betul kang. Buat nambah lima ratus perak aja harus nambah satu kilometer.”

Anzharry Muslim baru saja mengambil barang dan bersiap mengantarkannya di Jalan Brigjen Katamso, Bandung. Dalam pekerjaan ini, ia tidak mendapatkan perlindungan asuransi jiwa, keselamatan kerja, dan harus menanggung sendiri biaya operasional motor dan bahan bakarnya sendiri. (Project M/Adi Marsiela)

Anzhar bercerita, pekerjaan kurir ini dia jalani sesudah perusahaan tempatnya kerja sebagai telemarketing di Jakarta tutup. Dia bekerja dari Maret-Agustus 2020 di sana. “Sehari minimal harus ada 45 call, menawarkan komoditas minyak. Gajinya lumayan Rp5 juta tapi itu Jakarta, kang,” imbuh Anzhar.

Saat menganggur itu, anak pertamanya lahir pada Februari 2021. Informasi kerja sebagai kurir ini dia dapatkan dari sesama kurir pada Maret 2021. “Itu juga dapatnya di pinggir jalan kang, hasil tanya-tanya soal kerjaan sama kurir lain,” papar Anzhar yang akhirnya mengisi form lamaran via Google Form untuk posisi kurir di Shopee Express. 

Setelah menanti hampir satu bulan, Anzhar mendapatkan panggilan untuk pembekalan dari Shopee Express pada 22 April 2021. “Besoknya langsung kerja,” terang Anzhar yang setiap pukul enam pagi bangun untuk mencuci baju bayinya sebelum bekerja. 

Order ke-enam dia terima pukul 14:30 WIB, tiga menit setelah dia menyalakan kembali aplikasinya. Jasa pengantaran dari kawasan Sadang Serang ke kawasan tengah kota Rp10.000. Anzhar menyelesaikan order ini dalam waktu 20 menit. 

Karena tidak ada tempat memarkirkan motor di pinggir jalan RE. Martadinata, saya dan Anzhar memutuskan menuju ke sebuah kafe di Jl. Tirtayasa. Baru saja mau parkir, aplikasinya kembali berbunyi pada pukul 14:55 WIB. Jasa pengantaran Rp12.500. 

Anzhar harus mengambil barang di Bandung Electronic Center (BEC) dan mengantarkannya ke daerah Antapani. Dia sempat ragu karena tidak mau membayar parkir untuk masuk ke pusat perbelanjaan elektronik itu. Akhirnya motor saya simpan di kafe itu agar bisa menjaga motor Anzhar saat dia mengambil barang di BEC.

Anzhar menyelesaikan orderan ke-tujuhnya pada pukul 15:37 WIB. Dia mengantarkan saya kembali ke Jl Tirtayasa sembari menyudahi pekerjaannya hari itu. “Karena jemput istri juga jam lima sore,” imbuh Anzhar.

Sembari menanti waktu bubar kerja istrinya, Anzhar membuka aplikasi dan memperlihatkan jasa pengantarannya pada hari itu dihitung sebesar Rp78.500. Karena menyelesaikan tujuh orderan, Anzhar berhak atas bonus Rp10 ribu untuk hari itu. 

Pemasukannya sebagai kurir memang tidak konsisten dan sebesar pekerjaan sebelumnya. Anzhar belum ada pilihan lain. Istrinya mendapat upah Rp2 juta per bulan. Dengan penghasilan sebagai kurir, Anzhar mengaku khawatir tidak mampu membiayai kebutuhan keluarganya.

Saya lantas memperlihatkan rekaman perjalanan bersamanya di Google Maps. Linimasa di aplikasi itu menunjukkan sejak berangkat dari kantor istrinya, Anzhar sudah ‘mengelilingi’ Bandung sejauh 61,7 kilometer hingga ke tempat saya memarkirkan motor. Perjalanan itu menghabiskan waktu 4 jam 35 menit. 

“Waduh, saya ga pernah menghitung begitu. Besar juga ya bebannya?” kata Anzhar.

Kondisi motor Anzhar sejak awal bekerja jadi kurir tidak prima. Kemudinya berat ke kanan karena sempat ditabrak motor lain saat dia berteduh di pinggir jalan. Satu bulan terakhir, oli motor itu belum juga diganti. “Nunggu bayaran berikutnya masuk dari Shopee baru ganti oli,” tutur Anzhar.

Pemasukannya sebagai kurir memang tidak konsisten dan sebesar pekerjaan sebelumnya. Anzhar belum ada pilihan lain. Istrinya mendapat upah Rp2 juta per bulan. Dengan penghasilan sebagai kurir, Anzhar mengaku khawatir tidak mampu membiayai kebutuhan keluarganya. 

Anzhar menghitung kebutuhan keluarganya setiap bulan sedikitnya mencapai Rp3,3 juta. Kebutuhan itu terdiri dari kewajiban bayar kontrakan Rp750.000, kredit gadai motor Rp500.000, biaya bensin Rp560.000, ganti oli antara Rp30.000-Rp50.000, biaya makan antara Rp800.000-Rp1 juta, popok anak Rp240.000, serta kebutuhan rumah tangga Rp300.000. 

“Itu belum termasuk imunisasi. Kalau dua bulan lalu masih bisa menabung,” kata Anzhar yang memilih tidak bekerja pada akhir pekan karena meluangkan waktu untuk keluarga. 

Anzhar berharap bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik. “Sekarang sudah ada keluarga, beda kalau saya sendiri. Saya juga mau bawa keluarga jalan-jalan, tidak selamanya juga naik motor,” tuturnya. 

Pola kerja dengan skema mitra, sambung Anzhar, menawarkan ilusi seolah-olah ada kesetaraan antara kurir dan penyedia layanan. Realitanya, penyedia layanan atau pemilik sistem melepas tanggung jawab terkait keamanan, kesehatan, kesejahteraan mitranya. Mereka juga tidak menunjuk bengkel tertentu yang bisa diakses kurir guna perawatan sarana operasionalnya.

“Tidak ada BPJS Ketenagakerjaan, kesehatan. Perawatan motor itu dikembalikan ke pemilik motor, pemberi kerja hanya menyediakan sistem, beban pada kita,” imbuh Anzhar. 

Radityo Triatmojo, Kepala Kebijakan Publik, Shopee Indonesia, mengatakan Shopee memiliki program yang ditawarkan pada para mitra untuk ikut serta dalam BPJS Ketenagakerjaan secara cuma-cuma. 

Tapi rupanya, Anzhar mengatakan pada saya, dia tidak mendapatkan tawaran untuk ikut serta BPJS Ketenagakerjaan.

Kurir juga tidak dibekali peralatan keamanan khusus ketika mengantar barang berharga. Dia mengilustrasikan saat ada order mengambil perhiasan dari toko emas. “Barangnya bisa dimasukkan ke tas tapi dari awal ditekankan kalau hilang atau rusak itu ditanggung kurir,” kata Anzhar sembari menyesap batang rokoknya yang ke-tujuh sebelum menjemput istrinya. 

Anzharry Muslim memperlihatkan catatan hari kerja serta akumulasi kompensasi jasa pengantaran yang diterimanya (foto kiri). Sistem pembayaran dihitung per Senin-Rabu dan Kamis-Minggu lalu dibayarkan delapan hari setelahnya. Sementara tangkapan layar dari aplikasi Google Maps (gambar kanan) menggambarkan perjalanan Anzharry pada hari Senin, 17 Mei 2021. Ia menempuh perjalanan 61.7 kilometer dengan total waktu empat setengah jam.(Project M/Adi Marsiela)

Dua pekan jelang akhir Mei 2021, Anzhar mengabari saya. 

“Selamat Malam Akang Teteh Rider Freelance P2P Bandung, Sesuai masa kontrak yang berlaku untuk sementara waktu akun akang teteh kami nonaktifkan terlebih dahulu hingga campaign 6.6. Tetap pantau group whatsapp nya, semua informasi untuk pengaktifan semua kembali akun akan kami info kan lewat group whatsapp Rider. Terima kasih.”

Begitu pesan yang saya terima dari Anzhar lewat Whatsapp. 

“Status jadi nganggur kang,” lanjut Anzhar seraya menambahkan akun miliknya dinonaktifkan sementara waktu oleh penyedia layanan. 

“Semoga segera dapat gantinya,” kata saya. 

Saat penanggalan sudah masuk awal Juni 2021, saya kembali kontak Anzhar. 

“Sudah ada kabar buat campaign 6.6?”

“Sebentar kang, saya baru balik kerja,” jawab Anzhar. 

“Jadi lanjut sebagai mitra?”

“Tidak kang, kebetulan ada teman menawarkan pekerjaan. Jadi saya ambil. Ngurusin stok barang di gudang,” terang Anzhar soal pekerjaan yang dilakoninya mulai Juni 2021 lalu. 

Untuk pekerjaan barunya itu, Anzhar mengaku bakal diupah Rp2 juta per bulan.

“Memang di bawah upah minimum. Masih percobaan juga dua pekan. Waktu kerja, seminggu enam hari kerja, sehari kerja sembilan jam,” terang Anzhar.

Dia terpaksa mengambil pekerjaan itu dan menonaktifkan aplikasi dari Shopee. “Butuh (uang). Tidak ada kejelasan dari Shopee,” tuturnya.

Anzhar kecewa dengan skema dan sistem kerja sebagai mitra yang ditawarkan Shopee. Selain tidak memberikan kepastian pekerjaan, istilah mitra yang digadang-gadang sejak awal hanyalah sebuah bentuk penghalusan.  

Radityo dari Shopee mengatakan mereka menawarkan skema karyawan tetap, selain mitra tetapi banyak yang tidak ingin jadi karyawan karena jam kerja mitra lebih fleksibel. 

Meski ada berbagai pilihan kerja sama, menurut Anzhar, sejak awal, Shopee menguasai sistem. Hubungan kurir, yang disebut sebagai mitra, pada kenyataannya sama seperti status buruh pada perusahaan. 

“Malah ada beberapa hak yang tidak kami dapatkan sebagai buruh, mitra ini jauh lebih parah,” tegas Anzhar. 

Skema kerja yang bagi Anzhar serba tidak pasti membuat dia sulit untuk membayangkan satu masa depan yang baik dan sejahtera. Mau tidak mau, Anzhar harus terus melangkah dengan pilihan yang ada di depannya.  

 


Editor: Evi Mariani

Tulisan ini adalah bagian dari serial reportase #SekrupKecil di Mesin ‘Big Tech’ yang didukung oleh yayasan Kurawal.